Dosen Idiot

Dosen Idiot
83. GOMEN (SEASON 2 EPS. 1)


__ADS_3

"Braaaakkk.."


Aku terbangun dari tidur ku karena mendengar seseorang seperti membuka paksa pintu rumah ku. Aku sangat takut, kalau saja orang itu adalah penjahat yang berusaha berniat tidak baik pada ku dan juga orang-orang yang ada di rumah ini. Mereka semua sama sekali tidak bangun dari tidurnya. Seakan sudah di beri obat tidur. Aku melirik jam dinding yang berada di kamar ku.


"Udah jam 1, siapa yang berani masuk ke rumah jam segini? Apa tadi pintu rumah gak di kunci?" Lirih ku yang agak takut. Aku tidak punya waktu untuk berpikir. Aku bergegas menuju pintu masuk rumah ku dan tanpa sadar aku mengabaikan keselamatan ku. Aku mengendap-endap melewati ruang tamu yang gelap karena tadi aku sudah mematikan lampunya sebelum kami semua beranjak tidur.


"Morgan!" Kaget ku yang setengah berteriak. Aku berhambur menghampiri Morgan yang terlihat teler seperti orang yang sedang mabuk berat. Aku memapah dirinya dengan sekuat tenaga.


"Gan, kamu kenapa bisa begini sih?" Lirih ku yang berusaha menyeimbangkan tubuh besarnya itu.


"Ehehehe.. Gkkkk.." Ia terdengar seperti cegukan, bauh alkohol dari mulutnya sangat menyengat sekali. Aku hampir saja muntah karena mencium bau tak sedap ini. Aku berusaha memapah dia ke atas kursi.


"Brrruuukkkk.." Aku menjatuhkan dirinya ke atas kursi, yang tanpa sengaja, aku malah menindih di atas dirinya.


"M. Morgan.." Aku berusaha melepaskan diri ku dari dirinya, namun ia malah merangkul diri ku dengan kencangnya. Kedua tangannya itu melingkar di pinggang ku, membuat aku sangat kesulitan bernafas.


"Watashi wa watashi no gārufurendo ga daisukidesu." (Aku cuma sayang pacar ku.) Ia mengucapkan kalimat dalam bahasa Jepang, yang tidak aku ketahui.. Aku bingung untuk mencerna apa yang ia ucapkan.


"Gan.. Aku ada di sini. Kamu kenapa?" Lirih ku. Aku benar-benar terlihat menyedihkan. Air matanya mendadak keluar, tanpa membuka matanya.


"Ara-chan.. Gomen." (Ara, Maaf.) Ia melanjutkan ucapannya setelah mengeluarkan air matanya itu. Kali ini aku mengerti dengan yang ia ucapkan. Ia meminta maaf kepada ku. Tapi, kenapa dia meminta maaf pada ku? Apa kesalahannya yang tidak aku ketahui?


"It's okay, beib. I'm here for you." Aku berusaha membuat dirinya tenang, meskipun kini ia sedang berada di bawah alam sadar sekali pun. Aku membalas pelukannya itu. Mendadak mata ku terasa berat sekali, pandangan ku sudah setengah kabur. Aku tidak bisa menahan rasa kantuk ku. Mengingat ini sudah terlalu larut untuk terjaga.


*


Sebelumnya,


-MORGAN MAIN-


Aku merasa kepala ku sangat sakit. Aku berjalan gontai dengan sisa kesadaran ku yang masih ada akibat terlalu banyak minum alkohol.


"Cklek.." Aku membuka pintu rumah dengan sangat hati-hati, khawatir semua orang terbangun karena ulah ku. Aku meraba dinding karena suasana sangat gelap dan mencekam. Ditambah lagi karena kepala ku yang cukup sakit akibat terbentur stir mobil saat perjalan menuju ke mari.


"Morgan.." Terdengar lirih suara yang sangat asing bagi ku. Aku menghentikan langkah ku karena ada seseorang yang memanggil ku. Suaranya terdengar dari kamar Arash. Aku mendekatinya secara perlahan. Remang-remang pandangan ku sangat kabur saat ini. Terlihat dalam gelap karena tidak ada penerangan yang cukup, sosok wanita berambut panjang yang sedang duduk di bibir ranjang. Aku berusaha membenarkan pandangan ku yang kabur. Terlihat Ara sedang duduk manis di sana.


