
"Maaf ya om,Erna terlambat." sambil membuka pintu mobil dan duduk tepat di belakang Rial.
Sesekali Erna tersenyum kepada Rial,tapi Rial berpura-pura tidak melihatnya.
"Kamu tidak akan bisa menghindar." bisik Erna kepada Rial.
Langsung saja Rial mendorong Erna,membuat Erna hampir terjatuh.Dan untung saja pak Arif tidak melihatnya.
Erna begitu gembira karena bisa satu mobil dengan Rial.
Erna sudah lama menaruh hati kepada Rial,tapi Rial terkenal anak yang cuek.Dia tidak pernah bergaul dengan Erna.
Kalau ada acara keluarga,Rial tidak pernah mau ikut.Jadi ketika Erna tau kalau dia akan dijodohkan dengan Rial,dia begitu senang.
"Erna,kamu sudah siap?"
"Iya om." sambil tersenyum.
Rial masih saja terlihat cuek,sepanjang perjalanan tidak sekalipun keluar dari mulutnya berbicara kepada Erna.
"Kamu nak,apa kamu siap?" Pak Arif kembali bertanya kepada Rial.
"Iya Yah."
"Semangat ya Rial." Erna memegang pundak Rial.Dan langsung saja Rial menghindar.
"Itu Erna baik kan nak! Kamu juga harus baik kepada Erna."
Pak Arif berusaha mendekatkan mereka.Tapi respon Rial masih saja terlihat datar kepada Erna.
Sepanjang perjalanan,Erna hanya mengobrol dengan pak Arif.Sedangkan Rial asyik mendengarkan musik di telinganya.
Walaupun Erna terlihat kesal.tapi,dia berusaha tidak menunjukkan kekesalannya di depan Rial apalagi pak Arif.
Kurang lebih 30 menit,mereka akhirnya sampai di sekolah yang dimaksud.
Terlihat pekarangan yang luas,sekolah yang cukup mewah dibandingkan dengan sekolah yang lain di kota Makassar.Fasilitasnya pun lengkap.
Rial bukannya tidak suka dengan sekolahnya.tapi,Rial tidak suka kalau dia harus bersekolah dengan Erna.
Rial bukan anak yang bisa dipaksa-paksa.Walaupun Rial adalah anak yang penurut tapi kali ini Rial menolak keinginan orang tuanya itu.
"Kita sudah sampai anak-anak." pak Arif tersenyum kepada mereka dan menyuruh mereka untuk segera turun dari mobil.
Erna dan Rial pun segera membuka pintu dan segera turun dari mobil.Diikuti pak Arif.
Mereka pun berjalan masuk ke sekolah tersebut,Dalam pikiran Rial,dia menyukai suasana di sekolah tersebut.tapi Rial tidak punya pilihan lain selain berusaha agar gagal dalam ujian masuk.
"Itu mama dan papa..."Erna menunjuk kedua orang tuanya yang sudah berdiri menunggu mereka di depan ruangan pendaftaran.
Mereka bertiga pun segera berjalan ke ruangan pendaftaran yang ditunjukkan oleh Erna.
"Maaf kami terlambat." pak Arif menjabat tangan orang tua Erna.
"Tidak apa-apa Pak Arif.sebelum masuk kita ke ruangan saya dulu.Ada beberapa hal yang harus saya beritahu.
Orang tua Erna langsung membawa mereka ke ruangan yang dimaksud.
__ADS_1
"Silahkan duduk Pak!"
Pak Arif dan Rial pun segera duduk di dalam ruangan itu.Rial tau apa yang akan diberitahu orang tua Erna tapi Rial pura-pura tidak tau saja.
"Begini pak,selain ujian masuk yang dilihat adalah nilai ujian mereka." Pak arka terlihat cemas
"Terus pa,kan nilai Rial dan Erna nilainya juga bagus." Jadi bapak tidak perlu cemas.
"Saya tau,kalau untuk nilai mereka pasti sudah lulus.Tapi ada satu tes lagi dan ini wajib."
"Tes lagi." pak Arif mulai khawatir.dia terlihat memperbaiki posisi duduknya
"Iya pa."
"Tes apa itu?" tanya pak Arif lagi
"Tes buta warna,jadi mereka akan dites apakan buta warna atau tidak.Dan disini saya tidak bisa mendampingi mereka."
Pak Arif tertawa..
"Saya kira apa Pak.Pak arka tidak perlu khawatir untuk itu karena saya yakin kalau anak saya Raka tidak buta warna." sambil memegang tangan Raka.
