Dosen Idiot

Dosen Idiot
74. Momentum


__ADS_3

Aku penasaran dengan isi handphone Morgan. Memang handphone ini masih terlihat baru sih. Mungkin saat handphone lamanya hilang, ia langsung membeli handphone baru. Aku menyusuri seluruh galeri dan file yang ada di handphone ini. Tidak ada sesuatu yang janggal, entah video yang tidak pantas atau pun file yang lainnya. di galeri pun hanya ada 1 foto. Foto aku dan dia waktu itu, dan juga foto-foto lainnya mengenai pekerjaannya. Kemudian, aku melanjutkan mengecek isi Whatsapp nya. Aku tahu dan yakin, banyak sekali wanita yang mengirimi ia pesan. Aku berusaha untuk menenangkan diri ku sebelum melihat isi pesan laknat dari para wanita itu.


"Okey, tenang. Gue cuma pengen tahu isinya aja. Gue gak mau permasalahin hal sepele karena gua tau, dia itu ganteng. Wajar dong kalo banyak yang ngejar-ngejar. Yang gak wajar itu, kalau dia yang ngejar-ngejar cewe lain." Lirih ku sembari mengatur nafas ku dan mempersiapkan diri ku.


Dengan ragu, aku membuka beberapa pesan dari Prof. Handoko, selaku Kaprodi di kampus ku. Ya! Dia yang mempunyai rambut yang nyaris botak itu, yang telah menghukum ku untuk menjalani skors selama 1 minggu ke depan. Aku pun mulai membaca isi dari pesannya itu.


"Selamat malam, Pak Morgan. Sehubungan dengan rapat kegiatan ekstra kurikuler yang di selenggarakan tadi sore, hasil rapat sepakat mengundang beberapa tenaga kerja baru untuk bergabung di kampus ini. Sebagaimana, mereka dibutuhkan dalam beberapa bidang ekstra kulikuler. Di mohon kesediaannya untuk menjadi Tour Guide untuk memperkenalkan beberapa tempat di kampus kita yang berhubungan dengan penempatan tempat ekstra kurikuler. Bisa di lakukan pada hari : Selasa, 20 Desember 20XX." Aku membaca lirih pesan dari Prof. Handoko itu. Jadi, besok mulai diadakan Tour Guide keliling kampus? Bagus. dan Aku tidak ada di sana ketika mereka semua mungkin saja menggoda Morgan.


Aku mulai membaca pesan berikutnya. Hanya membaca dari luar tanpa membuka isi pesannya. Banyak sekali wanita yang mungkin tergila-gila dengan Morgan. Bukan mungkin, tapi memang benar! Banyak sekali nomor baru yang mengirimi Morgan pesan. Tapi, tak ada satu pun yang ia baca. Bahkan, di lihat saja pun tidak.


Setelah beberapa saat, aku pikir sudah terlalu lama aku melihat-lihat isi pesan dari handphone milik Morgan. Aku mulai bosan dan mulai kehilangan kesabaran membaca pesan dari semua wanita yang terlalu mendominasi ini. Aku meletakkan handphone Morgan di posisi semula. Aku sudah bosan melihat isi chat dari para maniak itu. Aku mengambil handphone ku kemudian mulai membuka grup chat ku. Terlihat pesan yang menumpuk terlalu banyak. Aku membacanya satu persatu. Isinya, Ray dan Rafael mungkin saja sedang bertaruh untuk mendapatkan Farha. Kalau tidak, mereka tidak akan sebising ini di grup. Ada 369 chat dan 4 panggilan tak terjawab. Aku membukanya satu persatu dan membacanya pelan.


"Yah, besok gak ada Ara deh." Fla


"Iya, biasanya ada Ara." Ray


"Ih lagian pake segala di skors." Rafael


"Pokoknya tetep semangat buat kita dan Ara. Walaupun gue belum terlalu kenal sama kalian, tapi gue yakin kok kalian adalah teman yang nantinya bakal nemenin gue." Farha. Aku terkesima membaca pesannya itu.


"Makasih semangatnya, cantik." Ray.


"Dih PD banget loe. Semangatnya buat gue kan ya?" Rafael. Aku tertawa kecil membaca pesan konyolnya itu.


