
**BISMILAHIRAHMANIRAHIM
Maaf ya teman-teman baru bisa dilanjut....
⭐⭐⭐
Andra menghentikan mobilnya tepat di rumah kost Mitha, dengan sigap dia turun dan membukakan pintu mobil untuk Mitha.
"Silahkan tuan putri." ucap Andra sembari menundukkan kepalanya. Mitha tersenyum tipis ke arah Andra.
"Terima kasih!" balas Mitha.
"Terima kasih untuk hari ini." lanjut Mitha.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Andra yang tidak mengerti sama sekali dengan maksud Mitha.
Mitha meraih tangan Andra, dan mengengam ya dengan erat dan melebarkan senyum manisnya.
"Hey...tunggu dulu. Ini maksudnya apa!" lanjutnya.
"Saya berterima kasih karena atas apa yang kamu lakukan selama ini untuk saya dan juga hari ini kamu tidak bertengkar dengan Rial." sejenak Mitha menghentikan ucapannya dan tetap memandang Andra begitu dalam, ada rasa penyesalan dihatinya karena sampai saat ini dia masih belum bisa memberikan hatinya kepada Andra.
"Saya juga begitu senang hari ini. Andra yang saya kenal emosian bisa juga ternyata bersikap bijaksana." sambungnya.
"Bijaksana!" ucap Andra keheranan.
"Iya. Bijaksana karena kamu bisa berdamai dengan hatimu dan mau membantu Rial dan keluarganya." ucap Mitha sembari memegang dada Andra.
Andra kembali meraih tangan Mitha yang masih berada di dadanya dan memeluknya begitu erat.
"Terima kasih juga untuk semuanya." ucap Andra.
"Terima kasih karena mau menerima pria seperti saya." lanjutnya Andra.
Mereka berpelukan di depan kamar Mitha dan saling melepaskan pelukan dengan begitu lega.
"Kamu masuk sekarang dan istirahat." ucap Andra sambil matanya menuju ke arah pintu kamar Mitha.
"Iya. Kamu pulang juga dan istirahat!" balas Mitha.
Sesampainya di rumahnya, Andra tak langsung istirahat. Dia membuka file yang dikirimkan Rial di hpnya.
Satu per satu Andra membuka halaman file, tak ada satupun dia lewatkan. Baginya ini adalah pembuktian sebagai seorang pengacara muda yang bahkan belum berpengalaman menangani kasus satu pun.
Namun dengan tekad yang bulat dan ingin membuat orang yang hampir membuat Mitha kehilangan nyawanya mendapatkan hukuman yang setimpal.
Sementara itu Erna masih terlihat menemani ibu Nia dan pak Arif di rumah sakit. Walaupun dalam keadaan terpaksa, dia tetap harus berada di samping mereka sekarang.
"Rial ke mana sih. Kok tidak muncul!" batinnya dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Kamu pulang saja nak, kamu pasti capek menemani Tante dari tadi. Lagi pula Rial sebentar lagi juga datang kok. Jadi kamu pulang saja istirahat." ucap ibu Nia.
Mendengar nama Rial, Erna tampak senang. Dia ingin terlihat baik di depannya dan inilah waktunya Erna bisa membuktikan dirinya.
"Assalamualaikum" ucap Rial di balik pintu.
"Waalaikumsalam." ucap ibu Nia.
Rial masuk dan sedikit kaget melihat Erna berada di ruangan ayahnya.
"Ini makanan untuk ibu." ucap Rial sembari menyodorkan kantong berwarna hitam kepada ibu Nia.
"Rial. kamu sudah datang." ucap Erna basa basi berharap Rial akan terkesan kepadanya.
"Keadaan ayah bagaimana Bu?" tanya Rial mengacuhkan Erna yang berada di sampingnya.
"Ayah kamu masih belum sadar." ucap ibu Nia sedih.
"Tante jangan sedih gitu dong. Erna yakin om pasti akan segera sembuh." ucapnya Erna yang masih berharap perhatian dari Rial.
"Iya nak!"
Ibu Nia membuka kantongan yang di bawa Rial.
"Kok cuma satu makanannya nak! untuk Erna mana?" tanya ibu Nia kepada Rial yang berdiri tepat di samping ayahnya.
"Tidak apa-apa kok Tante. Saya tidak lapar kok!" lanjut Erna.
Ibu Nia mengerti betul kalau Rial tidak suka Erna ada di sampingnya. Dia hanya menghormati ibunya saja.
