
Rial pun berangkat ke desa bersama Tante Dina yang merupakan adik dari papahnya.
Sepanjang perjalanan Rial hanya tertidur, tubuhnya terasa lelah.
"Kamu kok tidur terus nak?" Tanya Tante Dina.
Rial perlahan membuka matanya, dia sepertinya mendengar perkataan Tante Dina.
"Sudah sampai ya Tan?" Tanya Rial kembali.
Tante Dina bersama suaminya hanya tersenyum mendengar pertanyaan polos dari keponakannya.
"Rial..Rial..Ini masih jauh nak. Setengah perjalanan saja belum." Ucap Tante Dina sambil menghadap ke belakang tempat duduk Rial.
"Oh saya kira sudah sampai." Ucap Rial.
"Belum nak.Kamu jangan tidur dong. Cerita kek." Ucap Tante Dina. Dia tau kalau Rial itu anak yang tertutup. Tante Dina ingin lebih akrab dengan keponakannya itu.
"Cerita apa Tante." Ucap Rial.
"Cerita apa saja lah." Ucap Tante Dina kembali.
Rial hanya tersenyum, dia tau kalau Tantenya itu ingin lebih akrab dengannya.
"Rial, Tante penasaran deh." Ucap Tante Dina.
"Penasaran soal apa tan." Rial tidak mengerti perkataan tantenya itu.
"Masa sih kamu buta warna." Ucap Tante Dina yang membuat Rial gugup, dia tidak tau harus bicara jujur atau tidak.
Dia takut kalau dia jujur, tantenya itu akan mengadukannya kepada ayahnya. Tapi, dia juga ingin jujur melepaskan beban dipundakknya itu.
"Aduh bagaimana ini." Guman Rial dalam hati.
"Kamu kok diam saja." Ucap Tante Dina.
"Saya juga tidak tau kok Tan,kenapa bisa saya buta warna." sambil memalingkan wajahnya.
"Masa.." Ucap Tante Dina yang merasa tidak percaya terhadap perkataan Rial. Tapi, dia tidak ingin memaksa Rial untuk bicara jujur.
Dia tau kalau keponakannya itu bohong, maklum Tante Dina adalah seorang guru. Dia tau membaca karakter orang.
"Ya sudah.Kamu tidur saja, kalau sudah mau sampai Tante akan membangunkan mu." Ucap Tante Dina.
"Iya Tante." Sambil menganggukkan kepalanya.
Rial kembali memperbaiki posisi duduknya, dia mengambil bantal dan meletakkannya di kepalanya.
Perjalanan dari kota ke kampung halamannya memang cukup jauh. Butuh waktu 5 jam untuk sampai.
Sementara itu di rumah Rial, tampak ibu Nia berada di kamar Rial. Sesekali air matanya keluar.
__ADS_1
Tiba-tiba Sari menghampiri ibunya itu.
"Bu..Kenapa nangis?" Ucap Sari. Ibu Nia langsung menghapus air matanya. Dia tidak ingin Sari tau.
"Tidak kok nak." Ucap ibu Nia sambil memeluk putrinya itu.
"Memangnya kak Rial ke mana?" Tanya Sari dengan polos. Dia terlalu kecil untuk mengetahui kejadian di rumahnya.
"Kak Rial untuk sementara nginap di rumah Tante Dina." Ucap ibu Nia sambil tersenyum.
"Tante Dina. memangnya kenapa.Tidak lama kan?" Sari terlihat sedih mengetahui kakak kesayangannya berpisah dengannya.
Mendengar itu ibu Nia kembali tersenyum, dia tidak ingin putrinya itu ikut sedih.
"Tidak lama kok nak." Ucap ibu Nia.
"Hore..hore.." Sambil loncat-loncat di depan ibunya.
Ibu Nia merasa terhibur dengan sikap Sari.
"Ada apa nak.Kok cari ibu?" Ucap ibu Nia.
"Sari lapar mah." Ucap Sari sambil memegang perutnya.
Karena sedih memikirkan Rial, dia lupa menjalankan kewajibannya kepada anak-anaknya yang lain.
"Oh Ibu lupa." Ucap Nia, dia pun segera menuju ke dapur untuk menyiapkan makan siang untuk keluarganya.
"Yah..Ayo masuk, kita makan siang sama-sama yuk." Ucap ibu Nia yang seketika lamunan pak Arif buyar.
"Oh iya Bu." Pak Arif pun langsung berdiri dan menuju ke meja makan bersama istrinya.