"Eh udah-udah, kenapa pada ribut sih?" Fla.


Aku tertawa kecil sembari memandang handphone ku. Aku terkejut saat sepasang lengan melingkar di leher ku dari arah belakang ku.


"Lagi apa sih? Seru banget ketawa-ketawa gitu?" Tanyanya. Aku menyadari Morgan yang sedang memeluk ku dan tak berbusana. Jantung ku terus terpacu karena Morgan memeluk ku dengan hangat. Tubuhnya masih dingin, menyentuh kulit ku. Kenapa bisa setegang ini? Kenapa bisa ia terus membuat ku selalu merasa deg-degan? Aku terus menerus menelan air ludah ku karena aku merasakan tenggorokan ku sangat kering, dan juga lidah ku keluh saat Morgan memeluk ku. Rambutnya yang masih basah, menambah dahsyat auranya.


"Tes.." Setetes air dari rambutnya mengenai leher ku. Aku semakin tak karuan oleh setiap sentuhan yang ia berikan.


"Eemm.. Ini.. Temen-temen aku di chat pada lucu semua. Jadi, aku ketawa deh." Jawab ku yang agak terbata-bata dan canggung. Ia melepaskan pelukannya dan memakai kaosnya. Kalau tidak salah, ini pertama kalinya aku melihat dia memakai kaos. Menurut ku, dia semakin sexy mengenakan kaos yang ketat dan berbahan jatuh itu. Kaos itu menunjang dada bidangnya menjadi semakin terlihat. Aku tersadar dari halusinasi ku dan membuang pandangan ku. Ia duduk di sebelah ku.


"Apa.. Kamu pernah tertawa seperti itu ketika membaca pesan dari saya?" Tanyanya. Aku mendadak mellow mendengar pertanyaannya itu. Karena, sudah lama sekali Morgan tidak pernah mengirim pesan apapun kepada ku. Aku hanya bertemu Morgan di kampus, atau bertemu secara kebetulan. Bahkan saat Morgan menjemput ku waktu aku di undang makan malam bersama keluarganya, Fla yang telah menghubungi ku kalau Morgan sudah di jalan menjemput ku. Dia hanya menelepon beberapa kali belakangan ini. Aku harus menjawab apa kali ini?


"Emm.. Bukannya kamu ga pernah ngechat Aku?" Tanya ku. Ia seperti sedang berpikir.


"Betul." Tegasnya. Aku memasang tampang datar ke arahnya. Kenapa dia bertanya suatu hal yang bahkan tidak pernah ia lakukan?


"Gak usah gaje dah jadi orang." Kesal ku. Ia terlihat tersenyum kecil pada ku. Ia mengambil handphonenya yang berada di samping ku. Aku berusaha fokus kembali dengan handphone ku.


"Lho.." Morgan terdengar kaget. Aku pun melirik ke arahnya.


"Kamu buka handphone saya tadi?" Tanyanya. Kenapa Morgan bisa mengetahui itu? Aku menunduk malu dengan pandangan Morgan yang datar itu.


"Kenapa gak ngasih tau? Untung aja saya buka handphone. Kalau engga, bisa rusak acara besok." Lirihnya. Aku yang tak enak, langsung memasang tampang merayu. Aku tersenyum di hadapannya yang sedang menatap datar layar handphonenya. Ia menoleh ke arah ku dengan tatapan penasaran. Aku tak memperdulikannya.


"Kenapa? Mau ngerayu saya?" Bidiknya. Aku hanya diam dan menyengir.


"Ah.. Jangan gitu kek." Ucap ku dengan nada merajuk. Ia hanya memasang tampang datarnya.

__ADS_1


"Saya permisi dulu. Ada urusan." Ia berkata dingin pada ku. Aku kesal melihat sikapnya yang selalu dingin, bahkan kepada ku.


"Terserah!" Bentak ku kemudian pergi menuju kamar ku dan meninggalkan Morgan. Aku sudah terlanjur kesal dengannya. Lebih baik, aku menghindar darinya agar tidak terjadi hal yang tidak-tidak.


*


Aku sudah sampai di kamar ku. Aku duduk di atas ranjang dan segera melihat isi chat ku.


