Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab 48.


__ADS_3

BISMILAHIRAHMANIRAHIM💪


Emosi Rial tidak bisa terkendali lagi begitu pula dengan Ari. Rial seolah tidak terima dengan perkataan Ari tentang Mitha.


Mitha memeluk Rial begitu erat, 2 orang laki-laki yang menaruh hati padanya sedang bergulat di depan matanya.


Tanpa sengaja Rial mendorong Mitha hingga tubuhnya jatuh ke tanah.


"Prak." tubuh Mitha kini bersatu dengan tanah, tangannya terlihat mengeluarkan darah.


"Mitha." teriak Ira.


Tampak Rial dan Ari berlomba untuk menolong Mitha yang terjatuh. Rial mengangkat tubuh Mitha dan membawanya ke dalam mobilnya.


"Ini semua gara-gara kamu ya! kalau sampai terjadi apa-apa dengan Mitha maka kamu akan berurusan dengan saya." ucap Ari.


Ira yang tadinya terdiam mencoba menghampiri mereka. Dia ingin tau apa maksud perkataan Ari, hatinya terasa sakit ketika kekasihnya itu mengkhawatirkan perempuan lain dan itu adalah sahabatnya sendiri.


"Hey, maksud kamu apa. Apa hubungan kami dengan Mitha." ucap Ira.


Mitha yang masih meringis kesakitan mencoba keluar dari mobil, dia tidak ingin terjadi kesalahpahaman antara dia dan juga Ira.


Mitha takut kalau Ira akan berpikir macam-macam tentangnya.


"Kamu di sini saja." sahut Rial. Namun Mitha tetap ngotok dan segera menghampiri Ira dan juga Ari yang sedang bersitegang.


Rial mengikuti langkah kaki Mitha, Ari yang saat itu melihat Mitha berjalan ke arahnya langsung menghampiri Mitha.


"Kami tidak kenapa-kenapa. Apa ada yang sakit." ucap Ari sembari memegang tangan Mitha.


Sontak saja Rial tidak terima dan melepaskan tangan Ari dari tangan Mitha.


Ira makin terlihat sedih, dia bingung sendiri dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"Kamu perhatian sekali ya!" pekik Ira kesal.


"Ini bukan urusan kamu. Lebih baik kamu pergi dari sini." lanjutnya.


Ira seolah tidak terima, dia ingin mendengarkan penjelasan langsung dari mulut Ari.


"Saya tidak akan pergi sebelum kamu jujur sama saya." teriak Ira.


"Baiklah kalau begitu, saya menyukai Mitha. Dan saya ingin dia menjadi milik saya." ucap Ari.


Tiba-tiba "Prak." sebuah tamparan keras mendarat dipipi Ari.


Ira menjauh dari mereka, dia melihat ke arah Mitha dengan penuh amarah. Dia berpikir kalau Mitha menikungnya dari belakang. Mitha tidak terima dan segera mengejar Ira.


Tanpa menghiraukan kakinya yang terluka, Mitha berlari dan mengambil tangan Mitha.

__ADS_1


"Saya tidak punya hubungan apa-apa dengannya. Saya bersumpah." ucap Mitha lembut.


"Lepaskan." Ira kembali berjalan. Mitha masih tidak ingin menyerah dan kembali mengejar sahabatnya itu.


Ira yang sudah terlanjur sakit hati mendorong Mitha hingga terjatuh kembali. Rial dan Ari yang hanya melihat dari kejauhan segera berlomba kembali untuk menolong Mitha.


Rial kembali mengangkat Mitha dan segera membawanya kembali ke mobil. Sudah begitu banyak luka yang dialami Mitha.


"Lepaskan. Saya harus bicara dengan Ira." ucap Mitha sembari memberontak, dia tidak ingin terjadi kesalahpahaman lebih jauh.


Tubuh Mitha diletakkan ke dalam mobilnya, Rial pun ikut masuk ke dalan mobil. Dia kemudian mengambil sebuah kotak yang berisikan obat-obatan.


Rial menarik lengan baju Mitha dan dengan lembutnya mengoleskan obat ke tangan Mitha.


Mitha sudah terlihat tenang, mungkin dia harus bersabar dulu hingga emosi Ira stabil barulah dia bisa bicara dengannya.


"Kenapa kamu selalu saja terluka." ucap Rial sambil mengoleskan obat.


"Iya saya tidak tau kenapa akhir-akhir ini saya selalu saja sial." sahut Mitha.


