Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab.63


__ADS_3

**BISMILAHIRAHMANIRAHIM💪


Rial kembali tanpa menemukan Mitha dan juga Andra, bagaikan di telan bumi Rial tidak bisa menemukan keberadaan Andra.


Dengan langkah kaki yang lesu, Rial menuju ke kantornya sekedar untuk menenangkan dirinya sendiri. Sepanjang malam dia tidak tidur hingga membuatnya tak berdaya.


"Pak Rial!" panggil salah satu polisi yang menemui Rial di rumah sakit.


Rial menoleh ke belakang mencari sumber suara yang memanggilnya.


"Iya. Ada apa pak?" tanya Rial penasaran.


"Bagaimana keadaan ayah bapak?" tanyanya.


"Alhamdulliah!" ucap Rial singkat.


"Apa bapak tau kalau atasan kita mencoba menghentikan penyelidikan tentang kasus kecelakaan yang melibatkan ayah anda!" ucapnya sembari berbisik.


Rial yang masih dalam keadaan lelah merasa terkejut, sebagai seorang anak dia tidak bisa mengabaikan ayahnya itu.


Dengan langkah kaki yang tegak, Rial berjalan menuju ke ruangan yang merupakan ruangan atasannya. Jelas terlihat dengan ruangan yang begitu besar dengan berbagai fasilitas di dalamnya.


"Tok..tok.." suara ketukan pintu.


"Iya masuk." sahut dari dalam ruangan.


"Oh pak Rial. Ada apa?" tanyanya.


"Saya ingin meminta izin agar bapak mengeluarkan surat perintah untuk Ari." tanpa basa basi Rial langsung saja mengutarakan keinginannya yang membuat atasannya itu sedikit terkejut.


"Memangnya ada masalah apa?" tanyanya pura-pura.


"Lagi pula kita tidak bisa langsung menangkap orang sedangkan keluarganya saja belum melapor." lanjutnya lagi mencoba menenangkan Rial.


"Kalau begitu saya akan segera melapor atas kasus tabrak lari ayah saya." ucap Rial tegas.


"Ayah kamu!"


"Iya. Laki-laki yang ditabrak Ari adalah ayah saya. Dan saya juga berhak untuk melapor." lanjut Rial tegas.


"Tapi...."


"Saya akan tetap menegakkan keadilan. Saya ke sini cuma mau bapak memberikan izin." lanjutnya.


Rial berlalu begitu saja, dia tidak peduli lagi akan apa yang terjadi nantinya.


⭐⭐⭐


Mitha duduk sendiri, di depannya disuguhi pemandangan yang indah. Dari atas balkon Mitha bisa melihat sudut kota Makassar.


"Hey, kamu lamunin apa?" tanya Andra menghampiri Mitha.


Andra lalu duduk tepat di samping Mitha, dengan wajah sumringah dan bahagia menatap Mitha.


"Kapan kamu antar saya pulang!" pinta Mitha.


Andra menarik nafas panjang, dia seolah memikirkan cara agar Mitha tidak merengek terus kepadanya.

__ADS_1


"Kamu kan masih sakit. Tunggu kalau kamu sudah sembuh saya pasti akan antar kamu pulang." jawab Andra menatap wajah Mitha yang sudah mulai resah.


"Andra, saya sudah beberapa hari tidak kuliah." Mitha masih saja mencari alasan yang tepat agar Andra segera membawanya pulang ke rumah kostnya.


Walaupun rumah Andra cukup nyaman untuk tinggal namun tetap saja dia nyaman. Apalagi mereka hanyalah sepasang kekasih bukan sepasang suami istri. Dia tidak ingin meninggalkan kesalahpahaman di hati para tetangganya.


"Saya janji. Kalau kamu sudah sembuh saya akan antar kamu pulang. Lagi pula bagaiman kamu bisa kuliah sedangkan kamu nya sendiri masih lemah seperti ini." tampaknya kali Andra bisa menyakinkan Mitha dengan kata-katanya.


"Tapi kamu janji kan!"


"Iya."


"Terus kamu mau ke mana?" tanya Mitha yang baru sadar melihat baju yang dikenakan Andra.


"Saya mau ke kantor dulu. Kamu di sini saja nikmati semuanya dan beristirahat." ucap Andra.


"Iya." lanjut Mitha.


Ditempat yang berbeda, Rial sudah tidak sabar untuk segera menangkap orang yang hampir saja membuat ayahnya meninggal.


Surat perintah pun sudah ada di tangannya, dengan berpakaian rapi khas seorang polisi yang siap menangkap penjahat Rial naik ke mobilnya.


Pikirannya pun tak henti-hentinya kepada Mitha, ingin rasanya dia segera mencari keberadaan Mitha namun dia harus kesampingkan sejenak demi menangkap orang yang telah menabrak ayahnya.