"Rafa.." Lirih ku sembari mencari nomor telepon Rafa. Beberapa saat berlalu dan aku menemukan nomor teleponnya. Dengan segera, aku menelepon dirinya.


-RAFAEL MAIN-


"Dringggggggggg..."


"Ahhh..." Aku sangat kesal karena handphone ku berdering di saat yang tidak tepat. Aku sedang bermain game online ku saat ini. Aku cukup kesal karena harus turun ranking lagi kali ini. Aku melihat tertera nama Ara di sana. Buru-buru, Aku mengangkat teleponnya. Kalau tidak, mungkin saja ia bisa memukul ku di saat kita bertemu nanti.


"Hallo, Ra?" Tanya ku.


"Raf. Pokoknya, loe harus tolongin gue!" Tegasnya. Aku bingung dengan dia yang tiba-tiba berbicara seperti itu. Aku bisa saja menolongnya, tapi aku tidak tahu dengan permasalahannya.


"Emm.. Pelan-pelan, Ra. Coba jelasin permasalahannya dimana. Biar gua bisa tau jelas." Ucap ku yang berusaha menenangkannya. Aku dengar dari nadanya, ia amat tergesa-gesa.


"Tarik nafas..." Suruh ku. Deruh nafasnya terdengar jelas di telinga ku.


"Hembus." Lanjut ku. Ia mengikuti sugesti ku.


"Gimana? Udah tenang?" Tanya ku. Ia hanya berdehem pada ku.


"Jadi gini.." Ia memulai pembicaraan lalu menarik nafas kembali. Aku sangat sabar menunggu ia berbicara.


"Besok ada acara orientasi guru ekskul. Gue gak ada di sana.. Gue khawatir tentang Morgan jadi..."


"Intinya loe takut kalo nanti Pak Morgan gimana-gimana sama guru baru? Jadi loe minta tolong gue supaya gue nyelidikin acara besok?" Potong ku. Ia terdiam beberapa saat.


"Tepat sekali." Ucapnya tiba-tiba yang membuat aku jadi terdiam. Tidak ku sangka, cinta membuat akal sehatnya hilang.


-ARA MAIN-


"Pokoknya nih ya, loe harus perhatiin cara mereka natap Morgan, cara mereka ngobrol dan pokoknya loe harus ikutin acara itu sampe kelar!" Paksa ku. Dia terdengar seperti sedang berpikir. Aku menyeleneh mendengarnya.


"Tapi, Ra.."


"Gak ada tapi-tapi pokoknya! Kalau gue di sana, gue gak akan juga minta tolong sama loe. Plis, kali ini aja ya." Potong ku, yang berusaha meyakinkan Rafa. Aku berharap, dia bisa menjaga Morgan di saat aku sedang tidak berada di sampingnya.


"Okey deh, Ra. Gue coba." Lirihnya yang terdengar tidak yakin.


"Haaaa... Makasih banyak Raf! Pokoknya gue janji, selama seminggu ke depan, kalau loe ngerjain tugas dengan benar, gue bakalan ngabulin 1 permintaan yang loe mau."


"Ya.. Tapi gimana caranya gue buat ngejalanin ini semua?" Tanyanya. Aku tersenyum miring mendengarnya.


*

__ADS_1


-RAFAEL MAIN-


Kini, aku sudah berada di kampus. Aku hanya perlu menunggu Pak Morgan masuk ke ruangannya. Aku menunggu dia di depan Ruang Dosen sembari memegang handphone ku. Salah satu teman ku, sekaligus kakak tingkat ku di kampus ini, menjabat sebagai ketua HIMA di kampus ini. Dengan susah payah aku membujuknya untuk bisa menggantikannya menjadi pendamping Pak Morgan saat acara ini di mulai. Akhirnya, aku bisa dengan mudah menggantikannya.


Aku memperhatikan jam yang berada di tangan kanan ku untuk memastikan kedatangan Pak Morgan. Aku sengaja datang lebih pagi agar aku tidak terlambat di acara ini.


"Tringgg..."


Satu pesan masuk di inbox handphone ku. Aku melihat dan membuka pesan itu.


"Gimana? Morgan udah dateng belum?"


Ternyata, Ara yang mengirimkan pesan kepada ku. Buru-buru aku membalas pesannya, karena kalau tidak, pasti ia akan mengamuk nanti.


