
Terlihat dia yang sedang menguping pembicaraan kami. Ia menatap kami dengan tatapan penuh rasa bersalah. Kemudian ia menundukkan kepalanya.
Aku tidak ingin membuat masalah dengan orang lain, yang tidak mengetahui apapun. Yang aku permasalahkan hanya dengan akarnya saja.
“Ya, kamu benar,” jawabnya dengan angkuh.
Aku menghempaskan lenganku yang sedari tadi dipegang olehnya. Aku sama sekali tidak sudi dengan perlakuannya itu. Yang boleh memegang tanganku, hanyalah Ara. Tak ada siapapun lagi.
“Aws...,” lirihnya, “kamu kasar banget sih!” Teriaknya.
Aku masih bersikap dingin padanya.
Salahmu sendiri, karena sudah membuatku kasar seperti ini.
Aku memasukkan kedua tanganku ke saku celanaku, tak peduli dengan respon miring darinya.
Tiba-tiba, aku teringat dengan satu hal.
Aku mendelik ke arahnya.
“Jangan-jangan, segala aktivitas saya di hotel ini, kamu tahu?” tanyaku dengan sedikit khawatir.
Ia membuang wajahnya itu.
Ada perasaan sedikit kesal karena pertanyaanku tidak digubris sama sekali olehnya.
Wanita kurang ajar. Lihat saja nanti.
Aku meninggalkannya pergi menuju mobil. Terdengar pekikan Meygumi, yang semakin lama, semakin lirih. Namun aku tidak mempedulikannya.
Sampai di basement, tak terlihat mobilku sama sekali. Padahal, aku sudah menyuruh secure parking untuk mengurusnya.
‘Sial, aku kehilangan mobil ku.’
“Drtt....”
Handphone-ku tiba-tiba saja bergetar.
Aku melihat di layar, ada pesan masuk dari nomor yang tidak aku kenal.
Rasa penasaranku bergejolak, membuatku terpaksa harus membuka pesan itu.
“Mobil kamu sudah aku taruh di rumahmu. Gimana kalau bareng aku?”
Seketika, aku naik pitam, tidak karuan lagi. Aku tidak mengerti dengan semua yang terjadi. Kenapa dia selalu mengikuti kemana pun aku pergi?
“Argh!”
“Brak....”
Aku melempar handphone-ku ke arah tembok basement, saking kesalnya. Aku sangat kesal dengan perbuatannya yang seenaknya saja. Aku tidak bisa lepas dari bayang-bayangnya.
Mengenaskan.
Apakah ini karma untukku?
Entah.
Ini bukan karma, tapi nasib.
Aku sudah kehilangan handphone-ku.
Biar saja. Biar dia tidak bisa menghubungiku lagi.
Wanita itu tiba-tiba saja datang di hadapanku. Dengan sangat terpaksa, aku pulang bersama dengan dia, karena hari masih sangat dini, dan aku tidak bisa menghubungi siapa pun sekarang.
“Nih.” Ia menyodorkan kunci mobil miliknya.
__ADS_1
Aku terdiam sejenak, sembari memperhatikannya.
‘Apa-apaan dia.’ batinku kesal.
Aku tidak menggubris pemberiannya. Ia tiba-tiba saja menarik tanganku dan meletakkan kunci itu di tanganku.
“Masa harus wanita yang menyetir?” gumamnya.
Aku memandangnya dengan penuh kebencian, lalu mengambil kunci dan segera menaiki mobilnya.
Aku tidak punya pilihan lain. Kenapa aku bisa ceroboh, dengan memberikan kunci mobilku kepada sembarangan orang?
Kalau aku ingat tentang hotel ini, aku tidak akan pernah datang ke sini.
Kalau bukan karena gadis bodoh itu.
Ah. Sudahlah.
Kami pun pergi menuju rumahku. Aku hampir melupakan Dicky dan pria brengsek itu. Aku tidak bisa menghubungi Dicky karena aku kehilangan handphone-ku saat aku sedang marah tadi. Tapi aku harus mengabarinya.
Aku menoleh ke arahnya, yang ternyata juga sedang melihat ke arahku. Kenapa ia memperhatikan aku dengan tatapan demikian?
Aku jadi merasa risih.
“Huft....”
Ya sudah, sekalian saja.
“Boleh pinjam handphone?” tanyaku yang ragu, apakah ia bersedia untuk meminjamkanku handphone miliknya, atau tidak.
“Handphone? Buat apa?” Ia mengerutkan dahinya, sepertinya curiga.
Aku sudah menduga, semua gerak-gerikku akan dicurigai olehnya. Siapa yang tahan dengan wanita seperti ini?
