Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab 30


__ADS_3

Tubuh Mitha gemetaran ketika dia sampai di rumahnya, sepanjang dia jalan hujan begitu deras yang membuat tubuhnya tidak bisa menahan kedinginan.


"Kamu kenapa nak? kamu kok hujan-hujanan. Motor kamu di mana?" Tanya pak Haris, dia begitu kaget ketika melihat putrinya pulang dengan keadaan baju yang basah kuyup. Mitha terdiam mendengar pertanyaan dari ayahnya, badannya yang menggigil seketika hilang. Dia tidak tau harus menjawab apa kepada ayahnya.


Ibu Mila yang sedang tidur siang begitu terganggu ketika suaminya memanggilnya dari luar. Dia pun terpaksa bangun dari pembaringannya.


"Bapak kenapa sih! mama ka sedanh tidur siang." Ucapannya terhenti ketika melihat Mitha berdiri di depan pintu sambil menahan kedinginan. Dia pun segera membawa Mitha ke dalam, dia tidak ingin buru-buru menanyakan apa yang terjadi. Walaupun, dia sendiri penasaran dengan apa yang terjadi.


Rini pun begitu sigapnya memberikan handuk kepada kakaknya itu, dia yang masih kecil tidak tau apa yang terjadi kepada kakaknya.


"Kamu ke kamar dulu, ganti baju ya!" Ucap pak Haris yang dari tadi penasaran dengan apa yang dialami Mitha. Mitha pun melangkahkan kakinya dengan lesu, dia berpikir keras apa yang akan dikatakannya. Apakah dia harus berbohong lagi.


****************


Rial terlihat gelisah di kamarnya, dia takut terjadi sesuatu kepada Mitha. Dia hanya bisa mondar mandir saja di kamarnya. Rial tidak tau apa yang harus dilakukannya, dia hanya bisa berkomunikasi dengan Mitha lewat telepon umum dan itu pun hanya seminggu sekali. Ketik dia begitu senang menerima telepon dari Mitha dan Andra mengacaukannya.


"Mitha kamu tidak kenapa-kenapa kan!" Pekik Rial dengan kesal kepada Andra. Dia tidak tau apa yang terjadi antara Mitha dengan Andra. Mitha juga tidak pernah menceritakan apa-apa kepada Rial makanya dia bingung ketika Andra terdengar marah ketika Mitha bersenda gurau dengannya di telepon.


Bukan hanya Rial yang khawatir kepada Mitha, Andra pun hanya bisa mondar-mandir di kamarnya. Terlintas dihatinya rasa bersalah karena mempermalukan Mitha seperti tadi. Tapi, dia juga kesal ketika dia mendengar sendiri Mitha akrab dengan laki-laki lain. Senyum Mitha begitu merekah ketika berbicara dengan Rial.


"Namanya Rial, apa hubungan Mitha dengan Rial?" Tanyanya dalam hatinya, dia yang begitu cemburu ketika wanita yang dia cintai dekat dengan laki-laki lain.


"Ini bukan salah saya, siapa suruh anak itu membuat saya marah." Ucap Andra. Dia melihat ke jendela kamarnya ketika hujan begitu derasnya membasahi bumi. Andra berusaha menenangkan hatinya, dia pun merebahkan tubuhnya ke kasur empuknya. Dia ingin melupakan rasa bersalahnya sejenak kepada Mitha.


Di dalam kamarnya Mitha berusaha mencari alasan yang harus dikatakannya kepada kedua orang tuanya, otaknya serasa mau pecah. Mungkin karena selama ini dia berbohong kepada kedua orang tuanya makanya sekarang dia mendapatkan akibatnya, Mitha berusaha menarik nafasnya begitu dalam. Kini dia pasrah kalau nantinya orang tuanya akan memarahinya.

__ADS_1


Pak Haris dan ibu Mila masih duduk di tempat yang sama, mereka begitu khawatir kepada Mitha. Mereka takut kalau ada yang menjalari putri mereka. Rasa parno yang berlebihan membuat ibu Mila ketakutan.


Dari kejauhan Mitha memperhatikan wajah orang tuanya, dia perlahan-lahan mendekati orang tuanya yang sudah menunggu penjelasan darinya. Kakinya begitu kaku seolah dia tidak ingin melangkahkan kakinya.


"Kamu sudah ganti baju nak?" Tanya ibu Mila sembari mempersilahkan Mitha duduk di sampingnya.


