Dosen Idiot

Dosen Idiot
64. Makanya, Sini Dong!


__ADS_3

Seorang petugas menyergap diri ku. Aku menuruti semua


keinginannya tanpa basa-basi dan mengeluarkan suara sedikit pun. Aku sudah


tidak berdaya lagi untuk melawan atau pun sekedar mengucapkan satu patah kata.


Dengan berat hati, aku mengikuti mereka semua ke kantor polisi. Ayah, dan juga


Fla hadir di sana sebagai orang yang salah paham dengan ku. Mereka berdua


menganggap bahwa aku lah yang telah membunuh Putri. Padahal, aku tidak tahu


menau soal kejadian yang baru saja menimpa Putri. Aku sungguh bodoh! Sudah


teledor dengan keadaan wanita yang aku sayangi. Tidak ada yang mau mendengar ku


pada saat itu meskipun aku sudah terbukti tidak bersalah dengan kejadian ini.


Aku merasa hanya sendiri, tidak punya siapa-siapa untuk sekedar mengungkapkan


perasaan yang sedang ku pendam saat ini. Hari demi hari ku lewati dengan


perasaan kehilangan dan penyesalan. Aku tidak lagi bisa tersenyum seperti saat


sebelum aku mengenal Putri. Aku jadi terus menerus menyalahkan diri ku sendiri.


Seandainya aku tidak mengajak Putri untuk menonton film waktu itu, ia tidak


akan pergi dari sisi ku selamanya. Semua cara sudah aku lewati demi


menghilangkan sosok Putri di pikiran ku. Tapi, semua sama saja dan sia-sia


belaka. Aku menjalani kehidupan 4 tahun ku yang suram. Sampai akhirnya, aku


memutuskan untuk melanjutkan S2 ku di Jepang. Dengan penuh rasa bersalah, aku


menenangkan diri meninggalkan semua yang telah terlewati selama 4 tahun


belakangan ini yang masih saja ku ingat dengan jelas.


Sesampainya di Jepang, aku mulai berusaha untuk mencari


tambahan dengan bekerja sampingan di sana. Semua pekerjaan aku jalani demi


untuk bisa menyambung hidup ku. Karena saat itu, aku senang sekali minum


shochu. Butuh penghasilan ekstra agar aku bisa membeli shochu untuk melepas


kepenatan selesai aku belajar dan juga bekerja paruh waktu. Saat aku sedang


bekerja di suatu bar, aku melihat seorang wanita yang sedang di lecehkan oleh


beberapa laki-laki. Aku menghampirinya.


“excuse me, can I help


you?” Tanya ku yang masih kaku sekali berbahasa Jepang, sehingga aku


memutuskan untuk memakai bahasa Inggris saja.


“Kansho Shinai!!” (Jangan


ikut campur!!) Bentaknya secara tiba-tiba. Untungnya sebelum memutuskan untuk


pergi ke jepang, aku sedikit mempelajari bahasanya, walaupun masih kaku untuk


ku berbicara bahasanya. Tapi aku sedikit mengerti dengan apa yang ia katakan.


“I am an employee


here. don't disturb other visitors!”


“Shinu koto o


sagashiteimasu ka” (cari mati kah?)


Mereka satu per satu mulai mengepung ku. Aku tak terima


kedai ku di acak-acak olehnya. Terlebih lagi, kalau sampai mereka menyentuh perempuan


dengan kasar. Aku tidak akan segan untuk menghabisi mereka.


Terjadi perkelahian yang sengit antara aku dan mereka. Tidak


ada yang bisa menghentikan kami. Semua orang terdiam kaku melihat penampilan


seni bela diri ku yang bagus.


“Brukkkkkkkkk...” Mereka semua tergeletak di atas lantai.


Mereka mungkin saja merasakan sakit akibat terkena pukulan ku yang cukup keras


itu. Aku tidak memperdulikan keadaan mereka. Aku hanya ingin mereka pergi dari


sini dan jangan pernah kembali.


“Kiwotsukero!!!” (Awas


kau!!!) Mereka semua pun akhirnya pergi dari hadapan ku dan meninggalkan wanita


itu bersama ku. Aku menghampirinya untuk memastikan keadaannya.


“Kamu gak papa kan?” Tanya ku. Ia seperti memandang ku


lekat. Sekian detik ia hanya diam tak bergeming.


