
"Jauh sebelum Gue ketemu dan menjalin hubungan sama Ara yang sekarang, Gue lebih dulu kenal sama Dia. Bahkan kita udah pernah ketemu dan ngobrol bareng. Kalau bisa dibilang, cinta pandangan pertama Gue dan satu-satunya cewek yang baru pertama kali Gue suka yaitu Ara. Tapi saat itu itu Gue nggak pernah ketemu ama Ara lagi. Malah Gue berpindah hati sama Putri. Tapi sama Putri Gue sama sekali nggak ngelakuin apapun. Saat Gue lari ke Jepang, Gue juga nggak ngelakuin hal yang lebih sama Meygumi. Walaupun Dia sering banget ngajakin Gue hal-hal yang nggak bener. Cuma Gue nggak suka dan Gue nya nolak. Gue nggak bisa Kalau dipaksa." Jelas ku. Sepertinya Aku merasa sudah terlalu terbuka pada Dicky.
"Ya, Gue paham kok. Walaupun Gue gak setampan Loe, tapi Gue juga milih-milih kali.. Gak mau Gue kalau sama cewek yang gak jelas. Seperti cewek bayaran atau semacamnya." Jujur Dicky. Aku sedikit terkejut saat ia mengatakan kalau dirinya tak setampan diri ku.
"Akhirnya Loe ngakuin diri kalau Gue lebih tampan dari pada Loe." GR ku.
"Pltakk.." Ia memukul bahu ku. Aku hanya tertawa kecil melihat sikapnya yang salah tingkah itu.
"Nggak usah GR deh! Gue nggak bilang Gue nggak ganteng ya, Gue cuman bilang `walaupun Gue nggak setampan Loe', bukan berarti Gue nggak tampan. Bukan berarti juga kalau Loe itu lebih ganteng dari pada Gue." Dicky rupanya masih berkilah. Aku tersenyum singkat padanya.
"Udahlah skip, Saya capek. Oh ya nanti malam nginep di rumah Saya buat bantuin input nilai." Ucap ku menyudahi. Dicky mengernyitkan dahinya.
"Kok Gue jadi ikutan kena si?" Dicky berusaha untuk membantah ku, tapi Aku hanya memelototinya. Ia langsung berubah sikap dan segera menunduk seperti orang yang sedang ketakutan.
"Iya iya! Siapin aja makanan yang banyak." Ucapnya yang terdengar seperti mengalah. Lagi-lagi, Aku kecanduan meminta bantuan kepada Dicky. Tapi walaupun seperti itu, Dicky juga terus-menerus memberikan bantuannya pada ku. Kasihan dia..
"Drrttttt.." Handphone ku bergetar. Ada beberapa notifikasi dari aplikasi chat ku. Aku melihat siapa yang mengirimkan pesan pada ku. Aku terdiam sesaat karena yang mengirimkan pesan adalah Ara. Aku melirik ke arah Dicky yang juga sedang memperhatikan ku.
"Siapa tuh? Cewek itu ya?" Tanyanya memastikan, tapi Aku hanya mengangguk arahnya.
"Saya harus gimana?" Tanya ku yang mulai bingung, apa yang harus ku lakukan.
"Memangnya, Dia ngirim pesan apa sih?" Tanya Dicky dengan nada yang terdengar sedikit ingin tahu.
"Dia nanya Saya lagi di mana." Jawab ku.
"Ya udah, nanya gitu doang kan? Gak usah dijawab biar Dia berfikir dan merasa kehilangan. Coba untuk seminggu ke depan kalian jangan ada kontak dulu. Kita lihat responnya seperti apa." Ucapnya. Aku sedikit ragu dengan sarannya itu. Aku hanya diam dan merenungkan apa yang harus Aku lakukan setelah ini.
"Tapi dengan Dia bertanya seperti itu juga, bukannya Dia merasa kehilangan dan merasa ada rasa rindu di hatinya?" Bantah ku. Dicky memandang ku dengan datar. Aku sadar, rasa cinta ku lebih besar dari pada rasa benci ku pada Ara. Aku tidak bisa berbuat seperti ini dan tidak bisa membuatnya bertanya-tanya dengan keadaan ku. Aku tidak bisa menggantungkan orang dengan dibuat-buat.
