Dosen Idiot

Dosen Idiot
Kencan Buta 6


__ADS_3

Ini sudah tidak bisa dibiarkan lagi. Aku sudah terlalu larut, berada di puncak emosiku. Aku harus mengakhiri ini semua. Jangan sampai, Rafa atau yang lainnya berpikiran negatif tentang diriku.


“Iya, saya gila, karena kamu,” ucapnya yang memang benar, sudah semakin aneh.


Aku tidak bisa lagi berkata apapun lagi, pada orang aneh ini. Ingin sekali aku mengunci mulutnya itu rapat-rapat, mengikatnya dengan tambang, kemudian melemparkannya ke kandang berisi 70 ekor buaya.


Aku ingin dia enyah dari kehidupanku!


“Eh, diem gak, diem!” Ancamku dengan suara yang agak meninggi, berusaha untuk mengancam Morgan, agar tidak berbicara aneh lagi.


Rafa terlihat menatapku dengan tatapan yang aneh. Aku kembali menatapnya dengan tatapan yang sama dengan yang ia lontarkan padaku.


“Oh, wow. Santai, Ra. Lagian menjalani kisah asmara, itu hak semua orang, kok,” tambah Rafa yang semakin memperkeruh keadaan.


Aku menatapnya dengan tajam, merasa tidak senang dengan pernyataan dirinya yang sedang membela Morgan. Ia terlihat takut dengan sikapku ini.


“Gila ya, loe ngapain jadi ngedukung Pak Morgan? Dibayar loe sama dia?” tanyaku sinis, tapi ia hanya diam saja.


Suasana hening seketika, membuatku semakin bertambah kesal.


“Ayo, sebentar lagi filmnya mulai,” ucap Morgan, menyadarkanku dengan keadaan yang sebenarnya.


Aku harus cepat-cepat mengakhiri kencan buta ini, karena merasa sudah tidak bisa lagi berlama-lama dengan orang idiot ini.


“Bioskop film romantis yang lagi tayang perdana itu, ya?” tanya Rafa dengan sangat bersemangat.


Kenapa dia bisa tau?


“Kok loe tau sih?” tanyaku bingung, sambil menatapnya dengan tajam.


Rafa mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ternyata, ia mengeluarkan tiket yang ia miliki, sembari tersenyum.


“Gue juga mau nonton tadi. Gue ngajak 2 sepupu gue. Tapi tiba-tiba, mereka di suruh pulang karena mungkin kemaleman kali, yaa? Gue ngambil yang jam 10,” jelasnya.


Aku terkejut. Ternyata, banyak orang yang mengambil waktu untuk menonton film pada jam malam seperti ini? Tujuannya apa?


Ah polos sekali diriku. Tentu saja untuk….


“Opa!” Pekik gadis-gadis itu, yang membuyarkan pemikiranku.


Fokusku berubah pada mereka.


Para gadis itu pun datang menghampiri kami dengan riangnya.


Ah.


Aku tidak tahu namanya! Aku tidak bisa menyebutkan dengan rinci. Tapi yang jelas, aku pernah melihat mereka di kampus.


Sepertinya.


“Ah… Rafa!” Pekik mereka bersamaan.


Mereka berkumpul mengelilingi kami. Aku agak risih sebetulnya.

__ADS_1


“Lho, kok kalian pada di sini, sih?” tanya Rafa yang sepertinya mengenal mereka.


“Iya, kita lagi mau nonton film nih… tapi kehabisan tiket ternyata, banyak yang udah booking dari jauh-jauh hari.”


“Wah, kebetulan! Nih gue punya 2 tiket lagi,” ucap Rafa.


Mereka nampak senang bukan main. Mereka langsung menyambar tiket yang ada di tangan Rafa.


“Wah! Makasih lho, Raf.”


“Iya, akhirnya kita bisa nonton--”


“Greep....” Morgan menarik tanganku secara tiba-tiba, membuatku terkejut.


“Eh, apa nih?”


“Ikut saya.” lirihnya berbisik.


Aku pergi meninggalkan Rafael dan yang lainnya. Aku dipaksa pergi dengan kasar oleh Morgan. Aku terpaksa mengikuti kemauannya, karena tanganku yang masih terasa sakit, karena cengkraman Bisma waktu itu.


Sesampainya di depan eskalator menuju bioskop, aku menghempaskan tanganku yang sudah ditarik secara paksa sejak tadi oleh Morgan.


“Ih sakit! Lepasin!” Bentakku.


