
Aku tetap diam, tak
menghiraukannya.
“Kamu kenapa--”
“Jangan tanya gue kenapa! Ini
semua gara-gara loe, ya!” Aku spontan mendelik, sembari membentak kasar, dan
memotong ucapannya.
Morgan terlihat hanya diam.
Aku sudah tidak bisa menahan perasaan ini lagi. Ingin kumaki dirinya.
“Tenang aja... kamu gak
akan hamil--”
“Enteng banget loe ngomong
gitu! Loe udah ngerebut keperawanan gue tau gak!” Aku memotong kembali
ucapannya.
Apa otaknya terbuat dari jelly?
Lunak sekali cara berpikirnya.
“Sama. Saya juga baru kali
ini melakukan, bareng kamu, Ra. Sebelumnya sama sekali saya ga pernah--”
“BOHONG!” Pangkasku
spontan, dengan mata mendelik.
Suasana nampak canggung
saat ini. Aku menangis kembali. Terdengar jelas Morgan yang sedang menghela napasnya.
“Gue gak mau tau, ya, anterin
gue balik, sekarang!” Bentakku dengan air mata yang masih membanjiri pipi.
“Tapi, Ra--”
“SEKARANG!” Aku memotong lagi
ucapannya itu.
Aku tak tahu lagi harus
melakukan apa. Rasanya, aku tak ingin hidup lagi di dunia ini. Aku sudah terlalu
malu dengan keadaan diriku yang sudah ternodai ini.
Tidak munafik, aku pun ingin
melakukan hal semacam ini. Tapi, kenapa harus dengan Morgan? Kenapa harus dalam
situasi seperti ini?
Aku membatin, sakit sekali
aku menahannya. Seperti tertancap tujuh belas bilah pedang di jantungku. Aku sudah
gagal mempertahankan kesucianku. Harus bagaimana aku menjalani kehidupan
setelah ini?
“Baiklah. Saya antar kamu
pulang.”
Tak lama kemudian, Morgan
mengantarkan aku kembali ke rumahku. Sejak saat itu, aku berusaha menjauhi
Morgan. Aku tidak pernah mau menatapnya sekali pun. Jika berpapasan di kampus,
aku selalu menghindarinya dengan berbagai macam cara. Namun, ia tak pernah
kehabisan akal, dan selalu ada di mana pun aku berada.
Itu membuatku menjadi sangat
jengkel!
Sudah satu minggu sejak
kejadian itu. Harusnya Bisma sudah menyelesaikan apa yang aku pinta padanya. Apakah
hari ini, sudah boleh aku beri kabar?
Aku tak tenang, jiwaku
terus merasa seperti ada yang mengusik. Entah karena masalah Morgan, atau
masalah Bisma. Keduanya selalu saja bisa membuat naik pitamku.
“Apa Bisma masih mau nerima
gue yang keadaannya udah begini?” lirihku, merasa khawatir dengan pemikiran
Bisma.
Aku terlalu kolot.
Padahal, di zaman seperti
__ADS_1
ini, hal semacam itu sudah tidak dianggap tabu. Tapi aku malah khawatir
setengah gila karena memikirkan kejadian malam itu bersama Morgan.
Tapi, apa benar yang Morgan
bilang waktu itu? Aku tidak akan hamil? Kenapa bisa?
“Duh... jadi gak tenang
lagi,” lirihku, sembari tetap mondar-mandir tak tenang.
Aku meraih handphone-ku
yang berada di atas ranjang. Sudah tidak ada waktu lagi. Aku harus meminta
kepastian pada Bisma. Masalahnya, aku sudah tidak virgin lagi. Apakah ia
mau mempertanggungjawabkan sesuatu yang tidak ia lakukan?
“Tuut....”
“Halo?” Telepon terhubung
dengan Bisma.
Sempat merasa kaku, karena
aku yang menghubunginya lebih dulu. Seumur hidupku, aku tidak pernah
menghubungi laki-laki lebih dulu.
Ah.
Sudahlah.
Aku juga sudah tidak punya
harga diri lagi.
“Halo, Bis.”
***
Aku menyuruh Bisma untuk
menemuiku malam ini di sebuah caffee. Aku memasuki caffee tersebut dengan perlahan.
Terlihat sosok laki-laki
yang duduk pada meja nomor 13. Ia memakai setelan jaket kulit dan celana jeans,
serta mengenakan headset di telinganya. Langsung saja aku menghampirinya,
dan duduk di hadapannya. Ia sepertinya terkejut dan segerta melepas headset yang ia pakai.
