Dosen Idiot

Dosen Idiot
92. Memanfaatkan (SEASON 2 EPS. 10)


__ADS_3

"Ogenkidesuka. Byōki no madamu ni aitaidesu (Apa kabar. Saya ingin bertemu Nyonya yang sedang sakit)." Ucap ku dengan nada yang paling lembut yang ku miliki.


"Tonari no on'nanoko o shōkai shite kuremasen ka. (Bisakah Kamu memperkenalkan saya kepada Gadis yang di sebelah?)." Tanyanya. Aku menghela nafas dalam-dalam. Ternyata, Dia sama sekali belum berubah.


"Introduce yourself (Perkenalkan diri mu)." Suruh ku. Jelas sekali Ara tersenyum paksa kepada mereka semua.


"Hallo, my name is Ara. Nice to meet you all (Halo, nama ku Ara. Senang bertemu dengan kalian semua)." Nadanya agak canggung. Mungkin saja, Ara tidak menyukai suasana ini.


"Ok Ara, this is Meygumi."


"And this is Hatake, his younger brother."


-ARA MAIN-


'Apaa?? Jadi ini adalah Meygumi yang pernah Morgan ceritain? dan Hatake adalah Adik dari Meygumi?' Batin ku membeludak. Aku tak menyangka dunia akan sempit seperti ini. Apa yang harus Aku lakukan?


Melihat dari respon Hatake kemarin, Aku jadi menyimpulkan kalau dia sama sekali tidak ingin Aku memberitahu kepada Morgan kalau kami saling mengenal. Aku akan menjaga kata-kata ku dan menganggap ini adalah kali pertama kami bertemu.


'Gimana nih.. Keluh banget lidah. Gak tahu kondisi banget!' Batin ku terus mengaduh.


-MORGAN MAIN-


'Sepertinya, Meygumi masih menyimpan rasa. Kelihatan banget dari ucapannya yang mau dikenalin banget sama Ara. Apa lagi, saat hari pertama ujian dimulai. Dia sampai nemuin Saya ke kampus dan maksa Saya buat terbang ke Jepang demi Ibunya. Padahal Saya sudah tahu maksudnya apa. Dia mau bikin Saya merasa bersalah dan berjanji dengan Ibunya untuk melindungi dia.' Batin ku menelaah. Sudah ku tebak semuanya dari awal.


"Nice to meet you, Ara." Ucap Mey dengan nada yang datar. Jelas sekali dia tidak menyukai keberadaan Ara di sini.


"Madamu ni aemasu ka (Bisakah Saya bertemu Nyonya?)." Tanya ku yang berusaha mengalihkan fokus Meygumi. dan benar saja, Dia kembali melihat ke arah ku.


"Koko ni (Sebelah sini)." Meygumi mempersilahkan ku untuk menemui Ibunya.


"Nanti aku kembali." Lirih ku berbisik pada Ara. Ia seperti tidak rela Aku pergi. Padahal, hanya sebentar. Tapi, Aku tetap pergi bersama Mey meninggalkan Ara dan Hatake di sana.


-ARA MAIN-


Morgan pergi bersama Wanita licik itu. Sekarang, hanya tinggal ada Aku dan Hatake. Ia duduk di hadapan ku.


"Kamu ngapain di sini?" Tanya ku. Hatake terlihat bingung untuk menjelaskan.


"This is my home. (ini rumah ku)." Jawab Hatake. Aku tak menyangka dunia terasa sempit sekali.


"Jadi kamu adik dari mantannya Morgan?" Tanya ku. Ia mengangguk cepat.


"Plukk..." Aku menepuk kening ku sendiri.


"Kamu dan Kak Morgan, Berpacaran?" Tanyanya. Aku mengangguk kecil. Ia terlihat seperti sedih saat mengetahui jawabannya.


"Ada apa? Kenapa kalau aku pacaran dengan Morgan?" Tanya ku yang ingin memancing Hatake. Dia menghela nafas panjang.


"Sulit. Kak Meygumi terlalu terobsesi dengan Kak Morgan." Jelasnya. Aku paham maksud Hatake. Intinya, dengan kata lain, Meygumi masih mengharapkan Morgan untuk kembali ke sisinya.


"Salah sendiri, kenapa bisa putus sama orang sekeren Morgan." Ketus ku sembari memanyunkan bibir. Hatake mendecap sembari menggelengkan kepala.