Morgan melepaskannya. Aku mulai merasa sakit dan ingin sekali menangis saat ini. Morgan menatapku dalam, tapi aku hanya menunduk karena kesakitan. Tiba-tiba saja, Morgan memelukku dengan erat. Aku sangat tidak suka ia memperlakukan aku seenaknya seperti ini. Apa dia tidak malu dengan mereka yang melihatnya?


“Gak usah peluk gue!” bentakku yang langsung mendorong Morgan dengan sangat kasar.


Ia hampir saja mengunci tubuhku dengan tangannya, yang hampir melingkar di tubuhku. Ia nampak kesal dan langsung menarik tanganku kembali.


“Apaan sih?” tanyaku sinis, tak senang dengan perlakuannya yang kasar itu.


“Kenapa kamu begitu--”


“Kenapa, hah?” Potongku dengan sinis, yang berusaha menatap Morgan dengan kekuatan penuh.


Aku menantangnya kali ini. Aku tak terima dengan setiap perlakuan kasar yang dia lakukan kepadaku.


“Gue gak suka yaa, sama perlakuan kasar loe ini! Loe anggap gue ini apa, hah?” tanyaku sinis.


Morgan menatapku dalam. Suasana menjadi hening dalam sekejap.


“Loe anggap gue ini siapa hah?” tanyaku yang semakin menjadi.


Morgan terlihat hanya diam tak bergeming, sembari menatapku. Aku mendelik, dengan emosi yang semakin memuncak. Air mata bercucuran, ternyata aku tidak sanggup menahan emosiku, sampai meluapkannya dengan air mata.


“Gue... gak seharusnya kenal sama loe, tau gak!” Aku mengakhiri pertikaian ini.


Aku menangis deras, kemudian berlari kecil meninggalkan Morgan yang dengan angkuh bersikap kasar seperti itu.


Dia anggap aku apa?


Dia anggap aku siapa?

__ADS_1


MORGAN


Aku menatapnya yang perlahan menjauh dan hilang dari hadapanku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Hatinya saat ini sedang tidak baik, satu kali kesalahan lagi, mungkin aku sudah tidak bisa lagi bertemu dengannya.


Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.


“Brukk….”


Sesuatu terjatuh dari tas kecilnya. Aku yang penasaran, bergegas untuk mengambilnya, khawatir itu adalah benda penting yang tidak boleh sampai hilang.


Aku melihat isi dari plastik tersebut.


Tak kusangka, isinya dari bungkusan ini adalah sebuah kotak dengan tulisan “Happy Birthday Morgan” di bagian tutupnya.


Ternyata, dia sudah berniat untuk memberikanku sebuah kado. Perlahan, aku membuka kotak itu.


Terlihat sebuah jam tangan, yang mirip sekali dengan jam tanganku, pemberian dari Meygumi yang saat ini aku kenakan. Hanya berbeda warna.


Jam tangan yang Ara berikan ini, berwarna hitam. Warna yang netral, dan aku sangat suka itu.


Aku menjadi dilema.


Harus aku apakan jam tangan ini?


Apa aku kembalikan saja jam tangan ini padanya?


Ah.


Tapi, aku sangat suka dengan pemberiannya ini.


***


Aku sudah tiba di rumah. Aku menghempaskan diriku ke atas ranjang tidurku. Hari ini, seluruhnya terasa sangat melelahkan, membuatku jengkel tak karuhan.


“Bukan main idiotnya si Morgan itu!” Geramku sembari menepuk-nepuk ranjangku.


Aku tak sengaja menyenggol tasku, yang berada di sebelaku. Aku melihatnya tak terkunci, dan menjadi panik bukan main.


“Duh... kok bisa gak kekunci yah?” Aku keheranan dan bertanya-tanya dengan batinku sendiri.


Aku jadi berpikiran yang macam-macam.


“Jangan-jangan....”


Aku merogoh bagian dalam tasku.


Benar saja!


Hadiahku yang aku niatkan untuk kuberikan pada Morgan, sudah tidak ada. Aku bingung bukan kepalang. Aku tidak menduga, akan terjadi hal seperti ini.


“Yah! Kemana yaa?” Aku frustrasi dan memegang kepalaku yang sedikit pusing.


Aku harus bagaimana?

__ADS_1


“Yaudah lah! Mending gue tidur aja. Siapa tau, pas gue bangun nanti, itu semua cuma mimpi,” ucapku asal.


Aku bersiap-siap untuk tidur, dan memulai kembali hari esok yang lebih baik.


__ADS_2