“Ra!” Pekiknya.
Suasana canggung sekali saat
ini. Aku grogi, tidak habis pikir dengan apa yang harus aku katakan nanti pada
Bisma.
“Gue udah putusin Jess dan
udah kasih keterangan soal perasaan gue sama Fla, seperti yang loe mau,”
jelasnya.
Aku merasa, tak ingin
berbicara apapun padanya. Mood-ku tiba-tiba saja lenyap. Entah kenapa.
Bisma menggenggam tanganku dengan erat, sembari sesekali mengelusnya.
“Balik lagi ke gue ya, Ra.”
Pinta Bisma dengan nada memelas.
Aku tidak bisa berbuat apapun,
karena tidak tahu respon Bisma seperti apa jika ia mengetahui tentang kebenaran
ini.
“Ra, jawab dong, Ra.” Pinta
Bisma dengan lemas.
Aku mempersiapkan diriku,
untuk mengutarakan perasaan ini. Aku tidak mau menyembunyikan semua ini dari Bisma.
Lama-kelamaan, pun akan ketahuan juga. Jadi lebih baik, aku mengutarakannya
sekarang.
Aku menghela napas, sekali
lagi untuk mempersiapkan diriku.
“Meskipun gue udah gak virgin lagi?” ucapku asal.
Bisma terlihat membelalak
ke arahku.
Sudah kuduga, ia pasti akan
memberikan respon yang demikian. Untung saja, aku sudah mempersiapkan sedikit
__ADS_1
diriku akan jawaban yang akan ia berikan.
Aku harus bisa menghadapi
ini semua.
Harus.
“Apa, Ra?” tanyanya, yang
sepertinya tak percaya dengan ucapanku.
Aku sudah pasrah dengan
perasaanku pada Bisma. Jika memang tidak bisa, aku akan siap menerimanya dengan
hati yang lapang.
“Huft... ya, apa loe masih
mau nerima gue?” tanyaku yang sudah pasrah.
Terlihat Bisma yang sepertinya
kesal setelah mendengar ucapanku. Di luar dugaan, sepertinya nanti akan ada sesuatu.
Apa itu?
Aku tidak tahu.
BISMA
'Dia udah gak virgin? Apa
sekalian aja gue rusak juga?' batinku
mulai membuat siasat buruk tentang Ara.
Sudah seperti ini, apa iya
tidak aku ambil tentang kesempatan ini? Aku juga ingin merasakan tidur bersama
dengan Ara. Biar bagaimana pun juga, Ara terlihat sempurna, dari ujung
rambutnya hingga ujung kaki. Siapa pun pasti tidak akan bisa menolaknya.
MORGAN
‘Gak bisa gini terus! Dia
nemuin siapa di sini?’batinku yang tak bisa
berhenti memikirkan Ara.
Nampaknya, Ara akhir-akhir
ini, sudah membuat jarak di antara kita menjadi renggang. Ia selalu
menghindariku, setiap tak sengaja berpapasan denganku. Aku sudah merasakan itu,
sejak terakhir bertemu dengannya.
Sejak kejadian itu, semua
berbeda.
Seharunya, sebagai wanita
yang sudah dirugikan, ia tidak akan pernah meninggalkan laki-laki yang sudah menodai
kesuciannya.
Tapi mengapa Ara berbeda?
Itu yang aku sukai darinya.
‘Saya gak bisa ngeliat
orang yang saya sayang, jadi benci sama saya. Gak akan pernah bisa,’batinku yang terus-menerus merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi.
Aku tak sengaja
membuntutinya sampai ke caffee ini. Ternyata, ia hendak menemui
seseorang di sini.
Aku tidak bisa menunggu di
sini sementara Ara ada di dalam sana, tak tahu sedang bercengkrama dengan siapa.
Tak terlalu jelas terlihat jika dilihat dari jarak seperti ini.
Tiba-tiba, ada seseorang yang
datang dari balik pintu. Aku berusaha menunduk agar tak terlihat oleh siapa pun.
Per sekian detik, aku menunduk kemudian perlahan aku mengintip kembali ke atas.
‘Dia ternyata lagi sama
laki-laki brengsek itu.’ Batinku merasa kesal dengan
yang aku lihat.
Bisma terlihat sedang
mengambil sesuatu di motornya. Aku menghindarinya, agar tidak terlalu
berpapasan melihat diriku. Aku mengambil jalan memutar, dan memutari tiang,
sehingga Bisma tidak bisa melihatku ada di sini.
__ADS_1