Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab. 66


__ADS_3

**BISMILAHIRAHMANIRAHIM 💪


"Tante apa yang terjadi?" tanya Erna yang kehabisan nafas akibat berlari setelah mendengar pak Arif masuk ke rumah sakit.


"Tante juga tidak tau apa yang terjadi. Kejadiannya begitu cepat hingga saat ini rasanya masih syok." balas ibu Nia sembari memegang tangan Erna.


Erna mendekati pak Arif yang masih saja terpasang beberapa alat yang membantunya bertahan hingga sekarang. Batin Erna begitu terguncang, dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk itu akan berdampak pada masa depannya.


Karena selama ini hanya pak Arif yang mendukung hubungannya dengan Rial.


"Oh iya Tante. Rial ke mana?" tanyanya kembali. Dia yang sudah lama tidak bertemu dengan Rial menyimpan rindu mendalam kepada lelaki yang dia cintai dan perjuangin cintanya.


"Mungkin ini saatnya saya harus lebih agresif lagi. Saya tidak ingin menunda lagi." batin Erna yang sudah tidak tahan lagi atas perlakuan Rial kepadanya namun walaupun begitu dia tidak bisa melepaskan Rial begitu saja.


Di keheningan ruangan, ibu Nia masih saja tidak bisa tenang. Dokter pun selalu memantau keadaan suaminya itu.


"Mama sama papa kamu apa kabar! Tante sudah lama tidak bertemu." ibu Nia membuka kembali pembicaraan dengan keponakannya itu yang hanya duduk di samping pak Arif.


"Mereka sebentar lagi juga sampai kok Tante."


Sementara itu di tempat yang berbeda, Andra terlihat begitu senang bisa berduaan Kembali dengan Mitha.


Mitha yang duduk tenang namun hatinya begitu panik, dia masih kaget didatangi Erna yang mengaku sebagai tunangan Rial. Dia masih belum bisa melupakan pertemuan singkatnya.


Andra yang seolah sadar dengan kegelisahan Mitha langsung memegang tangan dan mencoba mencari tahu apa yang membuat Mitha begitu gelisah tak karuan.


"Kamu kenapa sayang!" sontak Mitha kaget mendengar pertanyaan Andra. Ingin rasanya dia cerita namun dia urungkan. Dia tidak ingin membuat Andra terlibat lagi dengan Rial, apa lagi kalau dia tahu kalau Erna baru saja mendatanginya dan mengancamnya.


"Hey, kamu kenapa?" tanya Andra kembali sembari tangan kirinya memegang wajah Mitha.


Mitha meraih tangan Andra yang menempel di wajahnya dan memegang tangannya, dia berusaha menyembunyikan keresahan hatinya.


Dengan tersenyum Mitha menatap mata Andra. "Tidak apa-apa kok!"


"Berapa lama lagi kita sampai. Saya sudah begitu lapar." Rengek Mitha mencoba mengalihkan perhatian Andra padanya.


"Kamu lapar. Maaf ya sayang, sebentar lagi kita sampai." Andra tersenyum bahagia, rasanya inilah yang dia inginkan. Manjanya dan kepolosan Mitha inilah yang ingin dia lihat kembali.

__ADS_1


Andra mengemudikan mobilnya begitu cepat, dia tidak ingin membuatnya Mitha semakin merasakan kelaparan yang tak terhingga.


"Akhirnya kita sampai juga!' ucap Andra, matanya mencoba mencari parkiran yang kosong. Kedatangan mereka memang waktu di mana orang-orang datang untuk mengisi perut mereka.


"Kamu turun duluan, nanti saya nyusul." ucap Andra.


Mitha hanya mengangguk tanda dia setuju, "Ya sudah, saya tunggu di dalam." balas Mitha.


Mitha masuk ke dalam restoran, dia mencoba mencari tempat duduk yang kosong dan juga nyaman. Hingga matanya tertuju ke meja pojok yang ada di restoran itu.


"Kok berdiri di sini?" tanya Andra yang melihat Mitha hanya berdiam diri.


Mitha segera menoleh ke arah belakangnya. "Saya tunggu kamu. Ayo kita ke sana!' ajak Mitha sambil menuju ke arah yang dimaksud.


