
"Gak papa, duduk aja." Suruh Morgan sebelum Aku akhirnya duduk di kursi ku sekarang.
Aku duduk di pinggir dengan orang yang memakai topi hitam yang berada di samping ku. Aku tampak tidak asing dengan orang ini.
Semakin lama, semakin banyak orang yang berdempetan yang membuat ku sesak. Aku hanya diam sembari memperhatikan jalan. Tapi, sepertinya ada yang tidak beres dengan orang yang berdiri di sebelah ku. Ia terus-menerus menempelkan dirinya pada ku. Sama seperti waktu itu, saat Aku dilecehkan oleh laki-laki hidung belang. Aku tidak bisa berteriak, khawatir banyak orang yang mengincar ku dan malah membuat keributan di depan umum. Belum lagi reaksi Morgan yang nantinya pasti akan menambah ricuh suasana. Aku hanya diam pasrah sembari sesekali menghindar dan menggeser tubuh ku ke sebelah ku.
"Can you move over here? (Bisakah Kamu pindah ke sebelah sini?)." Tanya orang yang memakai topi hitam itu. Aku melihatnya dengan heran, tak mengerti dengan yang ia inginkan.
"I want to sit in your place. (Aku ingin duduk di tempat mu.)"
Aku mengerti! Dia sedang mencoba menyelamatkan ku dari Laki-laki tidak karuhan ini. Aku mengangguk dan mempersiapkan untuk pindah ke sebelah. Tapi, Aku tidak bisa! Tubuh ku terhalang dengan Laki-laki brengsek itu.
"Sumimasen, koibito ga hikkoshitaidesu (Permisi, kekasih ku ingin pindah)." Gumam datar Pria bertopi hitam itu pada Laki-laki brengsek itu. Laki-laki itu menatap kasar Pria bertopi dan sedikit membuat ku ketakutan.
"Anata ga rokudenashi o mitekudasai! (Lihat apa kau bajingan!)." Bentak Laki-laki brengsek itu. Apakah sedang ada pertikaian di sini?
Pria bertopi itu berdiri dan menarik tangan ku dengan kasar. Aku yang tak kuasa menahan, hanya pasrah ketika tangan ku ditarik dan berpindah posisi menjadi duduk di pojok, di tempat Ia duduk sebelumnya.
"Shi o sagashiteimasu?! (Cari mati?!)." Bentak Laki-laki itu. Tak ku sangka, semua orang melihat ke arahnya membuatnya tidak bisa berkutik dan berbuat seenaknya lagi. Ia menciut dan membuang pandangannya itu. Aku selamat lagi kali ini. Aku menoleh ke arahnya yang kebetulan sedang memasang headset.
"Thank you." Lirih ku. Ia sama sekali tidak merespon ucapan ku. Tidak salah sih, Dia tidak mendengarnya karena memakai headset. Aku yang kesal langsung mencabut headset dari telinganya.
"Thank you." Teriak ku tepat di telinganya. Ia tersenyum tipis ke arah ku. Mata ku membulat.
'Manis banget senyumnya.' Batin ku merasa terkesima dengannya. Aku melihat sampul buku yang sedang Ia baca. Tertulis kata "Ryu" di sana. Ternyata, namanya adalah Ryu.
Tak lama, Bus pun berhenti. Ryu pun mempersiapkan barang-barangnya dan segera berdiri.
"Ryu!" Pekik ku. Ia spontan menoleh ke arah ku. Ada jeda persekian detik untuk melihat matanya yang indah.
"Thank you." Lirih ku. Ia terdiam, kemudian melontarkan senyuman pada ku. Ia pergi meninggalkan ku di sini.
"Sepertinya ada yang dapat teman baru." Ucap Morgan yang terdengar seperti menyindir. Ia duduk di kursi yang ditinggalkan Ryu tadi.
Ternyata Morgan memperhatikan ku dari belakang. Apa dia melihat adegan yang sebenarnya?
"Ehh.. Enggak kok.." Aku berusaha menyembunyikan semuanya dari Morgan. Syukur-syukur, Morgan tidak sadar dengan semuanya yang terjadi.
"Greppp..." Tiba-tiba saja Morgan mencengkram bahu ku. Aku sampai melotot karena kaget.
