Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Kemarahan Andra


__ADS_3

Hari ini adalah hari Minggu dan sudah menjadi kebiasaan Mitha untuk melepas kangennya dengan Rial. Walaupun hanya dengan lewat telepon, Mitha sudah merasa senang baginya itu sudah cukup ketika mendengar suara Rial.


"Kamu mau ke mana nak! mama lihat setiap hari Minggu kamu akan pergi." Ucap ibunya.


Mitha seolah tidak mendengar perkataan ibunya, dia tetap saja berlalu masuk ke kamarnya. Ibu Mila segera menyusul Mitha di kamarnya, dia begitu khawatir terhadap putrinya yang semakin hari semakin tumbuh menjadi remaja yang cantik. Dia takut putrinya itu salah dalam pergaulan.


"Kenapa pertanyaan mama kamu tidak jawab." Ucap ibu Mila menghampiri Mitha. Mitha yang tadi berpura-pura tidak mendengar ibunya hanya terdiam, dia tidak tau alasan apalagi yang harus di katakannya. Setiap Minggu dia harus berbohong kepada kedua orang tuanya termasuk ibunya.


"Mitha mau keluar sebentar ma." Ucap Mitha lembut, dia merasa bersalah karena membohongi orang tuanya. Tapi, dia sendiri bingung apa yang harus dikatakannya. Mitha sebenarnya ingin jujur kepada ibunya namun dia sendiri malu mengatakannya.


"Keluar ke mana?" Tanya ibu Mila yang merasa heran dengan sikap Mitha.


"Ke rumah Nani mah, ada urusan penting." Ucap Mitha sambil memeluk ibunya, dia ingin ibunya itu tidak khawatir terhadapnya.


Ibu Mila yang masih terlihat khawatir kepada Mitha berusaha tenang dan percaya kepada anaknya.


Setelah sarapan, Mitha pun mengambil uang yang ditabungnya selama seminggu ini. Dia rela mengurangi jajannya di sekolah demi mengumpulkan uang untuk menelpon Rial.


"Kakak mau ke mana?" Rini ikut ya!" Ucap Rini manja kepada Mitha. Mitha yang sedang asyik menghitung uang tabungannya terhenti sejenak dan segera meraih tangan Rini.


"Kakak cuma sebentar kok. Nanti kalau pulang kakak akan bawakan oleh-oleh untuk kamu." Ucap Mitha lembut, Rini yang semula ingin ikut terpaksa menghentikan keinginannya itu. Apalagi dia diiming-imingkan hadiah dari kakaknya.


"Iya deh kak." Ucap Rini dan segera meninggalkan kakaknya sendirian di kamarnya.


Mitha pun melanjutkan menghitung uang tabungannya, terlihat uang 2000 dan juga uang 5000 berserakan di atas tempat tidurnya. Uang yang susah payah dia kumpulkan.


"Sepertinya ini sudah cukup untuk berlama-lama menelpon Rial." Guman Mitha dalam hatinya, dia sudah tidak sabar untuk meluapkan kerinduannya kepada Rial.


Mitha seger menuju ke depan rumahnya, terlihat pak Haris sedang asyik membersihkan halaman rumahnya dibantu oleh Rini.


"Sini nak, bantu bapak." Ucap pak Haris, langkah Mitha terhenti mendengar teriakan pak Haris.


"Maaf pak, Mitha keluar sebentar ya!" Ucap Mitha sembari mencium tangan pak Haris. mith pun segera mengambil sepeda motornya dan berangkat ke tempat ibu Mira yang merupakan penjaga wartel di kampungnya.


Selang beberapa menit Mitha sampai juga di rumah ibu Mira. Karena jarak rumahnya dengan rumah ibu Mira tidak terlalu jauh.


"Kamu sudah datang Mitha." Ucap ibu Mira menyambut kedatangan langganan tetapnya itu.

__ADS_1


"Iya Bu." Ucap Mitha sambil tersenyum ke arah ibu Mira. Dia pun segera menuju ke sebuah ruangan, di ruangan itu terlihat telepon yang biasa digunakan warga kampung.


*****************


Sementara itu Rial tampaknya sudah menunggu di ruang tamu. Dia sudah tidak sabar dan mulai terlihat biasa mendengar suara Mitha di hari Minggu. Walaupun sama seperti Mitha, Rial pun harus berbohong menyembunyikan siapa yang setiap hari Minggu menelponnya kepada kedua orang tuanya terutama ayahnya.


Rial tahu kalau pak Arif akan marah padanya ketika dia tau kalau dia dekat dengan seorang wanita. Dari awal pak Arif hanya ingin menjodohkan Rial dengan Erna yang merupakan kerabat dari istrinya.


"Kamu tunggu telepon lagi." Ucap ibu Nia, di terlihat membawakan kue kesukaan anaknya itu. Ibu Nia tau juga kalau Rial sudah ada di depan telepon itu artinya dia akan lupa makan.


