
“Dilarang berbuat mesum di kampus ini.” Ucap orang yang tadi menabrak ku, yang ternyata adalah Pak Dicky. Aku
lumayan kesal dengan ucapannya itu. Aku tidak berbuat apapun. Aku justru di tolong oleh laki-laki itu, karena sudah bertabrakan dengan dia.
“Lho Pak, saya gak ngapa-ngapain!” Bentak ku. Dicky nampak memandang sinis orang yang menolong ku tadi.
"Apa salah gue coba?" Kesal ku, lalu pergi meninggalkan mereka berdua di sana. Aku heran dengan pak dicky, jelas-jelas dia yang sudah menabrak ku. Tapi dia membuat seolah-olah aku yang salah dengan berbuat mesum di dalam kampus. Aku juga sadar betul kalau hal itu di larang. Aku tidak seperti dia yang berbuat mesum di ruangan Morgan.
"Huuuuh gak modal." Lirih ku kesal jika mengingat kejadian waktu itu saat Dicky dan Dosen Lidya sedang bermesraan di ruang Morgan. *Baca Eps. 46
Aku berlari menuju toilet di ujung koridor. Kemudian aku pergi ke ruang kelas ku. Aku mengintip dari luar kaca jendela. Sesaat setelah aku mengintip, Fla menoleh ke arah ku. Aku menerima signal kode darinya yang menyuruh ku untuk segera masuk ke dalam ruangan. Aku bergerak cepat menuju pintu ruangan.
"Tseeeettttt...." Seseorang menghalangi jalan ku. Aku melihat sinis ke arahnya. Terlihat Morgan yang sedang menghalangi pintu masuk. Aku mendadak kaget sekaligus kesal dengan perlakuannya. Apa dia tidak membiarkan aku mengikuti pelajaran?
"Apaan si, minggir." Kesal ku. Namun, Morgan masih saja tetap berada di posisinya itu. Ia menatap ku dingin dan datar. Aku melirik ke arah Fla yang sedari tadi memang memperhatikan ku. Ia terlihat menepuk keningnya.
"Morgan.. Minggir. Aku mau masuk.." Pinta ku dengan nada memelas. Namun, ia memandang ku dengan tatapan yang sangat dingin. Kenapa ia bersikap seolah-olah sedang marah dengan ku?
Aku memandang sekeliling ku. Rupanya, banyak orang yang menatap ku dengan tatapan sinis dan tak senang. Aku tidak mau mengundang banyak mata untuk memperhatikan ku. Tapi, sikap Morgan yang seperti ini justru membuat semua orang bingung dengan yang ia lakukan. Terlebih lagi, banyak teman sekelas ku yang juga mengidolakan Morgan. Para wanita itu seakan menatap ku dengan sinis.
"Plis.. Banyak yang ngeliatin kita." Aku memaksa masuk, namun aku terpental kembali karena berbenturan dengan lengannya.
"Awwwwwwsss..." Rintih ku sembari memegangi dada ku.
"Ikut saya ke ruangan." Tegasnya dengan dingin. Aku merasa ada hal yang aneh darinya sehingga bersikap seperti itu. Aku bergerak mengikutinya dengan perasaan kesal. Di sepanjang jalan menuju ruangannya, aku hanya mendumel kesal karena sikap anehnya itu. Aku dan dia sedang menunggu lift untuk menuju lantai 6 kampus yang tak lain adalah ruangan Morgan.
"Tingggggg...." Pintu lift terbuka. Aku dan dia mulai masuk ke dalam lift dan ia menekan tombol lift yang bertuliskan angka 6. Pintu lift pun tertutup kembali. Guncangan saat pertama lift bergerak membuat ku agak kehilangan keseimbangan ku dan menabrak dada bidang Morgan. Aku kesakitan sembari mengelus kening ku.
"Hati-hati." Lirihnya. Aku sampai terkesima mendengar ucapannya itu. Ia memelukku dari arah belakang ku. Aku merasa aneh dengan sikapnya yang mendadak dingin kemudian berubah menjadi hangat kembali.
