Doaku Berbeda Dengan Doamu

Doaku Berbeda Dengan Doamu
Bab 33. Ada yang Datang dan Pergi


__ADS_3

Datang dan pergi adalah sesuatu yang berbeda. Kita sebagai manusia hanya bisa berencana dan ketika rencana yang persiapkan lenyap begitu saja.....


❤️❤️❤️


Hari ini tepat seminggu Mitha dirawat di rumah sakit. semakin hari tubuhnya semakin membaik, Andra tidak pernah meninggalkan Mitha di rumah sakit membuat Mitha merasa luluh dengan ketulusan Andra.


"Bagaimana dok keadaan anak saya?" tanya pak Haris kepada dokter yang memeriksa Mitha.


"Mitha sudah sehat kok. Hari ini dia sudah bisa pulang. tapi, harus istirahat total di rumah selama 2 hari." Lanjutnya


Mereka semua terlihat bahagia tak terkecuali Andra. Dia yang selama ini begitu khawatir terhadap kondisi Mitha kini bisa tersenyum.


Mitha memandang Andra begitu dalam. Selama ini Andra tak pernah jauh darinya, kini dia yang merasa bersalah kepada Andra.


Mitha ingin jujur tentang semuanya kepada Andra dan tak ingin membuat Andra berharap lebih jauh kepadanya.


"Terima kasih." Ucap Mitha kepada Andra.


Andra kaget dan langsung menoleh ke arah Mitha. mata mereka saling bertatap tatapan, Andra semakin kagum atas kecantikan alami Mitha.


"Kamu cantik sekali. walaupun sedang sakit saja dia tetap terlihat cantik." Pekik Andra dalam hati.


"Kamu kok diam saja." Ucap Mitha melihat Andra terdiam.


Andra masih saja memandang Mitha begitu tajam, tatapannya tidak ingin lepas memandang wajah Mitha.


"Bukan apa-apa, saya yang seharusnya minta maaf karena membuat kamu seperti ini." Lanjutnya.


Mitha tersenyum begitu manis kepada Andra yang membuatnya tidak bisa lagi melepaskan Mitha untuk orang lain.


"Kamu pulang saja. saya baik-baik saja kok!" Mitha ingin Andra tidak lagi merasa bersalah kepadanya.


"hmmm." Ucapnya.


Mereka pun saling tersenyum,tidak ada lagi dendam kepada Andra. sejak saati itu mereka semakin akrab, tidak ada lagi rasa canggung.


Rasa nyaman Mitha kepada Andra tak begitu saja melupakan Rial. Setiap hari Minggu dia tetap saja menelpon Rial, Andra berusaha menahan rasa cemburunya itu.


Andra tidak ingin lagi emosi seperti dulu yang menyebabkan Mitha sempat membencinya. kini dia ingin lebih bersabar baginya sekarang dialah yang berada di samping Mitha.


Namun kebahagiaan Rial dan Mitha diusik oleh kehadiran Erna yang ternyata diam-diam memperhatikan keadaan Rial di rumahnya.

__ADS_1


Erna kini tau alasan Rial menjauhinya. Dia tidak bisa lagi bersabar ketika mendengar sendiri Rial berbicara dengan mesra di telepon.


"Ini pasti gara-gara dia, dasar wanita jalang. Siapa wanita itu!" Pekik Erna kesal.


Erna menghampiri Rial dengan wajah yang begitu kesal. Dia yang dari tadi bersembunyi di balik pintu sudah tidak tahan mendengar semuanya.


Dengan senyum liciknya, Erna memutuskan kabel telepon.


"Halo....halo..." Ucap Rial ketika dia tidak lagi mendengar suara Mitha yang sedang asyik mengobrol dengannya.


"Itu siapa?" Tanya Erna. Alangkah kagetnya Rial melihat Erna sudah ada di sampingnya dan memegang kabel telepon.


"Apa-apain ini." Ucap Rial dan mengambil kabel telepon yang diputuskan oleh Erna.


"Saya yang seharusnya marah. Siapa wanita itu?" Erna tampaknya sudah kehilangan kesabarannya. Dia ingin mendengar sendiri dari mulut Rial tapi, Rial meninggalkannya begitu saja di ruang tamu.


"Saya akan buat kamu bicara dan saya tau siapa yang bisa melakukannya." Ucap Erna sembari tersenyum.


