
BISMILAHIRAHMANIRAHIM💪
Ibu Nia makin tidak karuan memikirkan suaminya yang pergi begitu saja. Dia takut kalau terjadi yang tidak diinginkan terhadap pak Arif.
"Kring..kring.." Bunyi hp ibu Nia.
Dengan sigapnya ibu Nia mengangkat telepon setelah dia melihat nomor suaminya tertera di dalam layar hpnya.
"Halo. Ayah di mana?" tanya ibu Nia panik.
"Halo." Terdengar suara perempuan di balik telepon pak Arif.
"Kamu siapa?" Di mana suami saya?" tanyanya.
"Maaf Tante, suami ibu mengalami kecelakaan dan ini akan dibawa ke rumah sakit." ucap Mitha.
Tanpa sadar hp ibu Nia terjatuh dari tangannya, dia kemudian berlari dan segera memanggil ok Syarif.
"Pak Syarif di mana?"
Pak Syarif yang tidak tau apa-apa menghampiri ibu Nia yang sudah panik.
"Ada apa Bu?"
"Ambil mobil cepat, kita ke rumah sakit. Bapak kecelakaan."
Pak Syarif pun terlihat panik dan segera mengambil kunci mobil.
"Cepat pak Syarif!" teriak ibu Nia.
Ibu Nia sudah tidak sabar ingin melihat kondisi suaminya itu, andai saja dia ikut bersama dengan suaminya mungkin kecelakaan tidak akan terjadi
Sesampainya di rumah sakit, pak Arif dibawa ke ruang ICU oleh beberapa perawat. Mitha tak sekalipun meninggalkan pak Arif, dia selalu ikut ke mana perawat membawa pak Arif.
Luka pak Arif yang cukup parah membuatnya tidak tega meninggalkan. Pak Arif masih terlihat ditangani dokter di ruang ICU.
Mitha hanya bisa duduk diluar ruangan menunggu hingga sesekali dia berdiri, sekedar melihat ke balik kaca.
"Ya Allah semoga saja bapak itu baik-baik saja!"
Mitha kembali duduk dan tertunduk menahan rasa sakitnya ditubuhnya sendiri, dia sendiri pun kesakitan.
Ibu Nia berlari menuju ke ruang ICU ditemani pak Syarif.
"Keluarga pak Arif!" panggil dokter yang keluar dari ruang ICU.
"Saya dok!" ucap Mitha.
Mitha tidak menyadari kalau ibu Nia sudah dari tadi menunggu di depan ruangan, begitu pula ibu Nia yang panik hingga tak melihat Mitha duduk tertunduk.
"Mitha." ucap ibu Nia.
__ADS_1
"Tante."
"Pak Arif sudah tidak kenapa-kenapa. Untung saja tepat waktu dibawa ke sini." ucapnya.
"Jadi kamu yang membawa suami Tante ke sini?" tanya ibu Nia.
Mitha hanya mengangguk pelan.
"Ibu, ayah kenapa?" ucap Rial berlari menghampiri ibunya itu.
"Rial." ucap Mitha.
"Kamu kenapa di sini?" tanya Rial yang tak menyangka bisa bertemu dengan Mitha.
"Ayah kamu tidak kenapa-kenapa. Untung saja ada Mitha yang menolong dan membawa ayah kamu ke rumah sakit." ucap ibu Nia.
Ibu Nia memegang tangan Mitha dan tersenyum, dia seolah berterima kasih karena menyelamatkan suaminya.
"Aduh..." Mitha meringis kesakitan.
"Kamu kenapa nak!"
"Tidak kenapa-kenapa kok Tante!" ucap Mitha menahan rasa sakitnya.
Rial melihat Mitha yang sedang kesakitan, dilihatnya darah keluar dari balik baju dan celana Mitha.
"Tidak kenapa-kenapa bagaimana. Itu tangan dan kaki kamu berdarah." ucap Rial.
Rial yang melihat Mitha makin meringis kesakitan mengangkat tubuh Mitha duduk di sebuah kursi. Dengan pelan Rial mengangkat baju Mitha dan terlihat bercak darah keluar akibat pecahan kaca yang menempel di tubuh Mitha.
"Ini yang kamu bilang tidak kenapa-kenapa." ucap Rial.
Ibu Nia pun terlihat panik ketika melihat banyaknya pecahan kaca menempel di tangan dan kaki Mitha.
"Dokter. Tolong dokter." teriak ibu Nia.