"Kenapa sih? Kok aku di suruh ke ruangan kamu?" Tanya ku bingung. Ia masih saja memeluk ku erat.
"Tingggggg...." Lift sudah sampai pada lantai tujuan. Morgan melepaskan pelukannya itu dan berjalan di depan ku. Rupanya, ia juga tidak mau sampai orang lain mengetahui hubungan kita. Atau, dia terpaksa melakukannya karena aku yang memintanya?
Kami pun tiba di ruangan Morgan. Aku melihat Pak Dicky sedang duduk di kursi yang berada di hadapan kursi Morgan. Aku hanya memandang sinis dirinya. Morgan duduk di hadapan Dicky yang sedang asyik bermain game online. Aku duduk di sebelahnya dan membuyarkan konsentrasinya.
"Eh.. Ada tamu. Duduk." Ucap Dicky. Aku memandangnya sejenak dengan tatapan tak suka kemudian aku menghempaskan tas ku di atas meja dan duduk di kursi sebelah Dicky.
"Kenapa si ada Pak Dicky lagi?" Kesal ku. Dicky memandang ku dengan tatapan bingung. Kemudian kembali melihat gadgetnya.
"Lho, kenapa dengan saya?" Tanya Dicky asal namun fokusnya masih tetap kepada gadgetnya. Aku mendengus kesal.
"Coba kamu jelasin." Morgan tiba-tiba mengalihkan perhatian ku. Aku mendadak menjadi linglung.
__ADS_1
"Jelasin apanya??" Tanya ku yang tak mengerti dengan ucapannya yang secara tiba-tiba mengagetkan ku. Ia menatap ku dingin.
"Kejadian di koridor tadi?" Tanyanya dengan tatapan yang seakan mengatakan kecemburuannya pada ku. Aku akhirnya tahu, kenapa sikapnya aneh sejak tadi. Aku menepuk keras kening ku dan berusaha membuatnya percaya pada ku.
"Yaa ampun.. Itu gak seperti yang loe bayangin." Rengek ku padanya agar ia mempercayai ku. Aku langsung teringat sesuatu. Aku pun langsung menoleh ke arah Dicky.
"Pak, maksudnya apa sih ngadu begitu ke Morgan? Bapak seneng, nyebarin fitnah dan isu gak jelas begitu?" Sinis ku padanya. Ia nampak terkejut dengan ucapan ku yang menyalahkan dirinya.
"Lho saya nggak tahu apa-apa tentang itu. Saya memang tau dan ada di lokasi kejadian, tapi saya nggak ngomong apa-apa kok ke Morgan." Jelas Dicky. Aku merasa sangat bersalah karena sudah menyalakannya secara sepihak. Aku hanya tidak ingin Morgan sampai salah paham dengan ku.
"Kalau bukan dari pak Dicky, terus Morgan tau dari mana soal kejadian di koridor?" Tanya ku yang masih bersikeras karena hanya ada dia yang aku kenal di sana.
"Ya mana saya tahu? Lagian ya, ngapain kamu harus takut sama Morgan? Emang Morgan siapanya kamu? Itu kan cuma salah paham aja." Ucapnya yang membidik ke dalam inti permasalahan. Aku hanya menunduk takut kalau saja Dicky mengetahui tentang hubungan ku dengan Morgan.
'Aduh.. itu kenapa sih Pak Dicky nanya begitu? Bikin gue nggak bisa jawab aja! Gue harus gimana nih sekarang?" Batin ku yang bingung, khawatir ia mengetahui hubungan ku dengan Morgan.
"Salah paham gimana?" Sambar Morgan.
"Ya salah paham! Ceritanya gue nabrak Ara dan dia di tolongin sama orang lain supaya dia nggak jatuh. Mungkin orang yang ngasih tahu informasi ini ke loe cuma dengar candaan gue aja kali yang terakhir kali gue ngomong ke Ara." Jelas Dicky. Morgan mengernyitkan dahinya.
"Candaan yang terakhir kali gimana, yang loe omongin ke Ara?"
