
**BISMILAHIRAHMANIRAHIM💪
⭐⭐⭐**
Seorang pria dengan menggunakan kaos berwarna hitam duduk terdiam sembari memegang tiket di tangannya.
Itu adalah Andra yang sudah tidak sabar lagi menemui kekasih hatinya.
Sudah 4 tahun Andra meniggalkan kota Makasar demi menuntut ilmu, dia yang awalnya bersikap cuek akan masa depannya berubah seketika ketika dia mengenal dan bertemu dengan Mitha.
Raut di wajahnya terlihat begitu bersemangat, hatinya sudah tidak tahan lagi menahan kerinduan dengan Mitha. Dia sengaja tidak menunggu acara wisudanya demi untuk pulang ke kota asalnya.
⭐⭐⭐
Mitha memandang chat yang dikirim oleh Andra, jantungnya tidak karuan. Ada rasa senang dihatinya namun ada juga rasa khawatir yang memuncak. Dia tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Dia yang mulai dekat kembali dengan Rial harus segera mengubur kembali kebersamaannya.
Ruang geraknya akan dibatasi oleh Andra dan dia tau itu.
"Kok melamun saja, Ayo masuk!" ucap Ira menepuk pundak Mitha dari belakang.
Mitha dibuat kaget, jantung berdenyut lebih kencang dari biasanya.
"Hey, kok masih melamun saja." ucap Ira kembali.
"Iya ayo masuk!" Mereka berdua pun memasuki ruang kelas, di depan sudah tampak pak Budi dosen yang akan mengajar mereka.
Sepanjang pelajaran berlangsung, Mitha hanya terdiam. Tatapannya kosong seperti dirinya tidak sedang berada di kelas. Dia tidak bisa lagi memikirkan apa yang akan terjadi nantinya.
Mitha terus saja berdiam diri, dia bahkan tidak menyadari kalau pelajaran telah usai. Hanya dia sendiri yang berada di kelas memandang tembok di depannya.
Lamunannya buyar ketika Ari menghampirinya, itu pun dia tidak menyadari kalau dari tadi ati sudah berada di sampingnya sembari memperhatikannya.
"Melamun saja kamu cantik." ucap Ari memegang tangan Mitha.
Sontak Mitha kaget, "Kamu! sejak kapan ku di sini?" tanyanya.
"Dari tadi. Kamu lamunin apa sih! tampaknya serius." ucap Ari.
Mitha tidak menghiraukan Ari dan berlalu namun teman-teman Ari yang sudah menunggu di depan kelas menghalangi langkah Mitha.
"Saya mau lewat. Jadi minggir dari hadapan saya." sahut Mitha dengan nada kesal.
Ari tersenyum dan mendekati Mitha yang terlihat begitu kesal.
"Suruh teman-teman kamu ini minggir. Kalau tidak saya akan teriak." ancam Mitha.
Mendengar itu Ari dan teman-temnanya tertawa lepas yang membuat Mitha ketakutan.
"Apa kamu tidak sadar kalau kamu sendiri di sini. Kalau pun kamu teriak tidak akan ada yang dengar." ucap Ari.
Mitha yang tidak menyadari kalau kelasnya berada paling ujung. Dia melihat sekelilingnya tak ada satu pun mahasiswa lain. Hanya ada dia dan juga Ari.
"Saya mau pulang, jadi tolong biarkan saya lewat." pinta Mitha.
"Saya akan biarkan kamu lewat asalkan kamu mau menjadi pacar saya."
"Apa. Kamu gila ya, saya tidak mau."
Ari yang tadinya begitu kalem dibuat marah dengan perkataan Mitha. Baru kali ini dia ditolak oleh seorang wanita.
__ADS_1
Ari yang terkenal playboy harus dibuat marah oleh sikap penolakan Mitha padanya. Anak dari pengusaha terkenal di kota Makassar harus juga menerima kenyataan ditolak oleh Mitha.
Ari memegang dagu Mitha dan memandang mata Mitha yang sudah mulai ketakutan.
"Lepaskan!" ucap Mitha.
"Beraninya kamu menolak saya. Padahal banyak wanita di luar sana yang mau menjadi pacar saya." sahut Ari.
"Kalau begitu jangan saya. Saya sedikitpun tidak tertarik sama kamu!" pekik Mitha kesal.
Ari terlihat semakin nekat saja, dia seperti ingin mencium Mitha. Wajah dan bibirnya didekatkan hingga.
Ira yang curiga karena Mitha tak kunjung terlihat, kembali ke kelas dan alangkah kagetnya dia ketika melihat Ari dan teman-temannya menghampiri Mitha yang masih berada di kelas.
"Kamu jangan macam-macam." ucap Ira di balik pintu.
Ari kaget melihat ada mahasiswa lain yang melihat mereka namun karena yang dilihatnya adalah Ira maka dia tidak terlihat khawatir.
"Kamu pergi saja dari sini. Saya tidak suka lagu sama kamu." ucap Ari sembari mengibaskan tangannya.
Ira berusaha menahan diri, "Saya bilang lepaskan Mitha, kalau tidak.." belum sampai ucapannya Ari langsung menyela.
"Kalau tidak apa!" ucap Ari.
Ira mengeluarkan hpnya dari tasnya, di terlihat sedang menelepon seseorang.
"Halo pak Diman." ucap Ira.
