
Aku sangat malu pada Fla.
Kenapa kejadian ini bisa sampai terlihat oleh orang lain? Terlebih lagi, Fla
adalah teman sekaligus adik dari orang yang paling aku benci.
Ah. Kenapa dunia sesempit ini?
Aku berjalan gontai di pinggir
jalan. Tanpa kusadari, hujan mengguyur tubuhku. Seketika pakaianku menjadi
basah. Sepatuku juga tidak mendukung untuk aku berjalan. Aku melepaskan kedua
sepatuku itu.
“Dasar cowok brengsek!” Aku
berteriak kesal sembari membuang sepatu itu ke arah depanku.
Aku berjalan pelan melewati
sepatu yang sudahku buang tadi.
“Sopir gue mana sih?”
Suasana apapun dan siapa pun
orangnya, ingin sekali aku menumpahkan emosiku padanya.
“Haaaaaaaaa!”
Terlalu cepat untukku
kembali. Aku membuat janji dengan sopirku, untuk menjemputku pada pukul sembilan
malam. Tapi, ini baru saja pukul delapan malam.
Nasibku sial sekali.
“Harus nelepon sopir!”
lirihku.
Aku baru tersadar, kalau
tasku tertinggal di kamar Morgan.
Nahas, memang nahas.
Aku tidak bisa menghubungi
siapa pun sekarang.
“Tuhan, ini gak adil
banget. Kenapa harus Ara yang nerima semua ini?” Teriakku dalam derasnya hujan
malam.
Aku menangis dan menutup
wajahku. Aku tidak menyangka, kejadian ini membuat diriku menjadi down.
Sepertinya, masalah ini
sudah mengenai mentalku, saking malunya aku dengan Fla.
Aku tidak tahu, harus
bersikap apa setelah kejadian ini. Aku sudah tidak punya muka lagi untuk
berhadapan dengan Fla.
“Dasar Morgan idiot!” Aku
mendelik, karena tidak percaya dengan apa yang aku pikirkan.
Morgan sama sekali tidak
merasa bersalah di hadapan Fla. Ia seperti sudah biasa saja melakukan ini di
hadapan adiknya. Apa... sebelumnya dia sudah sering melakukan hal bodoh ini di
hadapan Fla?
“Argh....”
Tubuhku terasa sangat lemas,
tak berdaya. Aku sampai tidak bisa merasakan dingin lagi, padahal hujan sudah
mengguyur seluruh tubuhku.
Kepalaku mendadak berat,
tak karuhan. Pandanganku pun menjadi rabun. Apakah nasibku akan berakhir di
sini?
“Brukk....”
Tak ada lagi tenaga yang
tersisa. Aku jatuh di atas aspal yang basah karena hujan, sebagai isyarat
jatuhnya harga diriku di hadapan laki-laki itu. Mungkin, memang ini sudah
digariskan untukku.
Sekilas aku melihat dengan
pandangan yang kabur, ada sosok laki-laki yang berdiri di hadapanku, yang
sedang tergeletak di aspal jalan. Dengan pandangan yang tidak jelas, karena
penerangan yang minim, aku berusaha berjuang untuk melihatnya.
__ADS_1
“S-siapa loe?” tanyaku
lemah.
Kepala dan penglihatanku
terasa berat sekali. Mataku perlahan tertutup, tanpa peduli lagi dengan sosok
misterius yang sedang berdiri di hadapanku sekarang.
***
Sinar matahari menembus
celah gorden, dan menyinari wajahku. Memaksaku, untuk segera bangun dari mimpi
indahku.
Aku tersadar, perlahan
mengumpulkan keberanian untuk bisa membuka mataku.
“Aws....” Rintihku sembari
memegang kepalaku.
Aku berusaha membuka mataku
dan bangkit dari tidur. Saat aku sudah mulai sadar, aku tidak tahu di mana aku
berada.
Aku hanya bisa diam, karena
memang suasana ini sama sekali tidak aku kenal. Sepertinya, ini bukan kamar
tidurku, dan ini juga bukan kamar tidur Morgan. Aku masih meraba suasana di tempat
ini. Aku masih belum mengetahui pasti karena keterbatasan cahaya.
Suasana nampak mencekam,
karena lampu kamar saat itu mati. Tapi satu hal yang semakin aku sadari, ini
bukanlah kamarku.
“Dimana ini?” tanyaku lirih,
sembari memperhatikan keadaan sekitar.
Aku berusaha bangkit dari
ranjang tidurku.
“Bruk....”
