Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab 44.


__ADS_3

BISMILAHIRAHMANIRAHIM


Mitha masih terlihat mengantri, di depannya ada Ira yang juga ikut mengantri dengannya.


Sesekali Ira tampak menggoda kasir yang sedang melayani mereka. Mitha hanya tersenyum melihat tingkah laku sahabatnya itu. Sampai-sampai dia tidak sadar kalau ibu Nia memperhatikannya dari tadi.


Mitha tampak masih menahan rasa sakit dipunggung ya, terlihat jelas diwajahnya.


"Apa masih sakit?" tanya ibu Nia. Mitha mencari sumber suara tersebut. Kemudian dia menoleh ke belakang tampak lah ibu Nia yang juga ikut mengantri di belakangnya.


"Hey Tante, sakit sedikit sih tapi besok pasti sudah baikan." ucapnya.


Mitha melihat begitu banyak belanjaan ibu Nia, dia merasa iba kalau harus berdiri terlalu lama mengantri.


"Tante duluan saja." ucapnya kembali.


ibu Nia yang mulai tidak bisa berdiri terlalu lama menerima tawaran Mitha. Dia begitu senang karena masih ada orang baik di dunia ini padahal dia juga pasti sedang kesakitan karena menolongnya tadi.


"Memangnya tidak apa-apa." lanjutnya.


"Tidak apa-apa kok Tante. Tante duluan saja, biar saya di belakang Tante." Mitha pun segera bergeser ke belakang dan mempersilahkan ibu Nia berada di depannya.


"Terima kasih ya nak!"


Cukup lama kasir tersebut menghitung barang belanjaan ibu Nia, hingga tiba-tiba ibu Nia mengambil keranjaan belanjaan Mitha dari tangannya.


Mitha sedikit terkejut ketika ibu Nia menarik keranjaan belanjaan yang dipegannya.


"Ini sekalian ya dek. Tapi kantongnya terpisah." seru ibu Nia pada kasir tersebut.


"Iya Bu." jawabnya.


"Tapi Tante!" ucap Mitha.


"Tidak kenapa-kenapa, anggap saja sebagai ucapan terima kasih Tante."


"Kalau begitu terima kasih banyak." ucap Mitha.


Walaupun hanya berupa cemilan tapi membuat kita begitu senang, dia tidak harus mengeluarkan uangnya.


"Kamu beruntung." bisik Ira.


Mitha langsung menyenggol tangan Ira, dia takut kalau sampai ibu Nia mendengar pembicaraan mereka.


"Ini belanjaan kamu." ucap ibu Nia sembari memberikan kantong yang berisi cemilan yang begitu banyak.


Mitha hanya tersenyum, dia sebenarnya tidak enak hati kalau harus dibayarin. Padahal dia menolong tanpa pamrih. Tapi, rejeki tidak ke mana.


Mereka bertiga keluar secara bersamaan dari supermarket, tampak sopir ibu Nia langsung menaikkan belanjaan yang begitu banyak ke dalam bagasi mobil.


"Wah mobilnya bagus, pasti orang kaya!" bisik Ira kembali.


"Kalian tinggal di mana, biar Tante yang antar!" sahut ibu Nia.


"Oh iya Tante." ucap Ira senang tapi langsung saja Mitha kembali menyenggol kaki Ira.


"Tidak usah Tante, dekat kok cuma jalan kaki saja." ucap Mitha sembari menunjuk ke seberang jalan.


Ira tidak menyangka kalau Mitha akan menolak kan lumayan tidak harus jalan kaki.


"Benar, tidak apa-apa!" ucapnya kembali.

__ADS_1


"Iya Tante!" ucap Mitha kembali menyakinkan ibu Nia.


Ibu akhirnya pulang bersama dengan sopirnya sedangkan Mitha dan juga Ira pun kembali ke rumah mereka. Ira yang sedikit kesan kepada Mitha karena tidak menerima ajakan pulang ibu Nia.


"Kamu kok manyun!" Mitha tampaknya menyadari kalau sahabatnya itu kesal kepadanya dan dia juga tau apa yang membuat Ira bisa sekesal itu kepadanya.


"Kamu begitu bodoh. Lihat seandainya saja kamu menerima tawaran ibu tadi kita tidak akan capek-capek begini!" pekik Ira kesal.


Mitha tersenyum mendengar omelah Ira, "Kan tidak enak lah, belanjaan saya sudah dibayarin terus harus diantar pula. Kan tidak enak lah Ra!" sahut Mitha.


"Anggap saja ini sebagai balas budi karena kamu menolong dia." lanjutnya.


Ira masih tidak bisa menerima pemikiran Mitha yang begitu polos.


Langkah kaki mereka menyusuri jalan menuju tempat tinggal mereka. Dari kejauhan tampak Ari yang sedang menunggu di depan rumah.


"Itukan Ari." ucap Mitha sembari menunjuk ke arah Ari.


"Bagaimana dia bisa tau kalau saya tinggal di sini. Padahal selama ini kalau saya ajak dia kost, dia pasti menolak." ucapnya lagi.


Ira segera berlari menghampiri Ari yang bersandar di mobilnya.


"Sayang." teriak Ira. Mitha yang berjalan tepat di belakang Ira hanya bisa tersenyum.


"Hey sayang." ucap Ari namun pandangan hanya tertuju kepada Mitha.


"Hay Mitha." sapa Ari.


langkah kaki Mitha terhenti, sebenarnya dia ingin berlalu dari Ira dan juga Ari namun karena Ari menyapanya dia harus berhenti sejenak.


"Kalian dari mana?" tanya Ari.


"Dari depan." jawab Mitha datar.


