
Rial tidak sadar kalau orang-orang yang berada didekatnya memperhatikannya dari tadi.
"Memang benar sih kata mereka. Apa sebegitunya."pekik Rial dalam hati. Dia yang begitu rindunya dengan wanita yang sekarang terbaring lemah di rumah sakit tak berdaya.
"Maaf." ucap Rial tepat ditelinga Mitha berharap Mitha sadar.
Tampak jelas diwajahnya kalau Rial begitu khawatir, dia tidak bisa membayangkan sakit yang ada ditubuh Mitha sekarang. Walaupun itu hanya deman biasa.
⭐⭐⭐
Jam sekarang menunjukkan pukul 06.00 pagi. Mitha yang tidak sadar, perlahan-lahan membuka matanya.
Tubuhnya masih begitu lemah namun dia tetap memaksakan dirinya agar bangun dari tempat tidurnya. Dan alangkah kagetnya dia melihat Rial tertidur pulas di sampingnya sembari memegang tangannya.
"Rial, saya di mana?" tanyanya.
Dia yang masih tidak sadar melihat sekelilingnya, "Apa saya di rumah sakit?" tanyanya kembali dalam hati.
Mitha masih tidak sadar akan apa yang terjadi semalam berusaha mengingat kembali. Dia membayangkan kalau dirinya sedang berada di kantor polisi akibat ikut-ikutan menonton balapan liar.
Mitha kembali memandang ke arah Rial yang masih tampak tertidur, dia mengamati wajah Rial yang begitu tampan walaupun sedang tertidur. Matanya Tiba-tiba melihat ke arah bibir merah Rial.
Timbul pikiran aneh-aneh sembari tetap memandang bibir merah Rial.
Seketika dia menggelengkan kepalanya." Sadar Mitha, dia bukan milik kami lagi seperti dulu." ucapnya.
Mitha mendekatkan wajahnya, memandang setiap detail yang ada pada wajah Rial. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan kerinduannya.
Selama bertahun-tahun Mitha berusaha menghilangkan rasa cinta tapi usahanya gagal. Hati dan pikirannya masih ada Rial di dalamnya.
Tanpa Mitha sadari, perlahan -lahan dia membelai wajah Rial mulai dari rambut, mata, wajah hingga bibir Rial. Dia membelai begitu lembut yang membuat Rial terbangun.
Namun Rial tetap diam membiarkan tangan lembut Mitha membelainya. Sentuhan demi sentuhan begitu diresapi Mitha dan juga Rial.
Ingin rasanya Rial menghentikan waktu sejenak, membiarkan Mitha membelainya dengan penuh kasih sayang.
Saking asyiknya, Rial tidak sadar kalau bibirnya tersenyum dan membuat Mitha segera melepaskan belaiannya.
"Jangan pura-pura deh. Ayo bangun!" Lanjutnya.
Rial masih saja terdiam dan berusaha agar tidak ketahuan oleh Mitha. Namun, Mitha tampaknya sudah sadar kalau Rial sudah bangun.
"Ayo bangun, saya harus pulang." ucapnya lagi dan kini dengan nada yang tinggi.
"Aduh nak, jangan begitu dong. Pacarnya pasti ngantuk karena menjaga kamu semalaman tanpa tidur sedikitpun." ucap salah satu pasien yang berada tepat di sebelahnya.
"Apa, mana mungkin." ucapnya dalam hati sembari memperhatikan Rial.
"Iya Bu." ucap Mitha sembari tersenyum.
__ADS_1
Rial pun tersenyum dalam hati mendengarnya.
Mitha kembali mendekatkan wajahnya ke telinga Rial." Ayo bangun, kalau kamu tetap seperti ini saya akan pergi sendiri." ucap Mitha dengan nada lembut berharap dia tidak akan ditegur oleh pasien yang berada di sampingnya.
"Augh...augh.." Rial pun bangun dan menguap, seolah-olah dia baru bangun.
Mitha tersenyum sinis, dia sudah tau kalau Rial berpura-pura.
"Kamu sudah bangun, apa ada yang sakit?" tanya Rial sembari memegang kepala Mitha.
Mitha sontak melepaskan tangan Rial dari kepalanya.
"Tampaknya kamu sudah sehat, badanmu sudah tidak panas lagi." ucap Rial.
"Apa kamu tau, kenapa saya sakit. Ini semua gara-gara kamu." ucap Mitha.
