Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab.69


__ADS_3

**BISMILAHIRAHMANIRAHIM


***


Dengan tatapan penuh amarah Rial memandangi hpnya yang telah hancur tak bersisa.


"Kamu gila ya!" ucap Rial.


Erna terdiam sejenak, dia juga tidak menyangka kepada dirinya bisa berani melakukan ini kepada Rial.


"Iya...saya gila dan ini semua gara-gara kamu." Erna menatap Rial, dia berusaha melawan rasa takutnya sendiri.


"Kurang saya apa di bandingkan wanita itu. Kamu selalu saja bersikap baik kepada dia sedangkan sama aku." ucapan Erna terhenti sejenak menahan rasa tangisannya.


"Tolong lupakan dia. Saya mohon..." rengek Erna meneteskan air mata yang tak terbendung lagi. Segala yang tersimpan dihatinya dikeluarkan malam itu tak ada sedikitpun yang tersisa.


Rial menarik nafas begitu dalam, tangannya dia gengam dan "Prakkkk." suara pukulan yang begitu kencang menghantam tembok rumah sakit.


***


"Halo..halo.." teriak Mitha di balik telepon. Sesekali dia melihat hpnya ingin memastikan jaringan yang ada.


"Halo..Rial, kamu baik-baik saja!" ucap kembali Mitha namun tak ada jawaban apa pun.


Mitha mencoba menelpon kembali Rial tapi hanya ada jawaban operator di ujung telepon.


"Apa yang terjadi sebenarnya! semoga saja Rial baik-baik saja ya Allah." batin Mitha penuh harap**.


Kembali ke rumah sakit!!!!


**Rial merangkul kedua lengan Erna penuh amarah, dia tidak terpengaruh sedikit pun dengan apa yang didengarnya.


"Jangan bandingkan diri kamu dengan dia. Kamu tidak berhak sedikit pun untuk mengatakan apapun tentang dia. Ingat itu!" Rial melepaskan tangannya dari badan Erna yang membuatnya hampir saja terjatuh.


Rial memungut satu per satu pecahan hpnya yang sudah tak berbentuk dan pergi meninggalkan Erna yang diam mematung tanpa bisa berkata apa-apa. Hanya ada air mata yang masih jatuh membasahi wajahnya yang penuh rasa kecewa kepada Rial.


Sementara itu Mitha tak bisa memejamkan matanya, sesekali dia melihat hpnya yang berada tepat di sampingnya. Dia benar-benar terlihat gelisah tak karuan.


Dalam lamunan Mitha hpnya tiba-tiba bunyi dan "Halo...apa yang terjadi?" tanya Mitha di ujung teleponnya.


"Halo sayang, kamu kenapa?" tanya balik Andra.


"Andra."


"Iya. Memangnya kamu kira siapa?" Andra terdiam sejenak.


"Bukan Rial kan!" lanjutnya lagi yang curiga kepada Mitha.

__ADS_1


Mitha yang kaget, bibirnya bergetar. " Ya bukanlah, itu tadi ada temanku aku yang telepon." ucapnya ragu-ragu.


"Kamu belum tidur, ini sudah larut malam lho. Kok kamu belum tidur." ucap Mitha berusaha mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin Andra semakin curiga kepadanya.


Andra tersenyum di balik telepon. "Atau kamu masih kerja." ocehan Mitha semakin membuat Andra melayang, dia yang haus akan kasih sayang terutama seorang ibu kini dia dapatkan dari sosok Mitha.


"Halo...kok diam" ucap kembali Mitha ketika tak terdengar suara Andra.


"Kamu masih di situ kan Andra!"


"hmmm..."


"Syukurlah."


"Kamu kerja apa?" tanya Mitha penasaran.


"Oh ini soal kasusnya ayahnya Rial. Besok kan saya akan mulai ke kantor polisi dan rencananya pengacara Ari juga akan datang. Jadi kami akan bertemu besok." lanjut Andra.


"Oh iya. Saya lupa, kalau begitu saya akan temani kamu begadang ya!"


"Janganlah! kamu tidur saja, saya tidak mau kamu sakit gara-gara ini. Jadi saya matikan ya!"


"Selamat malam sayang!" Andra menutup teleponnya dengan perasaan sangat bahagia.


