Dosen Idiot

Dosen Idiot
105. Teman dari Amerika (SEASON 2 EPS. 23)


__ADS_3

"Siapa teman Kamu yang dari Amerika?" Tanya Kakak tiba-tiba. Aku mengernyitkan dahi ku padanya.


"Kepo." Ketusku singkat. Terlihat Kakak yang sedang menahan amarahnya. Aku hanya pura-pura tak melihatnya. Aku memperhatikan Ilham kembali, sepertinya memang tidak ada ekspresi apapun darinya. Aku jadi meragukan, apakah dia benar-benar menyukaiku, atau hanya sebatas perasaan kagum saja?


"Drrrrtttt.." Handphoneku bergetar. Dengan segera, aku melihat notifikasi yang masuk.


Terlihat pesan singkat dari Bisma. Kelihatannya, Bisma sudah sampai di depan rumahku. Dengan segera, aku memasukkan kembali handphoneku ke dalam saku tasku.


"Ya udah ya, aku pamit dulu! Kayaknya, temen aku juga udah sampai." Pamitku. Tanpa menunggu persetujuan mereka, aku langsung pergi untuk bertemu dengan Bisma.


Terlihat Bisma yang sedang menaiki motor merah yang tak asing bagiku. Aku terdiam sesaat untuk memperhatikan penampilan Bisma saat ini. Penampilannya masih sama seperti dulu. Jaket denim dan juga celana jeans yang ia kenakan, mengingatkanku akan masa lalu yang kami lewati. Tapi gaya rambutnya sekarang sudah sedikit berbeda dari sebelumnya. Apa dia tidak bisa merawat diri di sana? Wajar saja sih, dia tidak punya siapa-siapa di sana.


Aku menghampirinya dan berdiri di hadapannya. Aku tak tahu harus berkata apa? Aku hanya diam sembari pencuri-curi pandang padanya. Bisma yang menyadariku datang, langsung saja melepaskan headset yang ia pakai.


"Hai." Sapanya. Aku tersenyum tipis ke arahnya.


"Hai." Ucapku menjawab sapaan dari Bisma. Aku sengaja tidak berpenampilan mencolok saat ini, karena aku tidak mau sampai Bisma kepincut lagi denganku.


"Apa kabar, Ra?" Tanyanya. Sepertinya, dia juga terlihat sangat kaku saat berhadapan denganku lagi. Aku spontan memegang cincin yang diberikan oleh Bisma, sembari membuang pandanganku. Aku malu menatap Bisma. Aku sudah menemukan cincin yang Bisma berikan. Ternyata, aku menaruhnya di laci dekat lemari baju. Paling tidak, aku tidak membuatnya sakit dan bertanya-tanya di mana keberadaan cincin yang sudah ia berikan.


"Gue baik kok, Bis. Gimana sama loe?" Tanyaku sembari melontarkan senyum ke arahnya.


"Ya.. Gue masih gini-gini aja, Ra. Gak ada perubahan." Nadanya terdengar seperti sedang merendah. Aku mengernyitkan dahiku. Pasti ada sesuatu yang terjadi padanya.


"Loe kenapa? Kok kayak nggak biasanya sih?" Tanyaku.


"Kita ngobrolnya di tempat lain aja, gimana?" Tanya Bisma. Aku mengangguk setuju.


"Yaudah, ayo naik." Ucap Bisma sembari menyodorkan tangannya ke arahku. Aku meraihnya dan segera menaiki motornya itu. Aku dan Bisma meninggalkan rumah. Terlihat samar, Ilham yang sedang berdiri di depan pintu rumah. Tatapannya.. Aku tidak bisa mengartikan tatapannya itu. Dia hanya diam tanpa memberikan ekspresi apapun saat melihat ke arahku.


Sepanjang jalan menuju tempat tujuan, aku hanya memikirkan Ilham. Kenapa Ilham jadi berubah sedrastis itu? Sepertinya, dia tidak ingin mengungkapkan perasaannya itu padaku. Saat ini, aku sudah sampai di tempat tujuan. Bisma mengajakku ke cafe tempat aku bertemu dengannya waktu itu. Apa dia sengaja, membuatku ingat dengan dosa yang sudah dia lakukan padaku?


Bisma menarikkan kursi untukku. Ia mempersilahkan aku duduk. Aku lalu menuruti perintahnya. Kami berdua saat ini saling berhadapan. Bisma melihat menu makanan, kemudian memanggil pelayan. Pelayan itu pun datang menghampiri kami, dengan membawa sebuah catatan.


