
**BISMILAHIRAHMANIRAHIM 💪
Mitha berusaha mencari keberadaan Rial, jantungnya berdetak begitu kencang, nafasnya sesak ketika dia melihat ibu Rita dan juga Ari.
"Ayo buruan!" ucap Mitha sembari berlari diikuti oleh Andra dari belakang.
"Hay sayang!" sapa Ari. Sontak langkah kaki Mitha terhenti.
Ari lalu mendekati Mitha, memandangnya begitu dalam dan tangannya begitu berani menyentuh wajah Mitha namun belum sempat Ari melakukan itu.
"Jangan coba-coba tanganmu itu menyentuh Mitha." ucap Andra dengan wajah kemerahan.
"Kamu siapa?"
"Kamu ingin tahu siapa saya." ucapnya kembali.
"Iya."
"Saya ini pacar Mitha." jawab Andra.
"Haaaaaaaa." Ari tertawa begitu keras mendengar apa yang diucapkan Andra yang membuat mata tertuju kepada mereka bertiga.
Ari lalu mendekati Andra." Kamu kira saya peduli!"
"Kamu." Andra yang seolah tidak terima menarik kerah baju Ari namun Mitha segera melerai. Dia tidak ingin melihat keributan antara Andra dan juga Ari. Fokusnya kini hanya pada Rial yang pasti saat ini sedang kecewa berat.
"Andra ayo kita pergi!" ucap Mitha sembari menarik tangan Andra menjauh dari Ari.
"Kamu lihat saja. Kamu pasti akan menjadi milik saya!" batin Ari sembari memandangi Mitha berlalu darinya.
"Ayo kita pulang nak!"
"Iya ma!"
Ari dan ibu Rita meninggalkan kantor polisi dengan hati yang begitu gembira, reputasinya terselamatkan kali ini.
Mitha dan Andra terus menyusuri ruangan yang ada namun tidak menemukan Rial. Ada rasa bersalah di wajah Andra karena kelalaiannya Ari bisa bebas.
"Bapak lihat Rial?" tanya Mitha ke salah satu polisi yang ada.
"Oh pak Rial, kami tidak lihat!" jawabnya.
Melihat kekhawatiran Mitha kepada Rial membuat Andra sedikit merasakan cemburu, dia yang begitu takut kehilangan Mitha harus bersabar menahan amarahnya.
"Ayo kita pulang saja!" ucap Andra memeluk Mitha.
Mitha hanya mengangguk saja mengikuti permintaan Andra.
⭐⭐⭐
__ADS_1
Akhirnya Mitha sampai juga di rumah kostnya, ada banyak pertanyaan yang mengganjal di hati dan pikiran Andra.
"Sayang kamu kenal Ari di mana?" tanya Andra.
Mitha yang tidak ingin mengingat kembali masa di mana Ari hampir saja membuatnya kehilangan harga dirinya sebagai seorang wanita.
"Hey." lamunan Mitha buyar seketika.
"Oh itu...itu...Ari sekampus dengan saya." ucap Mitha gugup yang membuat Andra semakin curiga kepada Mitha.
"Teman sekampus. Hanya itu?" tanyanya kembali.
Pertanyaan Andra semakin membuat Mitha gugup.
"Iya." Dengan wajah sedikit menunduk.
"Sayang kamu jujur saja. Ada hubungan apa kamu dengan laki brengsek itu!" Pertanyaan Andra semakin memojokkan Mitha, dia tidak tau apakah harus menceritakan semuanya di mana dia juga tau kalau Andra tidak akan tinggal diam begitu saja ketika mengetahui kebenaran yang ada.
"Kamu mau jujur sekarang atau saya sendiri yang akan cari tahu." ucap Andra dengan nada mengancam.
Dengan nada suara yang lesu, Mitha berusaha mengingat kembali dan menceritakan semuanya kepada Andra. Wajah Andra seketika memerah menahan amarahnya, dia tidak terima dengan apa yang dilakukan Ari kepada wanita yang dicintainya.
Kata demi kata dikeluarkan Mitha menceritakan tanpa sisa.
"Kamu istirahat saja, saya ada urusan penting!" ucap Andra.
"Urusan apa!" tanya Mitha yang tau apa yang akan dilakukan Andra.
Andra berlalu begitu saja meninggalkan Mitha dengan wajah yang penuh amarah.
