Dosen Idiot

Dosen Idiot
67. Mulai Curiga


__ADS_3

“Ya ampun, sayang.” Ucapnya memelototi ku. Aku cukup takut di buatnya. Aku hanya diam saat ia bersikap


seperti itu. Aku sangat takut kalau dia lagi-lagi sampai menghajar tembok yang tidak bersalah itu. Ia pun diam melihat respon ku yang sedikit takut melihat ekspresinya. Ia langsung memeluk diri ku dengan erat. Aku pun membalas pelukannya itu dengan rasa takut.


“Maafin aku ya, aku bikin kamu takut lagi. Aku berusaha untuk ngilangin sifat jelek aku yang satu ini kok.”


Ucapnya dengan terdengar seperti nada yang penuh dengan kesungguhan. Aku mengangguk kecil dan berusaha untuk percaya padanya.


“Kamu belum jawab dua pertanyaan aku.” Ucap ku mengingatkannya.


“Aku hari ini gak ada jadwal ngajar. Dan untuk masalah kamu, aku milih kamu karena kamu tuh unik. Galaknya


kamu justru bikin aku tertantang untuk dapetin kamu. Dan, see! Aku dapetin kamu kan sekarang?” Jelasnya dengan sangat berbangga hati. Aku hanya dia terkekeh mendengar ucapannya itu. Ada orang yang punya rasa percaya diri yang tinggi seperti itu. Aku sangat kesal mendengarnya.


“Terus, kenapa gak ada jadwal ngajar? Senin lalu ada. Kenapa senin sekarang gak ada?” Tanya ku dengan sedikit


rasa curiga padanya. Ia tersenyum dan kembali memeluk ku.


“Karena aku pengen ngeliat kamu terus. Makanya aku selalu hadir.” Ucapnya yang mampu membuat wajah ku terasa panas kembali. Aku ingin supaya Morgan tetap seperti ini. Apakah bisa?


“Jangan pernah berubah ya, om.” Ucap ku. Ia kembali merenggangkan pelukannya itu.


“Kamu panggil saya apa tadi?” Tanyanya. Sepertinya, aku salah ucap tadi.


“Om.” Jawab ku dengan nada polos. Ia menghela nafas dan berusaha menahan amarahnya. Aku tertawa melihat


ekspresinya yang benar-benar ingin sekali mengubah sifat amarahnya itu.


“Awas ya..” Ancamnya sembari mengelitiki perut ku. Aku jadi tertawa karena geli. Kami berdua pun tertawa


bersama. Rasanya sangat bahagia bisa bersama dengan orang yang aku cintai. Kenapa aku bisa sampai jatuh hati dengan orang seperti ini? Tapi itu tidak penting. Yang terpenting sekarang adalah berusaha untuk mempertahankan semua yang telah aku raih saat ini. Dia sudah menjadi milik ku. Jangan sampai ada pihak


ke-3 yang berusaha menghancurkan bahkan sampai merebut Morgan dari ku. Tidak akan ku biarkan itu terjadi.


“Oh ya, kakak dan yang lainnya mana?” Tanya ku yang hampir melupakan mereka. Morgan memeluk erat diri ku dari arah belakang yang sedang duduk membelakanginya.


“Arash dan yang lainnya pulang tadi malam. Aku nemenin mereka minum sochu dan main kartu.” Jawabnya. Lagi-lagi mereka minum sochu. Apa mereka tidak ingat baru kemarin mereka meminum sochu.


“Ish parah, kenapa sih pada minum terus? Kan mereka baru minum kemarin. Kenapa gak inget sih?” Aku


mendengus kesal. Morgan tidak memperdulikan ku dan malah menciumi leher ku secara terus menerus. Membuat aku menjadi sedikit tergugah karenanya. Aku memejamkan mata ku sembari menikmati setiap sentuhan yang ia berikan. Aku tidak bisa menahan rasa geli yang selalu muncul ketika ia menyentuh ku. Apa itu


adalah hal yang wajar? Sepertinya, ada sesuatu yang membuat diri ku sampai merasa merinding di sekujur tubuh ku. Ia lalu menghentikan aktivitasnya itu.


