Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab. 59


__ADS_3

BISMILAHIRAHMANIRAHIM💪


Ari turun dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam rumahnya. Seperti orang ketakutan, dia mengunci kamarnya.


"Saya harus bagaimana. Terus kalau orang itu meninggal bagaimana? Apa saya akan masuk penjara." guman Ari sembari mondar mandir di dalam kamarnya.


Dia begitu ketakutan ketika membayangkan kecelakaan yang menimpanya tadi. Karena pengaruh alkohol hingga dia menabrak mobil yang berada tepat di depannya.


"Jangan sampai ada yang tau kalau saya menabrak orang. Papah pasti akan marah besar!" gumannya kembali.


⭐⭐⭐


Ibu Nia terus saja memandang suaminya yang terbaring lemah. Air matanya tak pernah berhenti jatuh membasahi pipinya.


"Maafkan ibu!" ucap ibu Nia sembari memegang erat tangan suaminya itu.


Tiba-tiba tubuh pak Arif mengejang begitu hebat hingga membuat ibu Nia panik. Dia segera berlari keluar dan berteriak memanggil orang-orang yang ada di dekatnya berharap ada orang yang akan membantunya.


Beberapa perawat bersama dengan dokter berlari ke kamar pak Arif. Ibu Nia terlihat begitu panik dan tanpa berpikir panjang dia mengambil hp yang berada di dalam tasnya.


"Iya maaf. Saya janji akan lebih hati-hati lagi." ucap Mitha.


"Kring...kring..." suara bunyi hp Rial.


"Halo Bu!" ucap Rial.


Suara ibu Nia gemetaran di ujung telepon.


"Halo Bu. Ibu kenapa?" tanya Rial panik.


"Kamu di mana nak! Ayah kamu kejang-kejang." ucap ibu Nia panik.


"Ibu tenang dulu! Saya akan segera ke sana."


Rial langsung membalikkan arah mobilnya Kembali ke rumah sakit.


"Ayah kamu kenapa?" tanya Mitha penasaran.


"Saya juga tidak tau. Suara ibu terdengar panik, tidak apa-apa kan kalau kita kembali ke rumah sakit lagi."


"Iya tidak apa-apa. Kamu yang tenang yah!"

__ADS_1


Mitha dan Rial berlari masuk ke dalam rumah sakit, ibu Nia terlihat di luar ruangan sambil memperhatikan di balik kaca.


"Ibu. Ayah kenapa?" tanyanya.


Ibu Nia lalu memeluk Rial, dia terlihat begitu ketakutan melihat keadaan pak Arif yang kritis.


"Ibu tenang dulu ya! Jangan panik kita tunggu dokter keluar dulu." ucap Rial sembari memeluk ibunya.


"Dengan keluarga pasien!"


"Iya dokter. Bagaimana keadaan suami saya?" tanya ibu penasaran.


"Suami ibu harus segera dioperasi. Ada pendarahan hebat di kepalanya hingga membuat kejang-kejang." lanjutnya.


"Saya mohon dokter, tolong selamatkan ayah saya dan lakukan yang terbaik untuk ayah saya." ucap Rial yang ikutan panik.


"Tapi ada satu masalah."


"Masalah apa dokter?" tanya Rial kembali.


"Stok darah o di rumah sakit ini tidak cukup. Maka dari itu kita harus cari pendonor darah segera kalau tidak maka akan terjadi pendarahan lebih hebat lagi."


"Apa ada golongan darah yang sama dengan ok Arif?" tanya dokter kembali.


"Harus cepat pak!" lanjut dokter.


"Golongan darah saya o dok. Ambil darah saya saja." ucap Mitha yang dari tadi hanya terdiam melihat kepanikan ibu dan anak.


Ibu Nia menghampiri Mitha dengan wajah lega, dia begitu bahagia ketika golongan darah Mitha sama dengan suaminya.


"Terima kasih nak!" ucap ibu Nia.


"Mari kalau begitu, kita harus cepat!" ucap dokter berlalu diikuti oleh Mitha.


"Tunggu dulu!"


"Ada apa nak?" tanya ibu Nia.