"Mau pesan apa, Kak?" Tanya pelayan itu. Bisma menatapnya dengan dingin sembari menutup buku menu.


"Saya pesan best seller di sini ya." Ucap Bisma. Aku tahu kafe ini mempunyai banyak sekali varian best seller. Perutku tidak akan cukup untuk menampung makanan sebanyak itu.


"Siapa yang mau ngabisin makanan sebanyak itu?" Tanyaku sinis padanya.


"Nanti temen gue bakalan dateng. Jadi gue sengaja, pesan makanan yang banyak biar dia juga bisa makan." Jelasnya. Aku hanya mengangguk. Aku kira, dia akan menyuruhku makan semua ini. Atau malah, dia yang menghabiskan semuanya? Wah benar-benar tidak pandai mengurus diri.


"Eh gimana kuliah loe, lancar nggak?" Tanyaku. Bisma melontarkan senyuman khasnya ke arahku.


"Yah, belajar program ternyata nggak semudah yang gue bayangin. Apalagi sekarang, kita sepantar karena gue ngulang lagi. Jadi makin kerasa banget lamanya hahaha." Jelasnya. Suasana kini sudah berangsur seperti biasa, tidak ada rasa kaku lagi seperti saat pertama melihat Bisma tadi.


"Loe gimana kuliahnya? Kemarin kan ujian kenaikan semester, apa loe bisa ngerjain soal yang dikasih dosen?" Tanya Bisma terdengar seperti sedang meremehkan. Aku menyedekapkan kedua tanganku dan memasang tampang datar ke arahnya.


"Loe ngeremehin banget, gini-gini gue siswa terbaik tau." Ucapku yang memamerkan prestasiku. Bisma tertawa setelah mendengarnya.

__ADS_1


"Iya siswa terbaik.."


"Pada masanya." Sambungnya membuat aku kesal. Kenapa dia suka sekali menggodaku? Aku mengerucutkan bibirku setelah mendengar leluconnya.


"Gimana soal.." Gumamnya menggantung. Aku menatapnya dengan penuh rasa heran. Apa yang ingin ia tanyakan? Kenapa ia sangat ragu untuk menanyakannya?


"Hubungan loe sama dosen itu?" Ia menyambungkan pertanyaannya. Lagi-lagi ia menanyakan sesuatu hal yang menurutku, tidak harus dibahas. Itu sudah tidak penting lagi bagiku. Tatapannya mengatakan, seolah-olah ia ingin tahu tentangku.


"Gue udah putus sama Morgan." Ucapku dengan nada sendu. Ia terlihat tidak percaya saat aku mengatakannya.


"Gila, kok bisa loe putus sama dia? Gimana ceritanya?" Tanyanya. Nadanya Terdengar sangat antusias. Entah karena prihatin padaku, atau karena ia terlalu merasa senang karena sudah mendengarnya? Aku khawatir kalau Bisma masih mengharapkanku. Padahal aku tidak mau mengulang cerita cinta yang sama dengan Bisma. Dia sudah cukup membuat kesalahan yang menurutku fatal. Tapi kita tidak akan pernah tahu ke depannya seperti apa. Aku tidak tahu pada hatiku, harus memilih siapa? Sementara.. Aku tidak memiliki pilihan.


"Intinya, Morgan cuma salah paham. Gue nggak mau kalau harus ngebahas ini lagi, Bis. Gue lagi berusaha buat ngubur perasaan gue sama dia. Gue nggak mau kalau gue ceritain semua kebenarannya sama loe, itu malah bikin hati gue tambah sakit karena khawatir, nanti gue gak bisa nerimanya." Ucapku dengan nada malas. Sebenarnya, aku tidak mau membahas Morgan lagi. Tapi semua orang sudah mengetahui hubunganku dengan Morgan. Wajar saja, jika ada yang menanyakan keberadaan Morgan. Cepat atau lambat, Mereka pun akan segera tahu kalau hubunganku dengan Morgan sudah berakhir. Aku tidak mungkin bisa lagi untuk menutupinya.


"Oh gitu ya, Ra. Oke deh, gue nggak akan ungkit masalah Morgan lagi." Ucapnya. Aku tidak tahu, apakah ini adalah kemenangan baginya atau memang murni tidak ingin mengungkit masalah Morgan lagi karena benar-benar peduli dengan perasaanku?


