
⭐⭐⭐
Sudah 2 tahun Mitha menjalin hubungan dengan Andra, tampak adek ayem walaupun mereka berjauhan.
Andra yang sedang kuliah di kota Jakarta tak membuatnya berpaling dari Mitha. Hampir setiap hari, Andra akan menghubungi Mitha lewat telepon.
"Halo, apa kabar? kamu sudah makan?" Ucap Andra diujung telepon genggamnya.
Pertanyaan itu yang selalu didengar Mitha ketika Andra akan menelpon.
"Iya, apa kamu tidak bosan menayakan pertanyaan itu setiap hari." ucap Mitha protes
Dia bukannya tidak senang ketika ada laki- laki yang memperhatikannya sebegitunya. Namun pengalamannya dengan Rial membuat dia sedikit trauma.
"Saya tidak akan pernah bosan sama kamu. Jadi, jangan coba-coba lari dari saya atau meninggalkan saya." lanjutnya.
Mitha semakin merasa bersalah, hingga saat ini dia masih belum bisa melupakan Rial seutuhnya.
Hampir setiap hari Mitha berdoa agar dirinya bisa melupakan Rial seutuhnya tapi, tetap saja hingga saat ini dia masih belum mampu menghilangkan Rial dari hati dan pikirannya.
"Kok diam." Lamunan Mitha buyar
"Kapan kamu pulang?" Tanyanya.
Mungkin karena selama ini, Mitha hanya menjalin hubungan jarak jauh dengan Andra yang membuatnya belum bisa mencintai Andra seutuhnya.
"Kenapa, kamu kangen ya!" ucap Andra mengoda mitha.
"Kamu yang sabar ya. Satu tahun lagi kok saya akan segera pulang dan bertemu kamu." ucapnya lagi.
"Iya, saya kangen sekali." Goda Mitha kembali.
Sikap Mitha yang manja inilah yang membuat Andra semakin tidak bisa lepas dari Mitha.
Walau begitu banyak perempuan cantik disekelilingnya tak mampu membuat Andra berpaling dari Mitha.
"Kamu tidur ya, besok saya telpon kamu lagi." ucap Andra.
"kamu hati-hati di sana!" lanjutnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 Malam. Mitha belum bisa memejamkan matanya. Dia tampak gelisah hatinya pun tidak karuan.
Tok...tok..tok..
"Siapa malam-malam begini mengetuk pintu." gumannya dalam hati.
"Mitha, kamu sudah tidur." Terdengar suara Ira di balik pintu.
Mitha bergegas membukakan pintu untuk Ira.
Terlihat seorang wanita muda dengan wajah yang bulat, mata yang indah dan juga body yang sangat seksi. Ira adalah salah satu teman Mitha, persahabatan mereka dimulai ketika mereka sama-sama menjadi mahasiswa baru di kampus.
Hingga saatnya mereka pun tinggal dalam satu rumah.
"Ada apa Ira?" tanya Mitha.
__ADS_1
"Cepat ganti baju, kita keluar jalan-jalan." ucap Ira.
"Memangnya kita mau ke mana malam-malam begini?" tanya Mitha penasaran.
Sudah menjadi kebiasaan Ira yang selalu keluar malam, entah apa yang dilakukannya.
"Tidak usah banyak tanya, pokoknya malam ini kita senang-senang." lanjut Ira.
Tanpa berpikir panjang, Mitha yang ingin menghilangkan kejenuhannya sejenak akhirnya ikut bersama dengan Ira.
"Cepat ganti baju. Saya ke kamar dulu ya!" pamit Ira.
Mitha membuka lemari pakaiannya, hanya ada baju kaos dengan celana jeans yang tersusun rapi.
"Mau pakai baju apa, ternyata sudah lama say tidak beli baju." pekik Mitha.
Cukup lama Mitha memilih baju. "Pakai ini saja." pilihannya jatuh pada baju kaos berwarna putih dengan celana jeans abu-abu.
"Kami sudah siap. Ayo kita pergi!" ucap Ira.
Mereka berdua berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Mitha yang masih penasaran ke mana Ira akan membawanya.
"Lumayan juga, saya bisa melepas kejenuhan!" Guman Mitha dalam hati.
Dia menikmati jalan Makassar yang walaupun sudah tengah malam tapi, masih saja ramai kendaraan yang lalu lalang.
