Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab. 61


__ADS_3

**BISMILAHIRAHMANIRAHIM💪


Malam semakin larut namun Mitha tak kunjung tak sadarkan diri. Rial dan Andra semakin panik tak karuan.


Andra yang mulai bisa mengendalikan emosinya berdiam diri memandang masuk ke arah Mitha terbaring begitu pula dengan Rial yang berdiri sejajar dengan Andra.


Pandangan Rial jauh ke depan, dia ketakutan memikirkan hal buruk yang akan terjadi. Rasa bersalah yang mendalam pula semakin menghantuinya.


"Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk sama Mitha saya akan buat hidup kamu menderita." pekik Andra tenang.


"Camkan itu!" ancamnya kembali.


Rial hanya terdiam saja, dia sadar kalau semua kesialan yang menimpa Mitha pasti selalu berhubungan dengannya.


Dari dalam ruangan, Mitha perlahan-lahan membuka matanya. Walau masih terasa berat namun dia tetap berusaha. Andra dan Rial yang tak pernah menghilangkan pandangan bersamaan berlari menuju ke arah Mitha.


Mitha tampak masih berusaha membuka matanya, perlahan-lahan dia membuka matanya yang masih terasa berat.


"Alhamdulillah kamu sudah bangun sayang!" ucap Andra menggengam tangan Mitha.


"Andra. Saya di mana?" tanya Mitha lemah.


"Kamu di rumah sakit. Tapi kamu tenang saja saya tidak akan meninggalkan kamu." lanjut Andra.


**Mitha melihat ke arah Rial yang masih saja terdiam seperti patung namun tatapannya tak pernah lepas dari Mitha.


"Ayah kamu bagaimana?" tanya Mitha lanjut.


"Kamu jangan pikirkan yang lain dulu, kamu istirahat saja!" ucap Andra.


Lalu Andra menarik kerah baju Rial menjauh dari Mitha, dari kejauhan Mitha hanya bisa menyaksikan Rial menjauh darinya.


Tanpa sepatah kata Rial meninggalkan Mitha bersama dengan Andra, dia begitu lega melihat Mitha yang sudah sadarkan diri. Dia berlalu dan menuju ke ruangan ayahnya di rawat.


"Apa ayah sudah sadar?" tanyanya kepada ibu Nia yang juga tak pernah lepas dari suaminya**.


"Belum. Tapi, kata dokter ayahmu akan baik-baik saja ini semua berkat Mitha. Kita berutang nyawa kepada Mitha." ucap ibu Nia menghela napasnya.


"Oh iya, keadaan Mitha bagaimana?" tanyanya kembali.


"Dia sudah sadar tapi masih terlihat lemah." jawabnya.


"Alhamdulilah, sekarang ibu semakin yakin kenapa kamu tidak bisa lepas darinya." lanjutnya.


"hmmm." Rial seperti tidak bersemangat, dia masih saja memikirkan Mitha namun apalah dayanya dia tidak bisa bersama dengan Mitha kini. Ada Andra yang menjaganya dengan sepenuh hati dan tulus.


"Kalau boleh ibu tau, yang berkelahi denganmu itu siapa?" tanya ibu Nia penasaran.


Pertanyaan ibu Nia membuatnya kaget.

__ADS_1


"Rial, ibu tanya dia siapa?" tanya kembali ibu Nia yang melihat Rial hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu.


Rial duduk di samping ayahnya sembari memandang ayahnya yang terbaring lemah tak berdaya.


"Itu Andra Bu! Dia kekasih Mitha sekarang."


"Apa. Jadi Mitha sudah menjadi milik orang lain."


"Iya Bu. Tapi, saya tidak bisa melepaskan Mitha begitu saja. Saya tau kalau Mitha tidak mencintai Andra, dia hanya melampiaskan sakit hatinya kepada Andra."


"Ayahmu memang keterlaluan, dia membuat kamu kehilangan orang yang berharga. Seandainya saja waktu itu ayahmu tidak mengirim surat kepada Mitha mungkin sekarang kamu dengan Mitha sudah bersama dan bahagia." lanjutnya


******


Dua orang pria berpakaian polisi lengkap menghampiri ibu Nia dan juga Rial.


Rial bangkit dan mendekati kedua pria tersebut.


"Pak Rial, kenapa bapak ada di sini?" tanya salah satu dari mereka.


"Kalian sendiri sedang apa di sini. Apa ada kasus yang sedang bapak selidiki?" tanya Rial penasaran.