Semua makanan sudah tersedia di atas meja. Bisma mempersilahkan aku untuk makan terlebih dahulu, makanan yang aku sukai. Aku tentu tidak akan menolaknya.


"Udah lama ya, kita nggak makan di sini?" Tanyanya. Aku mengangkat sebelah alisku.


"Udah deh, gak usah diingat lagi dosa-dosa yang udah loe lakuin ke gue." Ucapku setengah meledaknya. Ia hanya tersenyum mendengar leluconku.


"Gue sekarang udah tobat kok! Tenang aja, gue nggak bakalan pakai cara-cara kotor kayak gitu lagi buat menangin hati lu." Ucapnya dengan nada yang terlalu percaya diri. Aku hanya mentertawakan renyah ucapan Bisma ini.


"Cie.. Awas ya, sekali lagi loe pakai cara-cara kotor kayak gitu, gue nggak bakalan mau ketemu lagi sama loe, gue nggak bakalan mau kenal lagi sama loe, gue juga nggak bakalan mau ngeliat muka loe lagi. Pokoknya kita putus." Ucapku. Aku masih dengan lelucon yang sama, semakin lama berbicara dengannya, semakin terasa bahwa ini hanyalah perasaan terhadap teman atau sahabat saja. Aku tidak merasakan perasaan yang lebih dari ini. Ia hanya tertawa, kemudian melihat ke arah tangan kiriku. Aku yang menyadarinya dengan segera melihat kearah tanganku. Apa yang salah dengan tanganku? Apa karena, cincin yang kupakai? Aku langsung menutupnya dengan tangan sebelah kanan.


"Sebenarnya, cincinnya nggak pernah gue pake kok. Waktu itu, gue masih sama Morgan. Dan gue nggak mau Morgan sampai salah paham sama gue, cuma gara-gara cincin yang loe kasih." Ucapku berterus-terang. Bisma terdiam sesaat, kemudian ia mendadak menjadi ceria.


"Oh gitu. Ya ampun, Ra. Gue cuma nanya kok! Nggak usah jadi baper gitu kali? Santai." Ucapnya kembali seperti nada sebelum kami membahas cincin ini. Sepertinya, ada yang aneh dari Bisma. Apa dia sengaja menyembunyikan perasaannya, agar bisa terus bersama denganku saat ini? Kenapa sekarang jadi aku yang seolah-olah flashback dengan Bisma? Pandai sekali ia bermain kata.


"Ya ampun.. Gue juga biasa aja tuh! Emangnya gue kenapa?" Ucapku menyamai nada Bisma. Tiba-tiba saja, Bisma buru-buru mengambil handphone dari sakunya. Ia menatap layar handphonenya dengan sangat serius, membuatku menjadi penasaran.


"Ra, kayaknya gue harus pergi deh sekarang. Temen gue nggak bisa dateng, terus dia minta tolong ke gue buat bawain baju ganti, buat temennya yang kecelakaan." Ucap Bisma. Nadanya seperti sedang serius. Kalau begitu, tidak apa-apa. Aku juga tidak memaksa untuk dia tetap berada di sini.


"Ya udah nggak papa, Bis. Gue ngerti kok. Temen loe lagi kecelakaan dan memang seharusnya loe tolongin." Ucapku. Pandangannya terlihat seperti tidak rela.


"Ayo, gue antar loe pulang." Ucap Bisma. Aku tiba-tiba saja teringat dengan Pak Dicky. Aku pikir, ini kesempatanku untuk menjenguk Pak Dicky.


"Gak usah, Bis. Gue masih mau makan. Gue juga mau jenguk salah satu dosen kampus. Nanti gue minta jemput sama Kakak gue kok! Loe tenang aja, mending sekarang loe jalan." Ucapku. Ia terlihat sedang berpikir. Dia memikirkan apa sebetulnya?


"Lho kok malah diem? Ayo jalan!" Ucapku memberi perintah Bisma terlihat kaget. Ia mengeluarkan dompetnya kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Ia menyodorkannya ke arahku.


"Ya udah. Nih pegang, buat bayar makanan ini. Gue buru-buru. Loe simpan dulu aja ya kartunya. Bye." Ucapnya terdengar tergesa-gesa. Ia pergi meninggalkanku setelah memberikanku sebuah kartu, yang nantinya digunakan untuk membayar semua makanan yang sudah kami pesan. Yah.. Paling tidak, dia tidak lari dari tanggung jawabnya membayar semua makanan ini.


