
Mitha masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Andra pada ya. Seperti mimpi baginya, dia sendiri masih bingung bagaimana cara menghadapi Andra selama di sekolah nantinya.
Andra terlihat menyendiri di kamarnya, dia sendiri juga masih tidak percaya dengan apa yang dikatakannya pada Mitha. Ada rasa takut menghampirinya memikirkan jawaban Mitha nantinya. Baru kali ini, dia seperti itu pada seorang wanita.
Perceraian orang tuanya membuatnya tidak percaya dengan namanya cinta. Walaupun, dia masih berstatus sebagai anak sekolahan. Tapi, rasa yang dimilikinya untuk Mitha begitu dalam.
Diam-diam dia selalu memperhatikan Mitha dari kejauhan, dia juga mulai betah di sekolah. Padahal selama ini, dia selalu tidak hadir ke sekolah. Tapi, ketika mengenal Mitha Andra menjadi anak yang paling duluan datang ke sekolah.
Pagi-pagi dia akan menunggui Mitha di tempat parkir sekolahnya, dia selalu bersemangat apabila menyangkut dengan Mitha. Mulai dari tempat parkir, kantin, dan juga sekolahan Rini yang merupakan adik Mitha.
Lamunannya terhenti ketika dia melihat Mitha dari kejauhan, Mitha masih di atas sepeda motornya turun dan memarkirkan motornya.
"Kak Andra kenapa ada di sini?" Tanya Mitha sambil memarkirkan motornya dengan hati-hati. Walaupun, dia sedikit grogi bertemu dengan Andra kali ini. Tapi, dia berusaha tenang.
Andra pun membantu Mitha yang sedang kesulitan memarkirkan motornya, Mitha kaget dan jantung berdetak kencang ketika Andra begitu dekat dari dirinya. Matanya yang indah menatap Andra begitu tajam.
"Kalau diperhatikan ganteng juga, mata yang indah dan wajah yang bersih tanpa jerawat sedikitpun." Guman Mitha dalam hatinya.
"Ada apa lihat-lihat." Ucap Andra, dia tau kalau Mitha dari tadi memperhatikannya. Mitha segera memalingkan wajahnya dengan cepat.
"Tidak apa-apa." Ucap Mitha, dia segera menjauhkan tubuhnya dari Andra.
"Terima kasih." Ucap Mitha kepada Andra. Andra pun memegang rambut panjang Mitha yang dibiarkan terurai kali ini. Jantung Mitha rasanya ingin berhenti padahal ini bukan pertama kalinya Andra mengelus rambutnya.
Rasanya kali ini beda, Mitha yang awalnya hanya bersikap biasa-biasa saja kepada Andra mulai memikirkannya. Namun, mitaha segera menyadarkan dirinya sendiri.
"Pikir apa sih aku. Saya itu sukanya sama Rial." Gumn Mitha yang kesal kepada dirinya sendiri. Andra yang memperhatikan Mitha yang sedang melamun kembali mengelus rambut Mitha.
"Kamu kenapa?" Tanya Andra. Mitha berpura-pura tidak mendengar apa yang ditanyakan Andra padanya. Dia pun segera berlalu, baru saja beberapa langkah Andra tiba-tiba menarik tangannya. Sekarang tubuh Mitha berada di depan sambil membelakangi Andra yang sedang memegang pinggangnya.
Mitha pun berupaya melepaskan dirinya. Tapi, tenaga Andra terlalu kuat, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kali ini dia pasrah dengan yang akan dilakukan Andra padanya. Perlahan-lahan andra membalikkan tubuh Mitha, Mitha pun seolah menerima apa saja yang dilakukan Andra padanya.
__ADS_1
Wajah Mitha dan Andra kini hanya berjarak 5 cm. Jantung Mitha serasa berhenti berdenyut, andra dengan seksama memperhatikan Mitha. Dia tidak percaya kalau dia bisa sedekat ini dengan Mitha.
"Kamu cantik sekali." Ucap andra yang membuat Mitha tersenyum tipis-tipis. Dia masih tidak menyangka kalau orang yang membuatnya menderita di sekolah ternyata memujinya.
"Saya memang cantik." Ucap Mitha dengan lugunya. Andra hanya tersenyum mendengar kepolosan Mitha.
"Kak lepaskan." Ucap Mitha dengan suara lembut. Dia berusaha keras melepaskan tubuhnya dan kali ini dia berhasil melepaskan tubuhnya dan sedikit menjauhkan tubuhnya dari Andra.