"Belum ada tanda-tanda." Aku mengirim pesan padanya. Seketika, pesan ku langsung berubah warna menjadi biru. Cepat sekali ia membaca pesan yang berhubungan dengan Morgan.


"Pokoknya loe tungguin aja. Biasanya Morgan dateng jam setengah 07.20" Balasnya membuat aku kesal. Pasalnya, sekarang baru saja pukul 06.30 pagi. Aku harus menunggu lebih lama lagi di sini.


"Ah, kesel banget gue!!" Aku berteriak lirih saking kesalnya karena harus menunggu lebih lama lagi. Mau tidak mau, aku harus menunggu lagi.


"Permisi." Pekik seseorang. Aku terkejut dan langsung menoleh ke sumber suara. Terlihat sosok wanita yang sangat cantik sedang berdiri di hadapan ku. Aku sampai terkesima melihatnya.


"Iya, mm.. Mau cari siapa ya?" Tanya ku yang sampai tak bisa berkata apapun. Ia memandang ku dengan tatapan malu. Wajahnya sangat mirip dengan idol korea. Di tambah, riasan di wajahnya yang tidak terlalu mencolok, membuat dirinya tampak lebih mirip dengan orang Korea. Aku pikir, aku sedang berhadapan dengan artis korea.


"I'am looking for a lecturer office. Do you know?" Tanyanya. Aku menjadi bingung karena, mungkin memang benar aku sedang berhadapan dengan orang asing. Tingginya saja, hampir menyamai ku. Tubuhnya yang sangat ramping, membuat aku terkesima dan jatuh cinta pandangan pertama padanya. Aku tersenyum melihat ke arahnya yang sedang berdiri tegak di hadapan ku. Aku pasti sudah bermimpi! Tidak sia-sia aku melakukan tugas ini. Aku mendapatkan imbalan yang setimpal kali ini.


"Hallo?" Aku mendengar suaranya yang indah sembari membayangkan kalau kita berdua nanti akan bersama.


"Excuse me!" Nadanya terdengar lebih keras dari pada sebelumnya. Aku sampai melompat kaget. Ternyata, aku sedang melamun.


"Oh, i'am sorry. You came at the right place. *T*his is the lecturer's office." Ucap ku dengan nada tak enak. Mungkin, aku sudah membuatnya tak nyaman saat ini. Aku harus bersikap tenang. Tak boleh menyia-nyiakan jarum di dalam jerami.


"Oh. Nice. Thank you for your information." Jawabnya sembari tersenyum. Aku hanya diam lalu tertawa kecil karena damage senyumannya yang membuat hati ku menjadi seperti, terpesona. Ia meninggalkan ku dan masuk ke dalam kantor dosen. Aku sampai tak bisa berkata-kata lagi. Aku melihat dirinya yang bersikap malu-malu menghilang di balik pintu ruangan.


"Astaga!!!" Kaget ku sembari menepuk keras kening ku.


"Gue lupa nanya namanya!!" Aku terburu-buru ingin memasuki ruangan dosen. Tapi, langkah ku terhenti karena mengingat Pak Morgan yang belum sampai.


"Haduh!! Mana sih Pak Morgan!" Aku terlalu tergesa-gesa. Aku khawatir tidak bisa bertemu dengannya lagi. Aku harus menunggu sampai Pak Morgan benar-benar datang dan memberikan beberapa file yang di titipkan untuk acara ini.


"Permisi." Terdengar suara asing lagi dari arah belakang ku. Aku langsung menoleh dan berbalik badan ke sumber suara. Kali ini, sosok laki-laki lumayan tampan sedang berdiri di hadapan ku.


"Iya?"


"Ruang dosen, di mana ya?" Tanyanya. Aku mulai bingung. Kenapa harus bertanya ruang dosen terus? Aku kan jadi semakin ingin masuk ke ruang dosen itu.


"Emm.. Di sebelah sini..." Aku menunjukkan pintunya, namun aku bingung ingin menyebutnya dengan panggilan apa.


"Panggil aja saya Abang." Ucapnya. Aku terdiam sesaat lalu tertawa kecil ke arahnya sembari mengangguk.


@sarjiputwinataaa

__ADS_1


__ADS_2