Dibandingkan dia, aku lebih memilih Ara.
“Kalau untuk nelepon cewek itu--”
Aku tidak ingin dia sampai repot-repot menyingkirkan Ara dalam hidupku. Biar bagaimana pun juga, Ara tidak salah apa-apa.
“Awas kalau macem-macem!” Ancamnya memberiku peringatan.
Aku tak menghiraukannya. Ia menyodorkanku handphone yang ia miliki, aku pun mengambilnya dan mengetik nomor telepon Dicky.
“Halo, Dicky.”
“.........”
“Ini saya, Morgan,” jawabku.
Aku membuka keras suaranya, lalu aku melemparkan kembali benda itu padanya. Ia seperti kelabakan saat menerima lemparanku.
Aku tidak peduli.
Aku harus fokus menyetir, karena hari masih gelap gulita.
“Loe di mana?” tanya Dicky, membuatku menoleh ke arah wanita ini.
“Saya ada urusan. Btw, thanks ya. Saya hutang budi sama kamu.”
“Tapi cowo ini--”
“Urus saja.” Aku memotong ucapannya.
“Tapi, Gan--”
“Tut... tut....”
__ADS_1
Aku menyudahi pembicaraanku dengan Dicky. Tak sengaja, aku melihat wallpaper handphone milik Meygumi. Semuanya masih menggunakan fotoku.
Aku tidak ingin dia masih memaksakan, rasa yang sudah lama hilang. Aku tidak ingin dianggap sebagai pria brengsek.
Aku hanya mencintai Ara saja.
Aku tidak ingin membaginya.
Tanpa sengaja, aku terjebak dalam lingkaran yang dapat membahayakan diriku, dan juga Ara.
***
ARASHA
‘Apa-apaan dia? Gue gak suka sama dia. Tapi kenapa pas gue ngeliat dia berdua sama wanita itu, hati gue kok kayak retak gini,’ batinku yang terbayang tentang kejadian di lobby hotel tadi.
Aku mendadak jadi kesal, karena terus terbayang dengan hal yang tidak seharusnya aku pikirkan.
Buang-buang energiku saja.
“Di depan belok mana, Non?” tanya sopir taksi.
Aku terpaksa harus menaiki taksi, karena kakak pasti masih tertidur pulas.
Kalau bukan karena Morgan, aku tidak akan tertimpa masalah seperti ini. Ditambah lagi kehormatanku yang lagi-lagi ia rebut.
Sudah jatuh, tertimpa tangga.
Diriku ini sudah kotor. Apakah wanita sepertiku masih layak mendapatkan cinta yang tulus dari laki-laki?
“Non?” pekiknya, membuat aku tersadar dari lamunanku.
“Oh, iya pak. Di depan ambil kanan, gak lama lagi sampe kok, Pak.”
“Baik, Non.”
Taksi melaju dengan sangat pelan, sampai-sampai aku mengantuk lagi. Aku harus menahan rasa kantukku, karena tak lama lagi, aku akan sampai di rumahku.
Aku pun tiba di rumah. Membayar ongkos taksi, dan segera masuk ke dalam rumahku.
Aku berhanti di depan pintu rumah. Aku mengambil kunci cadangan yang aku bawa sebelumnya. Aku tahu, pasti sewaktu-waktu, akan ada kejadian yang membuatku terlambat untuk sampai ke rumah. Aku diam-diam meminta kunci pada bibi, setiap ingin pergi.
“Ckrekk....”
Ternyata, pintu rumahku belum terkunci, membuatku terkejut setengah mati.
Kenapa kakak tidak menguncinya?
Apa kakak lupa?
Atau jangan-jangan, ada maling yang menyusup ke rumah ini?
“Hah?”
Aku langsung memeriksa keadaan kakak. Apakah yang terjadi padanya sampai ia lupa mengunci pintu rumah?
Aku berjalan pelan, sangat pelan, untuk menuju kamar kakak.
Terlihat sedikit, ternyata pintu kamarnya pun tidak dikunci dan sedikit terbuka .
Aku menengok ke dalam sedikit.
“Ahh....”
Terdengar suara jeritan wanita dari dalam kamar kakak. Aku kaget dan langsung penasaran apa yang sedang kakak perbuat.
Desahannya semakin keras. Aku semakin penasaran. Aku langsung menyiapkan kameraku, untuk mendokumentasikan kejadian ini.
__ADS_1
Paling tidak, ada senjata untuk membantah kakak, sewaktu-waktu kakak mengekangku kembali.
“Cepetan, dong,”