"Mudah-mudahan gak ada hal buruk yang terjadi nantinya sama kalian berdua." Lirih Hatake. Sepertinya, Hatake tulus berteman dengan ku. Aku jadi ingat dengan dia yang sebentar lagi mungkin sudah lulus dan aku tidak bisa bertemu lagi dengannya.


"Aku jadi sedih.." Lirih ku. Ia terlihat bingung. Apa ucapan ku membuatnya tidak nyaman?


"I am okay." Tegas ku padanya. Ia hanya diam, tapi terlihat masih sedih.


"Are you hungry? (Apa kamu lapar?)." Tanyanya. Aku bingung harus menjawab apa.


"Aku memasak Yakitori tadi. Apa kamu mau mencicipi masakan ku?" Tanyanya. Mata ku berbinar. Tak disangka, Hatake bisa memasak?


"Kamu bisa masak?" Tanya ku dengan nada yang hampir tak percaya.

__ADS_1


"Aku koki terbaik di rumah ini." Ucapnya dengan nada sok. Tapi, Aku tidak berpikir macam-macam dengan sifatnya yang seperti itu. Bagi ku, Hatake adalah orang yang menyenangkan.


"Koko ni yakitori o motte kite kudasai (Tolong bawa yakitori ke sini)." Ucap Hatake. Beberapa saat kemudian, seorang pelayan membawakan tudung yang berisi makanan. Saat ia membuka tudung itu, isinya adalah sate.


"Ini apa?" Tanya ku. Hatake mengambil sate itu dari tangan pelayan. Ditaruh sate itu ke hadapan ku.


"Ini Yakitori." Jawabnya singkat.


"Yaaa.. Kalo di Jakarta sih lebih kayak sate sih." Bantah ku sembari menahan tawa ku. Hatake cemberut di hadapan ku. Aku hanya bisa tertawa melihat ekspresinya.


"Omeshiagarikudasai! (Selamat makan)." Ucap Hatake yang langsung melahap Yakitori. Aku jadi sedikit penasaran dengan rasanya. Aku mengambil satu Yakitori dan mencicipinya.


"Emhhh..." Ternyata tidak kalah dengan sate lokal yang ada di Indonesia. Rasanya sungguh beraneka ragam saat lumer di lidah ku. Aku sangat menyukai makanan ini.


"Bagaimana rasanya?" Tanyanya. Aku mengacungkan kedua ibu jari ku di hadapannya. Ia hanya tersenyum sembari melanjutkan makan Yakitori itu.


"Oh ya, jangan sampai Kak Morgan tahu kalau kita saling mengenal ya." Ucapnya tiba-tiba. Aku sampai terkejut mendengarnya. Benar saja, Dia tidak ingin pertemanan kita diketahui oleh Morgan.


"Oh, pantesan Kamu kemarin waktu di jembatan tiba-tiba aja ngilang.. Kamu kabur kemarin? Kok bisa cepet banget sampe Aku gak lihat?" Bidik ku. Ia hanya cengengesan sembari menggaruk kepalanya.


"Aku Speechless saat lihat Kak Morgan nangis seperti kemarin. Jadi bingung mau ngapain." Jelasnya. Aku tertawa kecil saat mendengarnya. Ternyata, Hatake melihat adegan Morgan menangis?


"Sttt... Jaga rahasia ya soal Morgan nangis kemarin." Bisik ku. Ia tertawa kecil mendengarnya.


"Ara.." Pekik seseorang yang ku tahu adalah Morgan. Aku menoleh ke arah Morgan yang sedang berdiri di hadapan ku. Tentunya, bersama dengan Wanita licik itu. Aku membersihkan tangan ku yang terkena bumbu Yakitori tadi menggunakan tissue basah. Hatake langsung bangkit dan menyamai tinggi Morgan. di susul dengan ku.


"Ara o dōkō shite itadaki arigatōgozaimasu (Terimakasih sudah menemani Ara)." Ucap Morgan pada Hatake.


"Hai! Mondaiarimasen (Ya! Baiklah tidak masalah)." Hatake membungkukkan badannya ke arah Morgan. Lagi-lagi Aku tak paham Bahasanya. Huuuhhh... Aku tidak sabar ingin diajari Bahasanya.


-MORGAN MAIN-


Ara terlihat sudah tidak karuan. Apa yang sedang Ia pikirkan? Aku memandang Hatake dan Meygumi yang sedang berdiri bersampingan.