Andra mengandeng tangan Mitha, agak risih bagi Mitha di saat semua mata memandang ke arah mereka berdua. Bagi Mitha mungkin karena Andra yang sangat tampan dan juga mempesona bagi para wanita yang ada di restoran itu.


"Lepaskan Andra." Mitha melepaskan tangannya dari gengaman tangan Andra.


"Kamu kenapa. Kok di lepas sih!"


"Coba lihat, cewek-cewek lihatin kita."


Salah satu pelayan menghampiri mereka.


"Ada yang bisa saya bantu, atau bapak sama ibu mau langsung memesan makanan." ucapnya sembari menyodorkan kertas yang bertuliskan menu yang ada.


"Sayang kamu mau makan apa?" tanya Andra.


"Apa saja. kamu saja yang pilih!" pinta Mitha.


"Baiklah kalau begitu. Nasi gorengnya 2 dan juga minumnya es teh manis saja." lanjut Andra yang diikuti anggukan pelayan tersebut.


"Baik pak. Makanannya akan segera siap."


Di salah satu meja yang berada tak jauh mereka, cewek-cewek tampak bergosip membicarakan betapa beruntungnya Mitha.


"Lihat deh. Cowoknya cakep banget andai saja saya yang ada di sana!' ucapnya yang membuat gelak tawa temannya yang lain.

__ADS_1


"Kita foto mereka terus kita upload di sosmed."


******


Ibu Rita kembali dengan wajah yang sangat kesal, baru kali ini dia merasa tidak di hargai. Di tambah lagi dia harus memikirkan cara agar Ari bisa bebas.


Namun entah kenapa dia memikirkan Rial, sifatnya yang tegas kembali mengingatkannya kepada Arif laki-laki yang pernah dia cintai. Namun karena perbedaan diantara mereka yang membuatnya tidak bisa bersatu.


Dia masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba kaget ketika seorang pria masuk dengan wajah yang sangat marah.


"Papa sudah pulang." tanya ibu Rita dengan nada yang gemetaran.


"Apa yang terjadi sama Ari, kenapa dia harus masuk penjara dan kamu hanya diam saja." pak Rudi begitu marah ketika dia mengetahui pewaris perusahannya harus berurusan dengan polisi.


"Tenang pah, mama sedang berusaha agar Ari bisa segera bebas." lanjut ibu Rita.


"Kamu ini jaksa yang hebat, pasti banyak petinggi polisi yang kamu kenal dan hormat sama kamu. Tapi masalah sekecil ini kamu tidak bisa selesaikan." ucapnya kembali.


Ibu Rita hanya terdiam, dia tidak bisa lagi berkata-kata. Dia juga terlalu takut kepada suaminya walau dia seorang jaksa yang hebat dengan karir yang cemerlang namun dia tetaplah seorang ibu rumah tangga biasa ketika di rumah.


"Mama janji, ari akan segera pulang." ucap ibu Rita tegas.


"Saya tunggu janji kamu!" pak Rudi buru-buru keluar, dia tidak bisa hanya mengandalkan istrinya saja. Dia harus turun tangan langsung dan segera menuju ke kantor polisi.


Rial yang masih saja menaruh dendam kepada penabrak ayahnya, segera dia menemui Ari yang berada di dalam ruangan. Dia masih belum dimasukkan ke dalam sel mungkin karena ketenaran dan kekayaan kedua orang tuanya hingga dia diperlakukan begitu spesial.


"Kenapa kamu menabrak ayah saya?" tanya Rial yang mencoba menahan amarahnya.


"Kamu bertanya sebagai apa. Apa seorang polisi atau seorang anak!" tanya Ari tersenyum sinis.


"Jawab saja. Apa susahnya sih tinggal jawab saja."


"Saya tidak sengaja menabrak laki-laki tua Bangka itu. Jadi bebaskan saya dari sini, tapi, saya yakin orang tua saya akan melakukan apa pun agar saya bisa bebas." ucap Ari.


"Jangan harap! saya akan lakukan apa pun agar kamu bisa mempertanggung jawabkan perbuatan kamu." Rial tampak percaya diri dan berlalu dari Ari.


"Kalau begitu segera siapkan pengacara yang terbaik karena saya akan menyiapkan pengacara hebat agar anak saya bisa bebas." Rial kaget, dia tidak menyadari kalau pak Rudi sudah dari tadi mendengarkan percakapan mereka.

__ADS_1


Bersambung**.....


__ADS_2