Pak Arif begitu yakin kepada anaknya itu.Sedangkan Rial hanya terdiam saja.
"Ini kesempatan saya,jadi tidak ada yang akan mendampingi di dalam pada saat tes."
Rial bisa berpura-pura sehingga tidak lulus dalam tes itu.
"Rial siap kan?" tanya pak arka.
"Siap om."
Mereka pun berangkat ke ruangan tempat tes berlangsung.
Pak Arif dan orang tua Erna berjalan di depan sedangkan Rial dan Erna ikut di belakang mereka.
Tiba-tiba Erna mengandeng tangan raka.
"Lepaskan." Dengan berbisik agar orang tua mereka tidak mendengarnya.
Apalagi pak Arif,dia pasti merah kalau dia tau rial bersikap kasar kepada Erna.
Karena keras gengaman tangan Erna,Rial harus menggunakan tenaga extra agar gengaman tangan Erna bisa terlepas dari tangannya.
Erna berusaha kembali menggenggam tangan Rial,tapi Rial langsung memasukkan tangannya di saku celananya.
"Kamu kenapa sih,tidak suka sama saya."
"Sudahlah,kita ini di sekolah.tidak enak diliat oleh orang." Rial berbicara dengan sopan.
Akhirnya mereka tiba di ruangan tempat tes berlangsung.
Pak arka pun mengambil nomor antrian untuk Erna dan juga rial.sedangkan yang lain langsung mengambil tempat duduk.
Pak arka memberikan nomor antrian untuk putrinya itu dan juga Rial.
"ini untuk Rial."pak arka menyodorkan nomor antrian untuk Rial.
__ADS_1
"kalau yang ini untuk Erna ya."
"Terima kasih pa.." Erna tampak senang karena keinginannya untuk bersama dengan Rial akan terwujud.
Erna tersenyum ke arah rial.berharap Rial akan membalas senyumnya.tapi tetap saja Rial masih bersikap dingin kepadanya.
Erna membuka pembicaraan kepada rial.karena dari tadi Erna melihat Rial tampak gugup.
"Kamu nomor antrian ke berapa?" tanya Erna sambil menunjukkan nomor antriannya kepada Rial.
karena tidak ingin basa-basi,Rial hanya memperlihatkan nomor antriannya kepada Erna.
"oh saya duluan ya."
"Iya."Rial menjawab dengan seadanya.
Tibalah giliran Erna untuk masuk ke ruangan.Pak arka dan istrinya itu tampak gelisah.
Sedangkan pak Arif berusaha tenang,dia yakin kalau Rial akan mampu menghadapi tes ini.
"Jangan tegang begitu dong pak.erna psti bisa." Pak Arif berusaha menenangkan.
"Tidak kok pak..cuma cemas sedikit saja.
Pak arka dan istrinya terlihat wajah teganngya yang tidak bisa ditutupi.karena baru kali ini Erna tidak didampingi olehnya.
Erna adalah anak satu-satunya dari pak arka.oleh sebab itu,mereka sangat memanjakan putrinya itu.
Kurang dari 20 menit Erna sudah di dalam ruangan.
Sedangkan pak arka sibuk mondar mandir.takut kalau Erna tidak lulus.
Erna pun keluar dengan wajah yang tersenyum.
"Pa..Ma..Om..Erna lulus."
Pak arka pun tersenyum,sedangkan istrinya itu memeluk Erna sambil mengucap syukur.
"Sekarang giliran kamu Rial.Kamu jangan mengecewakan ayah ya."
"Iya Yah." Rial berusaha tersenyum padahal dihatinya,dia begitu tegang.
"Kamu semangat ya Rial.Kamu pasti bisa,gampang kok."
"Iya." Masih saja menjawab seadanya.
Mungkin kalau tidak ada ayahnya,Rial mungkin tidak akan meladeni Erna yang menurutnya terlalu lebay.
Rial pun masuk ke ruangan.Sedangkan pak Arif tampak tenang-tenang saja,sangat berbeda tadi dengan pak arka.
Kurang dari 20 menit,Rial keluar dari ruangan.Tapi tidak seperti Erna yang tersenyum pada saat keluar dari ruang ujian.
Rial malah sebaliknya.dia kelur dari ruangan dengan memasang wajah yang sangat sedih.
Walapun dihatinya,dia begitu senang tapi dia memasang wajah yang sedih agar tidak ketahuan oleh ayahnya.
"Maaf Yah..Rial tidak lulus.Rial gagal." Sambil duduk di kursi.
__ADS_1
Bersambung....