
BISMILAHIRAHMANI RAHIM💪
⭐⭐⭐
Mitha masih membayangkan tatapan aneh Ari kepadanya. Dia ketakutan sendiri di dalam kamarnya, segera dia mematikan lampu kamarnya berharap Ari tidak akan datang lagi menemuinya di kamar.
"Kalian sudah siap!" teriak Rial.
"Siap pak!"
Mereka pun naik ke mobil patroli sedangkan Rial mengendarai mobil pribadinya sendiri. Ditangannya masih ada tas Mitha yang sewaktu-waktu dia bisa kembalikan.
"Apa sudah siap semua?" tanya Rial.
"Sudah pak! Ini alamat yang akan menjadi target kita." ucapnya sembari memberikan kertas yang berisi alamat yang diberikan oleh masyarakat setempat.
"Ini kan alamat rumah Mitha. Tapi, tidak mungkin kan!" gumannya dalam hati.
Rial masih tidak ingin mengira-ngira karena dia tau kalau rumah kost bukan hanya rumah kost yang ditempati Mitha.
Di sekitaran sana terdapat beberapa rumah kost. Tempatnya yang strategis membuat masyarakat di situ berlomba-lomba membangun rumah kost khusus mahasiswa
Sepanjang perjalanan dia berharap kalau tempat yang dia akan tuju bukan tempat tinggal Mitha.
Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 pagi. biasanya para penghuni kost sudah tertidur lelap dan berharap operasi penggerebekan kali ini tidak tercium sehingga mereka bisa memberantas perilaku yang membuat orang resah.
Rial yang mengemudikan mobilnya tepat di belakang mobil patroli, dia hanya mengikuti arah jalan sesuai dengan mobil yang berada didepannya.
Pikirannya mulai tidak karuan ketika mobil patroli di depannya masuk ke komplek tempat tinggal Mitha.
"Semoga saja tidak sesuai dengan perkiraan saya." guman Rial dalam hati.
Alangkah kagetnya dia, ketika mobil patroli di depannya berhenti tepat di depan rumah kost Mitha. Dia terdiam sejenak di dalam mobilnya hingga anggota mengetuk kaca mobilnya.
Perlahan-lahab Rial menurunkan kaca mobilnya. "Jadi ini tempatnya?" tanya Rial.
"Iya pak. Kami sudah siap menggerebek. Silahkan beri kami perintah."
Rial seperti kebingungan sendiri, dia tidak tau kalau harus melakukan apa. Dia yang tau kalau Mitha tinggal di rumah yang akan digerebek.
"Pak..pak." sahutnya.
"Iya, lakukan penggerebekan secara diam-diam agar tidak ketahuan."
Rial kemudian membagi 2 kelompok. Ada yang di atas dan juga ada yang di bawah.
Rial yang tau Mitha berada di kamar atas ikut bersama dengan anggota untuk menggerebek di bagian atas.
Secara diam-diam mereka menyusuri kamar satu per satu. Setelah perintah, mereka kemudian mengetuk satu per satu kamar di kost tersebut.
__ADS_1
Para penghuni yang sedang tertidur lelap, tidak menyadari kedatangan polisi. Dengan santainya mereka membuka pintu kamarnya. Dan alangkah kagetnya ketika yang berada di depan pintu mereka adalah polisi yang siap membawa mereka kapan saja.
Kelompok yang lain menyusuri kamar bagian atas termasuk juga Rial. Langkah kaki Rial begitu lambat menyusuri kamar satu per satu.
Kamar Mitha yang terakhir karena berada paling ujung. Mata Rial tertuju ke kamar Mitha yang tampak gelap. Dia takut kalau dia akan menerima kenyataan kalau ada pria di kamar Mitha.
"Sayang itu siapa yang mengetuk?" tanya Ira.
Ari yang tertidur begitu lelap tidak menyadari keberadaan polisi.
"Kamu buka saja." ucapnya.
Ira pun membuka pintu kamarnya dan ternyata seorang polisi langsung menerobos masuk. Didapati lah Ira dengan Ari yang sedang bertelanjang dadar tertidur.
Ari kaget bukan main, dia tidak menyangka kalau akan berurusan dengan polisi lagi. Rial makin deg-degan ketika dia melihat sahabat Mitha sedang bersama pria di kamarnya.
"Kalian ikut kami!"
Ari dan Ira di seret ke bawah dan tibal kamar terakhir yaitu kamar Mitha. Rial yang menjauhi dari kamar Mitha berharap-harap cemas.
"Buka sekarang!" teriakan dari luar kamarnya membuat Mitha terbangun.
Punggungnya baru terasa sakit, dia meringis kesakitan sejenak sebelum dia membuka pintu kamarnya.
Mitha tidak menyadari kalau rumah kost yang dia tinggali sedang digerebek. Mitha pun menyalakan lampu dan segera membuka pintu kamarnya.
"Mana teman pria mu?" tanyanya yang membuat Mitha yang setengah sadar kaget.
"Ini ada apa pak?" tanya Mitha.
