Dosen Idiot

Dosen Idiot
77. Teror Fans 2


__ADS_3

"Tseeeettttt..." Ia merampas uang itu dengan sangat cepat, membuat aku sedikit terkejut karena refleks. Ia menghitung beberapa lembar uang tersebut sembari tersenyum.


"Terima kasih atas kerja samanya." Ucapnya lalu segera pergi meninggalkan ku di sini. Aku menatap arahnya pergi dengan kesal, lalu menoleh ke arah barang yang ia lempar tadi. Terlihat kotak hadiah berwarna merah hati dengan pita di bagian atasnya. Aku memandangnya dengan seksama. Apa kah aku harus membukanya, atau tidak?


"Buka, enggak?" Lirih ku bingung. Aku masih berpikir keras untuk langkah yang akan aku ambil. Tidak ada salahnya untuk membuka kotak ini. Aku jadi sedikit penasaran dengan isi dari kotak ini. Memang ukurannya tidak terlalu besar, dan juga tidak kecil.


Aku memutuskan untuk membuka kotak itu. Aku membukanya dengan cepat. Terlihat dua kotak kecil di dalamnya. Aku membuka kotak kecil itu.


"Hah?" Aku terkejut saat melihat isinya adalah dompet berwarna Navy yang sangat mirip dengan dompet lama ku. Dari warna, serta model. Kenapa dia bisa tahu betul dompet yang dulu pernah aku pakai ini?


"Satu lagi!" Aku segera membuka kotak yang satunya lagi. Terlihat jam tangan dengan model yang sama dengan yang dulu aku kenakan. Aku menatap jam tangan yang sedang aku pakai di pergelangan tangan kiri ku. Aku tidak menemukan adanya perbedaan selain warna dari dompet dan jam tangan ini. Bisa-bisanya dia sampai sedetil ini memberikan hadiah pada ku.


Aku merogoh isi dari kotak besar tadi. Rupanya, masih ada sesuatu di dalamnya. Ada amplop berwarna hitam di sana. Aku berusaha membukanya. Aku membaca kata demi kata yang tertulis di dalamnya.


"Hai, Marmut. Apa kabar? Lama gak jumpa. Hari ini, aku tunggu di taman kota jam 7 malam." Isi dari pesan ini. Aku agak shock mendengar kata "Marmut." Aku tak percaya dengan apa yang aku baca kali ini. Yang memanggil ku marmut, hanyalah Putri. Tak ada lagi yang memanggil ku dengan panggilan itu. Aku berusaha menenangkan diri ku. Aku tidak ingin hal sepele ini membuat diri ku terancam karena shock. Bisa-bisa, aku terkena serangan jantung.


"Yang saya lihat ini, benar kan?" Lirih ku bertanya-tanya. Aku tidak mengerti dengan yang aku lihat ini. Apa kah Putri masih hidup? Siapa yang mengetahui nama panggilan yang hanya Putri yang tahu?


Tangan ku terasa dingin. Sekujur tubuh ku pun ikut menggigil. Apa benar dugaan ku? atau ini adalah halusinasi karena aku sedang merindukan Putri? Tapi kalau ini halusinasi, hadiah ini tidak akan bisa sampai di tangan ku saat ini. Lagi pula, dia sudah begitu niatnya untuk memberikan hadiah yang sama persis dengan yang Putri berikan dulu pada ku. Putri memberikan jam tangan dan dompet berwarna biru navy.


"Gak mungkin kalau Putri masih hidup!" Aku meyakinkan diri ku sendiri yang sudah tidak bisa berbuat apa pun lagi.


"Jangan sampai Ara tau tentang masalah ini." Lirih ku. Aku segera membereskan seluruh barang-barang yang ada di atas meja ku. Aku menggabungkannya menjadi satu seperti semula.


*


-FLA MAIN-


Jam istirahat pun tiba. Aku yang sedang duduk di bangku Ara, langsung menuju tempat duduk Ray dan Rafael bersama dengan Farha. Aku mengamati wajah Rafa yang sedang asik tersenyum sendiri. Sepertinya, dia salah minum obat.


"Brukkkkkk.." Aku menyenggol pelan pundak Rafa yang sedang melamun. Ia pun tersadar dari lamunannya.


