
**BISMILAHIRAHMANIRAHIM
Andra semakin tidak bisa mengendalikan emosinya, dia tidak bisa membayangkan kalau Mitha akan pergi darinya.
Ingin rasanya dia segera pulang menemui Mitha namun apalah dayanya yang masih harus menunggu.
Andra kembali menelpon Bayu yang merupakan orang suruhannya. "Kamu pantau terus, jangan sampai ada yang terlewat sedikitpun." ucapnya dengan nada marah.
"Baik bos." lanjutnya.
⭐⭐⭐
Mitha dan Rial kembali akrab sepeti dulu kala, Mitha yang semula kaku lama-kelamaan hatinya luluh juga.
Mitha sesekali memandang Rial yang sedang asyik menyeruput mie. "Kamu kenapa lihatin saya terus!" ucap Rial yang sadar kalau Mitha memperhatikannya.
Sontak Mitha kaget dibuatnya. "Bukan apa-apa, saya masih tidak percaya kalau kita akan bertemu lagi."
Rial terhenti sejenak, tangannya mengambil gelas yang berada di sampingnya. Pernyataan Mitha membuatnya kaget.
"Memangnya kamu tidak ingin bertemu saya lagi?" tanya Rial.
"Iya." tanpa berpikir Mitha menjawabnya yang membuat Rial semakin sedih. Entah apa yang ditulis ayahnya sehinggga Mitha begitu sakit hati padanya hingga tidak ingin bertemu lagi dengannya.
"Sudahlah, walaupun saya tidak ingin bertemu dengan kamu lagi tapi buktinya takdir berkata lain. Takdir memang tidak ada yang bisa menebak." ucap Mitha.
"Apa kamu percaya takdir." pekik Rial tersenyum.
"Memangnya kamu tidak percaya." lanjutnya.
"Kalau begitu, siapa yang akan tau kalau nantinya kita akan berjodoh." ucap Rial.
Mitha tersedak mendengar kata-kata dari Rial. Dia serasa tidak percaya kalau Rial akan mengatakan seperti itu tepat dihadapannya.
"Ini minum." Rial mengambilkan minuman untuk Mitha yang segera diambil oleh Mitha.
"Rupanya kata-kata saya membuat kamu kaget!" ucapnya.
Mitha terdiam, dia segera beranjak dari tempat meja makan dan kini beralih ke bagian belakang rumah Rial.
Kolam renang mini dengan tanaman yang menghias di belakang rumah. Mitha masih tidak menyangka kalau apa yang dikatakannya dahulu diwujudkannya olehnya.
"Kamu di sini dulu, saya mau mandi terus saya antar kamu pulang."
Rial kini beralih ke atas, dari kejauhan Mitha memperhatikan Rial yang melangkahkan kakinya menuju tangga rumahnya.
Semilirnya angin pagi membuat Mitha mengingat kembali kenangannya bersama dengan Rial. Saat itu mereka begitu bahagia walaupun hanya melalui telepon.
Tapi, mereka begitu bahagia tanpa beban dipundakknya. Kini ada hati yang harus dia jaga yaitu Andra yang setia mendampinginya.
__ADS_1
Air terus membasahi tubuhnya, air mata Rial tampak mengalir bersama dengan jatuhnya air diwajahnya.
Seandainya saja hari itu dia bisa menghalangi ayahnya agar tidak mengirim surat untuk Mitha pasti sekarang mereka akan bahagia.
Selang beberapa menit Rial akhirnya selesai, dengan hanya menggunakan handuk ditubuhnya yang membuat Mitha semakin terpesona dengan tubuh indah Rial. Begitu kekar dan juga berotot.
"Kamu kenapa!" ucapnya kepada Mitha yang seperti sedang melamun.
"Kamu kok tidak pakai baju."
"Memangnya kenapa, jangan bilang kamu berpikir macam-macam melihat tubuh saya." lanjutnya.
"Apa, jangan aneh-aneh. Cepat saya juga mau mandi dan ganti baju saya yang sudah bau ini." ucap Mytha mengalihkan pembicaraan.
Dia tidak ingin begitu tampak di depan Rial kalau dari tadi terus saja memperhatikan tubuh indah Rial.
Wajahnya memerah, pikirannya melayang-layang begitu tampak oleh Rial.
"Iya. kamu tunggu 5 menit."
Akhirnya setelah selesai Rial pun segera mengantar Mitha pulang ke rumahnya. Ternyata Bayu masih saja berada tak jauh dari mereka.
Rial tidak ingin membuat Mitha semakin ketakutan, dipikirannya itu pasti suruhan ayahnya ataupun juga Erna.