"Cantiknya!" guman Ari dalam hati sambil trus memperhatikan Mitha.


Mitha yang sadar kalau tatapan Ari begitu menggangunya. Mitha segera berlalu dari mereka berdua.


"Ayo masuk sayang!" Ira menarik tangan Ari menuju ke kamarnya.


Ari yang hanya sekedar bermain-main dengan Ira terpaksa berpura-pura ini semua karena dia ingin mengenal mitha lebih jauh.


"Kamar Mitha mana?" tanya Ari. Ira tampak curiga ketika pacarnya itu malah menanyakan kamar sahabatnya.


"Oh memangnya kenapa?" tanyanya.


"Bukan apa-apa. Saya kira kamu tinggal sekamar dengan Mitha." jawabnya mengalihkan pembicaraan.


"Memangnya kenapa kalau saya tidak sekamar dengan Mitha?" tanyanya lagi yang masih tampak curiga kepada Ari.


Ari terhenti, dia memandang wajah Ira yang tampak kesal kepadanya. Dia tau kalau Ira sepertinya sedang cemburu.


Ari menghampiri kekasihnya itu, dipegannya dengan lembut tangan Ira dan kemudian memeluknya sembari mendekatkan bibirnya ke telinga Ira dan membisikkan sesuatu yang membuat Ira tersenyum manja.


"Kamu bisa saja!" ucap Ira.


Mereka berdua bercumbu begitu mesra hingga Ira tertidur lelap di samping Ari.


Ari yang masih begitu penasaran dengan Mitha, diliatnya Ira yang masih tertidur pulas karena kecapean. Dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui Mitha di kamarnya.


Mitha yang sedang asyik menonton sinetron kesukaaannya dikejutkan dengan suara ketukan pintu.

__ADS_1


"Tok..tok..tok."


Mitha segera membuka dan alangkah kagetnya dia melihat Ari yang sedang berada di depan kamarnya dan langsung saja menerobos mauk ke kamarnya tanpa permisi.


"Jadi ini kamar kamu?" ucapnya.


"Iya. Ira mana?" tanyanya.


"Dia sudah tidur." jawabnya.


Tatapan Ari kepadanya semakin membuat Mitha tidak nyaman berada di samping Ari. Tatapan aneh menurutnya.


"Bisa kamu keluar dari kamar saya. Saya juga sudah ngantuk." usir Mitha kepada Ari.


Ari semakin saja tertantang dibuatnya. Baginya ini penolakan halus kepadanya dan dia tidak terima karena baru kali ini dia di tolak seperti itu.


Sedangkan perempuan lain pasti akan senang kalau ada didekatnya tapi tidak dengan gadis yang ada dihadapannya sekarang.


Ari tampaknya tidak menghiraukan ucapan Mitha, dia malah duduk di kasur Mitha yang membuat Mitha semakin kesal. Dibenaknya timbul kalau Ari bukan laki-laki yang baik.


"Maaf sekali lagi, apa bisa kamu keluar sekarang. Saya sudah ngantuk." sahut Mitha kesal karena ucapannya tidak dihiraukan oleh Ari.


Sementara itu, Ira tampak terbangun dan tidak melihat Ari ada di sampingnya.


"Ari ke mana? Apa dia sudah pulang tapi kunci mobilnya masih ada."


Ira keluar kamar dan mencari Ari, dia melihat kalau pintu kamar Mitha terbuka lebar sedangkan yang lainnya sudah tertutup.


Ira segera menghampiri kamar Mitha dan dugaanya kalau Ari pasti ada di kamar Mitha benar. Dia menemukan Ari begitu asyik duduk di kasur Mitha sedangkan Mitha berdiri tepat tak jauh dari pintu.


"Kamu di sini rupanya." Mitha kaget karena Ira sudah ada dibelakangnya begitu pula dengan Ari.


"Iya, saya tidak bisa tertidur makanya saya ke kamar Mitha sekedar menyapa!" ucap Ari ngeles.


Ira berusaha menghilangkan kecurigaannya. " Oh iya sayang. ayo kita ke kamar, Mitha pasti sudah ngantuk. Iya kan Mitha!" Ira melihat Mitha sembari memberikan kode berharap Mitha akan menjawab iya.


"Iya." ucapnya singkat.


Dengan terpaksa Ari harus menuruti perkataan Ira agar menyuruhkan keluar dari kamar Mitha sedangkan dia masih ingin berlama-lama di samping Mitha.


Mitha segera menutup pintu kamarnya begitu erat, dia begitu takut kalau Ari akan datang menghampirinya lagi.


⭐⭐⭐


Rial masih saja berada di ruang kerjanya, sambil melihat-lihat beberapa foto digaleti handphone Mitha. Senyumnya merekah ketika dia melihat beberapa foto lucu Mitha.


"Permisi pak!"


"Iya masuk."


Seorang pria berseragam lengkap menghampiri Rial. Biasanya kalau mereka berseragam seperti itu artinya mereka akan melakukan sebuah tugas.


"Ada apa. Apa kita akan keluar bertugas?" tanya Rial.


"Iya pak. Kita dapat laporan dari masyarakat tentang adanya rumah kost yang selalu melakukan mesum." ucapnya tegas.


"Jadi kita akan menggerebek ruman kost itu?" tanyanya kembali.


"Iya pak."


"Ya sudah kamu keluar, saya akan siap-siap dan segera kita meluncur."

__ADS_1


Rial mengambil beberapa peralatan yang biasa dia pakai dan segera mengumpulkan anggotanya yang akan bertugas. Tak lupa dia membawa tas Mitha ikut dengannya.


Bersambung...⭐⭐👍❤️


__ADS_2