Tanganku tak sengaja menabrak
seseorang. Mataku mendelik kaget. Betapa kagetnya aku saat itu. Ada seseorang
di sampingku, sedang tidur bersamaku.
histeris, karena ada sosok laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya.
Ia pun terbangun, mungkin
karena terganggu suara teriakanku.
“Eh, sudah bangun,” gumamnya
seperti tidak terjadi apapun.
Aku semakin histeris dengan
kejadian janggal ini. Bagaimana bisa ini semua terjadi? Apa yang sebenarnya
terjadi, saat aku jatuh pingsan waktu itu?
“Aws....”
Kepalaku terasa sangat sakit,
mungkin efek terbentur dengan aspal malam itu.
Laki-laki itu menyalakan
lampu tidurnya.
Terlihat samar wajah
laki-laki itu. Sepertinya, aku mengenalnya.
“M-Morgan?” pekikku kaget.
Morgan tersenyum padaku.
Senyumnya nampak hangat untuk dipandang. Kalau keadaannya seperti ini, bukankah
terasa seperti sepasang pasutri yang baru saja menikah?
Aku bingung dan takut
dengan kejadian ini. Aku tersadar, dan langsung melihat baju yang kukenakan.
“Hah?” Aku mendelik, karena
melihat baju yang berbeda dari yang kemarin aku kenakan.
Baju ini berbeda dengan
yang aku kenakan pada saat makan malam. Kalau tidak salah, bukankah waktu itu
aku memakai gaun?
Saat ini, aku memakai
kemeja putih, yang ukurannya sangat besar di tubuhku. Mungkinkah ini baju
__ADS_1
Morgan?
“Loe macem-macem ya sama
gue?” tanyaku sinis.
Ia menatapku teriring senyuman,
dengan tatapan yang menurutku sangat menjijikan. Apa yang sebenarnya sedang ia
pikirkan?
“Ngapain loe senyum-senyum gak
jelas? Kayak orang gila aja!” Aku membentaknya dengan kasar.
Aku sudah muak dengan dirinya.
Kenapa ia selalu menganggapku sebagai wanitanya?
Aku ini sudah memiliki
pacar!
Ia tiba-tiba meraih kancing
kemejaku. Tentu saja aku menghalanginya dengan sangat sinis.
“Heh! Loe mau ngapain!”
Bentakku, yang sepertinya sudah tidak bisa berkutik lagi.
Ia nampak berani menyentuhku.
“Bagian tubuh kamu, sudah setengahnya
saya lihat. Kenapa masih malu untuk memperlihatkannya?” gumamnya membuat amarahku
meluap-luap.
Dia tak hanya menjatuhkan
harga diriku sekali, tapi dua kali berturut-turut.
“Udah gue bilang, gue tuh
gak suka sama loe!” Aku berteriak, lalu bangkit dari ranjang itu.
“Hap....”
Tak kusangka, Morgan pun
bangkit dari tidurnya, kemudian menerkamku dan menindihku kembali, membuatku
tidak bisa berkutik sama sekali.
“Apaan sih! Gue gak suka
loe lecehin gini, ya!” Aku mendorong tubuhnya sekuat mungkin, untuk menghindari
sesuatu hal yang aneh terjadi.
Aku tidak mau ia melecehkanku
kembali.
“Lepasin! Atau gue aduin ke
kakak gue!” Aku menggertaknya, berharap ia bisa segera melepaskanku.
Hanya ini cara terakhir,
agar tidak terjadi apapun di antara kami.
“Hey... kenapa kamu masih
bersikap kasar pada orang yang selalu bersikap lembut padamu?” tanya Morgan
yang sepertinya sedang memastikan.
Aku mendelik, seakan mengirimkan
sinyal padanya, karena tak sudi bersikap lembut pada monster seperti dia.
“Sampai kapan pun, gue gak
akan pernah bersikap lembut sama maniak kayak loe!” bentakku.
“Stt....”
Morgan meletakkan jari
telunjuknya ke bibirku.
Seketika jantung ini
berdegup kencang lagi. Aku tak tahu ini di mana dan aku tak tahu apa yang akan
ia perbuat selanjutnya.
“Mari, kita lanjutkan yang
semalam....” Ajaknya seraya tersenyum tipis padaku.
Mataku membelalak, tak
percaya dengan apa yang aku dengar tadi.
“What? Loe gila, hah?
Gue harus ke kampus sekarang--”
“Saya akan ambil cuti untuk
kamu.” Morgan memotong ucapanku.
Ia semakin semena-mena
__ADS_1
denganku. Aku hanya bisa terkekeh mendengarnya.
“Emangnya loe siapa, hah?” Tantangku sinis.