
**BISMILAHIRAHMANIRAHIM
Rial tampaknya masih ingin berlama-lama dengan Mitha, walaupun dia tau kalau saat ini Mitha sedang tidak nyaman berada didekatnya.
"Apa kamu tidak mau pulang?" tanyanya.
Mitha tidak tau harus bagaimana lagi agar Rial bisa pergi. Sampai akhirnya dia menyerah sendiri.
Sedangkan Rial masih saja pura-pura tertidur dan tidak menghiraukan ucapan Mitha padanya.
"Apa dia pura-pura atau memang dia sedang tertidur beneran." pekik Mitha dalam hati.
Dia pun sebenarnya sudah mengantuk berat namun dia menahan kantuknya. Dibenaknya mana mungkin dia bisa tidur sekamar dengan seorang pria. Walaupun tidak terjadi apa-apa tapi tetap saja dia tidak bisa melakukan itu.
Ini pertama kali baginya begitu dekat dengan seorang pria dalam sebuah kamar. Sifat yang lugu dan juga polos hilang begitu saja pada dirinya. Dia yakin betul teman-temannya pasti sedang membicarakannya.
Mitha tak bisa lagi menahan kantuknya, dia pun tertidur di meja riasnya. Matanya sudah terlalu lama menahan kantuk.
"Apa dia sudah tidur?" tanyanya sendiri dalam hati. Perlahan-lahan Rial membuka mata, dia hanya ingin memastikan kalau Mitha sudah tertidur.
"Akhirnya dia tertidur juga. Kasihan kamu, saya terpaksa melakukan ini. Saya tidak punya alasan lagi dan apakah kita bisa bertemu lagi nantinya saya juga tidak tau." lanjutnya.
Karena tidak tega melihat Mitha yang sudah tertidur pulas, dia pun segera memindahkan Mitha ke tempat tidur.
Begitu hati-hatinya Rial mengangkat tubuh Mitha, dia tidak ingin kalau sampai Mitha terbangun.
Perlahan-lahan tubuh Mitha dia baringkan di kasur, posisi tidurnya pun dia buat senyaman mungkin. Ac dia nyalakan agar Mitha tidak terbangun karena kepanasan.
Diambilnya handphonenya dan segera memesan makanan pada sebuah aplikasi. Dia tau setelah bangun Mitha pasti akan kelaparan sedangkan di kamarnya sekarang tidak ada makanan apapun.
Hanya ada kerupuk di toples tepat di depannya.
Rial kembali memandang Mitha untuk kesekian kalinya. Hanya saat tertidur, dia bisa leluasa memandang Mitha. Bibir merah Rial mendarat di kening kemudian ke wajah mulus Mitha.
Rial tampaknya memanfaatkan keadaan ini, dalam lubuk hatinya mungkin ini pertemuan terakhirnya dengan Mitha. Apalagi kalau ayahnya sampai tau mungkin akan terjadi sesuatu kepada Mitha dan dia tidak ingin itu terjadi.
Setelah makanan yang dipesannya sampai barulah dia meninggalkan Mitha sendirian di kamarnya. Pintu dia tutup begitu rapat supaya tidak ada seorang pun yang bisa masuk.
"Kamu pacarnya Mitha yah?" tanya seorang wanita yang dia perkirakan seumuran dengannya.
"Oh bukan, saya temannya." jawabnya.
"Masa sih!" lanjutnya lagi serasa tidak percaya dengan ucapan Rial.
Rial segera berlalu, dia sudah tidak nyaman ditanya-tanya seperti ini. Dia juga tidak ingin terjadi kesalapahaman lebih jauh.
Karena penasaran Rial menghampiri mobil yang dari tadi mengikuti mereka. Bayu terlihat panik.
Semakin dekat saja hingga langkah Rial terhenti ketika dia menerima sebuah panggilan di handphonenya.
__ADS_1
"Halo." ucap Rial.
"Maaf pak saya menganggu, ada seseorang yang sedang menunggu bapak di kantor!" ucap pria dibalik telepon.
"Iya saya segera ke sana." Rial menutup teleponnya dan segera melajukan kendaraannya.
Bayu terlihat lega, jantungnya hampir copot dibuatnya. Dia tidak tau harus berbuat apa lagi. Segera dia kembali menelpon Andra yang sedang menunggu infomasi darinya.
Secara detail Bayu menceritakan semuanya. dari awal hingga akhir saat dirinya hampir saja tertangkap.
Andra seketika membating meja yang berada di depannya. Kali ini dia tidak bisa lagi menahan amarahnya. Dia yang begitu takut kalau Mitha akan berpaling darinya dan akan kembali ke Rial.
"Saya harus melakukan sesuatu. Tapi apa ya." Andra berpikir begitu keras hingga bibirnya tersenyum ketika dia menemukan jalan keluar untuknya.
⭐⭐⭐
Rial segera memarkirkan mobil merahnya tepat di depan kantor polisi.
"Inikan mobil ibu, apa jangan-jangan ibu lagi yang datang!" ucapnya.
