Dosen Idiot

Dosen Idiot
69. Perkara Fitnah Lucknut


__ADS_3

Aku langsung menuju ruang kelas ku. Kebetulan, dosen pertama sudah menyelesaikan jam perkuliahan. Kelas terlihat sangat rusuh sekali dengan mereka yang sedang duduk berkelompok. Aku pun masuk ke dalam ruangan.


"Eh, tuh dia orangnya." Salah seorang teman ku berbisik kepada teman yang lainnya. Aku memperhatikan cara mereka melihat ku. Tatapannya membuat aku sedikit tersinggung. Mereka seperti sedang mengucilkan ku.


"Apa loe liat-liat?" Sinis ku yang langsung melabrak mereka. Mereka seperti tak berani melawan ku, hanya tatapan mereka saja yang membalas tatapan ku yang sinis. Aku langsung menuju tempat duduk ku yang berada di barisan tengah di posisi terdepan. Di belakang ku, sudah ada Fla yang menggeleng kecil sembari mendecap. Namun, aku tak melihat Rafa dan Ray. Aku menghempaskan diri ku di atas kursi.


"Ya ampun, Ra." Lirihnya sambil terus menggelengkan kepalanya dan menghela nafas. Aku menatap Fla tajam.


"Apa loe?!" Sinis ku. Ia menyentil dahi ku.


"Awwwwwwsss.. Sakit tau." Rintih ku sembari menggosok dahi ku yang sakit. Ia tiba-tiba saja menarik ku ke luar dan mengajak ku menuju toilet. Kebetulan sekali toilet sedang sepi saat ini. Aku menatapnya dengan tatapan yang bingung.


"Loe kenapa tadi? Loe bikin ulah lagi?" Tanyanya. Aku hanya diam sembari mengeluarkan handphone ku. Aku sudah tidak ingin menitipkan handphone ke yayasan karena aku kesulitan untuk berbuat apapun jika tanpa handphone.


"Ra?!!" Fla berteriak persis di depan telinga ku. Aku sampai kaget bukan main. Aku memelototinya sinis.


"Apa sii?!!" Bentak ku. Ia mengangkat sebelah alisnya.


"Satu kampus ini tau, kalo loe berbuat mesum tadi!" Ucap Fla. Aku sampai menganga karena kaget. Aku tidak menyangka, berita hoax ini akan sampai kepada seluruh mahasiswa. Siapa yang tega membeberkan masalah ini? Aku harus selidiki, siapa yang berani membuat naik berita hoax ini.


"Loe tau dari mana??" Tanya ku. Fla buru-buru membuka handphonenya dan memberikannya pada ku. Aku melihat foto secarik kertas yang di tempel di papan mading, yang tertera foto aku dan Pria jepang itu barusan. Anehnya, harusnya di foto ini ada pak dicky yang sedang berdiri berhadapan kami. Kenapa ia dengan sengaja memangkas gambarnya? Tega sekali.


"Gila ini orang!! Pantesan aja Morgan kayak gak percaya sama gue gitu. Ternyata, beritanya udah ke sebar bahkan udah sampe ke kuping Morgan. Tau gak, di depan gue ini ada Pak Dicky, dan dia saksi hidup kalo itu cuma salah paham aja!!" Geram ku yang berusaha membuat Fla percaya pada ku.


"Loe yakin, di situ ada Pak Dicky?" Tanyanya seperti sedang meyakinkan kembali dirinya. Nampaknya, ia belum begitu percaya dengan ku. Dia lebih memilih percaya dengan kata orang lain di banding perkataan ku. Ya.. Siapa pun pasti lebih percaya bukti sih di bandingkan ucapan korban yang belum tentu benar adanya.


"Ya ampun, Fla. Gue bisa begitu sama cowok jepang itu tuh ya karena gue nabrak Pak Dicky, Fla! Cowok itu nolongin gue biar gue gak jatoh. Masa iya gua tiba-tiba begitu sama cowok yang tak gue kenal? Depan umum lagi!" Jelas ku yang masih berusaha keras. Ia hanya diam sembari berfikir. Aku sudah kehabisan akal untuk membuatnya yakin.


"Haaaa... Fla.. Loe kan tau, gue udah pacaran sama..."