"Ya gue tadi bercanda. Gue sih niatnya pengen ngejailin aja. Gue bilang aja kayak begini 'Di kampus ini di larang mesum.' Nah mungkin orang itu cuma denger terakhirnya aja kali. Jadi, dia kira memang Ara beneran berbuat mesum di kampus." Jelas Dicky dengan lebih spesifik lagi. Aku menyipitkan mata ku ke arah Dicky.
"Harusnya bapak kalau mau bercanda tuh liat sikon! Saya gak mau ya, kejadian semacam ini terulang lagi!" Geram ku. Dicky terlihat hanya cengengesan dan berusaha mencairkan suasana.
"Pake segala di rangkul gitu lagi.. Ah.. So sweet banget dah pokoknya." Dicky menghentikan ucapannya. Kemudian melihat Morgan yang sudah siap untuk memukulnya dengan memegang tongkat base ball di tangannya. Dicky berubah sikap menjadi takut ketika Morgan memainkan tongkat base ball di tangannya.
"Eh gan, maksudnya apa nih?" Tanyanya takut sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Udah kelar bicaranya?" Tanya Morgan dengan tetap memainkan tongkat itu. Dicky perlahan mundur dari posisinya.
"Peace!" Dicky menunjukkan ke dua tangannya membentuk lambang peace kemudian ia langsung lari ke luar ruangan Morgan. Aku hanya tertawa karena jahilnya Morgan. Aku tahu, ia sedang menahan amarahnya di balik itu semua. Tapi aku salut padanya yang bisa menyembunyikan semua rasa kesalnya dan rasa cemburunya itu.
"Gak usah ketawa." Ketus Morgan. Aku menghentikan tawa ku dan langsung memandangnya dengan sinis.
"Apa.." Tantang ku sembari memelototinya dengan sinis. Ia memandang ku dengan tajam. Seolah meminta ku untuk menjelaskan kembali apa yang terjadi. Aku menyedekapkan tangan ku.
"Apa benar yang di bilang Pak Dicky tadi?" Tanyanya yang rupanya masih belum percaya. Aku kesal bukan main.
"Emangnya siapa sih orang yang kurang ajar kasih tau berita hoax begitu? Kalau loe lebih percaya sama dia, loe pilih aja dia! Gak usah loe percaya sama gue!!" Bentak ku lalu mengambil tas ku dan bangkit dari tempat duduk ku. Heran, kenapa dia selalu membuat ku kesal seperti ini? Aku pun tidak mengenal siapa pria itu? Kenapa aku di tuduh seolah-olah memang benar adanya?
"Grepp.." Ia menahan tangan ku supaya aku tidak bisa pergi kemana pun. Aku berusaha untuk tidak meluapkan emosi lagi. Karena, Aku sudah cukup meluapkan banyak emosi.
__ADS_1
"Aku cuma khawatir kamu berpaling." Lirihnya, membuat wajah ku terasa panas. Sudah sedekat ini pun, aku masih saja di buat mabuk dengan perkataannya. Padahal, harusnya aku sudah terbiasa dengan hal itu.
"Tenang aja. Loe urus aja para fans loe itu dulu. Kalau di kampus, kita bukan pacar. Kita bebas dekat dengan siapa pun. Gue juga ga akan maksa loe buat jaga perasaan gue kok." Sinis ku tetapi ragu dengan yang aku ucapkan sekarang padanya. Aku heran, kenapa aku bisa sampai hati mengucapkan kalimat seperti itu padanya. Mungkin, itu akan sangat membuat hatinya terluka.
"Belum genap sehari kita pacaran aja, loe udah buat masalah begini. Plis.. jangan bikin gue gak betah sama loe!" Aku memandangnya miris. Ia terlihat hanya diam dan dingin. Mungkin sifat dinginnya itu tidak akan bisa hilang dengan mudahnya.
"Kamu gak nyaman sama aku?" Tanyanya membuat ku menjadi merasa bersalah karena sudah mengucapkan kalimat itu. Aku memandangnya sendu. Apa yang akan aku katakan padanya?
