Dosen Idiot

Dosen Idiot
Maniak


__ADS_3

Aku sangat malu pada Fla.


Kenapa kejadian ini bisa sampai terlihat oleh orang lain? Terlebih lagi, Fla


adalah teman sekaligus adik dari orang yang paling aku benci.


Ah. Kenapa dunia sesempit ini?


Aku berjalan gontai di pinggir


jalan. Tanpa kusadari, hujan mengguyur tubuhku. Seketika pakaianku menjadi


basah. Sepatuku juga tidak mendukung untuk aku berjalan. Aku melepaskan kedua


sepatuku itu.


“Dasar cowok brengsek!” Aku


berteriak kesal sembari membuang sepatu itu ke arah depanku.


Aku berjalan pelan melewati


sepatu yang sudahku buang tadi.


“Sopir gue mana sih?”


Suasana apapun dan siapa pun


orangnya, ingin sekali aku menumpahkan emosiku padanya.


“Haaaaaaaaa!”


Terlalu cepat untukku


kembali. Aku membuat janji dengan sopirku, untuk menjemputku pada pukul sembilan


malam. Tapi, ini baru saja pukul delapan malam.


Nasibku sial sekali.


“Harus nelepon sopir!”


lirihku.


Aku baru tersadar, kalau


tasku tertinggal di kamar Morgan.


Nahas, memang nahas.


Aku tidak bisa menghubungi


siapa pun sekarang.


“Tuhan, ini gak adil


banget. Kenapa harus Ara yang nerima semua ini?” Teriakku dalam derasnya hujan


malam.


Aku menangis dan menutup


wajahku. Aku tidak menyangka, kejadian ini membuat diriku menjadi down.


Sepertinya, masalah ini


sudah mengenai mentalku, saking malunya aku dengan Fla.


Aku tidak tahu, harus


bersikap apa setelah kejadian ini. Aku sudah tidak punya muka lagi untuk


berhadapan dengan Fla.


“Dasar Morgan idiot!” Aku


mendelik, karena tidak percaya dengan apa yang aku pikirkan.


Morgan sama sekali tidak


merasa bersalah di hadapan Fla. Ia seperti sudah biasa saja melakukan ini di


hadapan adiknya. Apa... sebelumnya dia sudah sering melakukan hal bodoh ini di


hadapan Fla?


“Argh....”


Tubuhku terasa sangat lemas,


tak berdaya. Aku sampai tidak bisa merasakan dingin lagi, padahal hujan sudah


mengguyur seluruh tubuhku.


Kepalaku mendadak berat,


tak karuhan. Pandanganku pun menjadi rabun. Apakah nasibku akan berakhir di


sini?


“Brukk....”


Tak ada lagi tenaga yang


tersisa. Aku jatuh di atas aspal yang basah karena hujan, sebagai isyarat


jatuhnya harga diriku di hadapan laki-laki itu. Mungkin, memang ini sudah


digariskan untukku.


Sekilas aku melihat dengan


pandangan yang kabur, ada sosok laki-laki yang berdiri di hadapanku, yang


sedang tergeletak di aspal jalan. Dengan pandangan yang tidak jelas, karena


penerangan yang minim, aku berusaha berjuang untuk melihatnya.

__ADS_1


“S-siapa loe?” tanyaku


lemah.


Kepala dan penglihatanku


terasa berat sekali. Mataku perlahan tertutup, tanpa peduli lagi dengan sosok


misterius yang sedang berdiri di hadapanku sekarang.


***


Sinar matahari menembus


celah gorden, dan menyinari wajahku. Memaksaku, untuk segera bangun dari mimpi


indahku.


Aku tersadar, perlahan


mengumpulkan keberanian untuk bisa membuka mataku.


“Aws....” Rintihku sembari


memegang kepalaku.


Aku berusaha membuka mataku


dan bangkit dari tidur. Saat aku sudah mulai sadar, aku tidak tahu di mana aku


berada.


Aku hanya bisa diam, karena


memang suasana ini sama sekali tidak aku kenal. Sepertinya, ini bukan kamar


tidurku, dan ini juga bukan kamar tidur Morgan. Aku masih meraba suasana di tempat


ini. Aku masih belum mengetahui pasti karena keterbatasan cahaya.


Suasana nampak mencekam,


karena lampu kamar saat itu mati. Tapi satu hal yang semakin aku sadari, ini


bukanlah kamarku.


“Dimana ini?” tanyaku lirih,


sembari memperhatikan keadaan sekitar.


Aku berusaha bangkit dari


ranjang tidurku.


“Bruk....”