"Kamu kenapa?"
Rial mengendarai mobilnya begitu kencang berharap agar tidak bisa diikuti.
"Apa kamu kenal atau mungkin kamu punya musuh." ucapnya.
Namun Rial tidak memperdulikan semua ucapan Mitha, dia hanya fokus berusaha menghindar sebisanya agar bisa lepas dari kejaran mobil tersebut.
"Rumah kamu di mana?" tanya Rial.
"Kamu jalan saja, di depan kita belok kanan." ucapnya singkat.
Bayu berusaha dengan sekuat agar tidak mobil Rial tidak hilang dari pandangannya. Dia tidak ingin membuat Andra semakin marah kepadanya.
"Itukan rumah Mitha. Jadi mereka mau ke sana!" Guman Bayu dalam hati.
"Baiklah kalau begitu, kamu pasti tidak bisa lepas." Gunanya lagi.
Rial menghentikan mobilnya tepat berada di sebuah rumah yang begitu besar dengan begitu banyak kamar yang berjejer ke belakang. Mungkin ada sekitar 20 an kamar.
"Kamu tinggal di sini?" tanya Rial.
"Iya, ini rumah kost saya." jawabnya.
"Terima kasih ya sudah mengantar saya." Mitha terburu-buru turun dari mobilnya.
__ADS_1
Rial yang tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya itu pun ikut turun dari mobilnya.
"Di mana kamar kamu?" tanyanya lagi.
"Kamu kenapa ikut turun, kamu pulang saja." Rial masih saja berjalan menyusuri rumah itu.
Dia tidak mengira rumah yang tinggali Mitha bercampur dengan laki-laki.
"Laki-laki tinggal juga di sini?" tanyanya penasaran.
"Iya. Ini itu kostnya campuran, tapi kamar laki-laki di bawah sedangkan kamar perempuan di atas. Apa kamu berpikir aneh-aneh?" tanya Mitha yang seolah tau ke mana pikiran Rial.
Rial segera naik ke lantai dua dan benar saja apa yang dia pikirkan. Walaupun kamar laki-laki di bawah namun mereka bisa bebas naik dan masuk ke kamar perempuan.
Mitha membuka pintu kamarnya, untungnya waktu dia pergi Mitha lupa mengunci kamarnya. Sedangkan tasnya masih berada di kantor polisi.
Kamar yang tidak terlalu besar namun cukup besar untuk ukuran anak mahasiswa. Didalamnya terdapat lemari, tempat tidur, dan perlengkapan dapur yang tersusun rapi. Wcnya pun ada di dalam kamar mereka masing-masing.
Rial memperhatikan setiap sudut di kamar, matanya tertuju pada sebuah foto di depannya.
"Cantik." pekik Rial senyum.
Dia lalu diam-diam mengambil salah satu foto yang tertempel di dinding kamar Mitha. Rial yang merasa tidak punya kenangan apapun bersama dengan Mitha meski hanya sebuah foto.
Rial dengan sigapnya memasukkan foto Mitha ke kanton celana. Dia tidak ingin ketahuan oleh Mitha yang sedang berada di kamar mandi.
"Kamu belum pulang? terus kapan teman saya bisa dibebaskan." Rial yang sedang memperhatikan foto Mitha dibuat kaget.
Rial pun membalikkan badannya dan alangkah kagetnya dia melihat Mitha yang sudah mandi begitu cantik dengan handuk yang berada di kepalanya dan daster berwarna hijau di badannya.
"Hey, kok diam saja." ucap Mitha sembari memeluk pundak Rial.
Rial memperhatikan Mitha mulai dari bawah hingga ke ujung rambut.
"Kamu kenapa?" tanya Mitha kembali.
Mitha yang risih diperhatikan Rial sebegitunya lalu memukul kembali Rial dengan keras yang membuat Rial meringis kesakitan dan bangkit dari lamunannya.
"Kamu tuli ya!" pekik Mitha kesal.
"Oh, soal teman kamu itu sebentar pasti dia juga bebas kok." ucapnya kaku.
"Ya sudah, Kamu pulang saya mu istirahat."
"Saya haus." ucap Rial sambil merebahkan tubuhnya ke kasur.
Mitha tak percaya kalau Rial akan sebebas itu di kamarnya, teman-temannya pun dari luar tampak membicarakannya.
Mitha yang tidak pernah sekalipun membawa seorang pria masuk ke kamarnya menjadi bahan candaan teman-temannya. Dia yakin setelah ini pasti dia akan ditanyai macam-macam.
__ADS_1
Bersambung...
❤️❤️❤️❤️**