"Ara.." Aku memanggilnya dengan sangat lirih. Ia seperti sedang tersenyum pada ku, dan membuka kedua lengannya seperti sedang meminta untuk di peluk. Aku yang masih bingung, langsung saja mendekatinya dan memeluknya. Aku menindihnya dengan sangat lembut, khawatir membuat ribut di malam hari. Masih teringat jelas ucapan Meygumi tadi, aku merasa sangat menyesal karena aku mungkin telah membuat Ara sakit.


"Maaf, Ra." Lirih ku tepat di telinga kirinya. Ia bereaksi seperti orang yang merasa geli. Mungkin deruh nafas ku membuat telinganya merasa tidak nyaman. Tapi, ia semakin memeluk ku dengan erat membuat diri ku terasa nyaman sekali berada di pelukannya.

__ADS_1


"Cuuupppss.." Ia mengecup ku secara tiba-tiba membuat aku hampir kehabisan nafas ku. Tidak ku sangka, dia akan sangat agresif seperti ini. Aku menghentikan ciuman ini. Aku merasa seperti ada yang aneh darinya.


"Jangan tinggalin aku." Lirihnya. Suaranya terdengar seperti bukan suara Ara. Aku melihat dirinya dengan jelas.


"Farha!!" Aku terkejut dan setengah berteriak ke arahnya. Aku menjauhi diri ku darinya. Aku tidak ingin ada kesalahpahaman antara aku dan juga Ara. Bisa-bisanya dia mengambil kesempatan seperti ini. Ia pun beranjak dari posisinya dan sekarang berdiri dihadapan ku. Aku memandangnya dengan sinis.


"Kenapa, Gan? Loe kaget kalau ternyata ini gue?" Tanyanya dengan sedikit mengambil nada tinggi. Aku tidak suka dengan sikapnya yang terus menerus seperti menekan ku untuk tetap menerimanya. Aku tidak mencintainya, bahkan mencintai Kakaknya saat itu, mungkin adalah suatu kesalahan. Ia bergerak maju ke arah ku dengan perlahan. Aku refleks dan bergerak mundur mengikuti gerakannya itu. Dia terlihat sangat berani. Aku harus melihat ke sekeliling ku, kalau saja ada yang melihat adegan tadi dan membuat aku dalam masalah besar nantinya.


"Jangan muncul lagi di hadapan saya." Ucap ku dengan nada datar. Ia membuang pandangannya itu. Aku semakin risih dengan perlakuannya pada ku. Kenapa bisa ia berteman dengan kekasih ku? dan kenapa ia bisa pindah ke kampus ini? Hidup ku sudah sangat menderita dengan semua wanita yang terus menerus mendekati ku. Aku merasa menjadi buronan sekarang. Padahal, aku tidak seperti Dicky yang benar jelas mempermainkan perasaan wanita. Tapi sepertinya, malah hidup ku yang tidak tenang karena gangguan para wanita itu.


"Loe gak akan bisa ngusir gue dari kehidupan loe. Karena sampai kapan pun, gue akan terus ngejar loe sampai loe jadi milik gue." Kata-katanya sangat mengusik ketentraman jiwa ku. Aku tidak bebas, seperti terbelenggu saat ini.


"Kamu gak berhak untuk mengancam saya." Bantah ku lagi. Ia terlihat santai sembari menatap ku remeh. Entah apa lagi yang akan dia katakan.


"Jangan salahin gue kalau nanti akan terjadi sesuatu dengan Ara." Spontan aku sangat marah padanya. Aku memelototinya dengan tatapan kesal dan benci. Aku tidak ingin dia sampai menyentuh Ara sedikit pun.


"Apa kamu bilang?" Aku mendekat selangkah ke arahnya, membuat ia mundur selangkah menghindari diri ku.


"Jangan pernah kamu sentuh Ara sedikit pun! Kalau sampai kamu berani nyentuh Ara, entah apa yang akan saya lakukan ke kamu nanti." Ancam ku balik padanya. Aku tidak ingin merendah di hadapan orang yang sama sekali tidak memperdulikan keselamatan dirinya sendiri itu.