"Kami sedang menyelidiki kasus kecelakaan yang terjadi siang tadi." jawabnya.


"Berarti kalian sedang menyelidiki kasus kecelakaan ayah saya."


"Ayah bapak."


"Memangnya ada janggal dengan kecelakaan yang menimpa ayah saya!"


Kedua polisi tersebut mengajak Rial menjauh dari ibu Nia. Dia tidak ingin kalau pembicaraan mereka sampai terdengar orang lain. Rial yang terlihat penasaran ikut bersama dengan kedua polisi tersebut.


"Coba jelaskan sama saya apa yang terjadi." ucap Rial.


"Bapak tenang dulu. Kami mendapatkan sedikit petunjuk tentang kecelakaan ini."


"Petunjuk apa. Tolong jelaskan kepada saya." Rial terlihat semakin penasaran saja.


"Begini pak, kami menemukan kalau kecelakaan yang menimpa ayah bapak karena kelalaian seseorang jadi ini bukan kecelakaan tunggal." ucapnya panjang lebar menjelaskan kepada Rial.


"Tapi pak!" ucapnya tidak ingin melanjutkan perkataannya.


"Tapi apa?" tanya Rial kembali.


Kedua polisi tersebut tampak ragu-ragu, mereka tau dengan siapa yang mereka hadapi sekarang.


"Tapi apa!" teriakan Rial sampai terdengar oleh ibu Nia.


"Maaf pak. Kami sudah tau siapa yang menyebabkan kecelakaan ini. Tapi kami tidak bisa berbuat apa-apa." lanjutnya.

__ADS_1


Rial semakin tidak paham dengan maksud kedua rekan kerjanya itu.


"Tolong pak jelaskan lebih rinci, saya tidak mengerti dan siapa dia sampai kita tidak bisa menangkapnya?"


Kedua polisi tersebut hanya diam yang membuat Rial makin terlihat emosi.


"Siapa dia?" tanya kembali.


kedua polisi tersebut saling memandang satu sama lain, tidak ada yang berani memberitahukan kepada Rial.


Rial lalu merebut buku yang dipegang oleh salah satu polisi tersebut, dia kaget melihat catatan hasil penyelidikan dan nama yang dilihatnya tertulis Ari.


"Ari. Dia siapa?" tanyanya kembali.


"Dia adalah anak salah satu konglomerat terkemuka di Makassar terus ibunya adalah seorang jaksa yang terkenal juga. Mereka keluarga yang kebal hukum." ucap salah satu polisi tersebut


"Tapi tidak dengan saya. Saya akan pastikan dia menerima hukuman yang setimpal." Ucap Rial penuh amarah.


⭐⭐⭐


Sementara itu di ruangan lain, terlihat Mitha sudah bisa tersenyum. Perlahan-lahan keadaannya mulai membaik yang membuat Andra terlihat sedikit bisa bernapas lega.


Dia tidak bisa berpikir jernih ketika melihat Mitha terbaring lemas.


"Kamu jangan begini lagi ya!" ucap Andra lemah lembut.


"Maaf karena membuat kamu khawatir."


"Tapi saya mau pulang ke rumah saja." ucap Mitha kembali.


"Pulang. Memangnya kamu sudah sehat." lanjut Andra.


"Iya saya sudah sehat kok! Saya tidak nyaman tidur di rumah sakit mending di rumah sendiri." rengek Mitha.


"Baiklah, saya tanyakan dulu sama dokter ya. Apa kamu bisa pulang atau tidak."


"Tidak usah. Kita langsung pulang saja." Mitha terlihat memohon kepada Andra, dia tidak betah harus berlama-lama di rumah sakit.


Karena tidak tega mau tidak mau Andra harus menuruti permintaan kekasihnya itu. Dia tidak akan bisa menolak ketika Mitha meminta sesuatu kepadanya.


"Ya sudah kita pulang yah!"


Mitha tersenyum bahagia, dia sudah tidak sabar ingin pulang ke rumahnya. Bukan hanya tubuhnya yang sakit namun batinnya juga terlihat lelah. Di tambah lagi kehadiran Andra dan Rial di tempat yang sama semakin membuatnya kepikiran.


Mitha takut kalau terjadi perkelahian antara Rial dan juga Andra. Itulah yang membuat Mitha tidak tenang ketika harus memikirkan apa yang akan terjadi.


Bersambung


*Tolong teman-teman di like dan tinggalkan komentar untukku ya!

__ADS_1


Terima kasih*!!!!!


__ADS_2