"Cleeeeekkkk.." Seseorang membuka pintu dengan tiba-tiba membuat ucapan ku terpotong. Kami berusaha untuk tetap diam sembari berpura-pura mencuci tangan di wastafel.


"Pelan-pelan, Ra." Bisik Fla. Aku mengangguk paham. Tak lama kemudian, orang itu pun keluar dari toilet ini. Aku menghela nafas ku.


"Kan loe tau gue pacaran sama Morgan. Gak mungkin gue berbuat macem-macem sama cowok lain, apa lagi yang gak gue kenal." Tegas ku. Ia menghela nafasnya dengan panjang.


"Harus gimana lagi gue ngejelasinnya sih?" Aku sudah hampir putus asa berbicara padanya.


"Lagian, ada-ada aja itu orang. Terus, cepet amat dia nge-print fotonya terus di tempel di mading? Gila itu orang! Gue yakin sih, pelakunya gak sedikit. Lebih dari 2 orang." Cerca Fla. Aku tak habis fikir dengan mereka yang tega membuat berita hoax seperti ini.


"Haaaaah... Udah lah, gue capek. Ke kelas aja yuk. Siapa tau, Dosen Lidya udah ngisi kelas." Ajak ku. Fla mengangguk, kemudian kami bergegas untuk menuju ke kelas.


Aku membuka pintu kelas. Semua mata tertuju pada aku dan juga Fla. Sudah ada Dosen Lidya di sana. dan juga, ada seorang gadis yang asing, yang baru aku lihat sedang berdiri di depan kelas. Gadis yang memiliki tone kulit yang nyaris seperti sawo itu, melihat juga ke arah ku.


"Dari mana kalian?" Tanya Dosen Lidya dengan tatapan tajam. Aku membalas tatapannya dengan tatapan angkuh sembari melipat kedua tangan ku. Ia seperti mengerti dengan maksud ku. Ia terlihat seperti merasa kesal karena aku memegang aib nya bersama dengan Dosen Dicky waktu itu.


"Kalian boleh duduk." Suruh Dosen Lidya dengan terbata-bata sembari menunduk. Aku tersenyum jahat ke arah Dosen itu kemudian aku pun duduk di kursi ku.


"Saya ulangi. Hari ini, kalian kedatangan teman baru."


"Coba, perkenalkan nama kamu." Ujar Dosen Lidya.


"Nama saya Farha Putri. Kalian bisa panggil Farha. Hobi saya itu, membaca, menulis, menggambar. Kalian bisa kontak saya di nomor +6289xxxx . Terima kasih dan salam kenal untuk kalian semua." Nadanya terdengar sangat imut untuk gadis seusia ku. Teman-teman semua berusaha untuk mencatat nomor telepon Farha. Aku tidak habis pikir dengan para cowok di kelas ku. Kenapa mereka bisa dengan mudahnya mendekati wanita yang baru saja mereka kenal.

__ADS_1


"Baik, Farha. Silahkan duduk di belakang Fla." Ucap Dosen Lidya sembari menunjuk ke arah kursi kosong di belakang Fla. Kursi itu memang sudah lama kosong begitu saja karena tidak ada yang mau duduk di barisan tiga terdepan. Entah kenapa dosen tidak ada yang memarahinya. Jadi, kursi itu di biarkan saja kosong seperti itu.


"Baik bu." Farha pun menuju baris ke tiga dan melewati ku.


"Brukkk..." Ia menjatuhkan pulpennya. Aku pun mengambilnya.


"Far.. Pulpen loe jatoh nih." Pekik ku. Ia menoleh ke arah ku. Terlihat ia tersenyum manis pada ku.


"Oh, makasih ya..." Ia terlihat kebingungan menyebut ku. Mungkin seperti itu.


"Ara." Lirih ku.


"Oh.. Makasih ya, Ra." Ucapnya. Aku mengangguk kecil sembari tersenyum kecil padanya. Ia berjalan menuju kursinya itu kemudian ia pun duduk di sana.


"Baik semua. Sudah selesai sesi perkenalannya. Buka modul 3 nya ya." Ucap Dosen itu. Kami semua membuka modul dan memulai pembelajaran kali ini.