“Hello?” Tanya ku. Ia tersadar dari lamunannya.


“Wakarimasen!” (Aku


tidak mengerti) Ucapnya sembari


membungkuk. Aku agak lupa kalau aku sedang berhadapan dengan gadis jepang. Aku


tersenyum manis padanya untuk sekedar menenangkan hatinya yang mungkin saja


sedang kacau.


“Gomen’nasai!” (Maaf)


Jawab ku juga sembari membungkuk meniru gaya kebudayaan Jepang.


Aku berkenalan dengannya dengan harapan bisa melupakan


sedikit mengenai Putri. Aku hanya ingin membuka hati ku untuk gadis lain


sehingga bayangan Putri akan hilang selamanya dari hidup ku. Aku bersamanya


setiap waktu. Aku merasa dia sangat baik pada ku. Sampai aku berhenti dari


pekerjaan paruh waktu ku dan fokus pada kuliah ku saja. Karena setiap aku


membutuhkan uang untuk melakukan apa pun yang aku inginkan, ia selalu


memberikan pada ku. Seluruh kebutuhan ku terpenuhi setelah aku mengenalnya.


Tapi, lama kelamaan aku menjadi kasihan padanya. Aku berusaha membuka hati ku


dan mencintainya sepenuh hati. Setiap hari, aku mengajarinya untuk berbicara

__ADS_1


bahasa Indonesia. Begitu pun sebaliknya, aku mempelajari bahasa Jepang. Aku


mulai nyaman dengannya saat itu. Aku hanya beberapa kali menciumnya tanpa


melakukan hal-hal di luar itu walaupun ia terus menerus membuat ku ingin


melakukannya, tapi aku tidak mau terjebak dengannya. Tapi saat itu, aku


mengetahui kalau preman yang waktu itu menggodanya adalah orang suruhannya agar


aku bisa menjadi miliknya. Aku sangat kesal saat mengetahui itu. Aku tidak suka


orang yang aku percaya, tiba-tiba membohongi ku seperti itu. Terlebih lagi, aku


memergokinya sedang bersama dengan pria lain di dalam kamar. Akhirnya aku


memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Aku mulai fokus kembali untuk


mencari pekerjaan. Aku mencoba pindah dari daerah itu dan melamar di salah satu


bar. Aku mengenal beberapa teman wanita yang tak lain adalah partner bekerja ku


di sana. Aku melepaskan rasa penat ku dan mulai menghambur-hamburkan uang lagi.


Setelah beberapa bulan aku di tempat ini, aku mulai berpikir bagaimana cara


supaya aku bisa lari dari kejaran Meygumi dan para pengawalnya itu. Karena,


setiap saat selalu mereka datang untuk mengejar dan menangkap ku. Aku tidak


mengerti permasalahannya. Aku seperti buronan di sini. Waktu demi waktu


berlalu, tibalah waktunya aku mendapatkan gelar S2 ku. Dengan selalu hidup


menjadi buronan sepanjang waktu, akhirnya aku memberanikan diri untuk menemui


Meygumi. Aku datang langsung ke rumahnya untuk sekedar meminta maaf dan berpamitan


padanya. Ia mungkin sangat terpukul karena kehadiran ku yang tiba-tiba setelah


lama menghilang. Apa lagi, aku menemuinya berniat untuk pamit. Ia menceritakan


pada ku kalau keluarganya membangun sebuah hotel di Indonesia yang rencananya


akan di kelola bersama dengan ku saat aku menyelesaikan studi ku. Tapi, aku


sudah keburu muak dengan semua hal yang menyangkut tentang dirinya. Akhirnya


dengan sangat sulit aku keluar dari rumahnya untuk langsung terbang menuju


Indonesia hari itu juga.


-FLASH BACK MORGAN OFF-


Aku merasa terenyuh mendengar semua cerita Morgan. Aku tidak


tahu harus bersikap seperti apa. Rasanya, agak sedikit sakit mendengar


keseluruhan cerita yang ia ceritakan tadi. Aku memandang sendu dirinya yang


juga sedang memandang ku. Itulah alasan ia selalu bersikap demikian karena


tekanan yang ia alami sangatlah besar menurut ku. Ya! Masa lalunya tak beda


jauh dengan masa lalu ku. Aku sangat mengerti dengan perasaannya sekarang.