"Hei! ngelamun aja. Ada apa sih?!" Tanya ku dengan nada seperti sedang menggodanya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, mencoba mengembalikan kesadaran dirinya.


"Salah minum obat loe ya??" Sambar Ray yang sedang merapikan buku-buku yang berserakan di atas mejanya ke dalam tasnya.


"Enak aja loe!" Bantah Rafa. Ia terlihat memandang jauh ke depan dengan tatapan yang kosong sembari tersenyum.


"Temen loe kenapa sih, Ray?" Tanya ku. Ray mengangkat kedua bahunya.


"Hati-hati kesambet loe!" Sambar Farha dengan nada meledek. Aku jadi tertawa mendengar ucapannya itu.


"Tau loe! Nggak takut kesambet apa?" Tanya Ray yang sangat antusias dengan ucapan Farha. Aku melirik ke arah Rafael. Responnya selalu sangat lucu ketika sedang berebutan sesuatu dengan Ray. tapi kali ini, saat Ray mengatakan seperti itu, Rafael sama sekali tidak merespon apa pun. Membuat ku semakin curiga dengan keadaan Rafael.


"Eh woi, jangan begini dong! Takut sendiri gue lama-lama!!" Ucap ku pada mereka. Farha dan Ray mulai bergidik takut.


"Tau! Loe kenapa sih??" Sinis Farha.


"Enggak usah khawatir, ada Aa kok di sini." Genit Ray pada Farha. Namun lagi-lagi Rafael hanya bisa diam sembari menatap ke arah depannya dengan tatapan kosong. Tak lupa ia tersenyum yang membuat kesan mistisnya lebih sedikit terasa.


Rafael masih saja diam melamun sembari tersenyum menatap ke arah hadapannya. Aku jadi kesal sendiri padanya. Aku memberikan Farha dan Ray kode untuk mengageti Rafa. Kami semua bersiap.


"Satu..."


"Dua..."

__ADS_1


"Ti.. Ga.."


"Dooooooorrrrrrr!!!!" Kami bertiga mengagetkannya.


"Ahhhhhhh!!!!!!!" Ia teriak kencang sekali, seperti orang yang baru saja selesai melamun.


"Rasain! Siapa suruh bengong aja!!" Ucap ku sembari menatapnya sinis. Rafa terlihat sedang mengatur nafasnya.


"Apaan sih?! Kaget tau!!" Ucap Rafa tak kalah sinisnya dengan ku. Kami semua menahan tawa. Ekspresinya benar-benar membuat mood ku menjadi naik.


"Loe kenapa si, Raf?" Tanya Farha.


"Tau loe, nggak biasanya kayak begini deh." Sambar Ray. Aku memperhatikan sorot matanya. Sepertinya, Rafa sedang jatuh cinta.


"Ah? Gu. Gue gak papa." Bantahnya secara gugup. Aku mendekatkan wajah ku ke arahnya. Ia mengikuti mundur searah dengan wajah ku yang maju ke arahnya.


"Loe.. Lagi jatuh cinta kan?!" Spontan ku.


"Mana ada!!" Bantahnya dengan cepat. Aku terkejut. Kenapa responnya begitu mencurigakan? Aku menyipitkan pandangan ku ke arahnya. Farha dan Ray langsung berdiri di sebelah ku.


"Nah.. Kan.." Aku mencoba untuk memojokkannya. Ia terlihat seperti gugup sekali. Aku sadar dengan orang yang lewat di depan koridor kelas ku. Aku menoleh ke arahnya. Terlihat dari jendela, wanita asing yang sangat cantik itu. Semua mata tertuju padanya.


-RAFAEL MAIN-


Aku bingung kenapa mereka semua menoleh ke arah jendela dengan tiba-tiba. Aku langsung menoleh ke arah yang mereka lihat. Terlihat wanita yang sangat aku sukai sedang berjalan melewati koridor kelas ku. Mata ku mengikuti arah dia berjalan. Aku sampai lupa meminta nomor teleponnya. Sampai aku sadari, Ray juga sudah memandanginya dari tadi. Ia sudah maju selangkah untuk menghampiri wanita itu.