"Koko ni sūjitsu taizai (Tinggal lah di sini selama beberapa hari)." Meygumi seperti tidak mengizinkan Kami untuk pergi dari sini. Seperti biasa, drama akan selalu dimulai ketika Aku akan meninggalkan tempat ini. Tapi kali ini Aku membawa Ara, seharusnya Aku bisa pergi dengan mudahnya.


"Tidak perlu, Aku dan Pacar ku lelah. Sepertinya ingin bermanja-manja di kamar hotel." Pancing ku dengan dingin. Terlihat wajah Ara yang memerah seketika setelah mendengar ucapan ku. Aku kembali memperhatikan Meygumi yang tampaknya sudah mulai gelisah dengan ucapan asal ku.


"Anata wa totemo yūkandesu... (Berani sekali kau...)." Kesalnya yang terpotong.


Ya! Dia sudah terpancing dengan ucapan ku. Aku bisa dengan mudah memberitahukan sifat Meygumi kepada Ara agar Ara tidak salah mengartikan bahwa perasaan ku memanglah sudah berakhir untuk Meygumi. Setidaknya, Ara bisa sedikit tenang jikalau nanti ada adegan yang membuat Ara salah paham. Aku juga harus segera memberitahukan yang sebenarnya pada Ara. Jangan sampai, Ia mengetahui kebenarannya dari orang lain. Terlebih lagi dari Meygumi langsung.


"Ada apa dengan diri mu, Meygumi?" Tanya ku dengan sedikit nada menggoda. Aku menggenggam tangan Ara dengan sengaja. Ia ternyata masih bisa menahan amarahnya.


"Gan.." Lirih Ara. Aku menoleh ke arahnya. Nampaknya, Ara sudah semakin gelisah dengan keadaan. Aku harus cepat membawanya pergi dari sini.


"Watashi ga saisho ni ikimasu (Aku pergi dulu)."


-ARA MAIN-


Morgan berkata demikian. Aku sudah tidak ingin berlama-lama di sini. Morgan berjongkok membelakangi ku. Aku terkejut dan melihat ke arah Meygumi yang nampak tercengang saat melihat pemandangan ini.


"Ngapain, Gan?" Tanya ku. Morgan menoleh ke arah ku yang ada di belakangnya.


"Naik, Saya mau gendong Kamu." Ucapnya. Sepertinya idenya lumayan bagus untuk membuat Meygumi panas. Aku tersenyum paham dan segera naik ke punggung Morgan. Ia menggendong ku layaknya anak kecil.


"Bye, Hatake." Ucap ku sembari menggoyangkan tangan ku. Hatake terlihat hanya menganggukkan kepala saja. Aku pergi dengan keadaan digendong mesra dengan Morgan. Lagi-lagi Dia membiarkan tubuh kekarnya untuk ku jadikan sandaran. Aku semakin menyayanginya.


Kami keluar dari gerbang kastil ini. Morgan menurunkan ku tepat di tepi jalan. Aku mulai memikirkan perasaan ku setelah semuanya terjadi. Morgan tiba-tiba mengelus rambut ku dengan lembut. Ia menggandeng tangan ku dan perlahan mengajak ku berjalan. Aku masih tidak menyangka Dia akan memanfaatkan ku untuk membuat Meygumi cemburu.


"Aku masih gak nyangka, kenapa Kamu bawa Aku ke dalam masalah kayak gini?" Tanya ku dengan sedikit rasa kesal. Morgan hanya memandang ku dengan sikap dinginnya.


"Apa maksud Kamu supaya Aku bisa akrab sama mantan kamu?" Tanya ku lagi.

__ADS_1


"Supaya Kamu bisa tahu sifat Meygumi seperti apa. Nanti, Kamu gak akan kaget kalau seandainya melihat adegan yang gak mungkin Saya lakukan dengannya." Jawab Morgan tanpa menoleh ke arah ku. Aku mulai paham dengan maksudnya. Terlebih lagi, Hatake sudah mengatakan kalau Meygumi adalah Wanita yang ambisius. Dia mungkin saja belum bisa merelakan Morgan sampai detik ini. dan bisa saja nanti Meygumi membuat suatu kesalahpahaman yang bisa membuat hubungan kami berantakan.


"Kalau gak salah, waktu hari pertama ujian dimulai, dia nemuin Kamu kan?" Tanya ku. Aku sudah ingat sekarang kalau waktu itu Aku memanglah melihat Meygumi sedang bercengkrama bersama Morgan.


"Ya, Kamu benar. Dia datang maksa Saya untuk terbang ke Jepang. Demi Ibunya yang sakit."