"Jangan Kamu pikir Saya gak lihat semuanya." Lirihnya terdengar tajam di telinga ku. Aku menelan air ludah ku karena merasa ngeri melihat ekspresi Morgan saat ini.
"Lain kali, kalau ada yang melecehkan Kamu, jangan diam aja. Kasih tau Saya." Tambahnya. Aku merasa bersalah karena sudah menutupi semuanya dari Morgan. Aku merenung kemudian mengangguk ke arahnya. Ia mengelus lembut kepala ku.
"Kalau seperti ini jadinya, Saya pasti bakal merasa kalau Saya tuh gak ada gunanya." Ucapnya. Aku sekarang benar merasa bersalah padanya.
"Padahal, Aku cuma gak mau Kamu buat onar di depan umum." Lirih ku. Ia diam lalu mengelus rambut ku.
"Kalau gitu, Saya usahain gak akan bikin onar di depan umum lagi kok." Lirihnya, Aku tersentuh dan secara tidak sadar melontarkan senyuman hangat padanya.
Pemberhentian pada halte selanjutnya, Aku dan Morgan turun untuk mengunjungi Naoki. Aku melihat toko pernak-pernik yang bagus sekali. Aku sampai terdiam di depan toko itu.
"Ayo.. Kita belikan oleh-oleh untuk semuanya." Ajak Morgan, Aku terdiam sesaat.
__ADS_1
"Ehh.. Apa boleh?" Tanya ku. Morgan tersenyum seperti orang yang pasrah.
"Apapun yang Kamu mau.." Lirihnya dengan senyuman. Aku tersenyum hangat kemudian langsung menyambar tangan Morgan dan menariknya untuk masuk ke dalam toko pernak-pernik itu.
Aku melihat-lihat ke kiri dan ke kanan. Banyak sekali pernak-pernik yang bagus di toko ini. Aku mencocokkan untuk diri ku sendiri. Morgan hanya mengangguk-angguk setuju. Setelah selesai membeli beberapa barang untuk ku dan juga teman-teman ku, Aku dan Morgan bergegas menuju apartemen Naoki.
"Ting.. Nong.." Morgan menekan bel apartemen Naoki. Dari dalam, seseorang membukakan pintu.
"Ckreeekk.."
Terlihat Naoki yang ternyata sudah menantikan kedatangan Kami.
"Anata-tachi wa totemo osoidesu (Kalian lambat sekali)." Ucapnya yang terdengar sangat tergesa-gesa.
"Gomen (Maaf)." Lirih Morgan. Aku tersenyum tak enak pada Naoki.
"Dare ga-chū ni iru no ka suisoku suru (Tebak, siapa yang ada di dalam)."
-MORGAN MAIN-
'Apa? Siapa yang ada di dalam?' Batin ku penasaran. Aku menoleh sedikit ke arah dalam ruangan apartemen Naoki. Namun, ternyata tidak cukup untuk bisa melihat siapa yang ada di dalam.
"Ayo.." Gumam ku lembut lalu merangkul Ara. Kami pun masuk dan melihat seseorang yang tak asing.
"Junhey." Lirih ku. Ia tersenyum pada Kami semua. Di sampingnya, terlihat Laki-laki yang sudah lama sekali tidak Aku lihat.
"Hah..." Kaget ku yang tak percaya dengan yang aku lihat saat ini. Laki-laki itu berdiri menghadap ke arah ku sembari membungkukkan badannya.
"Ogenki desuka (Apa kabar?)." Ia memberikan salam dan kembali menatap wajah ku. Secepat ini Junhey mengambil langkah. Baru saja ku beri tahu kemarin, dan dia sudah sangat cepat untuk mencari informasi kebenaran dari apa yang telah Aku beri tahu kepadanya.
"O suwari kudasai (silakan duduk)." Ucap Naoki sembari memberikan beberapa kaleng minuman ringan kepada ku. Aku memberikan sesuatu kepada Ara, dan dia pun menerimanya dengan baik. Aku memperhatikan sikap Ara saat melihat wanita itu. Kelihatannya, Ara memang tidak pernah nyaman ketika berhadapan dengan Junhey.
"Kamu baik-baik saja? Mau pulang sekarang?" Tanya aku berbisik kepada Ara.