"Terserah Loe mau bagaimana. Gue udah ngasih tahu bahwa Loe harus ulur perasaan dia dulu saat ini. Loe nggak boleh narik perasaan Dia. yang ada nanti nya malah Loe yang jadi ditarik ulur sama Dia dan keadaan jadi terbalik. Mudah bagi Wanita buat menarik ulur hati Laki-laki. itu karena kita yang sudah peduli banget sama Dia sampai kesalahan Dia pun selalu kita kesampingkan demi hubungan." Jelasnya panjang lebar. Aku masih merenungkan ucapannya yang kali ini. Memang benar, selama ini Aku yang selalu mengejarnya dan Aku yang selalu mengalah untuk Ara. Aku ingin melihat sekali-kali Dia yang melakukan itu pada ku. Bagaimana rasanya diperjuangkan?
*
-ARA MAIN-
Sudah selarut ini, Kakak belum juga pulang. Kemana Kakak? Tidak biasanya Dia seperti ini. Handphonenya tidak bisa dihubungi, Asisten dan juga Manajernya pun tidak ada yang bisa dihubungi. Aku jadi semakin khawatir, ditambah Morgan yang sejak tadi siang tidak membalas pesan singkat ku. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan mereka diluar sana. Apa mereka sedang bersama sekarang?
"Duh.. Kakak sama Morgan kenapa gak bisa dihubungin sih? Kenapa mereka jadi pada sok ngartis begini?" Lirih ku. Kesal, cemas, gelisah, khawatir, rasanya semuanya jadi campur aduk sekarang. Aku mondar-mandir tidak karuan di pelataran rumah. Akhirnya, Aku memutuskan untuk duduk di pelataran sembari menunggu Kakak.
__ADS_1
"Gimana gak kesel, handphone gak diaktifin. Gak kasih kabar sama sekali!" Gerutu ku. Aku menekuk wajah ku seperti pakaian yang belum digosok. Tiba-tiba Aku teringat mimpi ku tentang Reza. Seketika Aku menjadi mellow. Aku betul merindukannya atau tidak bisa berpindah hati darinya?
"Reza.. Gimana ya kabarnya?" Lirih ku yang tiba-tiba teringat sepenggal kisah ku bersamanya. Kalau dipikir kembali, saat ulang tahunnya waktu itu, Aku langsung pergi saja tanpa mendengar penjelasannya. Jadi, Aku tidak tahu kebenarannya seperti apa.
"Ah.. Apanya yang harus dijelasin lagi? Semua yang Gue lihat waktu itu udah cukup membuktikan kalau Dia tuh salah! Gue gak harus bersikap melembut kayak gini." Tepis ku pada batin yang terus-menerus melembut. Untuk penghianatan semacam itu, sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan, apalagi dipertimbangkan.
Aku langsung melihat akun sosmed Reza. Aku mencari id nya. Apakah Aku akan kuat setelah melihat beranda sosmednya?
"Tinggal diklik aja." Lirih ku yang berusaha menguatkan hati ku. Aku hanya ingin tahu keadaan Reza sekarang. Apakah Dia baik-baik saja tanpa Aku? Atau justru sebaliknya?
"Ah, tapi kalau Gue ngeliat ternyata Dia baik-baik aja dan malah bahagia sama cewek yang waktu itu, gimana?" Aku mempertimbangkan kembali untuk men-stalk Reza. Aku belum siap menerima kenyataan kalau Reza baik-baik saja tanpa Aku. Tapi, Aku ingin tahu kabar dirinya.
"Dikit aja, gak papa kali ya?" Aku berusaha meyakinkan kembali hati ku. Akhirnya, Aku melihat isi profile dari sosmednya. Terlihat hanya beberapa foto saja yang ada di berandanya. Padahal, dulu Dia sangat suka fotografi dan malah menyuruh ku untuk menjadi modelnya. Ternyata, Dia sudah menghapus seluruh foto ku, dan seluruh kenangan kita. Ya, memang sudah tidak aneh sih! Kita kan sudah lama mengakhiri hubungan satu sama lain. Sudah tidak ada yang perlu dikenang lagi. Mungkin, Aku saja yang tiba-tiba masih merindukannya.