"Aku harus telepon Kakak nih buat jemput!" Lirihku, yang segera mengambil handphone dan menelponnya.


"Tuuuuttt.."


Aku menunggunya beberapa saat. Namun, tidak ada jawaban darinya. Aku cukup kesal dengan Kakakku itu! Kenapa di saat-saat genting, dia tidak bisa dihubungi sama sekali?

__ADS_1


"Aduh kebiasaan deh!" Ucapku yang mulai geram dengan perlakuan Kakak. Tidak hanya kali ini dia berbuat seperti ini. Aku mencobanya kembali, berharap Kakak mengangkatnya kali ini.


"Tuuuuttt.."


"Tuuuuttt.."


"Angkat dong! Masa aku harus naik ojek sih?" Gumamku penuh dengan harapan.


"Halo, Ra." Kakak menjawab telepon dariku. Entah kenapa, aku merasa senang. Bodohnya aku.


"Kak, jemput aku bisa nggak? Aku ada di kafe dekat rumah." Tanyaku. Terdengar suara berisik, sepertinya Kakak sedang tidak ada di rumah sekarang.


"Ha.halo, Ra? Suaranya putus-putus." Ucapnya. Benar saja, ternyata Kakak memang sedang berada di jalan.


"Halo, Kak. Kakak di mana sekarang?"


"Tuuuuttt.. Tuuuuttt.."


Ia memutuskan telepon kami. Aku mendadak menjadi geram dengannya.


"Duh.. Terus aku pulang sama siapa dong?" Ucapku bete, dengan nada kesal. Seseorang sedang berdiri di hadapanku sekarang.


"Ara? Ternyata kamu makan di sini?" Tanya orang itu. Orang itu adalah Ilham. Kenapa dia bisa sampai ke sini? Aku mengaduh dalam hati, kenapa aku bisa bertemu lagi dengan orang ini? Susah payah aku menghindarinya, tapi sekarang tiba-tiba ada di hadapanku kembali. Apa dia membuntutiku sejak tadi? Apalagi, dia tadi melihat aku pergi bersama Bisma. Tindakannya kali ini, benar-benar ketahuan sekali, bukan?


Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, seperti sedang mencari seseorang. Kemudian, ia kembali menoleh ke arahku. Sorot matanya, seperti orang yang sedang kebingungan.


"Saya nggak lihat kamu lagi sama teman? Mana teman kamu?" Pertanyaannya adalah jenis pertanyaan menjebak. Aku sudah beberapa kali kena jebakan pertanyaan. Jadi, harus ku jawab apa?


'Rese banget sih nih cowok!' Batin ku menatap kesal ke arahnya. Aku jadi muncul sebuah ide untuk mengerjainya. Aku melihat ke arahnya, kemudian tersenyum hangat padanya.


"Kak Ilham.. Mau nemenin aku makan nggak?" Tanyaku dengan nada terimut yang kumiliki. Ia langsung membuang pandangannya.


"Baik, jika itu keinginan kamu.." Ucap Ilham terdengar seperti malu-malu. Wajahnya terlihat memerah, walaupun hanya samar-samar.


Ia kini duduk di hadapanku. Aku kembali melanjutkan menyantap makanan. Ilham juga menurut padaku dan memakan makanan yang tersedia di meja. Suasana nampak tenang. Ilham tidak berani menatap ke arahku. Dengan begitu, aku jadi tidak repot untuk mengalihkan suasana yang kaku.


"Ra, kenapa kamu ngajak saya makan?" Tanya Ilham tiba-tiba. Aku menaruh sendok yang tadi kupakai di atas piringku.


"Gak apa-apa. Habisnya, aku nggak ada temen ngobrol." Jawabku asal. Padahal tujuanku mengajaknya makan kali ini, agar Ilham lah yang nantinya membayar semua makanan ini. Jadi, aku tidak perlu memakai uang Bisma.


'Maaf ya Kak Ilham. Kamu aku kerjain. Habisnya bikin orang ilfeel aja sih.'


Informasi mengenai akun ini.


mohon maaf kepada readers, yang sudah membaca novelku ini, aku pindah ke akun yang namanya "EsKobok". Semua cerita, alur, tokoh, aku rombak dan aku kemas jadi lebih menarik lagi. silakan di cek langsung ya, judul novelnya "Terjerat Cinta Dosen Idiot"


terima kasih. ❤️


__ADS_1


__ADS_2