Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab. 52


__ADS_3

**BISMILAHIRAHMANIRAHIM💪


⭐⭐⭐**


Panas matahari serasa begitu dekat ke bumi, cahaya menyilaukan pandangan setiap orang.


Andra dan Rial seperti berlomba di bawah panasnya cahaya matahari, mereka seolah tidak peduli keringan yang bercucuran membasahi wajahnya.


Dengan mengendarai roda empat mereka masing - masing tampak 2 orang yang berlomba di jalanan. Padatnya jalanan siang itu pun tak menghalangi konsentrasi mereka.


Masing-masing terlihat begitu santai seolah mereka punya keyakinan dalam sanubari.


❤️❤️❤️


Mitha yang masih trauma dengan perlakuan Ari padanya berjalan menyusuri kampus. Begitu banyak mahasiswa yang bersantai.


Ada yang sekedar ngobrol, berselfie ria dengan sahabat bahkan ada yang sedang asyik duduk di kantin kampus menikmati setiap hidangan yang ada.


Mitha bukanlah anak yang akan nongkrong tidak jelas. Setelah selesai mata kuliahnya Mitha akan segera pulang, baginya itu adalah kebiasaan buruk.


Langkah kaki mungilnya terhenti ketika dia melihat begitu banyak mahasiswa yang berkerumun di pintu gerbang.


Mereka seperti sedang melihat artis ternama. "Ada apa sih?" tanyanya sendiri dalam hati.


Karena rasa ingin tahunya yang begitu dalam, dia pun mendekati kerumunan mahasiswa yang histeris. Entah apa yang mereka lihat, Mitha pun tampak penasaran.


Perlahan-lahan dengan langkah yang lambat Mitha mendekat, namun apa yang dilihatnya. Andra dan Rial berdiri bersebelahan seolah menunggu seseorang.


Dengan gaya yang cool membuat para gadis histeris.


"Itukan." ucap Mitha sembari menunjuk ke arah dua pria yang sedang menunggunya.


"Saya harus pergi sekarang, kalau tidak bisa bahaya." pikirnya kembali.


Dengan sedikit berhati-hati agar tidak terlihat Mitha pun berlalu dari kerumunan. Dia begitu panik namun juga berusaha bersikap tenang.


Mata mereka berdua pun seolah berlomba mencari seseorang, tak ada tempat satu pun lepas dari pendangan mereka.

__ADS_1


Sementara itu, antara kesal atau khawatir Mitha melemparkan bukunya ke meja kantin hingga membuat pengunjung kaget. "Mereka berdua, Andra dan Rial kenapa harus ke kampus sih!" pekik Mitha kesal.


Dia seperti terpenjara tidak bisa ke mana-mana. Tak ada pilihan baginya selain mengulur waktu berharap Rial dan Andra akan segera pergi.


30 menit hingga 1 jam Mitha masih saja terlihat di kantin, satu per satu pengunjung sudah bergantian pulang. Namun tampaknya Andra dan juga Rial masih saja berada di depan gerbang, terdengar dari mahasiswa lain yang membicarakan mereka berdua.


"Kamu pulang saja, sepertinya dia tidak ingin bertemu dengan kamu." ucap Rial.


"Mungkin saja dia menghindar dari kamu." ucap Andra sembari tersenyum dengan penuh keyakinan.


"Oh ya, kita lihat saja nanti." ucap Rial kembali. Karena tak ingin menunggu terlalu lama, Rial segera masuk ke dalam kampus. Dia sudah tidak sabar melihat reaksi Mitha ketika bertemu kembali dengan Andra.


Karena tak mau kalah, Andra pun ikut di belakang Rial yang terlebih dahulu masuk. Rasa rindunya sudah tidak bisa dia pendam. Bertahun-tahun dia menahan kerinduannnya dan inilah saatnya dia bisa kembali bertemu dengan Mitha.


Mereka berdua mengelilingi setiap sudut kampus, mereka seolah tidak peduli dengan pandangan orang lain. Satu persatu tempat mereka datangi hingga dari kejauhan tatapan mereka berdua tepat di satu arah.


Mitha yang sedang duduk sendirian di meja kantin yang terlihat dari depan.