"Iya mah." Ucapnya dengan suara pelan, dia ketakutan kalau nantinya orangbl tuanya akan memarahinya ketika dia mengatakan yang sebenarnya.


"Sekarang kami bicara apa yang terjadi." Ucap pak haris, Mitha hanya bisa tertunduk, mulutnya seperti terkunci rapat.


"Jawab dong nak, jangan buat kami khawatir." Ucap ibu Mila sembari memegang tangan Mitha, dia berusaha menyakinkan kalau tidak akan terjadi apa-apa. Mata Mitha melihat mata ibunya itu, dia tau kalau ibunya tidak mungkin bohong kepadanya.


"Sebenarnya motor saya gadaikan di warung ibu Siti." Ucap Mitha sembari tangannya gemetaran. Pak Haris dan ibu Mila yang mendengar itu begitu kaget, mereka makin khawatir kalau terjadi sesuatu yang tidak baik terhadap putri mereka.


"Kok bisa nak?" Tanya pak Haris. Mitha pun mulai menceritakan apa yang terjadi dari awal sampai akhirnya dia harus menggadaikan motornya.


"Kamu tenang, besok bapak akan ke sekolah dan memberi pelajaran kepada anak itu yang bernama Andra dan juga teman-temannya." Ucap pak Haris kesal seketika Mitha kaget, dia tidak tau apa yang akan terjadi kepada Andra kalau besok bapak ke sekolah.


"Jangan pah." Ucap Mitha, dia tidak ingin memperpanjang masalahnya dengan Andra. Apalagi Andra sebentar lagi akan lulus dan itu artinya dia tidak akan bertemu lagi dengannya.


"Memangnya kenapa?" Tanya ibu Mila yang merasa heran kepada sikap mitha.


"Iya mah, Mitha tidak ingin memperpanjang masalah. Lagi pula saya tidak kenapa-kenapa kok cuma motor saja yang saya gadaikan." Ucap Mitha mencoba memberikan pengertian kepada kedua orang tuanya. Namun, pak Haris tidak peduli dengan apa yang dikatakan Mitha.


Dia teguh terhadap pendiriannya, pak Haris memberikan sedikit pelajaran kepada Andra karena membuat putrinya harus pulang dengan keadaan basah kuyup. Mitha dan ibu Mila pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi

__ADS_1


Mitha kembali ke kamarnya antara senang atau sedih, orang tuanya tidak marah sedikitpun kepadanya. Mitha hanya khawatir kepada apa yang akan terjadi kepada Andra esok hari. Dia tau kalau pak Haris akan berbuat nekat kepada Andra.


"Kenapa juga saya harus khawatir. Dia memang pantas mendapatkannya, siapa suruh merusak kebahagiaanku dengan Rial." Pekik Mitha kesal.


"Oh iya Rial, apa yang harus saya katakan kepada Rial nantinya. Dia pasti curiga kalau saya memiliki hubungan dengan Andra." Mitha seketik mengingat Rial dan semakin kesal kepada Andra.


Keesokan harinya Mitha perlahan-lahan mbuka matanya, dia ingin bersiap-siap untuk ke sekolah seperti biasanya. Namun, tiba-tuba badannya begitu berat untuk digerakkan seperti ditusuk-tusuk jarum, matanya berair, kepalanya begitu sakit membuatnya tubuhnya terjatuh kembali ke kasurnya.


"Papah mu ke mana pagi-pagi begini?" Tanya ibu Mila karena melihat pak Haris tidak biasanya berpakaian rapi.


"Ke sekolah Mitha la mah!" Ucap pak Haris yang sudah tidak sabar bertemu dengan anak yang membuat putrinya kesusahan.


"Papah serius, mama kira papah sudah lupa." Ucap ibu Mila.


Tiba-tiba Rini memanggil pak Haris dan ibu Mila.


"Mah...pah..." Teriak Rini. Dia begitu kaget ketika mendapati kakaknya tidak sadarkan diri di kamarnya. Pak Haris dan ibu Mila yang mendengar teriakan Rini segera berlari ke kamar Mitha.


"Ada apa nak?" Tanya ibu Mila panik.


"Itu kakak mah." Sembari tangannya menunjuk Mitha yang tidak sadarkan diri dengan wajah yang begitu pucat.


"Kamu kenapa nak!" Ibu Mila mendekati Mitha yang terkulai lemas.


"Pah, kita bawa Mitha ke rumah sakit." Ibu Mila begitu panik dan pak Haris segera mengangkat Mitha dari tempat tidur dan segera membawanya ke rumah sakit.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2