
BISMILAHIRAHMANIRAHIM👍
Dalam keheningan malam Rial melajukan mobilnya, entah apa yang ada dipikirannnya saat ini. Rial begitu terlihat sangat marah yang membuat Mitha semakin ketakutan.
Tanpa suara diantara mereka, hingga Rial menghentikan mobilnya di depan rumah sakit.
"Kita mau ke rumah sakit lagi." ucap mitha.
Tanpa sepatah kata, Rial kemudian turun dari mobilnya dan menarik Mitha ikut dengannya.
"Kamu mau bawa saya ke mana?" tanyanya yang tak digubris oleh Rial.
Hingga sampai di sebuah ruangan, terlihat Seorang dokter muda yang sedang asyik berbincang dengan perawat yang lain.
Dokter muda itu menghampiri Rial dan juga Mitha, Rial tampaknya kenal dengan dokter muda tersebut.
"Rial ada apa?" tanya Andi.
Rial kemudian mengangkat lengan baju Mitha dan memperlihatkan kepada Andi yang membuat Andi sedikit shock melihat luka lebam di tubuh Mitha.
"Kenapa bisa seperti ini, apa kamu melakukan tindak kekerasan?" tanyanya kembali seolah mengajak Rial bercanda. Karena jelas terlihat raut muka Rial yang begitu tegang.
Rial dan Andi adalah teman sekolah dulu, mereka terlihat sangat akrab.
"Terbentur di mana ini?" lanjutnya.
Mitha yang meringis kesakitan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa kamu bodoh?" pekik Rial kesal.
"Bodoh katamu. Mana mungkin saya membiarkan ibu itu yang tertimpa." ucap Mitha.
"Iya hingga kamu yang kesakitan seperti ini."
Perdebatan antara Mitha dan Rial semakin menjadi yang membuat Andi hanya bisa tersenyum. Baru kali ini dia melihat Rial sebegitu perhatiannya kepada seorang wanita.
Rial yang begitu cemas melihat keadaan Mitha yang kesakitan hingga dia tidak bisa berpikir secara jernih.
"Ya sudah, biar saya periksa ya!" ucap Andi.
Mitha kemudian diarahkan ke atas tempat tidur oleh Andi. "Kamu buka baju dulu ya!"
"Apa buka baju!" Rial tampak kaget ketika Andi menyuruh Mitha untuk membuka bajunya yang membuat Andi semakin bersemangat untuk menggoda sahabatnya itu.
Andi yang penasaran ingin melihat reaksi Rial ketika dia memegang tubuh Mitha.
"Iyalah, saya kan Mauk lihat seberapa parah lukanya. Kalau dia tidak buka baju bagaimaja saya mau tau." lanjutnya
Dengan keadaan terpaksa Rial mencoba menerima, dibantu perawat Mitha kemudia membuka bajunya dan memakai baju yang diberikan perawat.
Sebagian kulit mulus Mitha terlihat begitu jelas yang membuat Rial terlihat tidak rela. Tapi mau bagaimana lagi.
"Saya lihat dulu ya. Parah juga ya luka lebamnya dan saya salut sama kamu bagaimana bisa kamu bisa menahan sakitnya." ucapnya.
"Iya dok, saya kira tidak kenapa-kenapa ternyata sakit juga." pekik Mitha kesakitan.
__ADS_1
Perlahan-lahan Andi memegang tubuh Mitha yang terluka. Dengan begitu lembutnya, dia mengoleskan salep. Rial terlihat gelisah, tubuhnya mendidih. Tampak jelas diwajahnya kalau dia cemburu.
Andi semakin bersemangat ketika melihat Rial begitu gelisah. "Kamu kenapa gelisah seperti itu." ucap Andi
Rial yang hanya memperhatikan Andi memegang tubuh Mitha di buat kaget kalau ternyata Andi memperhatikannya dari tadi.
"Bisa tidak kamu biasa saja melihat Mitha seperti itu." bisik Rial.
Andi tersenyum lepas, dia tampaknya berhasil membuat Rial terbakar api cemburu.
"Memang seperti ini Rial. Jadi kamu tenang saja dan duduk di sana." ucap Andi sembri menunjukan kursi dipojok ruangan.
Rial kembali mendekatkan wajahnya ke Andi dia seolah tidak terima. "Saya di sini saja dan awas ya kalau kamu macam-macam." bisik Rial kembali.
Mitha tidak memperhatikan apa yang dilakukan Andi dan juga Rial, dia yang mencoba menahan rasa sakit di tubuhnya.
"Selesai juga." ucap Andi. Dia pun segera berpindah ke meja kantornya diikuti oleh Rial dan meninggalkan Mitha yang sedang memakai kembali pakaiannya.
"Dia tidak kenapa-kenapa kan?" tanya Rial penasaran.
"Dia siapa, apa ini yang membuat kamu tidak ingin dijodohkan oleh Erna?" tanyanya.
Sontak Rial menutup mulut Andi, dia takut kalau obrolan mereka di dengar oleh Mitha yang tak jauh dari tempat mereka mengobrol.