Aku mulai melihat foto-foto yang ada di akunnya itu. Aku melihatnya dari awal. Terlihat foto kelulusan Reza. Ia mengenakan jas hitam dengan kemeja putih beserta dasi yang terpasang rapi. Saat itu, memang kita sudah tidak ada hubungan apapun lagi. Karena tragedi dihari ulang tahunnya itu yang sampai sekarang masih ku ingat dengan jelas.
"Gue bahkan gak foto bareng Dia waktu itu.." Lirih ku menahan perasaan kesal ku. Aku mengganti pada slide foto yang berikutnya. Ia sedang berada di Bandara dengan membawa kopernya. Aku terkejut melihat foto ini. Ternyata selama ini, Reza tidak ada di Indonesia?
"Selamat tinggal Indonesia." Caption yang membuat ku sangat terkejut. Kenapa Dia sampai pergi meninggalkan Indonesia? Apa karena keinginannya, atau karena paksaan dari keluarganya?
"Ternyata selama ini, Loe nggak di Indonesia." Lirih ku yang merasa agak sedih saat mengetahuinya. Kenapa Aku malah merasa sedih? Justru bagus, Aku jadi tidak harus berpapasan lagi dengannya.
Slide selanjutnya, Aku melihat fotonya yang sedang bermain basket. Apa dia sudah berganti hobi? Selama ini bahkan Aku tidak pernah melihat Reza bermain basket.
"Dia curang banget! Kenapa pas masih sama Gue, Dia enggak pernah main basket. Tapi pas sudah putus sama Gue, Dia mulai main basket." Lirih ku merasa jengkel dengannya.
"Tapi buat apa lagi sih Gue kesel sama Loe? Loe aja udah baik-baik aja kok tanpa Gue di sana. Kenapa Gue harus kesel sama Loe?" Perasaan ku sungguh aneh! Kadang kesel, kadang sedih dan kadang juga rindu.
"Reza itu mantan pertama Gue. Bisa dibilang, Dia itu cinta pertama Gue. dan Gue nggak bisa ngelupain Dia secepat itu. Walaupun Gue udah punya Morgan, tapi tetep aja di saat-saat tertentu, Gue kadang rindu sama kenangan bareng Dia." Lirih ku. Aku berbicara sendiri karena tidak ada yang bisa mendengarkan ku saat ini. Aku merasa hidup ku kosong! Entah Reza ataupun Morgan, mereka berdua sekarang tidak ada disisi ku. Bahkan Kakak pun tidak ada. Jadi harus dengan siapa Aku meluapkan semua kekesalan hati ku?
Aku kembali melihat slide beranda sosial media milik Reza. Aku melihat foto Ia sedang di bandara. Saat Aku melihat kapan Ia mengupload, Ia baru saja mengupload postingan baru. Aku terkejut bukan main.
"Tunggu Gue di sana." Captionnya memang agak rancu, tapi sepertinya Ia akan melakukan sebuah perjalanan. Apa Aku memberanikan diri saja untuk mengirim pesan singkat padanya?
"Ah nanti Gue disangka belum bisa move on lagi! Gimana kalau nanti Gue diledekin sama Dia? Salah Gue sih kenapa waktu itu Gue tiba-tiba langsung ninggalin Dia aja dan nggak mau dengar dulu penjelasan dari Dia? Duh jadi kesel sendiri Gue." Hati ku terus-menerus bimbang, tidak tahu harus berbuat apa. Aku terlalu termakan oleh gengsi ku. Aku tidak ingin Ia berpikiran yang macam-macam tentang Aku yang sudah meninggalkannya lebih dulu. Tapi Aku meninggalkannya bukan karena keinginan ku! Tapi karena kesalahan Dia yang sudah membuat ku kesal karena sudah melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan bersama Wanita itu.