“Jadi, karena itu aku selalu dingin sama kamu. Karena memang


perasaan ku terhadap wanita sudah hampir mati. Aku gak mau ngalamin hal yang


sama dengan masa lalu yang aku alami.” Ucapnya dengan nada penuh kesedihan. Aku


“Jadi Meygumi main cinta sama laki-laki lain? Karena loe gak


mau ngelayanin dia?” Tanya ku. Ia menggangguk kecil. Pikiran ku salah selama


ini tentangnya. Aku kira, laki-laki seperti dia bisa dengan mudahnya meniduri


wanita yang dia inginkan.


“Jujur, saya baru pertama sama kamu.” Ucapnya dengan nada


yang terdengar agak ragu. Aku spontan menoleh ke arahnya dan melihat wajahnya


yang ia sembunyikan dengan cara membuang pandangan itu. Aku menoleh ke arah


sebaliknya. Wajah ku terasa panas seketika. Apa wajah ku sudah berubah menjadi


merah?


“Hotel yang kamu pakai untuk bermalam bersama Laki-laki itu,


adalah hotel milik Meygumi. Aku juga bertemu dengan Meygumi saat itu.” Ucap


Morgan yang membuat aku terkejut. Kenapa dunia sesempit ini? Lalu, apa yang


dilakukan Morgan saat bertemu dengan Meygumi kembali?


“Hah? Terus, loe ngapain aja sama dia pas loe ketemu sama


dia?” Tanya ku sinis. Ia memandang dingin diri ku. Aku terlalu gegabah dengan


bertanya seperti itu padanya. Aku tidak ingin sampai ia berpikir macam-macam


tentang diri ku.


“Apa kamu cemburu?” Tanyanya yang langsung membuat panas


wajah ku. Aku menatapnya sinis.


“S. Siapa yang cemburu coba?” Sinis ku dengan terbata-bata.


Ia tersenyum pada ku.


“Saya gak ngelakuin apapun sama dia. Cuma, saya berjaga-jaga


khawatir kamu kenapa-kenapa saat sedang bersama saya. Karena saat itu, Mey


masih ada di Indonesia. Jadi, saya memutuskan setelah kejadian itu kamu bersama


Bisma itu, saya membatasi diri untuk tidak bertemu kamu walaupun, saya gak bisa


ngelakuin itu dengan sepenuhnya. Makanya saya ngejauhin kamu waktu itu.”


Jelasnya. Aku hanya terdiam memikirkan sesuatu. Pantas saja waktu itu ia secara


sengaja menjauhi ku. Aku sudah mengerti sekarang permasalahan yang ia pendam


selama ini.


“Oh jadi, loe sengaja buat ngejauhin gue waktu itu hah?”


Sinis ku. Ia menatap ku dengan tatapan datar. Aku mendengus kesal ke arahnya.


“Terus, yang tadi ngejar-ngejar kita siapa? Kayaknya, gue


gak asing sama laki-laki yang gue liat sekilas tadi.” Tanya ku. Ia tidak menghiraukan


pertanyaan ku dan malah membaringkan tubuhnya di atas ranjang.

__ADS_1


“Deg...”


Aku merasa jantung ku terpompa lagi. Aku melihatnya


terbaring miring dengan tetap menghadap ke arah ku sembari membuka lengannya


seakan menyuruh ku untuk berbaring bersamanya. Wajah ku mulai panas kembali


karena mengerti tentang hal itu. Ia melambai ke arah ku seperti mengajak ku


untuk tidur bersamanya. Suasana nampak canggung saat ini.


“Besok lagi kita bicarainnya. Ayo, tidur sama saya.”


Ajaknya. Aku membuang pandangan ku karena malu padanya. Aku membelakanginya.


“Loe duluan aja tidur! Gue gak ngantuk!” Ucap ku ragu. Aku takut


hal-hal yang tidak aku inginkan akan terjadi lagi.


“Mau kamu sendiri yang ke sini, atau saya yang paksa kamu?”


Tanyanya dengan nada mengancam. Spontan aku menoleh ke arahnya.


“Ih! Apa-apaan sih loe? Gue gak mau ya di ancem-ancem


begini!!” Bentak ku. Ia tersenyum melihat respon ku yang kasar seperti


biasanya.


