
Aku sudah selesai membeli barang yang ingin aku berikan kepada Morgan, sebagai hadiah ulang tahun. Aku kembali ke tempat Morgan berada. Aku senang, karena aku bisa memberikan hadiah ulang tahun padanya.
“Morgan pasti suka deh!” lirihku, sembari terus memandang bungkusan yang sejak tadi aku pegang.
Aku melangkahkan kaki menuju restoran, tempat aku meninggalkan Morgan tadi.
Langkahku terhenti, karena aku yang tak sengaja melihat Morgan, yang sedang bersama dengan beberapa gadis di sana.
Mereka terlihat sedang mengobrol dengan akrab sekali. Walaupun, Morgan sama sekali tidak berekspresi secara berlebihan, tapi sorot matanya tetap saja terlihat begitu asyik menikmati suasana seperti itu.
Morgan tetap saja bersikap dingin, walau saat ini sedang berada di hadapan banyak gadis cantik sekali pun.
Aku melihatnya dengan tatapan miris. Ada sedikit perasaan sedih saat aku melihat mereka yang tengah asyik berbincang.
Kenapa Morgan bisa bersama dengan mereka? Padahal, aku baru saja meninggalkannya sebentar, untuk membelikan Morgan hadiah. Hatiku mendadak remuk, sampai tidak mood lagi. Aku menyimpan hadiah itu di dalam tasku. Aku mengurungkan niatku untuk memberikannya hadiah.
“Ara?” pekik seorang laki-laki, yang tiba-tiba saja datang.
Aku sangat terkejut. Ternyata, dia adalah teman sekelasku juga. Tapi, aku sama sekali tidak pernah berbincang dengannya.
Aku menyipitkan mataku, berusaha mengingat dirinya.
Bukankah dia….
“Ra?” pekiknya lagi, membuatku tersadar dari lamunanku.
“Eh, iya.” Aku tersadar.
“Loe ngapain, Ra, di sini?” tanyanya yang sepertinya sok akrab denganku.
Sebetulnya, aku malas berbincang dengannya, karena dia yang waktu itu sudah melukai Fla, dan berseteru dengan Ray hingga dosen idiot itu datang untuk mengusut kasus tidak jelas ini.
Tapi akhirnya aku sadar, kenapa Morgan sampai melakukan itu. Itu karena korbannya adalah Fla, adiknya. Setidaknya aku sudah tahu satu poin itu.
“Ra,” pekiknya lagi, yang lagi-lagi berusaha untuk membuatku tersadar.
Aku tersadar kembali, dan merasa tidak nyaman berbincang dengannya.
“Eh, g-gue….” Aku gugup, kemudian tak sengaja melihat ke arah Morgan yang juga kebetulan sedang melihat ke arahku.
Pria ini mengikutiku untuk menoleh ke arah yang aku lihat.
__ADS_1
“Eh, itu bukannya pak...” ia seperti sedang berpikir, sembari menaruh jari telunjuknya ke dagunya.
Aku mendadak tertawa kecil untuk mencairkan suasana.
“Oh, gue lagi jalan-jalan doang kok di sini,” ucapku untuk mengalihkan pembicaraan, jangan sampai ia tersadar, kalau aku ke sini bersama dengan Morgan.
Dia langsung menoleh ke arahku dan tersenyum.
“Oh... sama dong? Kalau gitu, boleh bareng gak? Gue juga lagi jalan-jalan aja di sini,” gumamnya.
Aku bingung harus menjawab apa. Aku melihat ke arah Morgan yang sedang menatap ke arah kami dengan tatapan yang dingin. Para gadis itu kemudian mengalihkan perhatian Morgan. Aku kembali melihat pria yang ada di hadapanku saat ini.
“B-boleh aja sih,” jawabku, membuatnya tersenyum.
“Oke deh.”
Keadaan kami saat ini sangat canggung. Aku harus mencari topik pembicaraan agar bisa mengalihkan suasana canggung ini.
“Oh ya, kayaknya… loe yang waktu itu berantem sama Ray, ya? Sampe loe di panggil ke ruang Kaprodi?” tanyaku, Ia mengangguk kecil.
“Iya, dia sok banget di kelas. Gue gak suka orang yang nyakitin perempuan tapi kayak gak merasa bersalah gitu.” Jawabnya membenarkan pertanyaanku.