"Iya Bu." Ucap Rial sambil tersenyum kepada ibu Nia.


"Sebenarnya siapa sih teman kamu itu. Ibu boleh kenalan nggak." Ucap ibu Nia. Rial keget tidak tau cara menolak permintaan ibunya.


"Hanya teman kok Bu di kampung,biasa pembicaraan laki-laki." Ucap Rial gugup. Selama ini dia berbohong kalau yang sering menelponnya adalah teman laki-lakinya di kampung.


"Kamu nanti ajak ke rumah dong." Ucap ibu Nia.


Deringan telepon pun berbunyi, Rial secepat kilat mengangkat telepon yang dia nantikan dari tadi. Ibu Nia pun hanya tertawa dan meninggalkan Rial di ruang tamu sendirian.


"Halo." Ucap Mitha di ujung telepon.


"Sebenarnya siapa sih teman kamu nak!" Guman ibu Nia. Tapi, karena tidak ingin kecurigaannya lebih jauh dia pun memilih tidak memikirkannya


Rial yang begitu senang sesekali tampak senyum di wajahnya, mereka pun saling membicarakan apa yang terjadi selama seminggu ini. Rasanya banyak sekali bahan pembicaraan mereka berdua.


***********


Andra yang setiap haru Minggu akan keluar bersama teman-temannya menjadi tidak bergairah. Dia hanya ingin bersantai di kamarnya sambil mendengarkan lagu kesukaannya.


Dirga yang rumahnya bertetangga dengan Andra merasa heran karena tidak biasanya Andra tidak ke rumahnya untuk mengajaknya keluar. Walaupun hanya sekedar makan di warung.


"Ini aneh." Pekik Dirga. Karena tidak ingin rasa penasarannya semakin tinggi, dia pun bergegas ke rumah Andra apalagi rumah mereka bertetangga.


"Andra..Andra..Andra..." Panggil Dirga sambil berteriak.


Namun karena musik yang terlalu kencang, Andra tidak mendengar teriakan Dirga dari ruang tamu rumahnya.

__ADS_1


Karena tidak ada jawaban dari Andra, Dirga pun langsung menuju ke kamar Andra.


"Andra kamu di dalam, saya masuk ya!" Ucap Dirga dan perlahan membuka pintu dan melihat Andra yang sedang asyik rebahan di kamarnya.


Andra masih tidak sadar kalau Dirga sudah ada di dalam kamarnya, Dirga pun menghampiri Andra sembari mematikan musik yang ada di sampingnya.


"Kamu kenapa ke sini?" Tanya Andra sambil bergegas bangun dari tempat tidurnya.


"Keluar jalan yuk!" Ucap Dirga sembari memukul punggung Andra.


"Keluar ke mana?" Tanya Andra yang masih terlihat lemas duduk di kasur empuknya.


"Ke mana saja deh!" Ucap Dirga.


Karena tidak ingin berdebat lama dengan Dirga, Andra pun langsung menuju ke kamar mandi dan segera bersiap-siap. Tak lama Andra pun siap dan mereka berdua segera berangkat ke tempat yang biasa mereka datangi.


Mereka berdua pun terlebih dahulu menjemput Nurul dan Ibnu di rumah masing-masing. Setelah itu barulah mereka berangkat ke tempat ibu Siti yang merupakan langganan mereka.


Setelah sampai, Andra melihat motor Mitha terparkir tidak jauh dari warung ibu Siti.


"Itukan motor Mitha." Guman Andra dalam hatinya, karena penasaran dia pun mencari Mitha dan menemukan Mitha sedang menelpon seseorang.


Mitha yang masih asyik berbincang dengan Rial dibalik telepon kaget ketikan Andra merebut telepon dari tangan Mitha.


"Kamu siapa?" Tanya Andra. Rial kaget ketik mendengar suara laki-laki di ujung telepon.


Mitha pun ingin merebut telepon dari tangan Andra tapi, terhalang ketika Andra memegang keras tangan Mitha.


"Aduh sakit. Lepaskan kan Andra." Ucap Mitha, mendengar nama Andra membuat Rial teringat dengan apa yang diceritakan Mitha kepadanya.


"Lepaskan Mitha." Ucap Rial di balik telepon, membuat Andra semakin marah. Ada rasa cemburu di hatinya mengetahui kalau selama ini Mitha diam-diam menghubungi laki-laki lain.


"Mitha itu milik saya." Ucap Andra dan begitu saja menutup teleponnya. Mitha kaget mendengar apa yang dikatakan Andra. Dia takut kalau nantinya Rial akan salah paham kepadanya.


Andra menatap Mitha begitu tajam, tampak kemarahan dimatanya membuat Mitha menjadi takut.


Bersambung

__ADS_1


Vote ya teman-teman supaya saya makin bersemangat.


Terima kasih


__ADS_2