Rial yang sembunyi dibalik pintu, dia tidak ingin menampakkan wajahnya di depan Mitha.
"Mana?" tanya seorang polisi kembali.
Perdebatan tak bisa diindahkan lagi antara mitha dan juga polisi yang sedang mengobrak kamar Mitha. Mitha yang tidak terima segera mendorong polisi tersebut hingga salah satu yang lainnya menodongkan senjata ke kepala Mitha yang membuat Mitha ketakutan.
Rial yang melihat Mitha diperlakukan secara kasar tidak terima. Dia segera mengambil senjata yang menempel di kepala Mitha.
"Maaf pak!" ucapnya.
Mitha menoleh ke belakang dan semakin kagetlah dia melihat Rial.
"Rial." guman Mitha dalam hati.
"Kamu tidak boleh memperlakukan seorang wanita seperti itu. Apalagi sampai menodonkan senjata seperti ini." teriak Rial yang seolah tidak terima kalau Mitha diperlakukan kasar.
"Maaf pak, tapi wanita ini tidak mau mengaku."
"Mengaku apa si pak. Apa bapak tidak percaya sama saya, kalau tidak percaya silahkan cari sendiri apa ada laki-laki di kamar saya. Lagipula kamar saya ini ada di paling ujung terus kecil lagi dan bapak pasti bisa lihat kalau ada laki-laki di kamar saya." ucap mitha kasar yang tidak terima dituduh macam-macam.
__ADS_1
"Apa kamu kira kami percaya, sedangkan keseluruhan penghuni di kost ini semuanya sedang berbuat mesum." sahutnya.
Rial terdiam dan mengelilingi kamar Mitha mencari apakah benar adanya atau tidak. Mitha yang melihat itu tampak marah dan juga sedih ketika Rial tidak percaya kepadanya.
"Jawab." ucapnya lagi.
Mitha menarik nafas panjang seolah mengumpulkan tenaga. "Bapak cari saja sendiri , mungkin pria yang saya sembunyikan berada di dalam bantal, seprei, lemari ,televisi dan mungkin dia sembunyi di dalam galon." ucap Mitha sembari tangannya menunjuk satu per satu barang yang dia sebut.
"Kamu jangan main-main." ucapnya sembari mendorong tubuh Mitha ke kasur hingga terjatuh.
Rial menghampiri dan menarik lengan baju anggotanya yang berlaku kasar kepada Mitha, dia yang tadinya berusaha menahan emosinya kini tidak lagi.
"Sudah saya bilang kan, kamu bicara baik-baik apalagi ini adalah seorang wanita." teriak Rial.
"Maaf pak, saya emosi." Rial pun segera melepaskan tangannya dan menepuk pundak anggotanya itu.
Mitha terus saja memegang lengannya yang sakit akibat terbentur.
Mitha bangkit dan menahan rasa sakitnya. "Lihat kan pak, tidak ada siapa-siapa di sini. Jadi tolong silahkan keluar dari kamar saya sekarang." teriak Mitha.
"Iya kami akan keluar." ucap Rial.
"Tapi pak!" Rial menaikkan tangannya agar berhenti berbicara.
"Kami minta maaf, mereka hanya bingung karena diantara yang lain cuma di kamar ini tidak ada pria yang kami temukan."
Rial berusaha menjelaskan berharap Mitha agar mengerti keadaannya.
"Aduh." Mitha meringis kesakitan.
"Kamu kenapa?" tanya Rial tampak khawatir.
"Saya tidak kenapa-kenapa. Saya akan baik llai kalian keluar dari kamar saya sekarang." teriak Mitha kembali dengan marah di wajahnya.
"Kalian keluar sekarang." ucap Rial.
Mereka pun segera keluar meninggalkan Rial dan Mitha di kamar. Setelah memastikan tidak ada yang melihat, Rial segera menarik tangan Mitha dan menaikkan lengan baju Mitha.
"Kamu mau apa?" Mitha tampak memberontak namun tenaga Rial begitu kuat.
Alangkah kagetnya Rial melihat lengan Mitha tampak memar hingga ke pundaknya. Mitha yang tidak menyadarinya meringis kesakitan.
Rial menatap Mitha yang begitu kesakitan, timbul rasa bersalah dihatinya. Andai saja dia tidak bersembunyi mungkin Mitha tidak akan terjatuh seperti tadi.
Rial menarik tangan Mitha dan segera membawanya menyusuri lorong. Mitha semakin memberontak tapi Rial semakin erat mengengam tangan Mitha.
"Lepaskan, kita mau ke mana?" ucapan Mitha tak dihiraukan oleh Rial.
Untuk kedua kalinya Mitha harus melihat kembali teman-temannya naik ke mobil patroli. Termasuk Ira dan Ari.
__ADS_1
Ari tampak tidak terima melihat Mitha diperlakukan tidak baik oleh Rial. Rial memaksa kembali Mitha masuk ke dalam mobilnya dan tanpa berkata apa pun lansung menancapkan gas menyusuri subuhnya kota Makassar.
Bersambung.....⭐❤️❤️