Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab 38. Rindu Tersembunyi


__ADS_3

❤️❤️❤️


Saya lanjutkan ya!


Jangan bosan untuk membaca kelanjutan Cerita Rial dan juga Mitha.


Rial berusaha menahan dirinya yang tak kuasa menahan rindu kepada Mitha. Sudah cukup lama dia menantikan hal seperti ini.


Tak pernah terpikirkan oleh mereka akan bertemu dengan tak terduga. Rial serasa tidak percaya ketika wanita yang bertahun-tahun begitu dia rindukan ada dihadapannya sekarang.


Namun dia juga sadar kalau Mitha bukan miliknya lagi


"Lepaskan, biarkan saya pergi. Saya betul-betul tidak tau kalau teman saya akan membawa ke sini." Rial masih saja memandang Mitha, ocehan Mitha inilaha yang dia rindukan. Ingin rasanya dia memeluk untuk menghilangkan sedikit rasa rindunya.


Rial menarik tangan Mitha begitu kencang "Kamu mu bawa saya ke mana?" tanya Mitha.


Alangkah kagetnya dia ketika melihat Ira dab juga yang lainnya sudah berada di atas mobil polisi.


"Apakh saya akan bernasib sama dengan mereka." guman Mitha dalam hati.


Mitha masih berusaha melepaskan tangannya namun usahanya sia-sia, terlalu erat Rial memegang tangannya.


"Kamu naik sekarang." ucap Rial sembari membukakan pintu mobilnya untuk Mitha.


"Tapi." Belum sempat Mitha melanjutkan kata-katanya, tubuhnya didorong masuk ke mobil oleh Rial.


Mitha terlihat begitu kesal, bagaimana mungkin Rial bisa sekasar itu padanya. Namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Inilah risiko yang harus dia dapatkan ketika ikut-ikutan bersama dengan Ira.


⭐⭐⭐


Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan, tak satupun dari mereka yang berani memulai pembicaraan. Sesekali Mitha melirik ke arah Rial. Dilubuk hatinya paling dalam masih begitu besar rasa cinta untuk laki-laki di sampingnya itu.


Sekeras apapun Mitha berusaha melupakan Rial, dihati dan pikirannya hanya ada Rial. Kehadiran Andra pun dalam hidupnya tak mampu membuat dia melupakan Rial begitu saja.


Sampailah mereka di kantor polisi. Ira dan dan lainnya pun sudah duluan berada di sana.


Terlihat mereka duduk berjejer dan satu per satu dari mereka didata oleh salah satu polisi.


"Nama kamu?" ucapnya dengan suara tegas yang membuat Mitha semakin ketakutan.


"Apakah saya akan seperti mereka." ucap Mitha.

__ADS_1


Rial berpura-pura tidak mendengar ucapan Mitha yang dari tadi. Dia terlihat marah akan sikap Mitha yang begitu dingin kepadanya. Mereka berdua seperti orang asing yang tak pernah mengenal satu sama lain.


"Dia kenapa? Dasar aneh." pekik Mitha kesal.


"Hey kamu ke sini!" ucap polisi yang tadi mendata teman-temannya.


Mitha semakin ketakutan dan Rial yang berada di sampingnya hanya terdiam membatu tanpa berusaha membantunya.


"Rial." ucap Mitha memelas.


Karena tak menghiraukan ucapannya, polisi itupun menghampiri mereka dan menarik Mitha hingga hampir saja membuat Mitha terjatuh.


Rial bukannya tidak ingin membantu, dia juga tidak tega melihat Mitha diperlakukan dengan kasar di depan matanya. Tapi, dia juga harus bersikap profesional tanpa membela siapapun.


Rial berlalu begitu saja dari pandangan Mitha dan kini Mitha pun hanya pasrah. Dia tidak ingin bergantung kepada Rial dan pasti bisa melaluinya sendiri tanpa bantuannya.


"Kalian akan didata terlebih dahulu dan jangan coba-coba untuk melawan." ucap Rial.


Mitha mengomel sendiri dalam hatinya, Rial bukan orang yang dia kenal dulu. Rial yang penyayang dan lembut tidak ada lagi dalam diri Rial sekarang. Padahal sifat Rial yang dulu itulah yang membuat Mitha jatuh cinta hingga kini.


"Apa kamu kenal polisi itu?" tanya Ira.