"Masa kamu tidak lapar, kan dari tadi kamu di sini." ucap ibu Nia duduk dan ikut menyuruh Erna duduk di sampingnya.
"Ayo kita makan sama-sama." ibu Nia memberikan makanannya sebagian ke Erna namu di tolak dengan lembut.
"Saya makan di kantin rumah sakit saja kok Tante. Tante silahkan makan saja." ucapnya kembali.
Erna lalu berdiri, walau ada rasa kecewa di hatinya karena mendapat respon yang begitu dingin dari Rial namun dia tetap bersabar.
"Ya sudah. Kamu di temani Rial saja ya!" ucap ibu Nia yang disambut senyuman diwajah Erna.
"Tapi Bu." ucap Rial yang tidak terima dengan apa yang didengarnya.
"Ayo dong nak. Erna dari tadi lho nemenin ibu di sini. Kamu temani lah, Anggap saja sebagai ucapan terima kasih." bujuk ibu Nia.
Mau tidak mau Rial harus menuruti permintaan ibunya, dia bukanlah anak yang selalu membantah perkataan ibunya.
Erna dan Rial berjalan menuju ke kantin rumah sakit, tanpa rasa malu Erna menggandeng tangan Rial seperti ingin menunjukkan kepada orang-orang yang melihatnya kalau Rial adalah milikinya.
Dengan lemah lembut Rial melepaskan tangan Erna dari tangannya dan berjalan begitu cepat bahkan Erna pun sampai kewalahan mengikuti langkah kaki Rial.
__ADS_1
"Tunggu dong!" rengek Erna.
Tanpa rasa peduli, Rial tetap saja berjalan dan memikirkan cara agar menjauh dari Erna.
"Kamu mau pesan apa? biar saya yang pesankan ya!" ucap Erna yang hanya dibalas anggukan kepala dari Rial.
Rial tetap saja menyibukkan diri dengan membuka sosmed miliknya. Erna yang terus saja mengoceh diacuhkan di tambah lagi ketika dia melihat update status terbaru Mitha di Ignya.
Tampak Mitha yang memposting foto dengan suasana kamarnya di malam hari, Mitha yang memakai baju piyama berwarna pink favoritnya.
"Kamu memang cantik." guman Rial dalam hati sembari tersenyum. Erna yang penasaran mencoba mengintip, kepalanya dinaikkan sedikit matanya mencoba melihat apa yang membuat Rial tersenyum begitu lama.
"Wanita itu lagi. Apa cantiknya sih! Dasar wanita lebay." pekik Erna kesal.
Dengan sigap Rial menjadi orang pertama yang mengomentari postingan Mitha.
"Makmun ku!" dengan E-motion hati di foto Mitha.
Mitha yang melihatnya dibuat harus merasakan kegelian. Dia yang ingin membalas harus dibuat kaget ketika dia melihat kembali komentar yang masuk.
"Jangan halu dong!" balas Andra.
Rial terdiam sejenak memikirkan apa yang akan ditulisnya.
"Makmun ku tidur ya!" balas kembali Rial.
Tak ingin kalah, Andra kembali membalas "Anda sehat!"
Postingan Mitha dipenuhi komentar Andra dan juga Rial yang saling menyerang satu sama lain. Mitha harus dibuat tercengang dan tak bisa menggerakkan jemarinya. Karena tak ingin semakin berlarut buru-buru Mitha menghapus postingan di hpnya.
"Rial. kamu mau makan apa?" tanya Erna kembali.
"Kamu saja yang makan sendiri, saya duluan!" ucap Rial berlalu dari Erna.
Mitha merasa sangat malu. "Dasar mereka berdua, tidak bisa sehari saja tidak berantem." pekiknya kesal menarik selimutnya. Baru saja ingin memejamkan mata, hpnya berbunyi. di balik layar terlihat nama Rial.
"Ada apa!" ucap Mitha kesal.
"Jangan marah Makmun ku!" balas Rial.
"Puas kamu mempermalukan aku di sosmed dengan komentar gila mu itu." kali Mitha betul-betul malu di buatnya.
Di tengah pembicaraan mereka, tiba-tiba dari belakang Erna mengambil paksa hp Rial dan melemparnya ke lantai.
"Braaak." suara pecahan hp Rial.
Rial kesal melihat hpnya berserakan di lantai di tambah lagi kekesalannya semakin memuncak ketika melihat Erna yang melakukannya.
Bersambung**.....
__ADS_1