"Kalau loe gak mau gue sampai nyentuh Ara.." Ia mendekat ke arah ku dengan langkah yang sangat manja. Aku diam sembari melihat apa yang akan ia lakukan.


"Temenin gue malam ini.." Lirihnya di telinga kiri ku, membuat ku sedikit terangsang dengan rayuannya. Tidak bisa ku pungkiri, dia tak kalah cantik dengan Ara. Kelebihannya mungkin, badannya sedikit agak berisi dan sexy.


"Bagaimana bisa saya percaya sama omongan kamu yang gak masuk akal ini? Mana ada orang yang membiarkan keperawanannya dan rela memberikannya secara sukarela dengan orang yang tidak mencintainya?" Tanya ku sembari berusaha menenangkan gejolak yang muncul dalam diri ku.


"Paling tidak, gue udah pernah ngerasain "itu" sama loe." Lirihnya dengan terus memaksa ku untuk melakukan hal yang tidak aku sukai. Tak pernah aku memikirkan hal yang tak pantas ku lakukan bersama dengan orang yang seharusnya tidak bersama ku.


"Kamu gila, Far?!!" Kaget ku spontan sembari mendorongnya ke arah ranjang


"Brukkk.. ahhhh.." Ia pun jatuh tepat di atas ranjang tidur Arash. Aku membenarkan kemeja ku yang kusut akibat ulahnya tadi. Aku bergegas pergi meninggalkannya dengan sisa kemampuan yang ku punya.


Tiba-tiba saja, Farha bangkit dan menyusul ku ke arah pintu keluar kamar Arash, Ia menghalangi ku untuk keluar dari ruangan ini. Aku kaget karena aku dan dia hampir saja bersenggolan. Kini, aku dan dia hanya berjarak kurang dari 5 cm. Aku menatapnya dengan susah payah karena pandangan ku yang belum juga pulih. Tetapi, ia terlihat seperti hampir menangis.


"Minggir." Lirih ku yang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Ia menggeleng cepat dan malah menitikkan air mata. Aku tak kuasa melihat wanita menangis. Itulah kelemahan ku. Apalagi, kalau sampai aku melihat Ara menangis.


"Kenapa kamu nangis?" Tanya ku terheran-heran padanya. Ia berusaha tegar dan menyeka kedua matanya.


"Sejak kepergian Ka Putri, Gue cuma sendirian. Mama Papa cerai, dan gak tau ada di mana sekarang. Mereka sama sekali gak perduli sama gue. Mereka cuma anggap gue sampah, karena gue beda sama Ka Putri. Gue gak sepinter dia, Gue gak sepadan sama dia. Cuma mungkin gue lebih cantik dari pada dia. Tapi kenapa kecantikan gue masih kalah dimata orang-orang yang gue suka. Setiap cowok yang deket sama gue, pasti selalu suka sama Ka Putri karena cowok yang deket sama gue itu seumuran sama Ka Putri. Mereka seneng sama dia karena dia wanita yang susah di dapetin. Beda dengan gue. Mereka nganggep gue tuh cewek murahan, yang gampang banget di deketin. Tapi bukan itu maksudnya. Hikss.." Dia menjelaskan panjang lebar dengan rasa yang ada di hatinya. Tapi, aku belum tersentuh dengan ucapan yang ia katakan tadi. Aku hanya diam tanpa berkata sedikit pun.

__ADS_1


"Dari situ, mulai timbul rasa kesel, benci, marah, sama Kak Putri. Tapi semua itu hanya bisa gue pendem. Gue gak mau memperkeruh keadaan dengan sifat egois dan kekanakan gue. Karena situasi lagi kacau, Papa Mama mulai sering ribut pada saat itu. Gue gak mau mereka malah makin parah karena harus ngurusin masalah gue juga. Situasi yang gak memungkinkan itu hanya bisa gue rasain sendiri, tanpa teman. Tanpa adanya orang yang mau sekedar dengar curhatan gue. dan saat itu, pertama kalinya gue ngeliat loe nganter Kak Putri pulang ke rumah. Gue cuma bisa mandang loe dari kejauhan. Ternyata, gue jatuh cinta pandangan pertama sama loe saat itu. Setiap kali loe ke rumah, gue cuma bisa ngeliat loe dari balik pintu rumah. Gak ada yang bisa gue lakuin." Tambahnya. Memang terdengar agak miris. Tapi, semua yang dia ceritakan pada ku tadi, aku sama sekali tidak mengetahuinya. Aku menatap wajahnya yang sudah basah akibat air matanya. Aku ragu untuk melakukannya, tapi.. ah sudahlah. Aku menghapus air matanya dengan tangan ku. Ia seperti tidak percaya dengan yang aku lakukan. Ia memandang ku lebih dari 7 detik sebelum ia kembali sadar.