Andra yang ingin kembali meraih tangan Mitha terhalang karena dia melihat Dirga, Ibnu, dan Nurul sedang berjalan ke arah mereka.
"Andra ada apa lagi." Ucap Dirga sambil melihat ke arah Mitha.
"Iya Andra ada apa, motor kamu tidak kenapa-kenapa kan." Ucap Nurul mengiyakan ucapan Dirga.
"Hei, kalian berdua. Kalian kira saya setiap hari akan menabrak motor dia." Pekik Mitha kesal kepada Dirga dan juga Nurul.
Tanpa basa basi Mitha berlalu dari mereka. "Untung saha mereka tidak melihat kami tadi. Bisa gawat nantinya." Ucap Mitha.
Andra yang merasa kalau Ibnu mulai curiga kepadanya hanya terdiam Dia tidak ingin kalau Ibnu semakin curiga dan bertanya yang macam-macam kepadanya.
"Hei, kamu kenapa diam saja. Itu ditanya Ibnu." Ucap Nurul.
"Bukan apa-apa. Saya hanya sedang menunggu kalian di sini." Ucap Andra, tangannya memeluk Ibnu dan mengajaknya ke kantin. Nurul dan Dirga pun ikut di belakang mereka.
Mitha senyum-senyum sendiri masuk ke ruang kelasnya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang terjadi di tempat parkir. Hatinya tidak karuan ketika bersama Andra. Tapi, diotaknya hanya ada Rial. Laki-laki yang kini berstatus sebagai pacarnya walaupun sekarang mereka sedang berjauhan.
Mitha tidak pernah sedikitpun melupakan Rial, sampai akhirnya tadi dalam hitungan beberapa menit dia melupakan Rial hanya karena Andra.
***************
Semakin hari, Andra mulai berani mendekati Mitha. Mitha pun mulai terbiasa kepada Andra yang semakin hari melihat Andra yang selalu mengikutinya. Ke mana pun dia pergi selalu saja Andra. Di perpustakaan, di kantin, di tempat parkir bahkan ketika dia menjemput Rini adiknya.
__ADS_1
Mitha yang sedang menuggu Rini di sekolahnya karena pada saat itu Rini sedang mengikuti pelajaran tambahan di sekolahnya. Dia duduk di atas motornya sendirian sesekali di menoleh ke dalam sekolah adiknya itu. Tapi, yang ditunggu tak kunjung datang.
"Haus juga ya!" Ucap Mitha melihat ke langit biru yang begitu terik. Seperti sudah sehati, Andra tiba-tiba di sampingnya dan memberikan sebuah kantong kecil kepada Mitha.
"Ini." Ucap Andra singkat sambil memberikannya kepada Mitha. Mitha terlihat bengong ketika mengambil kantong tersebut dan Andra langsung saja melajukan motor besarnya.
Mitha yang dari tadi terdiam tiba-tiba tersadar dengan pukulan lembut Rini di tangannya.
"Rin, kamu sudah pulang?" Tanya Mitha yang tatapannya naik kepada Andra yang jaraknya tidak terlalu jauh dari mereka.
"Kak Mitha lihat apa sih!" Ucap Rini ikut melihat ke arah pandangan Mitha.
"Bukan apa-apa." Ucap Mitha.
"Kak..itu apa?" Tanya Rini sembari menunjuk tangan Mitha. Ternyata kantong plastik yang berwarna hitam itu masih saja dipegang Mitha dengan erat.
"Apa..kantong plastik." Ucap Mitha yang masih tidak sadar dengan maksud ucapan Rini.
"Itu yang ditangan kak Mitha." Ucap Rini menunjuk kembali ke arah tangan kakaknya itu. Mitha pun baru sadar kalau Andra yang memberikannya. Mitha langsung membuka dan melihat sebuah botol minuman di dalamnya.
"Kakak tau saja kalau saya haus." Ucap Rini sambil mengeluarkannya dari kantong.
Mitha yang masih tidak percaya kalau Andra bisa tau apa yang ada di dalam pikirannya.
"Dari mana dia tau kalau saya haus." Guman Mitha dalam hatinya.
"Kak kenapa masih bengong saja." Ucap Rini.
"Ya sudah, kamu naik. Kita pulang ya, kakak lapar nih!" Ucap Mitha sembari menyalakan motornya.
Bersambung....
__ADS_1
Makin seru lho jadi tunggu episode berikutnya