“Boleh bersenang-senang sekarang?” Tanya Morgan. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Masalahnya, aku


juga sudah terlanjur  terbawa dengan suasana yang membuat ku bahagia ini. Tapi, aku belum siap untuk merasakan hal itu lagi.


“A. Aku belum siap.” Lirih ku. Ia hanya diam dan malah menciumi pipi ku. Suasana nampak canggung sekali. Aku


tak berani berbicara sepatah kata pun. Aku takut ia nekat untuk memaksa ku melakukan hal bodoh itu lagi.


“Gak masalah. Kamu boleh nolak kok.” Ucapnya dengan nada seperti orang yang sedang kecewa tapi berusaha untuk menerima semuanya dengan lapang dada. Aku tersenyum dan mencoba mengumpulkan


keberanian ku untuk sekedar memberinya hadiah karena sudah mengerti dengan keadaan ku saat ini.


“Cuppp...” Aku mengecup pipi kirinya lumayan lama. Ia hanya diam sembari menerima ciuman yang aku daratkan


tepat di pipinya itu. Aku senang, ia terus belajar untuk memahami keadaan ku. Aku memandang wajahnya.


“Makasih ya, udah mau ngerti.” Lirih ku lalu tersenyum. Ia mengangguk kecil sembari menaruh tangannya di pipi


ku. Aku sangat menikmati masa-masa indah di awal pacaran ini. Meskipun, aku masih belum sepenuhnya bisa untuk menerima dia sebagai orang yang aku sayang, setidaknya aku berusaha untuk terus belajar menerimanya.


*


Aku dan Morgan berangkat menuju kampus ku. dan kami sekarang sudah hampir sampai pada tempat tujuan. Di sepanjang jalan, ia terus menggenggam tangan ku dan tidak melepaskan genggamannya sama

__ADS_1


sekali. Aku merasa bahagia karena dia sudah mengerti dengan apa yang aku butuhkan. Aku hanya butuh kehangatan seorang yang aku sayangi. Sudah lama aku tidak merasakan hal semacam ini. Bahkan dengan Bisma pun, aku hampir tidak pernah merasakan hal sebahagia ini.


“Mentang-mentang mobilnya pinter, jadi megangin tangan aku mulu?” Ledek ku. Ia menatap ku sinis.


“Biarin aja.” Sinisnya yang tetap memegang tangan ku. Aku tertawa kecil melihat responnya yang seperti anak


kecil itu.


“Heheh. Kamu gak beneran gak ada jam ngajar?” Tanya ku. Ia mengecek handphonenya. Terlihat wallpaper dengan


memakai foto kami berdua. Aku sangat senang karena ia menjadikan diri ku sebagai prioritasnya.


“Aku lupa, hari ini ada jadwal rapat dengan kaprodi dan wakaprodi. Tentang agenda yang mewajibkan seluruh


Mahasiswa untuk mengikuti minimal 1 jenis ekstra kulikuler.” Jelasnya. Aku lalu berusaha menahan tawa ku, namun tidak bisa karena aku sudah terlanjur menertawainya. Morgan terlihat sangat bingung. Terliat jelas dari ekspresinya.


“Lho, kenapa kamu ketawa?” Tanyanya. Aku berusaha menghentikan tawa ku.


“Udah kayak jaman SMA saja harus banget ikut 1 ekskul.” Aku melanjutkan tawa ku.


“Udah lah, kalian kan masih ada bawaan SMA nya, kalian juga kan baru semester 1.” Ucapnya dengan nada seperti meledek. Aku yang sedang tertawa langsung saja berubah mood menjadi kesal karena ia meledek ku seperti itu. Aku memelototinya sembari komat-kamit sendiri. Ia hanya memandang ku dengan bangga karena sudah berhasil membalikkan keadaan lalu ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah ponselnya.


Aku sudah sampai di parkiran khusus untuk dosen di kampus ku. Aku berusaha meyakinkan diri ku untuk keluar


dari mobil Morgan. Aku tidak bisa terima kalau para fans Morgan nantinya akan mencari ku dan membully ku habis-habisan karena aku terlalu dekat dengan Morgan. Aku belum siap dengan semua itu.


