Dosen Idiot

Dosen Idiot
Selamat Tinggal, Bisma 2


__ADS_3

Hatiku bimbang.


“Huft….”


Aku menghela napas panjang. Biar bagaimana pun juga, Bisma pernah menjadi bagian hidupku, walaupun hanya sebentar.


Sekarang, Bisma pun ingin pergi ke suatu tempat yang jauh, dan ada kemungkinan kami tidak akan pernah bisa bertemu kembali. Aku harus mengesampingkan egoku dulu.


Aku mengangguk, mengiyakan permintaannya. Toh, siapa tahu ini untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu, dia tidak akan bisa menggangguku lagi.


Aku mendadak bangkit dan berdiri di hadapan Bisma. Bisma mengikutiku. Kini, kami berdiri sejajar berhadapan.


“Hati-hati di jalan nanti,” ucapku memberinya pesan, dengan penuh semangat.


Terlihat Bisma yang masih sedih, kemudian mendadak tersenyum setelah aku mengucapkan kata-kata semangat untuknya.


Ia tersenyum padaku, dan langsung saja memelukku dengan erat. Cukup lama, ia memelukku dalam hujan yang tidak terlalu deras. Kini, aku dapat merasakan ketulusan permohonan maaf dari Bisma.


Aku percaya pada Bisma, kali ini.


Aku merenggangkan pelukanku dan menatapnya dalam, “semoga, loe mendapatkan wanita yang lebih baik lagi, yang bisa ngubah loe menjadi laki-laki yang lebih baik lagi.”


“Cupppsss….”


Bisma mengecup bibirku dengan lembut. Aku memejamkan mataku. Seandainya Bisma masih bisa tinggal di sini, dan menghibur diriku yang masih merasakan patah hati, aku pasti akan sangat senang. Tapi, rasa benciku saat ini, tidak mengizinkan itu.


Aku membuka mataku. Sudah cukup lama Bisma menciumku. Aku melirik, dan tak sengaja, aku melihat Morgan di seberang sana, yang sedang memperhatikan kami.


Sepertinya, dari tatapannya, terlihat amarah yang menggebu.


‘Dia ngeliat pun, gak jadi masalah harusnya. Dia bukan siapa-siapa gue, kok,’ batinku sembari tetap melanjutkan berfokus pada Bisma.


Tak lama, Bisma menyudahi ini semua. Ia menatap dalam diriku, sembari tersenyum simpul.


“Sekali lagi, maafin gue ya.” ucapnya.


Aku membalas senyumannya, lalu mengangguk kecil. Mungkin, ini adalah terakhir kalinya aku bertemu dengan Bisma. Jadi, aku harus memberikan kesan baik padanya. Apalagi, hubungan kami ini belum ada kata putus. Tapi, aku sudah tidak ingin membahas tentang hubungan ini lagi. Anggap saja, ini sebuah tanda sebagai akhir dari hubungan kami juga.


Bisma terlihat sedang merogoh sakunya. Mungkin, ia ingin memberikan aku sebuah kenangan, yang bisa aku ingat, meskipun ia sudah tidak ada di sisiku lagi.


“Jaga ini ya.” Bisma mengulurkan sesuatu padaku.


Terlihat di hadapanku, sebuah kotak kecil berwarna merah.


Apa itu yang ada di dalamnya?

__ADS_1


Apakah mungkin....


“Apa itu, Bis?” tanyaku, yang tidak mau terlalu percaya diri.


Ia membuka kotak kecil berwarna merah itu.


Terlihat cincin emas kecil, yang mungkin seukuran jari manisku. Aku terdiam, karena kagum melihat pemandangan seperti ini.


Ini adalah kali pertama aku diberikan sebuah cincin oleh seorang pria. Aku jadi agak terharu melihatnya.


“A-apa ini, Bis?” tanyaku yang merasa keheranan.


Kenapa ia tiba-tiba memberiku sebuah cincin? Padahal, kita baru saja menyudahi hubungan ini.


“Pegang aja, Ra. Gue emang cowok brengsek. Gue sadar itu.”


‘Ya, emang bener. Loe itu brengsek,’ batinku menyeleneh.


Tapi, aku hanya menyeleneh di hati saja, tak tega untuk menyetuskan padanya.


