Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab. 71


__ADS_3

**BISMILAHIRAHMANIRAHIM 💪


Tanpa sadar dari kejauhan sebuah kamera sedang mengintai mereka.


"Tunggu saja. Kalian pasti akan segera berpisah selamanya." Batin Erna sembari mengeluarkan senyum sinis penuh kemarahan.


Kali ini dia harus menahan kemarahannya,dia tidak ingin lagi bertindak ceroboh seperti biasanya.


"Terima kasih." Ucap Rial tersenyum penuh kebahagiaan begitu pula dengan Mitha. Kali ini Mitha tidak ragu lagi kalau hatinya masih sangat mencintai Rial. Sekuat apapun dia menghindar namun tetap saja hatinya masih untuk Rial.


"Sudah sore. Ayo kita pulang!" ajak Mitha dan diikuti anggukan Rial.


"Sial." Umpat Ari kesakitan.


"Kamu sini!" Panggil Ari kepada salah satu temannya yang masih tergelatak di tanah.


"Kamu ikuti laki-laki tadi dan cari informasi sebanyak mungkin." Ucap Ari penuh kemarahan.


"Baik bos."


*****


"Kita langsung pulang atau mampir makan dulu!" Ucap Rial yang dari tadi tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Mitha.


"Kita pulang saja!"


"Yakin tidak lapar."


"Yakin."


"Ya sudah kita pulang ya!" Rial mencium tangan Mitha dengan lembut.


Rial mengantar Mitha sampai ke depan pintu kamar kosnya.


"Tidak mampir!" Ucap Mitha.


"Ya mampirlah. Kamu buka pintu sekarang dong." Mitha kaget mendengar jawaban Rial,dia hanya sekedar basa basi harus dibuat tak berdaya.


Rial meraih kunci kamar dan segera membuka pintu kamar Mitha. Sementara Mitha masih saja terdiam di depan pintu kamarnya, pikirannya melayang-layang apa yang akan terjadi selanjutnya. Baginya kejadian di taman sudah cukup membuat ya shock.


"Ayo masuk!" Ucap Rial kembali.


"Iya." Mitha masih tampak canggung dibuatnya. Melihat itu Rial semakin bersemangat menggoda Mitha dan wajah Mitha seketika memerah.


"Saya lapar." Ucapnya.


"Ha...Lapar. Kalau begitu kamu pulang saja terus mampir di warung atau apa deh terus makan." lanjutnya.


Rial tertawa terbahak-bahak dan mencubit pipi Mitha.


"Saya mau makan di sini dan bersama kamu."


"Makan di sini tapi tidak ada yang bisa di makan. Atau begini saja kita pesan saja yah!"


Rial beranjak ke dapur dan melihat sebungkus mie instan yang masih tersisa.


"Ini ada mie, kita makan ini saja."


"Mie."


"Iya. Memangnya kenapa?"


"Itukan cuma sebungkus."


"Terus."

__ADS_1


"Saya juga lapar bapak Rial." Ucap Mitha lembut sambil memegang perutnya.


"Haaaaaaaaa." Rial kembali tertawa melihat sikap lucu Mitha.


"Ya sudah, kita makan mie ini berdua saja."


"Ha."


"Iya. Kamu diam saja biar saya yang masak." Ucapnya lagi.


Mitha hanya bisa berdiam diri memandang Rial yang asyik memasak mie untuk mereka. Kelihaian Rial memasak sedikit membuat kagum Mitha.


"Jangan melihat saya seperti itu." Ucap Rial yang sadar sedari tadi Mitha memperhatikannya.


"Siapa juga yang liatin."


"Sudah siap! Ayo makan!" Ajak Rial. Di depan mereka kini hanya ada semangkok mie rebus dengan dua telur di atasnya dan juga sendok.


"Sendok ya kok cuma satu. Kamu makan pakai apa?" Tanya Mitha yang sedikit heran.


Rial buru-buru mengambil sendok. "Siapa bilang ini untuk kamu."


"Ya sudah, kamu pakai saja ini sendok biar saya ambil sendiri."


Mitha yang ingin berdiri tiba-tiba tangannya di pegang erat oleh Rial.


"Kamu ini kenapa?" Tanyanya kembali.


"Buka mulut."


"Apa!"


"Apa kamu itu tidak bisa langsung menurut gitu." Ucap Rial.


"Buka mulutnya Mitha." Lanjutnya lagi.


"Enak kan!" Ucap Rial tersenyum.