“Aku gak mau ya, sampai semua orang di kampus ini tahu kalau kita berdua sekarang udah pacaran.” Ancam ku


padanya. Ia masih saja berfokus dengan handphonenya. Aku sangat kesal karena merasa ia tidak menghiraukan ucapan ku. Aku merebut paksa handphonenya dari tangannya.


“Eh.. Apa sih?” Kesalnya. Aku tak menghiraukannya dan malah mengecek isi chat dari handphonenya.


Banyak sekali nomor orang yang tidak di kenal yang Morgan sendiri pun tidak menyimpannya. Hanya ada beberapa


nomor dosen dan juga nomor keluarga Morgan yang aku kenal, kemudian ada juga beberapa kontak yang sudah ia beri nama, namun aku sama sekali tidak mengenalnya. Aku melihat sekilas pesan yang Morgan abaikan tapi hanya dari luar saja, tidak membacanya dari dalam. Aku sangat terkejut dengan semua isi chatnya. Semua nomor yang tidak ia kenal ternyata semuanya adalah nomor wanita. Aku berusaha menahan diri ku agar tidak meluapkan emosi ku secara cuma-cuma.


“Apa-apaan nih?” Sinis ku sembari terus membaca isi chat dari mereka semua. Morgan hanya diam tak


“Pak Morgan, apa kabar?”


“Pak Morgan, Nomornya kok baru lagi?”


“Pak Morgan, ini aku silvi.”


“Pak Morgan, bisa ketemu gak nanti siang di cafe xxxx?”


“Bapak ganteng, kok ganti nomor gak ngabarin aku sih?”


“Pak Morgan kok gak bales chat saya sih? Kan rindu..”


“Bapak, i miss u.”


Aku terus menerus membaca isi chat dari mereka tanpa mengkliknya dari dalam. Aku tidak ingin sampai mereka


mengira Morgan lah yang sudah membaca isi chat dari mereka.


“Apa nih maksudnya?” Tanya ku dengan nada yang lebih sinis lagi dari sebelumnya. Aku terus menerus membaca


dari awal pesan dengan orang yang berbeda-beda.


“Oppa.. Aku yang waktu itu di mall itu lho, oppa masih ingat gak?” Lirih ku, aku melirik ke arah Morgan yang


langsung menghalangi wajahnya dengan tangannya. Aku memelototinya dengan tajam.


“Kenapa ini ada di sini?” Tanya ku dengan nada yang tidak enak sekali. Aku tidak suka dengan tingkah para wanita


itu. Morgan sama sekali tidak berani menatap ku. Aku memukul lengannya tanpa sungkan. Ia terlihat merintih kesakitan.

__ADS_1


“Jawab!!” Bentak ku. Ia menatap ku dengan tatapan dingin.


“Dia ternyata anak kampus sini juga.”


“Terus?”


“Dia katanya dapet nomor aku dari dosen Dicky. Awalnya dia gak sadar kalau aku dosen di sini. Tapi, ya


mungkin dia cari info tentang aku.” Jelas Morgan. Aku hanya mendengus kesal mendengar penjelasannya. Aku tidak percaya, banyak sekali fans dari Morgan yang bertebaran di mana-mana. Aku sampai mengecek log panggilannya. Ada 144 panggilan tak terjawab, 7387 chat grup, dan 6549 personal chat. Aku tidak mungkin membacanya satu persatu karena tidak akan habis aku membahasnya.


“Apa-apaan ini? 144 panggilan tak terjawab dalam 1 hari aja? Chat banyak banget, yang di Whatsapp, yang di


pesan masuk biasa. Loe kan bukan artis, Gan!” Bentak ku. Aku sampai keceplosan


berbicara kasar padanya. Tapi ia tidak menghiraukan ucapan ku. Ia hanya


memandang ku dengan tatapan datar. Tidak ada ekspresi sama sekali di raut


wajahnya.