"Dengan cara begini, itu cuma bikin gue ngerasa ilfeel ke loe. Gue juga punya masa lalu yang hampir sama kayak loe. dan gue gak mau kejadian yang lalu terulang lagi. Tapi gak ngekang juga dong caranya? Itu malah bikin siapa pun yang dekat sama loe jadi gak betah. Sadarin itu, Gan!" Bentak ku, mencoba membuat Morgan mengerti dengan yang aku maksud. Morgan seketika menunduk. Mungkin ia merasa bersalah dengan yang ia lakukan itu.
"Gak perlu ada mata-mata, gak perlu ada apa pun buat bikin loe yakin. Kalau loe gak percaya sama gue, loe gak harus pilih gue, Gan!" Matanya berkaca-kaca. Aku sampai sedih melihatnya.
"Boleh peluk?" Tanya ku lirih. Aku merasa tak enak dengan dirinya. Aku harus mengirim kembali kepercayaan dirinya itu. Ia bergerak perlahan ke arah ku.
"Greppppp..." Ia memeluk diri ku dengan sangat erat. Erat sekali hingga membuat ku sesak. Aku merasakan rasa sakit hatinya saat ini. Aku tidak bermaksud untuk membuatnya seperti ini, aku hanya ingin membuatnya mengerti yang sedang aku rasakan.
"Maaf.." Kami berdua serempak mengucapkan kata maaf. Aku tersenyum mendengarnya. Aku membalas pelukannya itu. Seketika kami larut dalam suasana ini. Sampai aku melupakan sesuatu.
"Ini ada cctv nya gak?" Kaget ku.
"Ada." Jawabnya. Aku langsung melepaskan diri dari pelukannya itu. Jadi, dari tadi sampai sekarang semua aktivitas kami semua di rekam dengan cctv?
"Wah gila loe ya!! Kenapa baru bilang sekarang kalau ada cctv di sini?" Kesal ku. Ia hanya tersenyum mendengar ocehan ku.
"Tenang aja. Cctv-nya mati kok. Udah lama rusak karena korsleting listrik." Jawabannya membuat ku kesal saja. Aku menatapnya sinis dengan tatapan kesal sembari menahan amarah.
"Lho, kenapa?" Tanya morgan dengan polos. Aku memukul dada bidangnya tanpa ragu. Ia berusaha mengelak dari pukulan ku.
"Lho? Aku salah apa emang? Kan kamu cuma nanya, Ada cctv gak di sini. Ya jawabannya ada. Kamu ga nanya kan cctv nya on atau engga?" Ucapnya dengan nada yang membuat ku semakin geram. Aku pun segera meninggalkannya, khawatir emosi ku yang akan meledak-ledak nantinya.
"Nanti kelar kelas jam berapa?" Tanyanya setengah berteriak. Aku menghentikan langkah ku.
"Jam 2." Aku menjawabnya singkat dan tanpa ekspresi, tanpa melihat ke arahnya.
"Aku tunggu di parkiran ya." Ia mulai tersenyum kembali, tapi aku yang malah tidak mood mendengar candaannya itu.
"Ga, Aku pulang sendiri aja." Ketus ku.
"Mau aku yang samperin ke kelas?" Tanyanya. Spontan aku menoleh ke arahnya.
"Jangan ngadi-ngadi deh ya." Sinis ku lalu pergi meninggalkannya. Sekilas ku lihat ia tersenyum ke arah ku sebelum aku meninggalkannya. Aku langsung terkesima dengan tingkahnya itu. Aku bingung, kenapa aku bisa dengan mudahnya membalikkan keadaan yang semula tidak mood menjadi sangat mood ketika ia mulai kembali tersenyum? Apa damage dari senyumannya memiliki efek berkelanjutan?
'Mikir apa sih Ra? Loe lagi gak main game keles.' Batin ku mencela diri ku sendiri. Aku langsung menuju ruang kelas ku. Kebetulan, dosen pertama sudah menyelesaikan jam perkuliahan. Kelas terlihat sangat rusuh sekali dengan mereka yang sedang duduk berkelompok. Aku pun masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Eh, tuh dia orangnya."
@sarjiputwinataaa