Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Antara sedih atau senang


__ADS_3

Pak Arif langsung duduk,dia seperti tidak bisa menerima kalau Rial tidak lulus.



Erna dan orang tuanya terlihat kecewa.



"Ini pasti ada kesalahan,tidak bisakah kamu mengeceknya ke panitia." pak Arif menyuruh pak arka agar bisa membantu Rial.



Sedangkan Rial merasa bersalah karena membohongi ayahnya itu.


"Maaf ya Yah..Rial terpaksa melakukan ini "Rial memandangi wajah ayahnya yang masih tidak percaya atas kegagalannya.


Ibu Erna tampak memeluk rial.dia mencoba menenangkan Rial.


Pak arka langsung masuk ke dalam ruangan,dia masih berusaha agar Rial bisa lulus.


"Maaf pak.Soal anak yang baru keluar dari ruangan ini.Apakah tidak bisa kita ulangi tesnya?"


Salah satu panitia yang ada,langsung berdiri dan membawa pak arka menjauh dari panitia yang lain.


"Maaf pak,kami tidak bisa.karena anak tadi termasuk parah buta warnanya.Dan bapak tau sendiri kan kalau tes ini tidak bisa kita ulangi."



Pak arka merasa kecewa atas jawaban dari salah satu panitia,dia pun langsung meninggalkan panitia tersebut di dalam ruangan tanpa berpamitan.



sedangkan di luar ruangan,pak Arif masih berharap akan ada jawaban yang memuaskan dari pak arka.



"Bagaimana pak,apakah masih ada harapan? Pak arka tidak memberikan jawaban apapun.Dia hanya tertunduk saja.



Pak Arif tau kalau tidak ada harapan lagi.



"Kamu semangat ya nak!" Pak arka masih berusaha agar Rial tidak putus asa.



Dalam hatinya,Erna tau kalau tidak ada lagi harapan.Dia begitu sedih karena tidak bisa satu sekolah dengan Rial.Hilanglah kesempatan Erna bisa lebih dekat dengan Rial.



Dia begitu berharap,kalau dia bisa bersama-sama dengan Rial.Rial akan lebih peduli padanya.



Pak Arif segera pulang,dia membawa Arif.



"Ayo kita pulang." pak Arif langsung menarik tangan Rial.


"Iya Yah."


Mereka meninggalkan Erna dan kedua orang tuanya yang masih sangat kecewa.


Pak Arif dan Rial langsung menuju ke parkiran mobil.Pak Arif tidak banyak berbicara,membuat Rial merasa sangat bersalah.


Dia tau ayahnya sangat sedih,dia malu kepada orang tua Erna.



"Ayo masuk,Ayah antar kamu dulu ke rumah baru ayah akan ke kantor."



Rial tidak banyak bicara,dia hanya mengangguk tanda setuju.



"Ayah pasti sangat sedih,kasihan ayah." Rial melihat ayahnya yang masih sangat sedih.tampak sekali di wajahnya.



Sesampainya di rumah,Rial langsung turun dari mobil.



"Ayah tidak turun dulu."



"Ayah langsung ke kantor saja."



Rial pun masuk ke rumah,dia bingung apakah dia harus senang atau dia harus sedih.

__ADS_1



Rial tidak bisa mengungkiri,kalau dihatinya ada rasa sedih.Tapi bukan karena dia tidak lulus tapi karena mengecewakan orang tuanya.



Pak Arif menaruh harapan kepada rial.dia tau kalau Rial lulus di sekolah itu,masa depan Rial akan cemerlang.



"Assalamualaikum."



Rial langsung membuka pintu.Ibunya sudah menunggu di ruang tamu bersama dengan tantenya itu.



"Bagaimana nak?" ibu Nia menghampiri anaknya itu.



"Iya nak,bagaimana hasilnya?" Tante Dina ikut bertanya kepada keponakannya itu.Dia begitu penasaran.



Dengan tertunduk lesu,Rial langsung masuk ke kamarnya.dia tidak menjawab pertanyaan dari ibu dan tantenya yang masih penasaran.



Baru saja ibu Nia,akan mengikuti Rial dari belakang.Tapi telepon rumah berbunyi..



"Kring..kring...kring.."bunyi telepon.