“Tapi, mereka udah baikan, kok. Malah sekarang, gue, Fla, sama Ray jadi sering bareng kalau ke mana-mana,” sanggahku, berusaha membenarkan keadaan.
Jangan sampai, Rafael merasa kesal dengan kejadian yang sebenarnya sudah lama terjadi. Lagi pula, Fla dan Ray saat ini sudah baik-baik saja.
“Oh ya? Baguslah kalau begitu. Gue jadi tenang.”
Aku hanya tersenyum, tanpa tahu harus menjawab apa lagi. Suasana seketika menjadi sunyi kembali. Aku tidak bisa terus-menerus mencari topik pembicaraan, karena memang aku tidak biasa seperti itu. Biasanya, Reza yang lebih dulu bertanya, dan mencairkan suasana. Bahkan, Reza yang setiap hari mengirimkan pesan singkat dan meneleponku lebih dulu.
“Heheh, oya nama gue Rafael,” gumamnya tiba-tiba, sembari menyodorkan tangan kanannya.
Aku sampai lupa dengan namanya. Aku bahkan tidak bertanya padanya. Tapi, dia sendiri yang berinisiatif untuk memperkenalkan diri. Benar-benar laki-laki yang unik.
Aku berusaha menjabat tangannya. Tapi….
“Morgan.” Morgan tiba-tiba saja datang, dan langsung menyambar tangan kanan Rafa.
Aku yang melihatnya pun menjadi terkekeh.
“Iya, Pak. Saya tahu Pak Morgan, kok. Kan kita pernah ketemu di ruangan bapak waktu itu,” ucap Rafael, kemudian terlihat menghempaskan pelan tangan Morgan.
__ADS_1
Aku terkekeh mendengarnya.
‘Ish apan sih Morgan? Sok kenal banget,’ batinku yang merasa sangat jengkel dengan perbuatan Morgan yang secara tiba-tiba, mengacaukan sesi perkenalanku dengan Rafa.
“Bagus deh kalau kamu sudah kenal dengan saya,” ucap Morgan terdengar sangat kaku.
Kenapa dia masih saja menjaga image-nya? Padahal, ini bukan sedang di kampus. Harusnya dia gak perlu berbicara secara formal terus-menerus. Aku jadi kesal kembali dengannya.
“Lho, Pak Morgan ngapain di sini?” tanya Rafa, Morgan sepertinya tidak bisa menjawab pertanyaannya.
‘Jawab dong! Hoho!’ Aku menertawakan Morgan dalam hati, tak sabar ingin mendengar jawabannya itu.
Morgan melihat ke arah jam tangannya kemudian langsung menoleh ke arahku.
“Sebentar lagi dimulai,” ucapnya, membuatku kaget sekali, khawatir Rafa dan para gadis itu mengetahui kalau aku dan Morgan di sini sedang berkencan.
Ah.
Bukan, aku sedang tidak berkencan di sini. Aku sedang ikut berpartisipasi untuk merayakan ulang tahun Morgan.
“Jadi, Ara sama Pak Morgan….” Ucap Rafa menggantung.
Sepertinya, Rafa sudah mengetahui, kalau aku datang ke sini bersama dengan Morgan.
Habislah sudah. Bagaimana nasibku selanjutnya? Aku tidak ingin Rafa sampai berpikiran yang tidak-tidak tentangku dan Morgan.
Morgan merengkuh tubuhku, meniadakan jarak di antara aku dan dia, membuatku terkejut setengah mati.
“Memangnya, ada urusan apa, ya?” tanya Morgan dengan nada yang sangat angkuh.
Aku terkejut! Ingin sekali kukoyakkan kepalanya itu.
“Eh… jadi kalian berdua--”
“Udah deh! Gak usah mikir yang macem-macem! Gue gak ada apa-apa sama Pak Morgan. Lagian, gue masih sepupuan kok sama Pak Morgan, ya kan Pak?” tanyaku yang memangkas ucapan Rafa dengan cepat.
Aku memandang Morgan dengan tatapan menohok, berusaha menyiratkan rasa kesalku padanya. Aku ingin, kali ini ia membantuku agar tidak terjadi kesalahpahaman antara aku dan Rafa.
“Saya? Sepupuan sama kamu? Memangnya bisa sepupu dijadikan sebagai calon istri?” ucap Morgan yang semakin lama, semakin melantur, membuatku gelisah dan berada dalam keresahan.
“Eh, gila kau, ya!” Bentakku yang tak senang dengan ucapan asalnya itu.
__ADS_1