Rial terdiam sejenak. "Makanya jangan sakit lagi." ucapnya.
"Memangnya kenapa?" tanyanya.
"Saya akan merasa bersalah dan saya tidak bisa memaafkan diri saya kalau terjadi sesuatu sama kamu." ucap Rial memandang Rial.
Mitha terenyuh mendengar kata-kata Rial yang begitu tulus kepadanya.
"Tapi, kamu sudah membuat saya sakit bahkan sakitnya tiada tara." ucap Mitha.
Rial sadar kalau dia sudah menorehkan luka yang begitu dalam kepada Mitha. Hingga dia sendiri tidak tau bagaimana menyembuhkan luka tersebut.
Walaupun sembuh tapi lukanya akan membekas.
Sementara itu di kantor polisi.
Ira yang baru terbangun pun sadar kalau Mitha sedang tidak berada di sampingnya.
"Maaf pak, teman saya ke mana ya!" tanyanya.
"Saya tidak tau, saya juga baru bangun." ucapnya.
Sewaktu Mitha di bawa ke rumah sakit oleh Rial, tak ada satupun yang tau. Rial membawa Mitha diam-diam tanpa diketahui oleh siapapun.
"Mitha kamu di mana? apa mungkin dia sudah pulang?" tanyanya dalam hati.
"Ayo bangun." Ira memukul paha Ari berharap Ari agar segera bangun.
"Apaan sih!" ucapnya.
"Ini semua gara-gara kamu." ucap Ira kesal.
Ari tampaknya tidak percaya kalau Ira sudah mulai berani memukul dan membentaknya. Padahal selama ini Ira selau saja menurut apapun kepadanya.
__ADS_1
"Awas ya kami. Jangan coba-coba berani seperti ini!" Ari melotokkan matanya kepada Ira.
"Maaf, saya hanya khawatir kepada Mitha hingga membuat saya seperti ini. Kamu jangan marah ya!" Ira mulai mengalihkan pembicaraannya.
Ari pun sontak bangun mendengar mutu sudah tidak berada di kantor polisi.
"Ke mana dia. Apa terjadi sesuatu kepadanya;" pekik Ari khawatir.
Ari beranjak dan satu persatu orang yang ada di kantor polisi dia tanyai. Tapi, tidak ada satupun dari mereka yang mengetahui keberadaan Mitha.
⭐⭐⭐
Mitha dan Rial berjalan keluar dari rumah sakit.
"Ayo masuk!" ucap Rial sembari membukakan pintu mobilnya.
"Tidak mau, kamu pasti akan bawa saya kembali ke kantor polisi. Saya bisa kok pulang sendiri dan bye.." ucap Mitha sembari berlari meninggalkan Rial.
Rial hanya melihat Mitha yang berlari dan tersenyum.
"Pokoknya saya harus kabur sekarang." ucapnya.
"prik..prik..." Suara klakson mobil.
"Siapa sih!" Mitha berbalik dan Rial sudah tepat berada di belakangnya.
"Ayo naik, saya janji tidak akan membawa kamu ke kantor polisi. Lagi pula kamu mau jalan kaki sampai ke rumah." ucap Rial dari dalam mobil.
Mitha tetap saja berjalan, dia yang begitu trauma dengan yang namanya kantor polisi. Dan dia yakin Rial pasti akan membawanya kembali ke sana.
Rial menancap gas mobilnya dan berada tepat di depan Mitha. Mitha yang kaget memukul bagian depan mobil Rial.
"Kamu mau membunuh saya." pekik Mitha kesal.
"Mana mungkin lah. Ayo naik saya antar ke rumah. jam segini juga belum ada kendaraan umum."
Mitha kembali melihat sepanjang jalan yangsih begitu sepi.
"Bagaimana, mau naik atau tidak." lanjutnya.
Mitha terdiam, dia baru sadar kalau dia tidak membawa dompet. "Tas saya kan ada di kantor polisi." ucapnya dalam hati.
Mau tidak mau Mitha akhirnya naik ke mobil Rial dan mereka pun masing-masing mengingat masa remaja mereka di kampung. Walaupun hanya sesaat kebersamaan mereka tapi begitu berkesan.
Bersambung
Mitha dan Rial akan kembali ke masa lalu mereka.
❤️❤️❤️
__ADS_1