
Malam itu,semua keluarga pak Arif berkumpul di ruang tamu.mereka akan membicarakan nasib Rial ke depannya setelah gagal masuk sekolah favorit.
Tampak kesedihan di wajah pak Arif,dia masih tidak percaya kalau anak kebanggaannya akan gagal.
Karena selama ini,Rial termasuk anak yang pintar dan tidak pernah menunjukkan kelainan fisik pada tubuhnya.
"Ada apa kak,kok kita kumpul di sini?" tanya Dina pada kakaknya.
"Iya Yah!apa ada masalah?" Rial merasa heran karena tidak seperti biasanya ayahnya mengumpulkan mereka di ruang tamu.
Sedangkan ibu Nia dari tadi gelisah,dia tidak tau apa yang akan dibicarakan oleh suaminya itu.
Pak Arif menaruh teh di meja,dia sendiri bingung menjawab pertanyaan adik dan anaknya itu.
Pak Arif menoleh ke arah ibu Nia,dia melihat istrinya begitu gelisah.
"Begini,saya juga bingung harus jawab apa sama kalian berdua."
"Bingung kenapa Yah?" tanya Rial kembali.
"Begini nak,Ayah sudah cari sekolah untuk kamu tadi.Tapi,semua sekolah yang ayah datangi ternyata sudah tutup tidak menerima pendaftar lagi."
"Apa...!" ibu Nia langsung berdiri.bibirnya yang tadi kaku,kini bereaksi.
"Iya Bu.."
Rial terlihat sangat sedih,ada penyesalan di dalam hatinya.tapi semua sudah terlanjur.
"Maaf ya Yah,Rial merepotkan ayah." ibu Nia langsung duduk di samping Rial.
"Tidak nak,kamu tidak pernah merepotkan."ibu Nia begitu perhatian dan lembut kepada Rial.
"Begini saja kak,bagaimana kalau Rial sekolah dulu di kampung." Tante Dina ikut memberikan solusi dari masalah kakaknya itu.
"Saya tidak setuju." ibu Nia meninggikan suaranya.
"Tunggu dulu Bu.Maksud kamu sementara apa?" tanya pak Arif sambil menenangkan istrinya yang kelihatan emosi.
"Begini kak,Rial ikut kami dulu sekolah di kampung,setelah 3 bulan Rial bisa kembali sekolah di sini." Tante Dina menjabarkan lebih detail agar kakak iparnya itu bisa mengerti.
"Tapi Yah..?" ibu Nia masih menunjukkan tidak setuju atas usulan Tante Dina.
sedangkan Rial hanya terdiam melihat kedua orang tuanya dan juga tantenya berdebat tentang dirinya.
Pak Arif juga sebenarnya tidak setuju atas usulan adiknya.tapi,dia tidak punya pilihan lain.mungkin ini jalan keluar dari masalahnya.
"Kita tidak punya pilihan lain Bu.Lagipula usulan Dina juga tidak salah kok."
"Tapi Yah..3 bulan itu bukan waktu yang lama." ibu Nia tidak pernah berpisah dengan Rial.
Walaupun Rial bukan anak kandungnya.tapi,dia tidak pernah sekalipun berjauhan dengan rial.
"Ayah tau kok bu.tapi,kita tidak punya pilihan lain lagi."
__ADS_1
Ibu Nia seolah pasrah dengan keputusan suaminya itu.dia tidak bisa membantah lagi.
"Rial,bagaimana apa kamu setuju." tanya ibu Nia kepada rial.dia berharap Rial tidak setuju tentang keputusan ini.
Rial melihat kedua orang tuanya.ada rasa bersalah kepada mereka.Dia juga tidak punya pilihan lain.
"Bu..Rial ikut saja." ibu Nia langsung menitikkan air mata mendengar keputusan Rial.
"Itu artinya kamu setuju." tanya Tante Dina.
"Iya Tante,Rial ikut saja mana yang terbaik."
"Baiklah kalau begitu,kamu siap-siap.besok kita ke kampung."
Rial hanya mengangguk saja tanda setuju.
Pak Arif langsung membawa istrinya masuk ke kamar.dia tidak tega melihat kesedihan di wajahn istrinya itu.
ibu Nia duduk terdiam di dalam kamar.dia marah kepada suaminya karena membiarkan Rial sekolah di kampung.
Sementara pak Arif memahami kemarahan istrinya itu.