Tanganku tak sengaja menabrak


seseorang. Mataku mendelik kaget. Betapa kagetnya aku saat itu. Ada seseorang


di sampingku, sedang tidur bersamaku.


histeris, karena ada sosok laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya.


Ia pun terbangun, mungkin


karena terganggu suara teriakanku.


“Eh, sudah bangun,” gumamnya


seperti tidak terjadi apapun.


Aku semakin histeris dengan


kejadian janggal ini. Bagaimana bisa ini semua terjadi? Apa yang sebenarnya


terjadi, saat aku jatuh pingsan waktu itu?


“Aws....”


Kepalaku terasa sangat sakit,


mungkin efek terbentur dengan aspal malam itu.


Laki-laki itu menyalakan


lampu tidurnya.


Terlihat samar wajah


laki-laki itu. Sepertinya, aku mengenalnya.


“M-Morgan?” pekikku kaget.


Morgan tersenyum padaku.


Senyumnya nampak hangat untuk dipandang. Kalau keadaannya seperti ini, bukankah


terasa seperti sepasang pasutri yang baru saja menikah?


Aku bingung dan takut


dengan kejadian ini. Aku tersadar, dan langsung melihat baju yang kukenakan.


“Hah?” Aku mendelik, karena


melihat baju yang berbeda dari yang kemarin aku kenakan.


Baju ini berbeda dengan


yang aku kenakan pada saat makan malam. Kalau tidak salah, bukankah waktu itu


aku memakai gaun?


Saat ini, aku memakai


kemeja putih, yang ukurannya sangat besar di tubuhku. Mungkinkah ini baju

__ADS_1


Morgan?


“Loe macem-macem ya sama


gue?” tanyaku sinis.


Ia menatapku teriring senyuman,


dengan tatapan yang menurutku sangat menjijikan. Apa yang sebenarnya sedang ia


pikirkan?


“Ngapain loe senyum-senyum gak


jelas? Kayak orang gila aja!” Aku membentaknya dengan kasar.


Aku sudah muak dengan dirinya.


Kenapa ia selalu menganggapku sebagai wanitanya?


Aku ini sudah memiliki


pacar!


Ia tiba-tiba meraih kancing


kemejaku. Tentu saja aku menghalanginya dengan sangat sinis.


“Heh! Loe mau ngapain!”


Bentakku, yang sepertinya sudah tidak bisa berkutik lagi.


Ia nampak berani menyentuhku.


“Bagian tubuh kamu, sudah setengahnya


saya lihat. Kenapa masih malu untuk memperlihatkannya?” gumamnya membuat amarahku


meluap-luap.


Dia tak hanya menjatuhkan


harga diriku sekali, tapi dua kali berturut-turut.


“Udah gue bilang, gue tuh


gak suka sama loe!” Aku berteriak, lalu bangkit dari ranjang itu.


“Hap....”


Tak kusangka, Morgan pun


bangkit dari tidurnya, kemudian menerkamku dan menindihku kembali, membuatku


tidak bisa berkutik sama sekali.


“Apaan sih! Gue gak suka


loe lecehin gini, ya!” Aku mendorong tubuhnya sekuat mungkin, untuk menghindari


sesuatu hal yang aneh terjadi.


Aku tidak mau ia melecehkanku


kembali.


“Lepasin! Atau gue aduin ke


kakak gue!” Aku menggertaknya, berharap ia bisa segera melepaskanku.


Hanya ini cara terakhir,


agar tidak terjadi apapun di antara kami.


“Hey... kenapa kamu masih


bersikap kasar pada orang yang selalu bersikap lembut padamu?” tanya Morgan


yang sepertinya sedang memastikan.


Aku mendelik, seakan mengirimkan


sinyal padanya, karena tak sudi bersikap lembut pada monster seperti dia.


“Sampai kapan pun, gue gak


akan pernah bersikap lembut sama maniak kayak loe!” bentakku.


“Stt....”


Morgan meletakkan jari


telunjuknya ke bibirku.


Seketika jantung ini


berdegup kencang lagi. Aku tak tahu ini di mana dan aku tak tahu apa yang akan


ia perbuat selanjutnya.


“Mari, kita lanjutkan yang


semalam....” Ajaknya seraya tersenyum tipis padaku.


Mataku membelalak, tak


percaya dengan apa yang aku dengar tadi.


“What? Loe gila, hah?


Gue harus ke kampus sekarang--”


“Saya akan ambil cuti untuk


kamu.” Morgan memotong ucapanku.


Ia semakin semena-mena

__ADS_1


denganku. Aku hanya bisa terkekeh mendengarnya.


“Emangnya loe siapa, hah?” Tantangku sinis.


__ADS_2