Rial yang pergi dari rumah dua tahun yang lalu hingga saat ini dia tidak sekalipun mengunjugi ibunya. Dia sebenarnya berat meninggalkan ibunya itu namun keadaan yang memaksanya.
Dia bukan anak kecil lagi yang harus menuruti semua keinginan ayahnya, dia yang tak ingin dijodohkan dengan Erna harus mengambil keputusan untuk pergi dari rumahnya.
Dan benar saja dugaannya, ternyata ibu Nia yang sedang duduk menyendiri dengan sebuah plastik berwarna merah di tangannya.
"Ibu." seru Rial menghampiri ibunya itu.
Mereka berpelukan begitu erat melepaskan kerinduan yang sudah lama tidak bertemu.
"Ibu apa kabar. Apa ibu sehat!" ucap Rial mencium kening ibunya.
Hanya air mata yang jatuh dipipi ibu Nia, dia sudah lama tidak melihat Rial. Kini anak yang dibesarkan berada di sampingnya, memeluknya dengan begitu erat.
"Ibu sehat. Kamu sendiri sehat kan!" tanyanya.
Rial hanya mengangguk dan kembali memeluk ibunya itu.
"Kamu tinggal di mana dan apa kamu tidak mau pulang nak. Kita bicarakan baik-baik sama ayahmu!" lanjut ibu Nia.
Rial terdiam, dia tau betul sifat ayahnya. Ayahnya tidak akan menyerah begitu saja menjodohkannya dengan Erna.
Rial mengengam lembut tangan tua ibunya itu. "Maaf Bu, Rial tidak bisa pulang sekarang tapi saya janji nanti kalai sudah waktunya Rial pasti akan pulang." serunya.
"Tapi kapan nak?" tanya ibu Nia.
"Saya juga tidak tau Bu. Sampai ayah tidak memaksakan kehendaknya lagi."
Ibu Nia pasrah dan dia juga tidak ingin memaksa anaknya itu untuk pulang. Dia ingin mengerti dengan apa yang dilakukan Rial sekarang. Mungkin ini juga bisa menyadarkan suaminya.
__ADS_1
"Ini makanan kesukaan kamu." ucap ibu Nia sembari memberikan bungkusan itu ke Rial.
Rial begitu bahagia dan juga terharu melihat kasih sayang ibunya untuknya.
"Terima kasih." lanjutnya.
Cukup lama mereka menghabiskan waktu berdua hingga tanpa terasa matahari sudah mulai menghilang dari jagat raya.
"Ibu pulang dulu ya! Ayahmu pasti sedang mencari ibu sekarang." pamit ibu Nia.
Mereka berdua berjalan ke parkiran mobil. Semua mata tertuju kepada mereka yang sedang bergandengan tangan seperti sepasang kekasih. Mereka seolah tidak percaya kalau atasan mereka yang tegas dan juga galak bisa begitu dekat dengan ibunya.
"Ibu pulang dulu ya, kamu hati-hati!"
Rial kembali mengangguk, bibirnya beku menahan tangisan yang dipendam dihatinya.
Tak pernah lepas pandangannya dari ibunya itu hingga mobil yang membawa ibu Nia tak terlihat lagi pandangan matanya.
⭐⭐⭐
Sudah cukup lama juga Mitha tertidur, tubuhnya betul-betul kelelahan hingga Ira datang membangunkannya.
"Mitha ayo bangun!" teriak Ira sembari mengoyangkan tubuh Mitha.
Mitha yang masih mengumpulkan nyawanya membuka matanya.
"Ira, kami sudah bebas!" seru Mitha.
"Iya saya sudah bebas dan kamu ke mana saja. Saya bangun-bangun kamu sudah tidak ada."
"Oh itu, saya kabur!" canda Mitha dan ternyata membuat Ira percaya begitu saja.
Mitha baru ingat kalau tadi Rial bersamanya, dia melihat ke kiri dan ke kanan dan serasa tidak percaya saja kalau dia bisa berada di tempat tidur.
"Kamu kenapa? seperti orang kebingungan saja." lanjut Ira.
Mitha segera berdiri dan mencari Rial sampai ke kamar mandi tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan Rial.
Ira yang kebingungan melihat tingkah aneh sahabatnya itu.
"Kamu kenapa sih! Kamu memang baik sudah menyediakan makanan untuk saya. Tau aja kalau saya lapar." ucap Ira.
"Makanan. Jangan-jangan!" Mitha segera menghampiri Ira yang sedang lahap makan. Mitha yakin betul kalau Rial yang menyiapkan semua untuknya.
"Dia tau aja." ucapnya sembari tersenyum.
"Kami jangan senyum saja. Ayo makan kalau tidak saya akan habiskan semuanya."
Mitha kembali tersenyum memandang makanan yang ada didepannya. Perutnya yang keroncongan sehabisa tertidur tidak bisa di ajak kompromi lagi.
__ADS_1
❤️❤️❤️**