Andi melepaskan tangan Rial yang menempel dimulutnya. "Pantasan, dia begitu cantik. Boleh dong saya minta nomor hpnya?" goda Andi kembali.
Rial masih tidak terima, dia kemudian memukul lengan Andi yang membuat Andi sedikit kaget.
"Sudah saya bilang kan jangan macam-macam." sahut Rial.
Ditengah obrolan mereka, Mitha tiba-tiba muncul. "Bagaimana luka saya apa akan membekas?" tanya Mitha yang khawatir kalau lukanya akan membekas.
"Terima kasih."
"Kalau saya lihat lukanya cukup parah dan butuh waktu agar bisa kembali seperti sedia kala tapi kami tidak usah khawatir kamu tetap cantik kok!" Mitha tersenyum manis kepada Andi yang mencoba menghiburnya.
Tapi tidak dengan Rial yang semakin kesal ditambah lagi dia Mitha tersenyum kepada Andi. Sedangkan dengannya Mitha tidak pernah tersenyum seperti itu padanya.
Rial kemudian menarik kembali tangan Mitha dan membawanya keluar dari ruangannya.
"Ini ada apa lagi sih!"
"Kamu tunggu di sini saja, biar saya yang berbicara kepada dokter di dalam." lanjutnya.
Rial kembali masuk ke dalam dan kini hanya mereka berdua di dalam ruangan itu. Rial menatap tajam Andi seperti hariamau yang siap menerkam.
"Kamu membuat saya takut!" ucap Andi.
"Mana resepnya biar saya bisa pulang."
"Resep apaan. Saya masih harus berbicara dengan pasien."
Kekesalan Rial semakin memuncak dibuat oleh Andi. Dia sudah tidak tahan baginya tidak ada yang boleh menatap Mitha. Dia sangat membencinya kalau ada pria yang menarik perhatian Mitha.
"Sudah cepat!" Rial berdiri dan menghampiri Andi.
__ADS_1
Andi tertawa lepas, dia berhasi membuat Rial marah kepadanya.
"Kamu kenapa ketawa?" ucap Rial bingung.
"Kamu itu lucu, apa sebegitu cintanya kamu sama Mitha." lanjutnya.
"Tunggu. Apa kamu sengaja."
"Saya hanya mengetes kamu dan ternyata berhasil. Mana mungkin saya merebut wanita yang dicintai sahabat saya sendiri." ucap Andi menyakinkan Rial.
Andi mengambil kertas di mejanya dan menuliskan sesuatu.
"Ini obat yang harus diminum Mitha, dan dia harus segera meminumnya karena kalau tidak."
"Kalau tidak kenapa?" pekik Rial memotong perkataan Andi.
"Kamu tenang dulu. Ini obat penahan rasa sakit dan saya yakin dia pasti sedang kesakitan tapi dia mencoba menahannya." ucap Andi kembali.
Tanpa pamit Rial langsung berlari keluar dari ruangan Andi. Dia tampak buru-buru untuk mengambil obat yang tertera dalam resep. Sampai-sampai dia lupa kalau Mitha sedang menunggunya.
Rial berlari begitu kencang, dia menggunakan sekuat tenaganya untuk berlari.
"Dia mau ke mana?" tanya Mitha dalam hati.
Dia pun mengikuti Rial dari belakang yang sedang berlari. Mitha bingung sendiri melihat Rial.
"Saya mau obat ini sekarang!" ucap Rial sembari memperlihatkan kertas kepada penjaga apotik yang ada di rumah sakit tersebut.
"Tunggu, kami cari dulu ya pak."
Mitha yang memperhatikan Rial begitu iba kepadanya. Jadi Rial rela berlari seperti itu demi dia.
"Ada-ada saja." guman Mitha dalam hati.
Mitha pun segera menghampiri Rial dan menepuk pundaknya.
"Mitha, kamu tunggu ya. Obatnya sedang dicari, kamu kuat kan menahan rasa sakitnya."
Mitha makin kagum dibuat Rial, mungkin inilah yang membuat Mitha tidak bisa lepas dari bayang-bayang Rial. Dia seolah kembali menemukan Rial yang dulu. Yang perhatian dan juga penuh kasih sayang.
"Iya, saya bisa tahan kok. Kamu jangan panik seperti itu. Ini bukan salah kamu kok, ini salah saya yang kurang hati-hati. ucap Mitha.
"Kalau kamu tidak ingin membuat saya khawatir jangan pernah muncul dihadapanku dalam keadaan sakit." Rial memandang Mitha penuh arti
Mitha hanya terdiam, dia tidak percaya kalau Rial bisa seperti itu kepadanya. Tatapan mata mereka tak bisa terhindarkan.
"Ini obatnya pak!"
"Berapa?" tanya Mitha.
Mitha tampak mengeluarkan yang disaku celananya. Namun ditahan oleh Rial.
"Biar saya saja."
Rial kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang seratusan di dompetnya dan tanpa sengaja Mitha melihat isi dompet Rial.
__ADS_1
Dia kaget sendiri tersenyum melihat fotonya tersimpan di dalam dompet Rial.
Bersambung...