Mendengar nama pak Diman, Ari langsung merebut hp Ira dari tangannya namun tidak berhasil.
Pak Diman adalah salah satu satpam di kampus mereka. Mitha hanya terdiam saja melihat Ira dan juga Ari tampak beradu mulut.
Karena tidak ingin berurusan dengan pak Diman, maka Ari dan teman-temannya segera meninggalkan Mitha dan juga Ari.
Mitha shock dibuatnya, lututnya gemetaran memikirkan apa yang terjadi barusan.
"Kamu tidak kenapa-kenapa?" tanya Ira.
"Iya. Terima kasih ya kamu sudah menolong saya. Kalau tidak saya tidak tau apa yang terjadi." ucap Mitha.
"Makanya jangan sendirian saja." lanjutnya.
⭐⭐⭐
Kurang lebih 2 jam perjalanan, Andra akhirnya tiba juga. Dia terlihat bahagia bisa kembali menghirup udara kota kebanggaannya.
Dengan gagahnya dia berjalan keluar dari bandara, senyum di wajahnya tak pernah lepas hingga membuat orang yang melihatnya tak bisa melepaskan pandangannya terutama para wanita.
"Wah cakepnya!" Andra berjalan dengan tegap, dadanya yang bidang begitu nampak dibalik baju kaos ketat yang dipakainya.
Di depannya sudah terlihat Bayu sedang menunggunya di dalam mobil, dia yang melihat itu segera menghampirinya.
"Kita mau ke mana bos?" tanya Bayu.
"Kamu jalan saja nanti saya akan beritahu ke mana kita akan pergi." ucap Andra sembari melepaskan kacamata yang melekat di wajahnya.
Sepanjang perjalanan Andra begitu menikmati setiap detiknya, "Kita ke kantor polisi ya Bayu!" ucapnya.
"Kantor polisi. Memangnya ada apa bos!" sahut Bayu yang masih tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan Andra.
__ADS_1
"Kamu tau kan, di mana Rial?" tanyanya.
Bayu yang mulai memahaminya langsung menancapkan gas mobilnya dan terhenti tepat dengan apa yang Andra inginkan.
Andra terlihat hanya menunggu di dalam mobilnya bersama dengan Bayu, dia seolah menunggu waktu yang tepat.
Hingga jam makan siang pun tiba, Rial tampak berjalan menuju ke mobilnya. Langkah kakinya terhenti ketika dia mengenali mobil yang terparkir tepat di samping mobilnya. Bayu sepertinya sengaja memarkirkan mobilnya pas di samping mobil Rial.
Dia yang sudah paham betul dengan apapun tentang Rial.
Perlahan-lahan Rial mendekati, dia juga begitu penasaran siapa yang mengikutinya. Andra yang masih duduk tenang di atas mobilnya sengaja menunggu hingga Rial menghampirinya.
Rial mencoba mengetuk kaca pintu mobil hingga tubuhnya terpental jauh saat Andra dengan sengaja membuka pintu mobil begitu kencang.
Dengan santainya Andra turun dari mobilnya dan mendekati Rial yang sedikit kesakitan. Rial bangkit hingga dia melihat Andra sudah ada dihadapannya.
Walau hanya bertemu beberapa kali, Rial masih mengingat wajah Andra. Begitu pula sebaliknya bedanya kini mereka berdua bukan lagi anak SMA namun mereka berdua tumbuh menjadi laki-laki yang tampan.
"Kamu." ucap Rial.
"Tampaknya kamu tidak melupakan saya." ucap Andra.
"Jadi selama ini Andra yang memata-matainya dengan Mitha." guman Rial dalam hati.
"Kamu mau apa ke sini?" tanya Rial.
Dengan gaya santainya Andra tersenyum penuh arti.
"Saya cuma mau peringatkan kamu untuk menjauhi Mitha." lanjutnya.
Kini berbalik Rial yang tersenyum.
"Memangnya kamu siapa melarang-larang saya." ucapnya.
Mereka berdua saling bertatap-tatapan dengan tatapan sinis dan kemarahan.
"Saya kira kamu tau siapa saya dan apa hubungan saya dengan Mitha." ucapnya kembali.
"Iya saya tau, kamu kan laki-laki tempat pelarian Mitha." ucap Rial sembari memperlihatkan senyumnya.
Mendengar itu darah Andra seperti mendidih, dia tidak terima kalau hanya menjadi tempat pelarian saja. Namun dia seolah tidak ingin menunjukkan kemarahan di wajahnya.
"Iya saya tau tapi sekarang saya punya status dengan Mitha, sedangkan kamu apa?" ucapnya.
Mereka berdua saling berargumen masing-masing seperti saling membenarkan pendapatnya.
"Kamu hanya punya status sedangkan saya punya cinta." ucap Rial kembali.
"Baiklah kalau begitu, nanti kita akan buktikan siapa yang akan dipilih Mitha. Apakah yang punya status dengannya atau hanya punya cinta saja yang membuatnya tidak bahagia."
Andra seperti menantang Rial namun karena dia yakin kalau Mitha pasti akan memilih cinta.
"Baiklah kalau begitu." ucap Rial.
Mereka berdua pun berlalu dan masing-masing pergi dengan penuh keyakinan dalam diri mereka.
Bersambung...
Semoga suka ya!
__ADS_1
🌺🌺⭐⭐👍❤️