"Ayah pasti sedih." Langkah kaki pak Arif terhenti mendengar ucapan istrinya.
"Ya sedih lah Bu. Masa anak pergi, ayah tidak sedih." Ucap pak Arif.
Ibu Nia hanya tertunduk mendengar perkataan suaminya.
"Apa ayah tau, ini semua karena ayah." Ucap ibu Nia membuat pak Arif kaget. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud perkataan istrinya.
"Maksud ibu apa?" Sambil memandang ibu Nia dengan tatapan yang sangat marah. Dia seperti dipojokkan atas kegagalan Rial.
"Maksud ibu apa?" Ucap pak Arif dengan nada tinggi.
Mulanya ibu Nia hanya tertunduk, dia tidak berani memandang wajah suaminya yang sudah terlanjur marah atas ucapannya.
"Iya..ini semua karena ayah. Kalau saja ayah tidak memaksa menjodohkan Rial dengan Erna mungkin Rial masih ada sama kita."
"Apa..." Dia tidak masih tidak mengerti dengan perkataan istrinya.
"Apa ayah masih tidak mengerti. Rial itu tidak mau dijodohkan. Mungkin saja Rial pura-pura buta warna agar tidak satu sekolah dengan Erna." Ucap ibu Nia.
__ADS_1
Perkataan istrinya membuat pak Arif kaget, baru kali istrinya itu berbicara keras kepadanya.
^^^Pak Arif mulai mengerti dengan apa yang dimaksudkan istrinya. ^^^
"Ini bukan salah saya Bu." Ucap pak Arif yang tidak ingin disalahkan atas kegagalan Rial.
"Ini salah ayah." Ibu Nia ingin suaminya itu sadar akan perbuatannya.
"Ini bukan salah ayah. Dan kalau Rial ternyata sengaja maka ayah tidak akan memaafkan anak itu." Ucap pak Arif.
Mendengar itu, ibu Nia menggelengkan kepalanya.Usahanya untuk menyadarkan suaminya rasanya sia-sia saja.
"Ayah tidak ingin berdebat lagi.Lebih baik kita makan saja." Pak Arif pun berlalu dari istrinya sedangkan ibu Nia hanya terdiam saja memandangi suaminya berlalu darinya.
Ibu Nia hanya pasrah saja, dia tidak lagi membuat suaminya semakin marah kepadanya.
Sementara itu,Rial tampaknya sudah capek tidur. Dia pun bangun dan melihat pemandangan di sekelilingnya.
"Udara di desa memang sejuk." Guman dalam hatinya.
"Kamu sudah bangun nak?" Tanya Tante Dina.
"Iya.Tante tidak tidur?" Tanya Rial kembali.
"Tidak lah nak.Kalau Tante tidur nanti om kamu juga ini ikut ngantuk." Sambil memegang pundak suaminya.
"Maaf ya..Rial tidur terus." Ucap Rial.
"Tidak apa-apa nak. Oh iya, sekolah di desa itu enak tau. Cewek-cewekny pun cantik-cantik." Ucap Tante Dina yang berupaya menghibur Rial.
Rial hanya tersenyum mendengar ucapan tantenya sambil wajahnya menghadap keluar memandangi hamparan sawah yang mereka lalui.
"Tante serius. Saya yakin kamu nanti akan jatuh cinta dengan gadis desa." Ucap Tante Dina dengan senyum merekah.
"Tante bisa saja. Kita sudah mau sampai ya?" Tanya Rial.
"Iya. Sebentar lagi kita akan sampai kok, jadi kamu silahkan nikmati pemandangan yang indah ini. Ucap Tante Dina.
Rial pun memandangi hamparan sawah yang dilaluinya.Tiba-tiba mobil mereka berhenti sejenak.
"Kenapa Tante. Apa kita sudah sampai?" Tanya Rial.
"Belum nak.Ini Tante sama om ada urusan sebentar.Kamu tinggal saja di dalam mobil." Sambil membuka pintu mobilnya.
Tante Dina pun bersama suaminya turun dari mobil, sedangkan Rial hanya tinggal sendiri.
Rial pun melihat sekelilingnya rumah-rumah panggung yang berjejer rapi. Tiba-tiba pandangan mengarah ke satu tujuan. Tatapan matanya terhenti melihat perempuan mungil yang sedang berjalan di samping mobilnya.
"Manis juga itu anak." Guman dalam hatinya.
Bersambung
__ADS_1
siapakah yang dilihat Rial.