"Enak juga sih." Batin Mitha.


Mitha kembali membuka mulutnya berharap Rial akan kembali menyuapinya.


Hanya ada kebahagiaan di malam itu, senyum dan tawa menghiasi di wajah mereka.


Mereka tidur dengan saling berpelukan, seolah ingin melepas rasa cinta dan rindu yang tertahankan selama bertahun-tahun.


*****


Pagi pun menjelang, Rial dan Mitha masih tertidur berpelukan hingga suara alarm membangunkan mereka.


"Kamu tidak ke kantor?" Tanya Mitha.


"Malas ah." Jawab Rial dengan memeluk Mitha semakin erat.


"Kamu harus bangun dan segera pulang." Pinta Mitha sembari beranjak dari tempat tidurnya.


"Ayo bangun!" Lanjut Mitha kembali membangunkan Rial.


"Iya. Saya akan bangun."


"Sekarang pulang sebelum anak-anak kos lain melihat mu di kamar." Ucap Mitha.


"Iya."


Sementara itu, Erna tampak sudah tidak sabar menunggu Andra. Dia menunggu Andra tepat di di depan kantornya. Rencana jahat yang dia susun sudah begitu sempurna.

__ADS_1


Seketika terlihat mobil berwarna hitam melintas di depan matanya.


"Itu dia." guman Erna.


"Bapak Andra apakah kita bisa bicara." Ucap Erna menghampiri Andra yang baru saja turun dari mobilnya.


"Kamu. Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Andra.


"Bisakah kita bicara sebentar saja." Pinta Erna.


"Soal apa ya! Kalau menyangkut soal Rial saya tidak peduli." Andra pun segera berlalu dari Erna, dia sama sekali tidak peduli dengan apa yang akan dikatakan Erna.


"Tapi soal mereka berdua." Langkah kaki Andra terhenti dan berbalik mendekati Erna. Tampaknya kali ini Andra sudah masuk dalam perangkap Erna.


"Maksud kamu apa. Berdua...berdua apanya dan siapa!" Andra tampak begitu penasaran.


"Ini soal Mitha dan juga Rial. Jadi ikut saya sekarang!" Pinta Erna.


Erna pun masuk ke dalam mobilnya dan diikuti Andra.


"Cepat katakan. Apa yang terjadi!" Lanjut Andra.


Tanpa berlama-lama Erna mengeluarkan hpnya dan segera memperlihatkan semua yang terjadi di taman antara Rial dan juga Mitha.


Mata Andra memerah, dia kaget melihat apa yang dilihatnya.


Erna tersenyum dalam hati, rencananya untuk membuat Andra murka berhasil.


"Sialan." Umpat Andra.


"Bagaimana apakah masih mau menolak bekerja sama dengan saya." Erna memulai menjalankan aksinya untuk lebih mempengaruhi Andra.


Andra terdiam sejenak.


"Apakah kamu yakin dengan kita bekerja sama mereka akan berpisah." Lanjut Andra.


Erna tersenyum. "Saya yakin dan pasti berhasil."


"Baiklah kalau begitu, kamu hubungi saya rencana apa yang harus kita lakukan." Andra meninggalkan Erna yang tampak puas.


"Oke."


Di ruang kerjanya Andra membanting semua barang, emosinya memuncak tak terhindarkan.


"Mitha akan menjadi milik saya, bagaimana pun caranya saya akan lakukan apapun itu." Pekik Andra.


"Aaaaaa." Teriakan Andra sampai terdengar dari luar namun tak ada yang berani mendekat.


"Saya pulang dulu ya. Sebentar malam saya jemput kamu terus kita keluar." Ucap Rial berpamitan kepada Mitha.


"Iya."


Rial langsung berangkat ke kantor dan setibanya di kantor, alangkah terkejutnya dia melihat Andra sudah berada di depannya.


"Sini kamu!" Ucap Andra menarik lengan baju Rial.


"Mau ke mana?" Tanya Rial santai.


Tubuh Rial terlempar begitu jauh. " Sudah berapa kali saya peringatkan kamu agar berhenti menganggu Mitha tapi, kenapa kamu tidak mau peduli."


"Kamu tampaknya salah paham, kapan saya bilang akan berhenti. Tidak akan pernah."


"Saya mencintai Mitha dan begitu pun Mitha mencinta saya dan selamanya saya dan Mitha akan terus bersama." Lanjut Rial.


"Bersama. Jangan harap!" Ucap Andra.

__ADS_1


Bersambung**.....


__ADS_2