Dosen Idiot

Dosen Idiot
Maniak 3


__ADS_3

Aku tetap diam, tak


menghiraukannya.


“Kamu kenapa--”


“Jangan tanya gue kenapa! Ini


semua gara-gara loe, ya!” Aku spontan mendelik, sembari membentak kasar, dan


memotong ucapannya.


Morgan terlihat hanya diam.


Aku sudah tidak bisa menahan perasaan ini lagi. Ingin kumaki dirinya.


“Tenang aja... kamu gak


akan hamil--”


“Enteng banget loe ngomong


gitu! Loe udah ngerebut keperawanan gue tau gak!” Aku memotong kembali


ucapannya.


Apa otaknya terbuat dari jelly?


Lunak sekali cara berpikirnya.


“Sama. Saya juga baru kali


ini melakukan, bareng kamu, Ra. Sebelumnya sama sekali saya ga pernah--”


“BOHONG!” Pangkasku


spontan, dengan mata mendelik.


Suasana nampak canggung


saat ini. Aku menangis kembali. Terdengar jelas Morgan yang sedang menghela napasnya.


“Gue gak mau tau, ya, anterin


gue balik, sekarang!” Bentakku dengan air mata yang masih membanjiri pipi.


“Tapi, Ra--”


“SEKARANG!” Aku memotong lagi


ucapannya itu.


Aku tak tahu lagi harus


melakukan apa. Rasanya, aku tak ingin hidup lagi di dunia ini. Aku sudah terlalu


malu dengan keadaan diriku yang sudah ternodai ini.


Tidak munafik, aku pun ingin


melakukan hal semacam ini. Tapi, kenapa harus dengan Morgan? Kenapa harus dalam


situasi seperti ini?


Aku membatin, sakit sekali


aku menahannya. Seperti tertancap tujuh belas bilah pedang di jantungku. Aku sudah


gagal mempertahankan kesucianku. Harus bagaimana aku menjalani kehidupan


setelah ini?


“Baiklah. Saya antar kamu


pulang.”


Tak lama kemudian, Morgan


mengantarkan aku kembali ke rumahku. Sejak saat itu, aku berusaha menjauhi


Morgan. Aku tidak pernah mau menatapnya sekali pun. Jika berpapasan di kampus,


aku selalu menghindarinya dengan berbagai macam cara. Namun, ia tak pernah


kehabisan akal, dan selalu ada di mana pun aku berada.


Itu membuatku menjadi sangat


jengkel!


Sudah satu minggu sejak


kejadian itu. Harusnya Bisma sudah menyelesaikan apa yang aku pinta padanya. Apakah


hari ini, sudah boleh aku beri kabar?


Aku tak tenang, jiwaku


terus merasa seperti ada yang mengusik. Entah karena masalah Morgan, atau


masalah Bisma. Keduanya selalu saja bisa membuat naik pitamku.


“Apa Bisma masih mau nerima


gue yang keadaannya udah begini?” lirihku, merasa khawatir dengan pemikiran


Bisma.


Aku terlalu kolot.


Padahal, di zaman seperti

__ADS_1


ini, hal semacam itu sudah tidak dianggap tabu. Tapi aku malah khawatir


setengah gila karena memikirkan kejadian malam itu bersama Morgan.


Tapi, apa benar yang Morgan


bilang waktu itu? Aku tidak akan hamil? Kenapa bisa?


“Duh... jadi gak tenang


lagi,” lirihku, sembari tetap mondar-mandir tak tenang.


Aku meraih handphone-ku


yang berada di atas ranjang. Sudah tidak ada waktu lagi. Aku harus meminta


kepastian pada Bisma. Masalahnya, aku sudah tidak virgin lagi. Apakah ia


mau mempertanggungjawabkan sesuatu yang tidak ia lakukan?


“Tuut....”


“Halo?” Telepon terhubung


dengan Bisma.


Sempat merasa kaku, karena


aku yang menghubunginya lebih dulu. Seumur hidupku, aku tidak pernah


menghubungi laki-laki lebih dulu.


Ah.


Sudahlah.


Aku juga sudah tidak punya


harga diri lagi.


“Halo, Bis.”


***


Aku menyuruh Bisma untuk


menemuiku malam ini di sebuah caffee. Aku memasuki caffee tersebut dengan perlahan.


Terlihat sosok laki-laki


yang duduk pada meja nomor 13. Ia memakai setelan jaket kulit dan celana jeans,


serta mengenakan headset di telinganya. Langsung saja aku menghampirinya,


dan duduk di hadapannya. Ia sepertinya terkejut dan segerta melepas headset yang ia pakai.


