
Rial terus memikirkan cara agar keinginan ayahnya menjodohkannya dengan Erna tidak terlaksana.
Walaupun Rial sudah menemukan cara agar tidak satu sekolah dengan Erna tapi masih saja ada kecemasan dalam dirinya.
Dia takut kalau kebohongannya itu akan gagal.
Pagi itu udara begitu dingin.Hujaj baru saja jatuh membasahi bumi.
Rial yang masih tertidur pulas mendengar bunyi bel di depan rumahnya.
"Kak Nia...Kak Nia."seorang perempuan yang masih terlihat muda sedang memanggil di depan rumah Rial. Sesekali tangannya memencet bel yang terletak di pagar besi itu.
"Kok tidak ada yang buka pa." tanya ibu Dina kepada suaminya itu.
"Mungkin masih tidur Ma.kita yang kepagian bertamu."
"Pagi apa Pa.Ini sudah jam 08.00,masa iya mereka belum bangun."
Ibu Nia sebenarnya sudah bangun.tapi dia sibuk di dapur.begitu juga dengan pak Arif yang sedang asyik di taman belakang rumahnya.
Pak Arif setiap pagi sebelum ke kantor akan menyempatkan diri memberi makan hewan ternaknya.
"Siapa sih..pagi-pagi begini bertamu." Rial melihat jam wekernya.
"Kak Nia..." ibu Dina memanggil lagi berharap akan ada yang membukakan pintu untuk mereka.
Dengan keadaan terpaksa,Rial beranjak dari tempat tidurnya.Sebelum membukakan pintu pagar untuk ibu Dina,dia melihat ke jendela terlebih dahulu.
Dia melihat perempuan beserta laki-laki.Dia mengenali perempuan itu.
"Itukan Tante Dina,saudara ayah yang tinggal di kampung."Rial mengenali tantenya itu.Walaupuj tidak sering bertemu tapi Rial masih mengenali mereka.
Rial segera membuka pintu pagar untuk mereka.
"Maaf ya Tante..Rial terlambat membukakan pintu untuk kalian." sambil mengangkat tas pakaian tantenya itu.
"Ibu sama ayahmu mana.dari tadi Tante berdiri di sini." Tante Dina kesal karena kelamaan berdiri.
"Ibu di dapur,mungkin tidak mendengar bunyi bel.Maklum tante,dapurnya kan di belakang." Rial berusaha membela ibu sambungnya itu.
Tante Dina dan suaminya pun masuk ke rumah sedangkan Rial membawakan tas pakaian mereka.
"Ibu...ayah...Tante Dina datang nih."
Ibu Nia yang mendengar anaknya memanggilnya langsung mematikan kompornya.
Sedangkan pak Arif juga langsung menuju ke ruang tamu.
__ADS_1
Pak Arif sangat senang bertemu dengan adiknya itu.begitu juga dengan ibu Nia.
"Kalian ini,saya dari tadi berdiri di depan.untung saja ada Rial yang membukakan pintu."Ibu Dina masih kesal kepada kedua kakaknya itu.
"Maaf ya Dina..saya di dapur.kamu tunggu dulu ya..kakak ambilkan minum untuk kamu.
Ibu Nia langsung ke dapur dan membuatkan secangkir teh untuk mereka.
"Kamu bawakan tas mereka di kamar tamu ya."
"iya Yah."
Rial langsung menuju ke kamar tamu sambil membawakan tas pakaian mereka.
Setelah itu,Rial langsung menuju ke kamar tidurnya dan membersihkan kamar tidurnya itu.
Rial memang anak yang rajin,dia sendiri yang akan membereskan kamarnya sendiri.Itu yang membuat ibu Nia makin sayang kepadanya.
Dia tidak pernah merepotkan ibunya itu.karena Rial tau,begitu banyak pekerjaan rumah tangga yang dilakukan ibu Nia.
Sambil membersihkan kamarnya,Rial baru menyadari kalau tantenya tinggal di kampung.Dia bisa memanfaatkan kedatangan Tante Dina untuk membujuk ayahnya agar bisa bersekolah di kampung.
Rial memang begitu suka dengan suasana kampungnya itu.Dia akan pergi ke kampung pada saat hari raya idul Fitri saja.