"Bu..kita tidak punya pilihan lain,kita kan bisa seminggu sekali menjenguk Rial di kampung."
Jarak kota dengan kampung memang tidak terlalu jauh.hanya membutuhkan waktu 4-5 jam saja tapi ibu Nia masih saja tidak rela.
Ibu Nia langsung beranjak meninggalkan pak Arif sendirian di kamar.
Ibu Nia tidak menghiraukan pak Arif,dia bergegas menuju ke kamar Rial.
Di dalam kamar Rial merapikan bajunya yang akan di bawanya.
"tok..tok..tok.." ibu Nia mengetuk pintu kamar Rial.
"Masuk..pintunya tidak di kunci."mendengar Rial,ibu Nia langsung membuka pintu kamar.
Hati ibu Nia tampak hancur melihat Rial merapikan bajunya.dia merasa Rial akan pergi jauh meninggalkannya.
"Ada apa Bu." ibu Nia langsung ikut membanty Rial merapikan baju yang akan dibawanya.
"Biar Rial sendiri Bu." ibu Nia menunduk.
"Ibu menangis?" Rial langsung mengangkat wajah ibunya itu.dia tau kalau ibunya sedang menahan tangisannya.
"Ibu tenang saja,cuma 3 bulan kok.setelah itu,kita bisa sama-sama lagi." Rial mencoba menenangkan ibunya.
sementara ibu Nia hanya terdiam saja sambil merapikan baju Rial yang akan dibawa.
Ibu Nia tidak bisa bicara lagi,dia hanya mengangguk tanda setuju.
"Sudah beres juga."
"Nanti di sana kamu hati-hati ya."
__ADS_1
"Iya Bu."
Mereka pun tersenyum bersama.Walaupun,masih saja ada rasa kesedihan di hati mereka.tapi mereka berusaha untuk menahannya.
Pagi pun tiba,Tante Dina dan suaminya bersiap-siap untuk pulang ke kampungnya.cuma,bedanya mereka akan bersama dengan Rial.
Ibu Nia bangung pagi-pagi menyiapkan sarapan untuk keluarganya.tapi entah kenapa kali ini merasa berbeda.
Tidak ada kegembiraan di wajah ibu nia,dia hanya terdiam sambil menyiapkan sarapan.
"Kami sudah siap nak." Rial kaget karena ayahnya sudah ada di belakangnya.
"Iya Yah."
"Tumben ayah ke kamar Rial pagi-pagi begini." Rial sadar kalau ayahnya juga sedih cuma gengsi saja.
"Masa sih."
Rial hanya tersenyum
"Ayo sarapan dulu." pak Arif ingin menikmati waktunya bersama Rial.
Menurutnya Rial masih terlalu kecil berjauhan dengan orang tuanya.walaupun,Dina adalah adik kandungnya sendiri.
Pak Arif masih tidak yakin melepaskan Rial bersama dengan Tantenya itu.
"Ayo sarapan." ibu Nia ikut ke kamar Rial.
Pak Arif dan Rial langsung menoleh,mereka tidak sadar kalau ibu Nia sudah ada dari tadi.
Mereka pun sarapan bersama,pak Arif dan ibu Nia seolah tidak bersemangat.
Melihat itu,Tante Dina mencoba menenangkan kakak dan kakak iparnya itu.
"Kalian...jangan khawatir.rial pasti aman bersama kami." sambil memegang tangan Rial yang duduk di sampingnya.
"Kami percaya kok."ibu Nia mencoba tenang,dia tidak ingin menunjukkan kesedihannya di depan Rial.
Tante Dina merasa tenang karena mereka mempercayakan Rial kepadanya.dia berjanji kepada dirinya sendiri untuk menjaga Rial selama di kampung,walaupun itu cuma 3 bulan.
Setelah sarapan,Rial langsung ke kamarnya mengambil kopernya.Dia meraa sedih meninggalkan kamar yang di tempatinya selama ini.
Tak lupa,dia membawa laptopnya.Karena dia merasa akan kesepian selama di kampung nanti.
"Rial..Tante Dina sudah mau pergi." mendengar teriakan ayahnya Rial langsung bergegas.
Rial diantar oleh pak Arif dan juga ibu Nia menuju ke mobil.
"Kamu hati-hati."
Sedangkan ibu Nia hanya menangis sambil memeluk Rial.
Bersambung
__ADS_1