“Ra!” Pekiknya.


Suasana canggung sekali saat


ini. Aku grogi, tidak habis pikir dengan apa yang harus aku katakan nanti pada


Bisma.


“Gue udah putusin Jess dan


udah kasih keterangan soal perasaan gue sama Fla, seperti yang loe mau,”


jelasnya.


Aku merasa, tak ingin


berbicara apapun padanya. Mood-ku tiba-tiba saja lenyap. Entah kenapa.


Bisma menggenggam tanganku dengan erat, sembari sesekali mengelusnya.


“Balik lagi ke gue ya, Ra.”


Pinta Bisma dengan nada memelas.


Aku tidak bisa berbuat apapun,


karena tidak tahu respon Bisma seperti apa jika ia mengetahui tentang kebenaran


ini.


“Ra, jawab dong, Ra.” Pinta


Bisma dengan lemas.


Aku mempersiapkan diriku,


untuk mengutarakan perasaan ini. Aku tidak mau menyembunyikan semua ini dari Bisma.


Lama-kelamaan, pun akan ketahuan juga. Jadi lebih baik, aku mengutarakannya


sekarang.


Aku menghela napas, sekali


lagi untuk mempersiapkan diriku.


“Meskipun gue udah gak virgin lagi?” ucapku asal.


Bisma terlihat membelalak


ke arahku.


Sudah kuduga, ia pasti akan


memberikan respon yang demikian. Untung saja, aku sudah mempersiapkan sedikit

__ADS_1


diriku akan jawaban yang akan ia berikan.


Aku harus bisa menghadapi


ini semua.


Harus.


“Apa, Ra?” tanyanya, yang


sepertinya tak percaya dengan ucapanku.


Aku sudah pasrah dengan


perasaanku pada Bisma. Jika memang tidak bisa, aku akan siap menerimanya dengan


hati yang lapang.


“Huft... ya, apa loe masih


mau nerima gue?” tanyaku yang sudah pasrah.


Terlihat Bisma yang sepertinya


kesal setelah mendengar ucapanku. Di luar dugaan, sepertinya nanti akan ada sesuatu.


Apa itu?


Aku tidak tahu.


BISMA


'Dia udah gak virgin? Apa


sekalian aja gue rusak juga?' batinku


mulai membuat siasat buruk tentang Ara.


Sudah seperti ini, apa iya


tidak aku ambil tentang kesempatan ini? Aku juga ingin merasakan tidur bersama


dengan Ara. Biar bagaimana pun juga, Ara terlihat sempurna, dari ujung


rambutnya hingga ujung kaki. Siapa pun pasti tidak akan bisa menolaknya.


MORGAN


‘Gak bisa gini terus! Dia


nemuin siapa di sini?’batinku yang tak bisa


berhenti memikirkan Ara.


Nampaknya, Ara akhir-akhir


ini, sudah membuat jarak di antara kita menjadi renggang. Ia selalu


menghindariku, setiap tak sengaja berpapasan denganku. Aku sudah merasakan itu,


sejak terakhir bertemu dengannya.


Sejak kejadian itu, semua


berbeda.


Seharunya, sebagai wanita


yang sudah dirugikan, ia tidak akan pernah meninggalkan laki-laki yang sudah menodai


kesuciannya.


Tapi mengapa Ara berbeda?


Itu yang aku sukai darinya.


‘Saya gak bisa ngeliat


orang yang saya sayang, jadi benci sama saya. Gak akan pernah bisa,’batinku yang terus-menerus merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi.


Aku tak sengaja


membuntutinya sampai ke caffee ini. Ternyata, ia hendak menemui


seseorang di sini.


Aku tidak bisa menunggu di


sini sementara Ara ada di dalam sana, tak tahu sedang bercengkrama dengan siapa.


Tak terlalu jelas terlihat jika dilihat dari jarak seperti ini.


Tiba-tiba, ada seseorang yang


datang dari balik pintu. Aku berusaha menunduk agar tak terlihat oleh siapa pun.


Per sekian detik, aku menunduk kemudian perlahan aku mengintip kembali ke atas.


‘Dia ternyata lagi sama


laki-laki brengsek itu.’ Batinku merasa kesal dengan


yang aku lihat.


Bisma terlihat sedang


mengambil sesuatu di motornya. Aku menghindarinya, agar tidak terlalu


berpapasan melihat diriku. Aku mengambil jalan memutar, dan memutari tiang,


sehingga Bisma tidak bisa melihatku ada di sini.

__ADS_1


__ADS_2