"Tidak, mana mungkin saya kenal." jawabnya sedikit kesal.


"Masa sih kamu tidak kenal. Buktinya tadi kamu diperlakukan baik tidak seperti kamu." lanjutnya penasaran.


"Jangan mengada-ngada. Mana mungkin saya kenal dan ini yang harus kamu ingat, saya tidak ingin mengenal laki-laki seperti itu." ucap Mitha dengan pandangan kebencian ke arah Rial.


Mitha sengaja memperdengarkannya kepada Rial yang berada tepat dihadapannya. Dia yang berusaha mengentak kata hatinya sendiri.


Walaupun kata-kata yang keluar dari bibirnya tidak sesuai dengan hatinya sendiri.


Rial terlihat sedih, matanya berkaca-kaca mendengar ucapan Mitha yang membuat hati ya begitu sakit.


Kata-kata dari pak Arif melalui surat itu yang membuatnya mengingkari hatinya sendiri.


"Kalian bawa mereka ke dalam." Teriak Rial yang membuat orang yang ada di situ kaget Begitu pula dengan anak buahnya, mereka tidak menyangka kalau atasan mereka bisa semarah itu.


Rial yang terkenal pendiam dan juga penuh rasa iba berubah menjadi atasan yang tegas dan juga kasar.


Dengan tangan yang diborgol mereka semua di bawa ke dalam kantor begitu pula dengan Mitha.

__ADS_1


⭐⭐⭐


Dengan wajah yang tampak sedih, Rial kembali ke dalam ruang kerjanya dan hanya memperhatikan Mitha dari kejauhan.


Kini Mitha lebih bisa menerima kalau dia berurusan dengan polisi sekarang. Yang tadinya memberontak sekarang hanya bisa pasrah. Dia hanya takut kalau orang tuanya di kampung tau dan juga Andra.


Hanya akan terjadi kesalapahaman antara dirinya dengan Andra apalagi kalau Andra sampai tau dirinya bertemu dengan Rial.


Mitha tau betul akan sifat Andra yang tempramental kalau menyangkut soal Rial.


💖💖💖


Mitha tertidur dikursi, tubuhnya terlihat kedinginan. Rial yang tidak tega mengambil selimut di mobilnya dan ingin memberikan kepada Mitha.


Suasana yang sepi dengan orang-orang yang sudah tertidur lelap. Rial menghampiri Mitha yang sedang tertidur.


Rial memandang Mitha, tangannya membelai rambut yang terurai dan menutup sebagian wajahnya.


Baru saja Rial ingin menyelimuti Mitha, akan tetapi tubuh Mitha mengigik begitu kencang hingga Rial berusaha memegang tangan Mitha yang ternyata sudah begitu panas.


Rial semakin khawatir dibuatnya, dia pun memegang kening Mitha dan benar saja dugaannya begitu panas hingga membuatnya semakin panik.


Rial tidak ingin menunggu lama dan dengan sigapnya Rial membawa Mitha ke rumah sakit. Dia yang semakin khawatir ditambah lagi Mitha kini sedang tak sadarkan diri.


Dengan berlari Rial menggending Mitha menuju ke rumah sakit dan segera membaringkan tubuh Mitha di ranjang.


"Bagaimana keadaanya dok?" tanyanya.


"Bapak tenang saja, dia hanya dengan biasa mungkin karena faktor cuaca yang tidak menentu. Tadi kami sudah memberinya obat." lanjutnya.


"Syukurlah, kamu tidak kenapa-kenapa. Saya tidak akan bisa memaafkan diri saya kalau tetjadi sesuatu yang buruk." Guman Rial dalam hati.


Kini hanya tinggal mereka berdua.


"Istrinya ya pak!" tanya salah satu perawat ybg sedang memberikan suntikan kepada Mitha.


"Bukan sus." ucapnya.


"Masa sih pak, kalau bukan istri pasti calon istrinya ya. Karena saya lihat bapak begitu khawatir sampai-sampai tatapan bapak tidak pernah lepas." lanjutnya lagi yang seakan tidak percaya.


"Ita pasti bapak sangat mencintai gadis itu." ucap salah satu pasien yang berada di samping mereka dan diam-diam memperhatikannya.

__ADS_1


💖💖💖


Bersambung.....


__ADS_2