"Kak ada telepon." Ibu Nia langsung mengangkat telepon.di ujung telepon terdengar suara pak Arif.



Ibu Nia langsung sedih setelah mengangkat telepon dari suaminya itu.



"Ada apa kak?" Tante Dina pun ikut penasaran apa yang dikatakan kakaknya sehingga kakak iparnya itu langsung terlihat sedih.




"Boleh ibu masuk nak?" sambil mengetuk pintu kamar Rial.


Rial yang sedang berbaring di kasur karena lega rencananya berhasil dikejutkan oleh ibunya yang mengetuk pintu.


"Iya Bu..masuk saja."Rial duduk di kasurnya.



Ibu Nia menghampiri Rial dan memeluknya.



Ibu Nia sedih,dalam hati Rial kalau ibunya itu pasti sudah tau apa yang terjadi.



"Maaf ya Bu,Rial mengecewakan ayah dan juga ibu." ibu Nia makin memeluk erat anaknya.



"Tidak apa-apa nak.Mungkin belum rejekinya Rial."



Ibu Nia memang ibu yang baik,dia tidak pernah sekalipun marah kepada anak-anaknya.itu yang membuat Rial menyayangi ibu sambungnya itu.



Sementara di ruang tamu,Tante dina masih penasaran apa yang terjadi.



"saya harus masuk." baru saja Tante dina berdiri langsung ditahan oleh suaminya.



"Kamu mau ke mana?" Tante Dina melepas tangan suaminya itu.



"saya penasaran,saya harus masuk."menunjuk ke kamar Rial.



Suami Tante Dina sekali lagi menghalangi suaminya itu.

__ADS_1



"Jangan,tidak enak.biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka.kita tidak usah ikut campur." Masih berusaha menghalangi istrinya itu.



"Saya ini juga bagian dari keluarga mereka.jadi,saya juga berhak tau."Masih saja berdebat



Tante Dina langsung menuju ke kamar Rial,dia tidak peduli lagi dengan suaminya.



Tante Dina melihat kak Nia dan Rial berpelukan.Ibu Nia sambil meneteskan air mata.


"Ada apa kak,kok kak Nia menangis?"


Ibu Nia melepaskan pelukannya dari Rial.



"Ini..Rial tidak lulus dari ujian tadi."



"Kok bisa..Rial." dia ikut tidak percaya kalau Rial tidak lulus.padahal dia pun sangat yakin kepada keponakannya.



"Iya Tante,Rial ternyata buta warna." menjelaskan kepada ibu dan tantenya tentang apa yang terjadi tadi di sekolah.



"Tidak apa-apa nak." memegang tangan Rial.



"Begini saja,kamu ikut Tante ke kampung saja."



"Ikut ke kampung,untuk apa?" tanya ibu Nia kepada adik iparnya itu.



"Begini kak,Rial sekolah di kampung saja,kalau di kampung tesnya tidak terlalu ketak."


Ibu Nia tidak setuju kepada Tante Nia.Dia tidak ingin berpisah dengan anaknya itu.


"Tidak usah dek,Rial sekolah di sini saja.masih banyak kok sekolah yang lain."


"Di kampung." Rial tersenyum.



Dia menemukan ide baru agar menghindar dari Erna.



"Kalau saya sekolah di sini,pasti ayah akan tetap berusaha mendekatkan saya dengan Erna."



"Bagaimana Rial?" tanya Tante Dina kepada keponakannya.



"Kalau Rial setuju saja." ibu Nia langsung memukul paha Rial.



"Jangan putus asa dong nak." ibu Nia masih tidak setuju dengan ide Tante nia.di tambah lagi Rial setuju saja.



Karena tidak ingin berdebat lagi dengan Tante Dina.ibu Nia langsung meninggalkan mereka.



Sedangkan Tante Dina masih di kamar Rial.



"Kamu setuju kan,nanti kalau Rial sekolah di kampung,kamu tinggalnya sama Tante."



Tante Dina masih membujuk rial.sedangkan ibu Nia ke dapur memasak dan menyiapkan makan siang untuk mereka.



"Nanti kita bicara saja sama ayahmu." Tante Dina yakin kalau kakaknya itu akan setuju.



Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2