Erna tau kalau selama ini Rial tidak bisa melawan ayahnya. Dan ini bisa dia manfaatkan ditambah lagi pak Arif begitu sayang kepadanya.


*****


Malam itu mereka berkumpul di rumah Rial, Erna dan orang tuanya pun hadir diacara ulang tahun perkawinan pak Arif dan ibu Nia. Mereka memang selalu mengadakan acara setiap tahun tanpa mengundang siapa-siapa selain Erna dan orang tuanya.


"Om saya ingin mengatakan sesuatu." Ucap Erna.


"Katakan saja nak, memangnya ada masalah?" Tanya pak Arif.


"Iya om, selama ini Rial selalu saja menghindar dari saya." Ucap Erna tanpa ragu-ragu. Rial yang mendengar itu begitu kaget bagaimana mungkin Erna tanpa rasa malu mengatakan seperti itu.


"Rial.." Pak Arif memandang anaknya itu dengan kemarahan di wajahnya, ibu Nia tampak menenangkan suaminya tapi, tetap saja pak Arif terlihat begitu emosi.


Pak Arif mendekati Rial dan tiba-tiba


"Prakkk." Tamparan yang begitu keras mendarat diwajah mulusnya.


Mereka semua begitu kaget termasuk juga Erna namun dihatinya dia juga senang karena begitu berani menolaknya.


"Ayah ini kenapa?" Tanya ibu Nia, Rial hanya terdiam menerima tamparan dari ayahnya.


"Ayah kan sudah bilang kalau kamu harus dekat dengan Erna. Kenapa kamu tidak mengerti juga." Ucap pak Arif.

__ADS_1


"Saya tau kok om, kenapa Rial bersikap dingin kepada Erna." Erna memasang wajah memelasnya yang membuat Rial semakin muak kepadanya.


"Kamu tau. sekarang ceritakan semuanya." Pak Arif tampak penasaran dengan apa yang diketahui oleh Erna.


"Saya tanpa sengaja mendengar Rial menelpon dengan wanita lain di telepon om." Ucap Erna.


Pak Arif dan ibu Nia baru menyadari kalau selama ini Rial akan terlihat begitu antusias ketika menerima telepon di hari Minggu. namun, dia tidak pernah menyangka kalau selama ini Rial menelpon dengan seorang wanita.


"Sekarang jangan bohongi ayah. Siapa wanita itu." Lanjut pak Arif.


Rial yang dari tadi hanya terdiam menceritakan semuanya, dia tidak ingin lagi menyembunyikan Mitha kepada keluarganya. Namun perkiraan tidak sesuai harapannya.


"Putuskan hubungan mu dengan wanita itu." Ucap pak Arif.


"Tapi, ayah saya mulai menyukainya." Ucap Rial sembari memohon berharap ayahnya bisa menerima dan tidak memaksakan keinginannya.


"Ayah tidak ingin mendengar apa pun. Sampai kapan pun ayah tidak akan menerimanya. Hanya Erna yang pantas jadi menantu Ayah nanti." Lanjut pak Arif.


Pupus sudah harapan Rial, dia tidak bisa lagi berbuat apa-apa. ketidaksukaannya kepada Erna semakin menjadi jadi.


"Ini semua karena kamu." Ucap Rial sembari mendorong tubuh Erna. Rial terlihat sangat marah kepada wanita yang ada di depannya


"Jangan salahkan saya. Saya begitu kesala bagaimana gadis kampung bisa mempermalukan saya." Teriak Erna.


"Sekarang saya semakin yakin, kamu itu tidak ada apa-apanya dibanding Mitha." Ucap Rial berlalu dari Erna.


"Jadi gadis kampung itu namanya Mitha." Ucapan Erna merendahkan Mitha semakin membuat Rial marah kepadanya.


"Jangan sebut Mitha sebagai gadis kampung. Dan walaupun Mitha gadis kampung dialah nanti yang akan menjadi istri saya." Ucap Rial begitu tegas.


Rial mengikuti ayahnya ke kamarnya, berharap ayahnya bisa menerima Mitha. tapi, pak Arif mempunyai pendirian yang begitu kokoh. Tidak dari mereka yang bisa menentangnya.


"Yah..Rial mohon!" Ucap Rial.


"Putuskan hubunganmu. Ayah tidak ingin mendengar apa-apa lagi tentang wanita itu;" Ucap pak Arif.


Bagaimana kah hubungan Rial dan Mitha.


Apakah mereka akan putus!


Terima kasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2