"Semua yang kamu bilang tadi, saya gak tahu sama sekali. Saya minta maaf kalau saya membuat kamu resah, itu semua di luar dari pengetahuan saya." Aku berusaha membela diri ku. Aku tidak ingin ia terus menerus mengeluh apalagi sampai menyalahkan diri ku.


"Loe gak tahu kan? Jam yang Kak Putri kasih waktu itu, adalah jam pilihan gue?" Tanyanya membuat aku sedikit tercengang. Aku menggeleng kecil.


"Kak Putri minta gue untuk pilihin kado untuk loe. Karena dia sama sekali gak tahu kado apa yang bagus di kasih untuk laki-laki. Dia gak pernah ngasih kado apapun ke cowok. dan gua sadar, kedudukan loe di hatinya Kak Putri, sangat berarti pada saat itu. Tapi gue gak nyangka, loe malah ngebunuh Kakak gue dengan begitu tragis!!!"


"STOP FARHA!!!" Bentak ku menyambar setelah Farha selesai berbicara. Ketakutan ku terjadi karena Farha menyalahkan ku atas kematian Putri yang aku sendiri pun tidak tahu. Ia tidak mengerti dengan keadaan pada saat itu.


"Saya sudah peringatkan kamu untuk tidak melebihi batas! Jangan pernah menyalahkan saya atas masalah yang sama sekali kamu gak tahu!" Bentak ku kembali padanya. Aku menatapnya dengan tajam, begitu pun sebaliknya. Aku bergerak mundur dan menariknya dengan kasar.


"Ahhhwwww.." Mungkin sikap ku terlalu kasar padanya, namun aku tidak punya pilihan lain lagi. Aku membuka pintu kamar dan segera pergi menuju pintu keluar. Aku bingung dengan tujuan ku saat ini. Aku pun tidak sanggup untuk menyetir lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk berbalik.


"Brakkkk... Awwss.." Aku merintih kesakitan karena aku tak sengaja menabrak sofa dan akhirnya terjatuh di lantai. Tak lama, terdengar suara Ara dari kejauhan yang berusaha mendekati ku. Aku menurut dengannya, ia membawa ku ke sofa.


*


Perlahan aku membuka mata ku. Aku melihat Fla dan kawan-kawan yang lain memandang ke arah ku yang sedang tidur bersama Morgan di sebelah ku. Aku terkejut dan segera bangkit karena malu menjadi bahan tontonan mereka.


"Tuan putri udah bangun.." Ledek Fla. Aku berusaha membenarkan pakaian yang aku kenakan.


"Mmm.. Pantesan semalem dicari-cari gak ada, gataunya ada di sini sama Pak Morgan." Ledek Rafa dengan tampang yang tidak enak dipandang. Aku membalas tatapannya dengan tatapan yang tak kalah sengit.


"Apa.." Tantang ku, ia hanya tertawa kecil melihat ekspresi ku.


"Ka Morgan, gak pulang ke rumah waktu itu apa dia jangan-jangan pulang ke sini?" Tanya Fla tiba-tiba. Aku berusaha menahan diri agar tidak gugup saat menjawab pertanyaan dari Fla.


"Enggak kok!" Bantah ku spontan.


"Gak usah boong dong, Ra." Tekan Ray.


"Kan gue waktu itu nyariin Morgan ke Fla, kok gue jadi di tuduh begini sih?" Panik ku. Aku mulai terpancing dengan ucapan mereka.


"Eh udah-udah gak usah pada ribut." Ucap Rafael menengahi. Aku sudah terlanjur kesal pada mereka. Aku ingat akan satu hal,


"Lho.. Farha mana?" Tanya ku yang baru sadar karena Farha tidak ada di sini. Mereka seperti saling melempar pandangan.


@sarjiputwinataaa

__ADS_1


__ADS_2