"Wow, lihat mereka berdua ganteng pool." ucap salah satu yang duduk di depan mereka. Mitha tak sadar kalau Andra dan Rial sedang memperhatikannya dari kejauhan.


"Apa sih!" ucap Mitha dalam hati sembari tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Berdua, jangan-jangan." Mitha seger mengalihkan pandangannya dan benar saja dugaannya. Andra dah Rial sedang berjalan ke arahnya. Namun karena kantin yang tidak terlalu besar dan pintu keluarnya pun hanya satu tak mungkin baginya untuk kabur apalgi mereka berdua pasti sudah melihatnya.


Mitha hanya menunggu saja, dia sudah pasrah dengan apa yang terjadi ditambah lagi para gadis-gadis begitu histeris yang menurutnya terlalu lebay.


Mitha masih saja menunggu hingga Andra dan Rial kini sudah berada tepat di depan mukanya.


"Kamu di sini rupanya, apa kamu sudah makan terus obatnya apa kamu sudah minum!" ucap Rial yang membuat Andra seperti terlihat emosi namun dia tahan. Dia tidak ingin wibawanya jatuh hanya karena Rial memancingnya.


Mitha memandang Andra, mulutnya seperti terkunci. Semua orang memandang dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Mitha.


"Duduk." ucap Mitha lembut.


Andra dan Rial berlomba mengambil posisi yang dekat dengan Mitha. Andra yang kalah cekatan dengan Rial harus rela duduk di depan Mitha.


Andra yang tidak kehilangan akal dengan sigapnya memeluk Mitha hingga membuat Rial tampak kesal. Ibarat sebuah pertandingan poin mereka sama.

__ADS_1


"Sayangku. Apa kabar!" ucap Andra mendekap Mitha erat. Semua mata pun kembali mengarah kepadanya, antara iri atau kaget.


"Lepaskan! Kamu bisa membunuhnya." ucap Rial.


Andra yang semakin mendekap Mitha tidak peduli dengan apa yang dikatakan Rial. Mitha pun hanya terdiam menahan rasa sakit ditubuhnya.


Rial pun bangkit dan melepaskan dekapan Andra dari Mitha. "Kamu kenapa, saya hanya ingin bermesraan dengan pacar saya. Kalau kamu tidak suka pergi dari sini!" bisik Andra pelan namun dengan wajah kesal.


"Apa kamu tidak tau, kalau pelukanmu itu menyakiti dia. Kamu lihat wajahnya." ucap Rial.


Andra memandang Mitha yang sedang kesakitan, dia sepertinya tau dengan apa yang dialami Mitha akhir-akhir ini.


"Lihatkan, belum apa-apa kamu sudah menyakitinya." ucap Rial kembali seperti ingin menjatuhkan mental Andra.


Andra duduk tepat di hadapan Rial, kini posisi duduk Mitha ada diantara Rial dan juga Andra.


"Jangan kamu kira saya tidak tau apa-apa." ucap Andra.


"Maksudnya."


"Dia sampai luka seperti ini gara-gara siapa!" tanyanya. Andra tau semuanya apa yang terjadi yang membuat Mitha kaget.


"Tau apa?" tanya Mitha.


Andra meraih tangan Mitha yang seperti ketakutan, "Kamu tidak usah khawatir seperti itu, ini bukan salah kamu kok. Ini salah dia yang sengaja." ucap Andra.


Mitha tampak tidak menyadari kalau selama ini Andra menyuruh seseorang untuk mengikutinya dan melaporkan semua kegiatan Mitha kepadanya.


"Kenapa, apa perlu saya beritahu dia dengan apa yang kamu lakukan." ancam Rial.


Mitha yang tidak tau apa-apa hanya bisa terdiam mengamati Andra dan Rial yang saling melemparkan argumennya. Andra yang tidak ingin Mitha tau kalau selama ini dia memata-matainya dimanfaatkan betul oleh Rial.


Seperti sebuah perang mereka berdua telah menyiapkan strategi untuk menyerang musuhnya. Mereka saling mengeluarkan senjata terampuh mereka untuk mematikan lawan. Target mereka adalah Mitha, entah senjata siapa yang akan mengenai sasaran tidak ada yang tau.


🌺🌺🌺🌺


Bersambung.....

__ADS_1


Mampir yuk!!!!!!


__ADS_2