"Halo...Andra...Andra..." teriak kembali Mitha yang tidak terima Andra menutup teleponnya begitu saja.


Mitha melupakan sejenak kegelisahannya terhadap Rial, rasa kantuknya pun sudah tak bisa dia tahan**.


Keesokan harinya di kantor polisi...


**Rial sudah terlebih dahulu di kantor, dia menunggu di depan melihat ke depan pintu gerbang. Menunggu Andra yang tak kunjung datang padahal waktu sudah menunjukkan pukul 08.00.


Ibu Rita ditemani pengacara pun sudah tampak terlihat.


1 jam berlalu, Andra masih saja belum terlihat.


"Pak, ini sudah jam berapa. Saya sudah tidak ada waktu lagi untuk menunggu pengacara kamu itu. Saya sibuk dan masih banyak yang harus saya urusi." ucap ibu Rita menghampiri Rial.


"Tunggu sebentar lagi!" pinta Rial.


"Baiklah, saya beri kamu waktu setengah jam lagi kalau tidak mau tidak mau saya akan selesaikan urusan anak saya." lanjutnya.


Andra yang baru sejam lalu memejamkan matanya tak kuasa membuka matanya, kantuk yang dia rasakan begitu hebat hingga sampai saat ini Andra masih tertidur lelap.


Suara bel rumahnya pun tak dia dengar begitupun suara deringan teleponnya yang berbunyi dari tadi.


Mitha yang berada di depan pintu rumah Andra memencet bel tanpa henti. Di tangannya pun hpnya tak lepas menelpon Andra yang tak juga dia angkat.

__ADS_1


"Andra kamu di mana sih!" batin Mitha yang ikut gelisah ketika Rial menelponnya mengabari Andra yang tak kunjung juga tiba di kantor polisi.


"Oh iya, saya ingat. Andra kan pernah memberikan saya kunci rumahnya." pekik Mitha.


"Di mana ya!" ucap Mitha sembari mengeluarkan satu per satu isi tasnya.


Di balik kantong di dalam tasnya Mitha tak sengaja memegang yang dia yakini itu adalah kunci yang digunakan cari.


"Untung saja tidak hilang." ucap Mitha yang cepat membuka pintu rumahnya dan tak lama rumah Andra pun terbuka. Mitha segera berlari ke lantai dua kamar Andra.


"Andra bangun ndra." ucap Mitha sembari menggoyangkan tubuh atletis Andra.


"Mitha...kamu kok di sini. Saya pasti mimpi." oceh Andra tak karuan.


"Andra bangun, kamu sudah terlambat." sambung Mitha namun tetap saja Andra tak bergeming di tempat tidurnya.


Mitha segera berlari masuk ke kamar mandi, walau ragu-ragu namun Mitha tak punya pilihan. Diambilnya air di tangannya dan..


"Banjir..." teriak Andra.


"Ini bukan banjir ndra. Ayo siap-siap sekarang, kalau tidak kamu akan terlambat." ucap Mitha.


"Mitha, kamu di sini. Saya kira mimpi." Andra yang masih setengah sadar masih tak mengingat kalau dia ada janji dengan Rial.


Mitha menarik tangan Andra menuju ke kamar mandi. "Mandi cepat, saya tunggu kamu di sini."


"Memangnya ada apa sih! kok kamu khawatir begitu." ucap Andra yang perlahan-lahan nyawanya mulai terkumpul.


"Ingat hari ini kamu mau ke kantor polisi. Kamu ada janji bertemu dengan pengacara keluarga Ari." ucap Mitha.


"Oh iya." ucap Andra sembari menepuk jidatnya.


Andra pun menutup pintu kamar mandinya dan bergegas, dia tidak bisa apa yang akan terjadi kalau sampai dia terlambat. Mitha pun hanya bisa berdoa dalam hatinya agar semuanya baik-baik saja.


"Ayo cepat!"


"Iya. Kamu naik mobil dan kita berangkat."


Andra melajukan mobilnya begitu kencang, dia tidak peduli dengan jalanan yang ramai hingga akhirnya dia pun tiba di kantor polisi.


Dan....


Alangkah kagetnya Andra ketika dari kejauhan dia melihat ibu Rita dan juga Ari keluar dari kantor polisi.


Bersambung....


⭐⭐⭐**

__ADS_1


__ADS_2