"Gak usah! Nanti disangkanya Aku pengecut." Jawabnya. Aku mengerti maksud Ara.
"Hisashiburi ni mōgan o minai (Lama tak berjumpa, Morgan)." Ucap Laki-laki bernama Hito tersebut.
"Naze kare wa koko ni iru nodesu ka (kenapa bisa ada dia di sini?)." Tanya ku pada Naoki dengan nada yang sangat datar. Naoki terlihat tidak bisa mengekspresikan wajahnya.
"Mazu, mōgan ni shazai shitai (Sebelumnya, Aku ingin meminta maaf kepada mu Morgan)." Sela Junhey. Seketika perhatian ku langsung tertuju padanya.
"Nani ka mondai ga arimasu ka (Apa ada yang salah?)." Tanya ku dengan berterus terang.
"Watashi wa zutto anata no koto o hitei-teki ni kangaete kimashita. Watashi wa shinjitsu sae mattaku shirazu, itsumo anata o hinan shimasu (Aku telah berfikir yang negatif terhadap mu selama ini. Aku bahkan tidak tahu kebenarannya sama sekali dan selalu menuduh dirimu)." Jelas Junhey panjang lebar. Ternyata tujuannya kali ini bukan merupakan tujuan yang buruk. Kalau begitu itu, Aku mulai mendengarkannya dengan serius.
"Dōiu imidesu ka (Apa maksud mu?)." Tanya ku berpura-pura tidak mengerti. Aku ingin memancing perkataannya dan memancing dirinya untuk menjelaskan lebih jauh tentang hal yang terjadi pada hari ini. Tapi sebelumnya, Aku harus memikirkan perasaan Ara terlebih dahulu.
"Apa Kamu mau menunggu? Atau mau Saya antarkan pulang lebih dulu?" Tanya ku kepada Ara. Ia terlihat sangat lesu. Sepertinya, Ia sangat mengantuk.
"Kalau boleh, tolong anterin Aku pulang dulu Gan." Pintanya yang tidak bisa ku tolak. Lagi pula, masalah Junhey tidak lebih penting dari keadaan Ara saat ini.
"Baiklah."
__ADS_1
"Watashi wa saisho ni watashi no gārufurendo o tsurete ikimasu. Sukoshi modotte kimasu (Aku akan mengantar pacarku dulu. Aku akan kembali sebentar lagi)." Ucap ku terus terang.
"Tidak perlu. Bolehkah kami semua datang berkunjung ke hotel mu? kebetulan kamar hotel Saya berada tepat di sebelah mu." Ucap Junhey. Bila dipikir kembali, Aku jadi tidak harus kembali lagi kan ke sini? Sepertinya itu bukan ide yang buruk.
"Hai, issho ni kite kudasai (Baiklah, kalian boleh ikut bersama kami)." Ucap ku.
Kami semua bersiap untuk menuju kamar hotel kami tak terkecuali Hito, Naoki dan juga Junhey.
Sesampainya di depan lobby hotel, Aku menunjukkan jalan kepada mereka. Khususnya kepada Naoki dan juga Hito yang mungkin saja baru pertama kali datang.
"Ckreeekk.." Aku membuka pintu kamar hotel ku menggunakan kartu.
"Dōzo haitte kudasai (Silahkan masuk)." Aku mempersilahkan mereka semua untuk masuk. Ara mendekatkan wajahnya ke telinga ku.
"Aku mau mandi." Bisiknya dengan nada yang terdengar malu. Aku tersenyum ke arahnya.
"Mau saya temani?" Ledek ku yang ternyata sukses membuat wajahnya memerah. Aku tertawa kecil mentertawakan reaksinya.
"Untung aja lagi ada tamu. Awas Kamu!" Ara terdengar menahan kesalnya. Aku hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah lakunya.
"Ya udah katanya mau mandi?" Ucap ku mengingatkannya. Ia tampaknya terlupa dengan tujuan awalnya. Ia menepuk pelan keningnya sendiri.
"Yaudah tolong kasih tahu mereka kalau Aku mau siap-siap mandi dulu."
"Sun dulu.." Ledek ku. Ia semakin terlihat geram karena terus ku permainkan.
"Dih.." Ia pergi meninggalkan ku menuju kamar mandi. Aku hanya bisa tersenyum untuk setiap tingkah lakunya.