*


Jam istirahat pertama pun sudah tiba. Kami semua sedang bersiap untuk menuju ke kantin. Ray dan Rafa menghampiri aku dan Fla. mereka memang duduk di kursi paling belakang dengan alasan tidak mau bertatapan dengan Dosen. Ya.. Namanya juga Laki-laki.


"Pada mau makan siang gak nih?" Tanya Rafa.


"Duluan, Bro." Sapa beberapa teman laki-lakinya.


"Okey, Bro." Jawab Rafa dan Ray bersamaan. Satu per satu teman-teman yang lain sudah mengosongkan ruangan.


"Gue sih mau. Cuma jangan ketauan Morgan dong.. Gue males, di larang mulu makan makanan kantin. Alasannya, ga steril lah, jajan sembarangan lah.." Sambar ku. Mereka bertiga berekspresi seperti sedang mengejek ku. Mereka bertiga berbisik namun tetap memandang ke arah ku. Aku kesal dengan mereka.


"Eh, tampol nih!" Ancam ku sembari mengepalkan tangan ku ke arah mereka. Mereka semua tertawa melihat ekspresi ku.


"Biasa, loe kayak gak tau penganten baru aja sih." Sambar Rafa. Aku semakin geram mendengarnya.


"Permisi." Sapa seseorang. Kami semua mengubah fokus ke arahnya. Terlihat Farha dengan sebuah binder yang sedang ia bawa di tangannya.


"Eh, neng cantik. Ada apa?" Gombal Ray. Rafa mendorong pelan pipi Ray.


"Gausah sok keganjenan jadi cowok." Sahut Rafa. Aku dan Fla tertawa melihat mereka berselisih seperti ini. Memang, mereka sejak dulu menyukai satu wanita yang sama. Tak ku sangka, akan berlajut sampai saat ini juga. Aku khawatir, sifat buruk mereka ini akan terbawa sampai mereka menikah nanti.


"Yeeeeehhh Sirik aja loe!" Sinis Ray.


"Biarin amat sih, ya elah." Sahut Rafa yang tak mau kalah dengannya.


"Kenapa Far?" Tanya Fla. Ia tersenyum melihat ekspresi Ray dan Rafa yang memalukan itu.


"Eh maafin Ray sama Rafa ya, mereka emang gitu emang." Celetuk ku. Rafa menyentil kening ku pelan.


"Adddawww.." Aku menggosok dahi ku sembari meringis.


"Hihi.. Gue cuma mau kalian nemenin gue ya.. Soalnya, gue belum terlalu kenal sama mereka. dan gue belum terlalu paham sama lokasi kampus ini. Tadi, Ara nolongin gue pas pulpen gue jatuh. Gue ngerasa, ara orang yang baik. Makanya, tolong temenin gue ya." Ucapnya halus walaupun memakai kata gue. Aku tersenyum padanya. Tidak ada salahnya untuk menerima Farha masuk ke dalam lingkaran pertemanan ku. Kelihatannya, dia juga anak yang baik.


"Tentu dong! Masa, kita gak mau nemenin loe. Pasti dong.." Sambar Ray, yang ternyata masih bersikeras untuk mendekati Farha. Rafa juga tak mau kalah dengan Ray yang menyolong start lebih dulu.


"Gue juga mau lah. Ara sama Fla juga pasti mau." Rafa tak mau kalah. Farha pun tertawa kecil.

__ADS_1


"Loe boleh gabung kok Far, As long as you want. Loe juga boleh pergi, kalau loe ngerasa udah gak cocok temenan sama kita." Ucap ku. Ia tersenyum lalu mengangguk.


"Iya bener, Far. Jangan terlalu maksa. Kita juga ga maksa loe untuk gabung kan? Jadi, kalo loe udah mulai merasa gak nyaman, loe bisa omongin baik-baik dan kita masih bisa saling sapa satu sama lain kok." Ucap Fla membenarkan ucapan ku.


"Makasih ya udah mau nerima Farha di sini." Ucapnya. Kami semua tersenyum ke arahnya.


"Gak usah sungkan, Far." Ucap Ray.


"Sontoloyo kau." Kesal Rafa. Semua orang mentertawakan Rafa, tak terkecuali aku.