Rial memandang ke arah Mitha, dia tau apa yang dimaksudkan Mitha. Selama beberapa hari ini begitu banyak yang dilalui Mitha, Rial yang menjadi faktor utamanya merasa begitu bersalah.


"Maaf." ucap Rial.


Mitha hanya terdiam, pikirannya kalut tidak karuan. Dia masih tidak menyangka kalau akan terjadi seperti ini.


"Kamu istirahat saja dulu. Saya mau masuk ke dalam." ucapnya.


⭐⭐⭐


Rial kembali ke dalam dan menemui Ira yang sementara sedang diintograsi.


"Biar saya saja."


"Baik pak!"


"Mau apa kamu?" Mitha melihat ke arah Rial, masih jelas terlihat kekesalan bercampur rasa sakit hati.


Siapa sih yang tidak sakit hati ketika seorang wanita menyerahkan kehormatannya kepada seorang pria yang ternyata tidak mencintainya. Hal ini begitu dipahami oleh Rial.


"Apa kamu disuruh Mitha." ucapnya.


"Hmmm. Tidak ada yang menyuruh saya ke sini apalagi Mitha. Saya hanya ingin meluruskan kesalahpahaman saja." lanjutnya.


"Apa kamu menyukai Mitha?" tanya Ira.


"Iya." jawab Rial.


"Baiklah kalau begitu, saya ingin kamu menjauhkan Mitha dari Ari."

__ADS_1


Rial tertawa begitu kencang dan membuat Ira heran tidak mengerti kenapa Rial tertawa lepas. Seolah tidak ada ketakutan dalam dirinya.


"Tampaknya kamu tidak mengenal Mitha dengan baik." sahut Rial.


Ira mengerutkan keningnya, dia masih tidak mengerti dengan apa yang dimaksud perkataan Rial.


"Mitha itu tidak mungkin suka sama laki-laki seperti dia." ucap Rial kembali sembari menunjuk Ari yang berada di depannya.


Ira yang mulai mengerti maksud mulai bisa tersenyum manja. "Kamu benar, selama ini saya tidak pernah melihat Mitha tertarik dengan laki-laki manapun. Padahal di kampus banyak cowok cakep yang mengincarnya." pekik Ira lega.


Rial semakin yakin kalau Mitha masih mencintainya, dia hanya terjebak dengan Andra yang kala itu hadir mengobati luka hatinya.


"Baguslah kalau kamu mengerti." sahut Rial.


"Kalau begitu, kamu bisakan membebaskan saya. Saya ini sahabat Mitha lho." Dengan percaya diri yang tinggi Ira menggempalkan kedua tangannya di dada.


"Kalau itu saya tidak bisa bantu. Tapi kamu tenang saja!"


⭐⭐⭐


Mitha membuka matanya dan alangkah kagetnya dia ketika dia berada di tempat asing.


"Saya di mana?" tanya Mitha dalam hati.


Dari balik pintu kamar yang terbuka sedikit, Mitha melihat seorang pria. Dia tampak mengenal pria itu dibalik punggung.


"Itukan Rial." guman Mitha dalam hati.


Dengan penuh tenaga Mitha berusaha bangun dan mendekati Rial yang berada dibalik dapur.


"Kami sudah bangun?" tanyanya.


"Kenapa saya bisa ada di sini?" tanya Mitha.


Tanpa sadar Mitha yang tertidur pulas dibawa pulang ke rumah oleh Rial. Dia tidak mungkin membawa Mitha kembali ke rumahnya dalam keadaan sakit apalagi di sana tidak ada yang akan menjaga Mitha. Makanya Rial membawa Mitha kembali ke rumahnya.


"Kamu duduk dulu, sarapannya sebentar lagi siap." sahut Rial.


Tubuhya yang masih sakit mengharuskan Mitha tidak bisa berbuat apa-apa. Kali ini dia tidak punya pilihan lain selain menurut kepada Rial.


"Ting..Ting..Ting.." Rial kaget mendengar bunyi bel begitu juga dengan Mitha. Dia yang sedikit trauma dengan penggerebekan berharap tidak terulang padanya. Ditambah lagi mereka hanya berdua di dalam sebuah rumah. Orang-orang pasti akan berpikir aneh-aneh kepada dia dan juga Rial.


Rial ke depan dan melihat dibalik jendela. Terlihat seorang wanita dengan kantong ditangannya.


"Itukan ibu." gumannya dalam hati.


Rial tidak mengerti bagaimana ibunya bisa menemukan tempat tinggalnya padahal selama ini tidak satupun yang tau.


Mitha yang harap-harap cemas, dia begitu takut.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️


__ADS_2