“Niat jahat gue, emang udah gak bisa dimaafin. Tapi, gue berharap bisa terus bareng loe, Ra. Gua minta loe jaga ini. Karena siapa, tau kita berjodoh, dan nanti, kalau saatnya tiba gue balik lagi nanti ke sini, gue pasti cari loe, buat ngelamar loe.”


“Deg....”


Dia ingin melamarku?


Ah. Yang benar saja?


Pasti hanyalah omong kosong saja.


Padahal, dia sudah mengetahui, kalau aku sudah tidak punya kehormatan lagi. Dia juga sudah hampir merusak harga diriku. Kenapa dia masih ingin bersama denganku?


Apa yang harus aku lakukan?


“Loe gak perlu jawab sekarang kok, Ra. Gue cuma sedikit berharap aja. Gue udah menyesali semua yang udah terjadi di antara kita. Gue udah sadar, cuma loe yang bisa bikin gue takut buat kehilangan wanita. Dan… gak sepantasnya gue perlakuin wanita seperti ini. Bukan hanya loe aja, tapi itu juga berlaku buat semua cewe yang nantinya bakal gue temuin di sana.”


Ucapannya terdengar sangat tulus. Aku tidak mendengar ada nada yang janggal dari ucapannya. Kedengarannya, ia sangat tulus untuk kali ini.


“Gak perlu sering-sering hubungin gue nanti. Gue gak pengen loe keganggu. Kalaupun loe mau dekat sama cowok lain, gue gak masalah kok, Ra. Tapi yang jelas, tunggu gue balik lagi, ya.” Pintanya.


Aku merasa sangat tersentuh dengan ucapannya kali ini. Aku baik-baik saja sebelum Bisma mengungkapkan kata-kata ini. Tapi kenapa, duniaku seperti berputar dengan terbalik?


Aku sudah mengubur perasaanku terhadap Bisma. Tapi sekarang, aku malah tersentuh dengan perkataan terakhirnya.


Ah.

__ADS_1


Apa itu artinya, dia sedang melamarku? Memberikan cincin, dan memberikan janji padaku? Apa yang harus aku katakan padanya?


“Maaf udah buat loe merasa gak nyaman, selama kita pacaran. Gue cuma berharap, suatu saat kita dipertemukan lagi,” gumamnya, ia mengelus kepalaku dengan lembut.


“Jaga diri baik-baik, ya,” pesannya yang sekali lagi, telah menyentuh hatiku.


Ia tersenyum padaku. Air mataku mulai berjatuhan, membasahi pelupuk mataku. Aku mengangguk pelan padanya. Aku menerima pemberiannya itu. Tidak tahu harus sedih atau senang kali ini. Perpisahan ini, tak seperti yang aku harapkan. Tak bisa kupungkiri, aku memang masih memiliki sedikit perasaan dengan Bisma.


Ah.


Aku memang bodoh.


Hehe.


Ia menyeka air mataku yang berjatuhan, dan tercampur dengan air hujan.


“Sekali lagi, gue pamit, ya. Jaga diri loe ya, Ra,” gumamnya.


Suasana nampak mellow kembali.


Ada rasa tak rela melepas Bisma, karena perkataannya yang tulus dan menyentuh hati.


Tapi, memang sudah seperti ini jalan ceritanya. Aku hanya bisa mengikuti skenario yang sudah dibuat Tuhan untukku.


‘Hati-hati di jalan, Bis....’ Aku bahkan tidak bisa mengucapkan ini untuk terakhir kalinya, saking merasa kehilangan yang mendalam.


Aku tahu, aku masih bisa berbincang dan berhubungan dengan Bisma, meskipun kami sudah dipisahkan oleh jarak.


Tapi, tetap saja. Rasanya akan menjadi beda.


Ia pergi meninggalkanku sendiri di sini.


Aku semakin menangis deras karena kekasihku pergi untuk beberapa waktu yang lama, ke tempat yang sangat jauh dari sini.


Tak sadar, tangisanku menjadi histeris. Aku tak bisa mengendalikan diriku. Aku telah kehilangan orang yang aku sayangi.


Entah apa maunya hati ini. Di satu sisi, aku ingin dia pergi dari hidupku, di sisi lain, aku tidak bisa melihat kenyataan, bahwa ia benar-benar pergi dari sisiku. Bukan mengakhiri hubungan, justru malah memulai hubungan yang lebih rumit dari saat ini.


Ia menggantung diriku. Bodohnya lagi, aku mau.


Ya.


Aku memang bodoh.


Sangat bodoh.

__ADS_1


__ADS_2