“Makanya, sini dong.” Ledeknya, jantung ku mulai berdegup


kencang lagi. Aku tidak mengerti, kenapa efeknya bisa sampai sedalam ini?


Padahal, aku bukan siapa-siapanya Morgan. Bisa-bisanya aku merasakan getaran


yang aneh ini. Dengan ragu, aku beranjak ke tempat ia berbaring dan berbaring


terlentang di sebelahnya. Masih terhitung cukup jauh. Aku sangat kaku kalau


harus tidur di dalam pelukannya.


“Kita mau tidur berpelukan atau bergandengan aja?” Tanyanya


membuat aku sangat malu. Kenapa bisa ia tidak malu mengatakan hal demikian? Wajah


ku mungkin saja terus menerus bersemu saat berhadapan dengannya. Aku spontan


menoleh ke arahnya.


“Tuk...” Aku menyentil dahi Morgan dengan pelan.


“Duh.. Kenapa?” Rintihnya manja sembari menggosok dahinya. Aku


jadi semakin malu untuk menampakkan wajah ku padanya.


“Sadar, loe itu bukan siapa-siapa gue!” Tegas ku, ia terdiam


datar.


“Terus, kalau kamu bukan siapa-siapa saya, kenapa kamu mau


tidur satu ranjang sama saya?” Godanya yang membuat aku semakin malu. Aku sudah


seperti wanita murahan saja yang secara gampang mengobral harga diri ku.


“Ih!!! Rese banget sih loe!!!” Bentak ku padanya. Tapi, ia


malah terdiam sembari menatap lekat ke arah bibir ku. Suasana menjadi sangat


canggung dari sebelumnya. Bodohnya aku, malah membalas tatapannya itu. Aku tersadar


dari lamunan. Saat ini, ia sudah sangat dekat dengan wajah ku. Desahan nafasnya


sangat mengganggu ku karena efek desahannya itu membuat aku jadi mabuk


kepayang. Aku hampir saja tidak bisa mengendalikan diri ku. Tapi, ia hanya


memandangi bibir ku saja. Tidak ada pergerakan sama sekali. Aku sudah


menanti-nanti saat-saat indah bersamanya. Meskipun logika ku menolak, tapi hati


ku merasakan rindu dengan hangat ciumannya itu.


‘Duh.. ini orang gak


mulai-mulai sih?’ Batin ku yang kesal karena harus menunggu lama. Aku tidak


mungkin memulai duluan. Aku tidak ingin dia menganggap ku sebagai wanita


murahan lagi. Aku harus menahan diri ku agar tidak kehilangan kendali. Ia menyentuh


bagian dagu ku dan menatap ku lekat. Ada getaran di hati ku yang tidak bisa ku


kendalikan lagi. Hati ku mulai tidak bisa terkontrol lagi. Ingin sekali aku


memulai dahulu permainan panas ini. Manik matanya yang indah berwarna cokelat


itu, membuat ku semakin tidak berdaya.


“Would you be my girl?”


“Deg...”


Hati ku menjadi ketar-ketir di buatnya. Seketika, nafas ku


berhenti berhembus, jantung ku berhenti berdetak, dan perlahan aku mulai


mengatur nafas ku yang tersendat akibat mendengar pernyataan cintanya pada ku.


Kenapa aku bisa sesenang ini mendengar kata itu terucap dari mulutnya? Aku bahagia


mendengar kalimat itu. Apa yang harus aku katakan padanya? Aku harus menjawab


apa setelah ini? Aku harus bagaimana? Bukankah dia pernah mengatakan untuk


jangan pernah menaruh rasa padanya? Kenapa saat ini dia malah menyatakan


perasaanya kepada ku?


“Cupss...” Ia mencium bibir ku dengan lembut. Aku sontak


kaget dengan perlakuannya itu. Aku sudah menanti-nanti hal ini sejak tadi. Dan kalau


tidak salah, ini adalah pernyataan cinta yang paling romantis bagi ku. Setelah


pernyataan cintanya, ia kemudian langsung mencium ku. Tanpa harus menunggu


jawaban dari ku. Apa dia takut kalau saja aku menolak cintanya? Tapi jika aku


menolak, aku pasti tidak akan menerima ciuman darinya, bukan? Apa tandanya aku


menerima cintanya? Apa tandanya, aku mencintai dirinya?


 


 


@sarjiputwinataaa

__ADS_1


__ADS_2