Rial tersenyum,dia sudah bisa menemukan ide yang terbaik.Itu menurutnya..
Ibu Nia membawakan secangkir teh untuk adik iparnya itu.Mereka berempat berbincang begitu lama hingga waktu sudah menunjukkan pukul 10.00
"Aduh...Ayah lupa kalau hari ini harus ke kantor."Pak Arif memukul kepalanya karena dia lupa kalau hari ini banyak kegiatan yang dilakukan.
"Kamu istirahat di kamar,saya harus ke kantor." Pak Arif langsung menuju ke kamar Rial.
Di dalam kamar Rial masih membereskan kamarnya yang masih berantakan.
"Kamu kok belum siap-siap." tanya pak Arif kepada Rial
"Memangnya kita mau ke mana Yah?"
Pak Arif masuk ke kamar Rial dan memukul lembut pundak anaknya itu.
"Kamu lupa ya,kalau hari ini kita ke sekolah untuk mendaftarkan kamu ke sekolah SMA."
Rial terkejut karena dia belum memiki persiapan yang matang untuk menghadapi Erna.
__ADS_1
Karena dia tau,Erna dengan orang tuanya pasti ikut juga ke sekolah.
Walaupun kedua orang tua Erna adalah tenaga pengajar di sekolah itu,tapi tetap saja Erna harus mendaftar terlebih dahulu.
Rial semakin gelisah memikirkan apa yang akan terjadi di sekolah,dia mungkin tidak bisa menolak keinginan ayahnya itu.
Dia tidak Ingin membuat ayahnya itu marah kepadanya lagi.
"Iya Yah..Rial siap-siap dulu."
Pak Arif menganguk tanda setuju.
Pak Arif pun segera meninggalkan anak tertuanya itu.Dia pun menuju ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Begitu pun dengan Rial.Dia mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi.
Rial tidak punya pilihan lagi,untuk saat ini dia akan mengikuti keinginan ayahnya.Nanti pada saat dites dia baru akan berpura-pura buta warna agar tidak lulus di sekolah itu.
Rial bersiap-siap,dia tampak gagah.Dia sudah mulai dewasa,dia bukan lagi anak SMP .Pikirnya sambil bercermin merapikan rambut lebatnya itu.
"Rial..ayo cepat nak!" terdengar suara teriakan di ruang tamu.
Rial segera menuju ke ruang tamu,tidak lupa dia membawa perlengkapan yang akan dibawa sebagai persyaratan di sekolah tersebut.
Pak Arif dan Rial pun memasuki mobil.Di dalam mobil Rial begitu tegang.Masih saja ada kecemasan di dalam hatinya.
Pak Arif tau,kalau anaknya itu sedang cemas tapi dia tidak tau kalau anaknya cemas karena takut kalau ketahuan nanti.
Pak Arif tiba-tiba berhenti di depan sebuah rumah yang sangat luas.Rumah itu tidak terlalu besar tapi cukup asri dengan pepohonan dan tanaman di depan rumahnya.
"Kok kita berhenti di sini."Rial tidak tau kalau rumah itu adalah rumah Erna.
Rial memang tidak pernah ke rumah Erna,kalau diajak oleh orang tuanya dia selalu menolaknya.Makanya dia tau kalau rumah yang didepannya sekarang adalah rumah Erna.
"Kamu lihat saja,siapa yang akan keluar."Pak Arif mengklason mobilnya.
Rial kaget karena yang keluar dari pintu rumah adalah Erna.
"Apa..jadi ayah menjemput Erna." Rial tampak kesal kepada ayahnya itu.
"Iya dong nak..kita akan sama-sama ke sekolah." Rial makin gelisah tidak karuan.pikirannya kenapa harus Erna yang dijodohkan dengannya.
Erna memang cantik,tapi Erna memiliki kepribadian yang sangat buruk.
__ADS_1
Di sekolah Rial selalu memperhatikan sikap Erna kepada teman-temannya.Walaupun dia cantik dan pintar tapi kalau urusan kepribadian dia nol besar.Itu yang ada dipikiran Rial tentang Erna.
Bersambung...!