"Tapi masih belum masuk logika. Untuk apa Dia maksa Kamu buat ketemu Ibunya yang lagi sakit?" Tanya ku. Ia berhenti di hadapan ku.


"Takkk..."


"Aduhh.." Aku mengusap kening ku yang baru saja di sentil olehnya.


"Dasar bodoh." Lirihnya membuat Aku sedikit kesal.


"Udah deh, gausah mulai." Geretak ku. Ia tertawa kecil.


"Dia sengaja ngejebak Saya. Biar Saya merasa bersalah karena melihat Ibunya yang terbaring sakit. dan Dia bisa memanfaatkan Saya untuk bisa jagain Meygumi kalau sampai Ibunya meninggal nanti. Apa kamu mau Saya jagain Meygumi?" Jelasnya membuat mata ku membulat. Pikirannya ternyata sudah sampai sejauh ini. Ternyata, Aku belum cukup dewasa untuk bisa menebak dan memastikan sesuatu. Aku pikir, Morgan adalah makhluk yang sudah sempurna versi diri ku.


"Makanya, Saya memenuhi keinginannya untuk sekedar menjenguknya, tapi tidak memenuhi keinginannya untuk menginap di sana."


"Menginap??" Tanya ku kaget.


"Iya, Tadi kamu gak paham ya dengan yang Kami bicarakan?" Tanyanya balik. Aku hanya menggeleng.


"Dia minta Saya tinggal di sana beberapa hari. Tapi, Saya tolak dengan alasan Saya ingin bermanja-manja sama Kamu." Jelasnya. Aku menepuk pelan kening ku. Ternyata seperti itu dialog percakapan mereka tadi.


"Pokoknya, Kamu harus ajarin Aku Bahasa Jepang mulai hari ini!!" Geram ku. Ia tersenyum melihat ambisi ku. Ia mendekatkan wajahnya tiba-tiba.


"Tentu ada bayarannya yang harus Kamu bayar." Lirihnya, Aku menelan ludah ku sendiri.


"Dasar otak mesum!" Bentak ku lalu segera berjalan meninggalkannya. Ia menyusul diri ku sembari menahan tawanya.


-HATAKE MAIN-


"Pada dasarnya, Kamu harus melupakan Morgan secepatnya. Karena Morgan sudah terlalu dalam dengan Ara." Lirih ku. Meygumi terlihat sangat jengkel melihat mereka yang kian lama kian jauh terlihat. Aku berusaha memperingati Kakak ku sendiri agar Dia tidak terjebak dan bermain api di dalam hubungan orang yang sudah menjadi masa lalunya.


"Tahu apa kamu?!" Bantahnya kasar. Aku menghela nafas panjang mendengar ambisinya yang masih membara.


"Aku hanya ingatkan, jangan main api dengan masa lalu. Yang sudah berlalu biarlah berlalu. Jangan mengusik yang ada saat ini." Ucap ku yang masih belum menyerah dengan sikapnya. Ia meneteskan air matanya.


"Aku gak akan tinggal diam!" Ucapannya semakin lama semakin ambisius. Semakin dilarang, semakin pula ia keras.


"Aku tidak masalah. Tapi, kalau sampai Ara kenapa-kenapa Aku yang akan turun tangan sendiri." Gumam ku memperingatinya. Matanya membulat ke arah ku.


"Apa kamu suka dengan Ara?" Tanyanya. Pertanyaan macam apa ini? Kenapa bisa Aku disudutkan dengan pertanyaan jebakan seperti ini? Lagi pula, darimana dia mengetahuinya?


"Jangan mengubah topik pembicaraan!" Gumam ku memperingatkannya.


"Kita bisa kerja sama jika kamu mau.." Lirihnya. Aku hanya diam tak bergeming.


*


-ARA MAIN-


Aku berjalan bersama Morgan sampai tempat kendaraan umum melintas. Aku menunggu bus di halte bersama dengan Morgan.


"Busnya sudah sampai. Ayo." Ajak Morgan. Aku mengangguk dan meraih tangannya untuk bersama melangkah ke dalam bus.


Bus yang aku tumpangi selalu saja sesak. Apa lagi, ini jam pulang kantor. Banyak sekali karyawan yang pulang kerja dengan naik kendaraan umum. Morgan berada jauh di belakang, sedangkan Aku mendapatkan tempat duduk di bagian sisi sebelah kiri.


"Gak papa, duduk aja."


@sarjiputwinataaa

__ADS_1


__ADS_2