"Duh Gue tambah kesel mengingatnya!" Aku mengaduh sembari meremas keras rambut ku. Aku tidak bisa lagi menahan semua kebohongan ini. Ternyata, kemampuan ku untuk menahannya hanya sampai sini. Hanya karena mimpi ku yang tidak jelas itu, bahkan mampu membuat ku terjebak kembali dalam masa lalu ku yang kelam bersama dengan Reza.
"Gue nggak akan ngechat Loe!" Bentak ku sambil melihat foto Reza. Aku menutup layar handphone ku karena tidak mau lagi melihat orang itu.
__ADS_1
"Drriiinngggg..." Aku melihat kembali layar handphone ku untuk melihat siapa yang menelpon. Tertera nama "Bii" dengan emoticon love di sana. Ternyata Aku masih belum mengubah nama Bisma di handphone ku. Aku menatap layar handphone ku dengan heran sembari mengernyitkan dahi ku.
"Bisma? Tumben? Ngapain Dia nelpon Gue malam-malam gini?" Lirih ku heran. Aku sengaja mengulur lama waktu untuk mengangkat telepon dari Bisma karena aku tidak mau dianggap sebagai cewek Wanita yang dengan cepat merespon mantan pacarnya, padahal Aku sudah mempunyai pacar. Nanti apa pemikiran orang lain?
"Tuttttt.."
"Halo, Ra?" Ia menyapa. Sudah lama tidak mendengar suara Bisma. Suaranya semakin lama semakin berubah, tidak seperti suara Bisma yang dulu.
"Iya halo, Bis. Apa kabar?" Tanya ku basa-basi padanya.
"Baik. Sangat baik. Loe gimana kabarnya?" Tanyanya. Tiba-tiba saja jantung ku berdegup kencang. Kenapa Aku lemah sekali jika berhadapan dengan laki-laki?
"Ya begitulah. Ada apa, Bis? Tumben Loe telepon gue malam-malam gini? Gue udah tidur tahu." Ucap ku dengan nada datar.
"Oh sorry Gue ganggu waktu lo tidur." Ucapnya terdengar seperti orang yang merasa bersalah.
"Iya nggak papa, Bis."
"Ayo udah mau berangkat." Terdengar lirih suara orang yang baru saja mendekati Bisma. Aku sepertinya tidak asing dengan suara itu.
"Iya sebentar." Lirih Bisma menjawab ucapan temannya tadi.
"Ra, gue cuma mau ngasih tahu kalau Gue sekarang lagi on the way ke Jakarta. Mudah-mudahan, kita bisa bertemu saat Gue udah nyampe di sana.."
"Deg.."
Apa Aku tidak salah dengar? Bisma sedang melakukan perjalanan menuju ke Indonesia? Tidak heran sih, saat ini kampus ku juga sudah mulai libur karena sudah mengerjakan ujian akhir semester kemarin. Mungkin itu juga berlaku di kampusnya Bisma. Apalagi lagi jarak setelah mengerjakan ujian dengan tahun ajaran baru semester depan lumayan lama, sekitar 2 bulan. Wajar saja kalau Bisma ingin mengunjungi keluarganya di Indonesia. Tapi kenapa dia ingin bertemu dengan ku? Lantas, Aku harus menjawab apa?
"Tapi Gue nggak maksa kalau Loe nggak mau. Besar harapan Gue buat bisa bertemu sama Loe, Ra." Sambungnya. Aku semakin tidak tahu harus menjawab apa.
"Ayo, udah mau jalan nih." Suara orang di sebelah Bisma terdengar kembali. Sepertinya temannya mulai resah, khawatir kalau sampai ketinggalan pesawat.
"Ya ya oke oke." Jawab Bisma yang terdengar seperti sedang merapikan sesuatu.
"Oke, Ra. Lanjut lagi ya tidurnya. Gue mau jalan dulu. Have a nice dream, Ra. Tunggu Gue di sana."
"Deg.."
@sarjiputwinataaa
__ADS_1