Ira menghentikan motornya, terlihat begitu banyak orang dengan motor berjejer di jalanan.
"Tunggu, sebenarnya kita mau ke mana?" Tanya Mitha.
"Apa..balapan, maksud kamu balapan liar." lanjut Mitha.
"Iya Mitha. kami santai saja, saya tau kekahwatiran kamu. Tidak akan ada polisi kok. ini aman." ucap ira berusaha menjelaskan.
Terlihat jelas diwajah Mitha yang ketakutan. Ira berusaha menenangkan sahabatnya itu.
Mitha pun tidak bisa berbuat apa-apa. mereka pun menghampiri Ari yang merupakan pacar dari Ira.
"Hay sayang. kami sudah siap kan?" ucap Ira.
Ari yang menyadari kedatangan Ira pun segera memberikan senyuman terbaiknya. Tatapannya tertuju bukan kepada Ira tapi kepada Mitha.
"Ini siapa sayang?" tanya Ari.
"Oh ini Mitha."
"Mitha ini Ari." Lanjutnya.
Cukup lama Ari memegang tangan Mitha, Mirah yang tidak nyaman dipegang langsung menarik tangannya.
"Jam berapa kamu mulai balapan?" tanya Ira.
Ari diam-diam memperhatikan Mitha."Cantik sekali, pokoknya kami harus menjadi milik saya." Pekik Ari dalam hati.
Mitha menyadari kalau Ari memperhatikannya berusaha mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara...
"Jangan coba-coba lari, tempat ini sudah dikepung polisi." ucap seorang polisi sembari mengacungkan senjata ke atas.
Mereka yang berada di tempat itu mulai panik tak terkecuali Mitha.
"Bagaimana ini, apa saya akan dibawa ke kantor polisi." guman Mitha berusaha menenangkan hatinya.
Satu per satu mereka didata, akhinya seorang polisi yang masih sangat muda dan berwajah tampan menghampiri Mitha, Ira dan juga Ari.
Mitha seolah mengenal wajah tersebut. "Itu Rial." gumannya dalam hati.
Dia perlahan-lahan berjalan tanpa diketahui Ari dan juga Ira.
Dengan sekuat tenaga dia berlari tapi langkah kakinya terhenti ketika Rial sudah ada dihadapannya.
"Kamu mau ke mana?" Tanya Rial yang belum menyadari kalau wanita yang selama ini dia cari ada dihadapannya.
Wajah Mitha memang tidak seperti dulu, semakin cantik dan juga dengan tubuh yang semakin indah.
Dalam kegelapan Rial menghampiri Mitha, gemetar lah tubuh Mitha.
Semakin dekat dan semakin dekat, walaupun cukup lama mereka tidak bertemu ternyata Rial mengenali Mitha.
"Mitha." ucap Rial tersenyum.
"Iya ada apa." ucap Mitha.
Alangkah senangnya Rial ketika dia bertemu dengan Mitha dan ternyata hanya dalam satu kali pertemuan mitha bisa mengenali Rial.
"Kenapa kamu lari?" tanya Rial.
Begitu banyak pertanyaan yang ingin dia sampaikan kepada Mitha.
"Tidak kenapa-kenapa, cuma pengen lari saja." ucap Mitha ketus.
Tatapan mata Rial tidak bisa lepas, begitu kangennya dia kepada wanita yang sekarang semakin cantik. Dia tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya.
Mereka terdiam hanya mata yang saling bertatapan begitu lama.
"Pak, kami sudah mendata semuanya. Eh masih ada satu di sini. Mana KTP mu?" Seorang polisi yang datang menghampiri mereka berdua.
"KTP apa, saya di sini karena diajak oleh teman saya." ucap Mitha memberontak.
"Kamu pergi saja, biar saya yang urus dia." ucap Rial.
"Oh iya pak. Saya permisi dulu." pamitnya.
"Apa kamu mau bawa saya ke kantor polisi. Saya tidak ikut-ikutan kok!" ucap Mitha yang semakin membuat Rial tersenyum.
"Kok senyum, saya mau pulang dulu ya!" Baru selangkah kakiknya melangkah namun Rial langsung memegang tangannya.
Semakin berdetak kencang jantung Mitha, ketika Rial memegang erat tangannya.
❤️❤️❤️
__ADS_1
Bersambung...