"Grepppp.." Spontan, aku menahan tangannya. Ia langsung menoleh ke arah ku dengan sinis.


"Apaan sih?" Sinisnya.


*


-ARA MAIN-


Aku sudah menunggu Morgan dari tadi pagi. Sekarang sudah pukul 5 sore. Aku semakin takut dengan yang nantinya akan terjadi. Di tambah lagi, Kakak yang tidak mengerti keadaan ku, malah meninggalkan aku di sini sendirian. Aku jadi semakin takut untuk di sini sendiri.


"Drrrttttt.." Handphone ku bergetar. Terlihat satu pesan masuk. Tertera nama Rafael di sana. Aku melihat isi dari pesan yang di kirim Rafa.


"Akhirnya gue bisa lupain Putri!!" Pesan Rafa membuat diri ku bingung. Putri? Siapa itu Putri?


"Putri siapa?"


"Mantan gue. Yang waktu itu gue ceritain." Ucapnya. Aku mencoba mengingatnya. Tapi, pikiran ku lebih condong ke arah Putri yang pernah dekat dengan Morgan. Aku mencoba berpikir.


"Oh!! Yang waktu di kelas itu kan?" Tanya ku memastikan. *baca episode 45


"Iyaa bener." Aku masih belum yakin kalau itu adalah Putri yang sama.


"Ada fotonya gak?" Tanya ku. Aku tidak yakin kalau dia masih menyimpan foto Putri. Karena setelah berpacaran dengannya, ia langsung berpacaran dengan Ray.


Aku menunggu dan terus melihat layar handphone ku. Sudah lebih dari 5 menit, Rafa tidak membalas pesan ku. Aku sangat kesal dengan Rafa. Bisa-bisanya dia tidak membalas pesan di saat-saat seperti ini. Aku kan jadi penasaran.


"Tingggg.... Nonggggg...." Seseorang memencet bel rumah ku. Aku terkejut dan merasa takut. Aku berubah menjadi sangat takut.


"Jangan-jangan..." Duga ku. Aku langsung berlarian menyembunyikan diri ku di bawah selimut.

__ADS_1


"Pura-pura tidur.." Lirih ku sembari merasa ketakutan. Aku membiarkan wajah ku terbuka sedikit agar terlihat lebih alami. Aku khawatir Morgan akan tiba-tiba menyergap ku. Aku belum siap untuk melakukannya lagi bersama dengan Morgan.


-MORGAN MAIN-


Aku menunggu siapa pun untuk membukakan aku pintu. Namun kelihatannya, tidak ada yang merespon. Aku mencoba memencet bel rumahnya beberapa kali lagi.


"Ckreeeekkkk..." Pintu rumahnya pun terbuka. Aku melihat sosok wanita paruh baya yang sudah berdiri di hadapan ku dengan senyuman khasnya.


"Eh.. Den Morgan."


"Iya, Bi."


"Mau cari Den Arash, atau non Ara?" Tanya Bibi yang nampak jahil. Aku tersenyum kecil padanya.


"Arash, Bi." Singkat ku. Aku tidak ingin Bibi menjahili ku lebih dari ini. Suasana hati ku sedang tidak baik-baik saja sekarang. Bahkan, aku tidak ingin tersenyum sedikit pun. Tapi karena aku menghormati Bibi, aku terpaksa melontarkan senyum padanya.


"Oh Den Arash tadi pagi baru aja berangkat ke luar kota, Den. Memangnya Den Morgan gak di kasih tau?" Ucapnya mengagetkan mu. Kenapa Arash sangat terburu-buru? Sampai tidak menghubungi ku.


"Enggak, Bi."


"Kirain mah Den Morgan udah tau. Oh ya, Den.. Anu.. Bibi mau ngomong." Ucapnya membuat aku sedikit penasaran.


"Bibi mau ngomong apa?" Tanya ku. Ia melirik ku dengan tatapan yang sangat aneh.


"Bibi mau izin pulang kampung dulu buat 2 hari. Anak Bibi sakit, Den. Bibi udah coba hubungin Den Arash, tapi kayaknya dia sibuk deh." Ucapnya. Aku bingung sekali, kenapa harus bertanya dan meminta izin pada ku? Sementara di dalam pasti ada Ara yang akan memberikan keputusan padanya.