"Ada apa Bu!"
"Tolong anak saya dok!" ucap ibu Nia kembali.
Mitha semakin meringis kesakitan ketika satu per satu kaca dikeluarkan dari tubuh Mitha. Air matanya keluar begitu saja, dia tidak bisa lagi menahan rasa sakit ditubuhnya.
Mitha mengengam erat tangan Rial mencoba menahan rasa sakit ditubuhnya. Ibu Nia senyum sendiri melihat Rial dan juga Mitha.
"Kamu tahan ya nak, tinggal sedikit lagi kok! ucap ibu Nia menguatkan Mitha.
"Sudah ya dek. Kamu tinggal minum obat saja agar tidak infeksi." Dokter pun berlalu dan meninggalkan Mitha, ibu Nia dan juga Rial.
Rial memukul tembok yang berada tepat dihadapannya yang membuat Mitha dan juga ibu Nia kaget.
"Kamu kenapa nak?" tanya ibu Nia ketika melihat wajah Rial yang memerah.
__ADS_1
"Apa kamu tidak bisa menjaga diri kamu sendiri. Kenapa kamu selalu saja terluka." ucap Rial memandang wajah Mitha.
Mitha terdiam, dia tidak tau kenapa Rial begitu marah kepadanya.
"Sudah saya katakan jangan pernah terluka." ucap Rial penuh amarah. Dia tidak bisa sedikitpun melihat Mitha terluka, hatinya sakit ketika harus melihat wanita yang dicintainya terluka dan tak berdaya.
"Tenang nak, Mitha tidak kenapa-kenapa. Lukanya juga pasti akan cepat sembuh." ibu Nia berusaha menenangkan anaknya itu, dia tau betul kalau Rial begitu khawatir kepada Mitha. Dia tidak ingin melihat Mitha sakit.
Pak Arif keluar dari ruang ICU ditemani beberapa perawat. Ibu Nia ikut mendampingi, Rial hanya melihat ayahnya terbaring tak berdaya.
"Kamu temani ayah kamu. Saya tidak apa-apa kok! Saya juga mau pulang istirahat." ucap Mitha.
Rial hanya terdiam memandang dari kejauhan ayahnya di bawa ke dalam ruangan diikuti ibu Nia.
"Saya antar kamu saja!" ucap Rial menggendong Mitha keluar dari rumah sakit.
Semua mata memandang ke arah mereka. "Turunkan saya!" Mitha tampak berontak karena malu dilihat orang-orang yang berada di rumah sakit.
Rial seolah tidak menghiraukan kata-kata Mitha, tubuh Mitha semakin memberontak namun karena rasa sakit ditubuhnya membuat dia pasrah harus digendong oleh Rial.
Dengan pelan Rial mengangkat tubuh Mitha masuk ke dalam mobilnya.
"Aduh." pekik Mitha kesakitan.
"Itukan. Kamu sakit begini masih saja memberontak." ucapnya.
"Terima kasih." ucap Rial yang membuat Mitha mengalihkan wajahnya.
"Terima kasih karena apa?" tanya Mitha.
"Terima kasih karena telah menolong ayah saya."
"Oh itu. Bukan apa-apa kok."
"Tapi." ucap Rial.
"Tapi apa?" tanya Mitha balik.
"Saya hanya ingin minta satu hal sama kamu. Tolong dengarkan kata-kata saya. Saya tidak bisa memaafkan diri saya sendiri kalau terjadi sesuatu yang buruk sama kamu."
Di dalam mobil Mitha memandang Rial begitu dalam. Dia terdiam tak tau harus berkata apa.
"Ini permintaan saya yang paling dalam. Jadi jangan pernah abaikan perkataan saya karena saya akan membunuh siapa saja yang membuat kamu sakit." ucapan Rial semakin membuat Mitha tertunduk tak berkutik.
Pandangan tajam ke depan, pikirannya kosong, bibirnya seperti terkunci tak tau harus melakukan apa. Mitha yang selalu punya banyak jawaban setiap perkataan Rial kini hanya bisa terdiam mengiyakan semua kata-kata yang diucapkan Rial kepadanya.
"Kamu harus ingat apa yang saya katakan ini!" ucapnya kembali.
Ibu Nia terus menangis melihat suaminya terbaring lemah tak berdaya. Tak hentinya rasa syukur diucapkan karena masih bisa melihat pak Arif dalam keadaan bernyawa.
Bersambung...
__ADS_1