Aku hampir saja melupakan mereka yang sedang bertamu. Aku menghampiri dan duduk berhadapan dengan mereka.
"Koko ni wa tabemono ga arimasen, piza wa sukidesu ka? (Di sini kita enggak ada makanan, apa kalian suka pizza?)." Tanya ku.
"Mochiron, itsu mata issho ni taberu koto ga dekimasu ka? (Tentu saja Kapan lagi bisa makan bersama?)." Jawab Naoki dengan penuh semangat.
"Chūmon shimasu (Baiklah, akan Aku pesankan)." Aku mengeluarkan telepon genggam ku dan menelpon restoran pizza yang berada tidak jauh dari hotel tempat Aku menginap. Aku memesan beberapa pizza dan juga makanan lain sebagai pembuka dan juga sebagai penutup hidangan. Tak lupa dengan minuman ringannya.
"Chūmon shimashita (Aku telah memesan)."
"Uwa ̄ kore wa hontōni oyasumi ni narudarou (Wah ini akan menjadi Malam yang sangat bagus)." Ucap Naoki yang terdengar senang. Aku lalu memperhatikan Junhey dan juga Hito yang sedari tadi hanya diam. Mungkin mereka masih belum bisa menyesuaikan keadaan.
"Kyō no jiken ni tsuite kuwashiku oshietekudasai. Dō yatte futari wa mata aeru no? (Tolong diceritakan secara lengkap tentang kejadian hari ini. Bagaimana bisa kalian bertemu kembali?)." Tanya ku yang sedang memulai topik pembicaraan.
"Sate, saisho wa anata ga kinō itta koto o kitai shite imasendeshitaga. Hito ga mada ikite iruto dare ga itta no ka. Daigaku jidai ni itsumoisshoni ita hito no futari no tomodachi ni renraku o torou to shita. Tsuini hito no sobo no ie no jūsho o shirimashita. (Baiklah, awalnya juga Aku tidak menyangka dengan ucapanmu yang kemarin itu. Yang mengatakan bahwa Hito masih hidup. Aku berusaha menghubungi kedua teman Hito yang selalu bersamanya saat mereka masih kuliah. Akhirnya aku mengetahui alamat rumah nenek Hito)." Jelas Junhey panjang lebar. Tapi kalimatnya terdengar masih rancu.
"Sonogo.. (Lalu..)."
"Sorekara watashi wa sugu ni sari, futatabi hito ni aitai to omoimashita. 5-Jikan matte yōyaku hito ni aimashita. (Lalu Aku segera pergi dan berharap bisa bertemu dengan Hito kembali. Setelah menunggu 5 jam akhirnya Aku bertemu dengan Hito)." Sambungnya. Aku menghela nafas panjang.
"Uwa ̄ , anata no rabusutōrī wa totemo utsukushīdesu (Wah indah sekali kisah cinta kalian)." Sambar Naoki berhasil mencairkan suasana yang tegang. Aku menoleh ke arah Hito yang sedari tadi hanya diam.
"Hito-san wa ikagadesu ka? (Bagaimana dengan mu, Hito?)." Tanya ku. Ia seperti sedang menahan rasa malu. Apa dia masih mengingat masa lalu kami?
"Gomen'nasai Morgan, Junhey. Watashi wa okubyōna otokodesu. Watashi wa sore o surubekide wa nakatta. Anata ga watashi no shōtai o kyohi shita to iu riyū dake de, watashi wa sonotoki anata o reipu suru koto o kangaemashita. Sore ga watashi ga mōgan ni subete o kakusu yō ni tanonda riyūdesu. Watashi wa jibun o hajite imasu... (Aku minta maaf Morgan, Junhey. Aku adalah Laki-laki yang pengecut. Tidak seharusnya Aku melakukan hal itu. Hanya karena Kamu menolak ajakan ku, Aku jadi berpikir untuk memperkosa mu waktu itu. Itulah alasan kenapa Aku minta Morgan untuk menutupi semuanya. Aku malu pada diri ku sendiri...)." Lirihnya yang terpotong karena mungkin masih ragu mengatakan kebenarannya. Aku melipat kedua kaki ku.
__ADS_1
@sarjiputwinataaa