⭐⭐⭐


Suara deringan telepon mengentikan sejenak kegiatan ibu Rita. Dia segera mengangkat ketika nomor yang dia lihat adalah nomor yang dia kenal.


"Halo pak. Bagaimana apakah sudah beres!" ucap ibu Rita antusias.


"Ma..maaf. Ternyata ada kesalahan sedikit, keluarga korban tenyata melapor dan saya tidak bisa berbuat apa-apa." ucapnya gugup.


"Bagaimana bisa pak!"


Dengan wajah yang memerah, ibu Rita menutup telepon genggamnya dan segera beranjak pergi.


"Antar saya ke rumah sekarang!" bentaknya.


Baginya kehormatan keluarganya begitu penting hingga dia bisa melakukan apapun agar keluarganya tidak terseret dengan masalah hukum. Profesinya sebagai seorang jaksa membuatnya harus tampil sempurna.


"Cepat pak!" teriaknya.


Rial ternyata sudah sampai duluan di rumah Ari. Dengan cepat Rial segera memencet bel yang tepat dihadapannya.


Ari duduk manis menikmati sarapan tanpa sadar kalau polisi sudah siap menangkapnya.


Seorang pembantu Ari segera berlari membuka pinta.


"Aria ada!" ucap Rial.


"Den Ari ada kok pak!"


Karena penasaran ketika dia mendengar namanya di sebut, Ari pun segera keluar dan rasa tak percaya ketika polisi yang dikenalnya berada di rumahnya.


"Jadi kamu lagi. Kenapa sih kita harus bertemu terus." ucap Rial


"Ma...mau apa kalian." ucap Ari gugup ketika dia melihat borgol yang dipegang Rial.

__ADS_1


"Kamu saya tangkap." ucap Rial profesional.


"Salah saya apa!"


"Apa kamu masih tidak sadar dengan kesalahan kamu. Kamu itu hampir saja menghilangkan nyawa orang." lanjut Rial.


Ari secara paksa di bawa masuk ke dalam mobil polisi. Ibu Rita yang melihat dari kejauhan anaknya segera berlari turun dari mobilnya.


"Kalian mau bawa ke mana anak saya!" tanya ibu Rita marah melihat anaknya diperlakukan tak baik.


"Kamu siapa?" tanya Rial.


"Saya ibunya Ari. Tolong lepaskan anak saya!" pintanya.


"Oh jadi ini ibunya yang katanya seorang jaksa itu." batin Rial.


"Maaf ya Bu. Anak anda sudah melakukan kejahatan jadi kami harus bawa dia ke kantor polisi supaya bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya." ucap Rial mencoba menjelaskan dengan baik.


"Tapi, tunggu dulu. Saya akan telepon pengacara saya." lanjut ibu Rita namun Rial yang seolah tidak peduli segera mendorong tubuh Ari masuk ke dalam mobil.


"Tolong mama. Saya tidak mau dipenjara." pinta Ari namun sudah terlambat, dia sudah berada di dalam mobil yang siap membawanya.


"Tunggu...." teriak ibu Rita melihat anaknya menjauh darinya.


"Kurang ajar." pekik ibu Rita.


Mobil yang membawa Ari di dalamnya melewati sebuah perumahan yang cukup mewah. Entah suatu kebetulan rumah Ari tak jauh dari rumah Andra. Perumahan yang mereka berdua tinggali merupakan perusahaan mewah yang ada di kota Makassar hanya kalangan atas yang bisa tinggal di komplek tersebut.


Ari yang tanpa sengaja melihat Mitha berdiri di atas balkon tanpa sadar. "Mitha." ucap Ari.


Walau pelan Rial ternyata mendengar dengan jelas apa yang baru saja dikatakan Ari.


"Mitha. Kamu bilang apa?" tanya Rial.


"Oh saya tidak sengaja melihat Mitha. Gadis itu memang cantik walau dilihat dari kejauhan." ucap Ari sembari tersenyum sinis kepada Rial.


Rial yang dari semalam mencoba mencari keberadaan Mitha harus dibuat tak percaya ketika Ari melihatnya.


"Di mana!" tanyanya kembali.


"Itu di sana." ucap Ari sembari menunjuk.


"Stop....."


Rial segera melihat dan benar apa yang dilihat Ari adalah Mitha.


"Jangan bilang, kamu juga menyukai Mitha." ucap Ari penasaran.


"Maksud kamu apa?"


"Mitha itu milik saya. Jadi, jangan coba-coba kamu berani mendekatinya." ancam Ari.


Tanpa peduli, Rial segera turun dari mobilnya dan menyuruh agar segera membawa Ari ke kantor polisi.


"Kalian bawa dia dulu. Nanti setelah urusan saya selesai saya akan ke kantor segera." pinta Rial.


Bersambung.......

__ADS_1


Tolong di baca ya teman-teman.......


__ADS_2