Selepas kepergian Andra, Mitha masuk ke kamarnya dengan penuh kecemasan. Mitha merebahkan tubuhnya dan baru 2 menit dia bangkit kembali dan mencari hpnya di tasnya.
Dengan cepat Mitha mencari nomor Rial dan...
"Halo. Kamu di mana?" tanya Mitha.
"Maaf dek, hpnya ini jatuh di taman. Bapak berusaha mencari yang punya hp namun tidak ketemu." ucap seorang bapak di balik telepon.
"Taman mana pak?" tanya Mitha kembali.
"Ini dek, taman dekat kota." Mitha buru-buru menutup telepon dan segera berangkat dengan mengendarai sepeda motor miliknya.
"Ini dek hpnya." ucapnya sembari memberikannya kepada Mitha.
"Terima kasih ya pak. Ini ada sedikit yang untuk bapak." ucap Mitha dan menyodorkan uang seratus kepada bapak tua itu.
"Tidak usah dek." ucapnya menolak pemberian Mitha.
"Saya ikhlas kok pak. Ini sebagai ucapan terima kasih saya kepada bapak karna berbaik hati mengembalikan hp teman saya. Jarang lho yang seperti bapak."
__ADS_1
"Jadi saya mohon bapak ambilnya!" lanjutnya.
"Terima kasih ya dek. Alhamdulillah!' Bapak tua mengambil uang yang diberikan Mitha dengan penuh bahagia.
Mitha lalu mencari setiap sudut taman, dia yakin kalau Rial pasti berada di taman ini.
Langkah kakinya terhenti dan melihat Rial duduk di dekat sungai tak jauh dari taman.
"Kamu di sini ya, saya capek lho cari kamu." ucap Mitha duduk di samping Rial yang dari tadi duduk melamun.
"Tau dari mana saya ada di sini!" tanya Rial.
Mitha lalu memberikan sebuah hp kepada Rial.
"Ini." ucap Mitha.
Rial meraba saku celananya dan baru sadar kalau hpnya jatuh.
"Ini..ambil!" Mitha kembali memberikannya kepada Rial.
"Saya baru tau, kalau di sini ada tempat sebagus ini!" Mitha membentangkan tangannya, menutup matanya dan menghirup udara di sore hari.
Rial hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku Mitha, seketika rasa kecewanya hilang begitu saja.
Rasa rindu yang begitu lama membuat Rial tak bisa menahan dirinya, dia menarik tangan Mitha mendekatnya wajahnya kepada Mitha.
"Rial. Ada apa?" tanya Mitha yang kaget wajah Rial begitu dekat dengan wajahnya. Dan...
Rial mencium Mitha dengan begitu lembut, matanya tertutup menghayati setiap kecupan yang dia berikan ke bibir Mitha.
Mata Mitha terbelalak, walau kaget tapi dia tidak bisa melepaskan bibirnya dari bibir Rial. kecupan bibir Rial begitu lembut yang membuatnya nyaman.
Mitha pun semakin menikmati setiap sentuhan, dia pun semakin berani meladeni kecupan mesra Rial. Walau ini yang pertama baginya namun dia cukup bisa membawa dirinya hanyut dalam permainan bibir Rial.
Sementara itu Andra berusaha mencari keberadaan Ari, dengan bekalnya sebagai seorang pengacara dia cukup mudah menemukan tempat Ari biasa berkumpul.
"Prak..." tendangan kaki Andra menghujam wajah Ari dan tubuhnya terlempar begitu jauh.
"Awas kamu ya!" guman Ari.
Mereka berdua saling memukul, menjatuhkan satu sama lain hingga Ari kembali terjatuh tak berdaya.
"Saya ingatkan kamu lagi, jangan pernah menyentuh Mitha." ancam Andra.
"Jangan mimpi kamu. Saya akan pastikan Mitha akan menjadi milik saya." ucapan Ari semakin membuat amarah Andra tak terkontrol.
Pukulan demi pukulan menghujam wajah Ari dan setelah melihat Ari tak berdaya barulah Andra melepaskan dan berlalu meninggalkan Ari tak berdaya.
Kali ini Andra begitu puas, dia baru bisa tersenyum melihat wajah tak berdaya Ari.
__ADS_1
Mitha dan Rial saling memeluk dengan penuh kehangatan. Wajah mereka berseri-seri setelah melakukan ciuman pertama mereka.
Bersambung**....