"Tambahin ke grup dong." Suruh Fla. Aku menambahkan Farha ke grup.


"Oh ya, gue ga nyantet nomornya tadi." Ucap ku. Ray berinisiatif menambahkan Farha ke dalam grup chat yang sudah kami buat sebelumnya.


"Anjir... Sadeeeeessss.." Ledek ku. Kami semua pun tertawa.


"Nyolong start duluan dia." Ledek Fla. Aku dan Farha tertawa mendengar ledekan Fla. Aku melihat kembali ke dalam grup untuk menyimpan nomor Farha. Aku menemukan keanehan di sini.


"Lho.. Kok nama grupnya berubah?" Tanya ku.


"Jelas lah, kan udah nambah member." Jawab Ray. Aku mengangguk kecil.


"Oh.. bener juga. Tapi kok namanya F2AR2?" Tanya ku lagi. Aku diam sejenak untuk berpikir. Satu jawaban melintas di kepala ku.


"Singkatan nama kita berlima." Cetus kami berbarengan. Kami pun tertawa karena mendengar kekompakan ini.


"Ah, udah yuk.. Nanti istirahatnya abis." Ajak Fla. Kami semua pun akhirnya menuju kantin kampus untuk sekedar makan siang. Kami mencari tempat untuk kami duduk.


"Di situ aja!" Tunjuk ku ke arah kursi kosong. Tiba-tiba, gerombolan Jessline menyerobot tempat yang ingin aku tempati bersama dengan teman-teman ku. Mereka langsung saja duduk dengan sengaja mendahului kami. Aku menahan kesal ku karenanya.


"Upsss.. Sorry ya, Kita duluan yang duduk di sini." Ucap Callista yang lebih akrab di panggil Aca. Dia terlihat sangat sombong hari ini. Dia mungkin sengaja ingin membuat gara-gara dengan ku karena urusan kita waktu itu belum selesai? Saat aku menolong Fla dari mereka yang sedang melabraknya. Karena aku sudah mengetahui tentang hubungan Jess dengan kakak ku, Jess nampak lebih diam dari sebelumnya. Ia malah hampir tidak berani menatap ku dengan durasi yang lama.


"Eh jangan ngadi-ngadi deh ya loe pada. Jelas-jelas Ara duluan yang liat!" Bantah Ray. Aca dan dua teman lainnya, terkecuali Jess tersenyum jahat ke arah kami semua.


"Ara? Yang katanya berbuat mesum di kampus itu?" Ledek Aca. Aku mengepal tangan kanan ku sembari menahan amarah ku.


"Gak usah sok paling bener, kalo loe sendiri gak ada di tempat kejadian! Ara cuma di fitnah aja!!" Bela Rafa. Mereka bertiga tertawa jahat mendengar perkataan Rafa. Aku tidak tahu akan bisa atau tidak menahan rasa kesal ini. Aku tidak mengerti dengan jalan pikiran mereka yang terus menerus mem-bully orang yang lemah.


"Ara? Mesum?" Tanya Farha yang masih terlihat bingung. Aku paham, ia adalah anak baru yang tidak mengetahui apapun. Aku hanya diam dan tidak menoleh ke arah Farha.


"Iya! Temen loe, yang satu ini tuh baru aja berbuat mesum di kampus ini! Coba aja loe lihat di berita terkini yang ada di papan mading hari ini." Sahut Aca. Aku rasa, aku sudah tidak bisa menahan amarah ku lagi.


"Loe boleh benci gue, tapi jangan loe hasut temen-temen gue buat supaya jadi benci juga!" Lirih ku sembari menahan kesal. Mereka bertiga hanya menyeleneh ketika mendengar ucapan ku.


"Males ngomong sama pel*cur murahan kayak gitu."


"Baaaakkkkkk...." Aku refleks menghajar wajah Aca. Aku tidak menyangka akan kelepasan seperti ini.


"Brukkkkkk...."


"Aaaaawwww..." Aca pun jatuh dan merintih kesakitan karena aku tidak sengaja memukulnya. Aku kesal karena ia menyebut ku sebagai 'pel*cur murahan'. Aku sudah benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Aca!!"

__ADS_1


@sarjiputwinataaa


__ADS_2