"Tidak boleh. Kamu kan masih sakit." ucap Rial berusaha menahan Mitha yang ingin mendonorkan darah untuk ayahnya.


"Tidak apa-apa kok! saya sehat lagipula Hanya luka kecil di tubuh saya." ucap Mitha menyakinkan Rial.

__ADS_1


Rial semakin merasa bersalah, sudah terlalu banyak pengorbanan yang dilakukan Mitha untuk keluarganya.


Pak Arif segera dibawa ke ruang operasi begitu pula Mitha mendampingi masuk ke dalam ruang operasi. Sesekali dia melihat ke samping kanannya, ini kali pertama dia bertemu dengan orang yang menulis surat untuknya.


Begitu lemah dan tak berdaya itulah yang ada dipikiran Mitha kini. Dia lakukan bukan hanya karena Rial namun siapa pun yang membutuhkan bantuan pasti akan dia bantu. Hanya saja kali ini ayah Rial lah yang harus menerima bantuan darinya.


Rial makin gelisah di luar ruangan, ada dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya berada di dalam ruang operasi yang dianggap angker oleh orang-orang.


Sedangkan ibu Nia hanya berdiam diri, mulutnya kumat Kamit memanjatkan doa untuk keselamatan suaminya dan juga Mitha.


"Kamu tenang nak! ibu yakin Mitha pasti akan baik-baik saja." ucap ibu Nia menghampiri Rial yang tak tenang. Wajahnya tegang setiap memikirkan apa yang akan terjadi.


"Iya Bu!" ucap Rial pelan.


Sudah lebih 2 jam pak Arif dan Mitha berada di ruang operasi, Rial semakin tidak tenang hingga lampu merah yang berada tepat di atas pintu mati.


"Bagaiman keadaan ayah saya dan juga Mitha." ucap Rial ketika melihat dokter keluar dari balik pintu.


"Alhamdulilah ayah kamu baik-baik saja. Operasinya berjalan dengan lancar, hanya saja." ucapannya terhenti yang membuta Rial dan ibu Nia semakin panik.


"Hanya saja Mitha tak sadarkan diri, dia kehilangan banyak darah ditubuhnya hingga membuatnya tak sadarkan diri. Tapi kami akan segera membawanya ke ruangan lain untuk mengembalikan kondisi tubuhnya yang lemah."


Mitha yang tak sadarkan diri di bawa oleh beberapa perawat, hati Rial semakin hancur harus melihat kembali Mitha berkorban untuk keluarganya. Air matanya jatuh memegang tangan Mitha.


"Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Rial.


"Bapak tunggu di sini saja. Kami akan membawanya masuk ke dalam." ucap salah satu perawat.


"Tapi saya ingin masuk, saya tidak bisa meninggalkan dia dalam keadaan seperti ini." pinta Rial.


"Maaf pak. Tapi bapak tidak masuk, bapak tunggu saja di luar." ucap perawat kembali.


Rial menerobos masuk, dia tidak ingin meninggalkan Mitha walaupun hanya sedetik. Hatinya hancur berkeping-keping ketika dia kembali melihat tubuh Mitha harus dipasangkan beberapa alat untuk memulihkan kondisi Mitha yang begitu lemah.


"Pak tolong bapak keluar dulu. Kami tidak bisa bekerja kalau bapak masih ada di sini!" ucap perawat sembari mendorong tubuh Rial keluar ruangan.


Kini dia hanya bisa melihat Mitha di balik kaca yang terlihat begitu jelas. Dari dalam ruangan Mitha masih tak sadarkan diri, wajahnya pucat seperti mayat hidup.


Semakin deras air mata Rial bercucuran.


"Dasar pembohong. Kamu kan sudah janji untuk menjaga diri kamu. Tapi kamu masih saja mengingkari janji kamu." guman Rial dalam hati.

__ADS_1


Matanya tak pernah lepas dari pandangan ke arah Mitha yang masih saja tak sadarkan diri. Kakinya yang kokoh berdiri di depan ruangan tanpa duduk walau hanya sedetik.


Bersambung....


__ADS_2