"Apa Ara tidak apa-apa, tinggal sendiri di rumah sebesar ini?" Tanya ku. Bibi nampak seperti orang yang sedang risau. Aku paham dengan yang ia rasakan. Memang, kehidupan ini harus lebih memikirkan keluarga. Aku tidak akan melarang jika dia berkata benar.


"Saya ga akan ngelarang Bibi kok. Silahkan, Bi. Biar saya yang jaga Ara nantinya." Ucap ku. Bibi seperti tersenyum bersemangat karena mendengar ucapan ku. Ia menjabat tangan ku dengan riangnya.


"Makasih Den makasih.."


"Iya, Bi. Tapi, ada syaratnya." Ucap ku. Bibi tiba-tiba diam memandang ku dengan tatapan bingung.


"Apa tuh, Den syaratnya?" Tanyanya penasaran. Aku tersenyum kecil padanya.


"Sebelumnya, Arash pulang hari apa, Bi?"


"Kira-kira, Akhir pekan, Den."


"Oh.. Okey, kalau gitu Bibi boleh pulang sebelum Arash pulang ke sini. Dengan syarat.." Ucap ku menggantung. Bibi melihat ke arah ku dengan serius sekali. Aku tersenyum kecil padanya.


*


Aku menuju dapur rumah Ara untuk sekedar memasakkan makanan kesukaan Ara, yang sebelumnya sudah di siapkan oleh Bibi. Aku mencoba untuk menuangkan keahlian ku yang sudah 2 tahun lalu terkubur. Aku ingin mencoba memasakkan sesuatu yang berbeda dari hanya sekedar nasi goreng biasa. Sebelum Bibi berangkat pulang kampung, aku meminta satu syarat padanya. Aku ingin ia menyiapkan bahan makanan untuk aku dan Ara selama 2-3 hari ke depan. Dengan memberikan resep yang biasa Bibi masakkan untuk Ara setiap harinya. dan, Aku memberikan semua hadiah dari secret fans ku yang tadi siang membuat aku sedikit down. Dengan catatan, Bibi tidak boleh sama sekali membuka rahasia ini pada Ara. Aku tidak ingin ia marah pada ku. Aku sudah sudah payah mendapatkan dia. Aku tidak ingin dia pergi dengan mudahnya dari kehidupan ku.


Aku memasak sayur sop dan ayam goreng kesukaannya. Dengan langkah-langkah yang aku lihat di tutorial. Aku mencoba mengikuti langkah demi langkah yang aku lihat. Aku sangat menikmati memasak untuk pacar ku ini. Sembari menunggu sayur sop nya matang, aku memanaskan minyak dan menggoreng ayam yang sudah di beri bumbu oleh Bibi. Jadi, aku hanya tinggal menggorengnya saja. Hihi.


Beberapa saat kemudian, ayam goreng yang sudah ku masak tadi terlihat sudah kecoklatan dan sepertinya siap untuk di hidangkan. Aku mengambil piring dan menaruh beberapa potong ayam yang sudah ku goreng itu. Aku menyiapkan lilin dan juga alat pendukung lainnya yang akan membuat dinner kali ini terasa lebih mewah dan romantis. Aku mempelajari ini semua dari buku novel yang aku baca. Apakah Ara akan suka dengan dekorasi yang aku berikan ini?


Aku tidak mau menghiraukan ucapan secret fans ku itu. Aku sama sekali tidak berniat untuk menemuinya. Sekalipun Putri masih hidup, Aku tidak berniat untuk menemuinya.


Semua sudah selesai. Aku menepuk kedua belah tangan ku. Aku rasa, misi sudah hampir selesai. Tinggal menunggu Ara bangun dari tidurnya, kemudian menyalahkan lilin yang sudah aku siapkan. Tak lupa memperhatikan beberapa hal kecil seperti bunga dan juga coklat.


"Sudah siap." Lirih ku sembari memandang hasil kerja keras ku. Aku menoleh jam dinding. Sudah pukul 7 sekarang. Aku harap, dia tidak akan melakukan hal bodoh dengan menunggu ku sampai larut malam.

__ADS_1


@sarjiputwinataaa


__ADS_2