“Ini lagi, pesan banyak banget, gak pernah loe baca, ga pernah loe bales, apus kek atau gimana kek? Blokir kek


biar gue seneng.” Ucap ku yang sudah tidak bisa menahan emosi lagi. Ia menghela nafas panjang. Aku pun menghela nafas panjang untuk meredakan emosi ku. Tidak akan pernah habis jika aku membahasnya. Ternyata terlalu sulit mejanlin hubungan dengan seorang yang menjadi sorotan publik. Padahal, ia bukan artis. Tapi, banyak yang menjadikannya idola. Bisa-bisa aku akan merasa kesal berkepanjangan kalau seperti ini terus.


“Aku gak pernah baca semua. Setiap kali aku buka handphone, Aku cuma nunggu kamu ngechat aku. Atau sekedar melihat informasi dari grup mengenai pekerjaan.” Jawabnya. Sepertinya dengan nada yang jujur. Itu terdengar sangat romantis, tapi juga sangat bodoh. Kenapa dia tidak memulai untuk mengawalinya lebih dulu? Apa dia bukan seorang laki-laki?


“Kan loe bisa ngechat gue duluan?” Sinis ku. Ia menyentuh pipi ku dengan lembut.


“Sayang.. Udah ya. Jangan di lanjutin. Aku terbuka begini, supaya kamu tau semua dari sisi aku. Aku mau kamu


tau kalau aku ya begini. Tapi aku cuma bisa sayang sama satu wanita saja.” Jelasnya. Aku sampai berkaca-kaca mendengar ucapannya. Aku tak tahu ini adalah siasatnya atau memang benar ucapan tulus dari hatinya saja.


“Iya iya.” Gumam ku ketus karena aku tidak mau sampai Morgan mengetahui kalau aku sedang tersentuh dengan


perkataannya itu.


“Yaudah, boleh aku minta balik handphonenya?” Pintanya. Aku melihatnya dengan sinis. Tapi, mau bagaimana lagi? Ini kan miliknya, bukan milik ku. Aku menyodorkan handphonenya itu ke arahnya. Ia tersenyum hangat pada ku lalu mengambilnya dengan sangat lembut.


“Kali ini, aku maafin.” Ucap ku dengan nada ketus. Ia terlihat tertawa kecil pada ku.


Aku mempersiapkan diri untuk keluar dari mobilnya. Jangan sampai semua orang menjadikan ku pusat perhatian


karena aku turun dari mobil sang idola mereka. Aku melangkah jenjang ke luar mobil. Aku memakai hoodie ku agar tidak ada seorang pun yang dapat mengenali ku.


‘Semoga saja gak ada yang ngeliat gue. Gue gak mau sampe kena bully-an mereka semua yang suka sama


Morgan.’ Batin ku sembari memperhatikan sekeliling ku jika saja ada yang aneh dengan area di sekitar ku.


Aku menuju koridor gedung A dengan susah payah, khawatir ada yang melihat ku. Aku sampai tidak melihat


sekeliling ku.


“Brukkkk... Awsss..” Aku tak sengaja menabrak seseorang yang muncul dari arah yang berlawanan dari ku. Aku


sampai terhempas jauh ke belakang.


“Greeeppp..” Seseorang menahan tubuh ku. Aku bingung, siapa yang dengan sigap untuk menyelamatkan ku itu? Aku berusaha memandang dirinya. Terlihat seseorang yang waktu itu juga sedang berada di danau. Pandangan ku tertuju padanya. Matanya yang tidak terlalu tebal, dan juga kupluk dari hoodie ku yang menutupi sebagian area mata ku, membuat ku sulit untuk mengenali matanya. Tapi pada akhirnya, aku pun menyadari dan mengenali dirinya.


“Ekhmm..” Aku tersadar dari lamunan ku. Aku pun bangkit dari rangkulan laki-laki jepang yang aku lihat di


danau waktu itu. Aku merasa agak sedikit salah tingkah dengan dirinya. Aku membenarkan hoodie yang aku pakai.


“Dilarang berbuat mesum di kampus ini.” Ucap orang yang tadi menabrak ku, yang ternyata adalah Pak Dicky. Aku


lumayan kesal dengan ucapannya itu. Aku tidak berbuat apapun. Aku justru di tolong oleh laki-laki itu, karena sudah bertabrakan dengan dia.


“Lho Pak, saya gak ngapa-ngapain!”

__ADS_1


 


@sarjiputwinataaa


__ADS_2