
Seorang petugas menyergap diri ku. Aku menuruti semua
keinginannya tanpa basa-basi dan mengeluarkan suara sedikit pun. Aku sudah
tidak berdaya lagi untuk melawan atau pun sekedar mengucapkan satu patah kata.
Dengan berat hati, aku mengikuti mereka semua ke kantor polisi. Ayah, dan juga
Fla hadir di sana sebagai orang yang salah paham dengan ku. Mereka berdua
menganggap bahwa aku lah yang telah membunuh Putri. Padahal, aku tidak tahu
menau soal kejadian yang baru saja menimpa Putri. Aku sungguh bodoh! Sudah
teledor dengan keadaan wanita yang aku sayangi. Tidak ada yang mau mendengar ku
pada saat itu meskipun aku sudah terbukti tidak bersalah dengan kejadian ini.
Aku merasa hanya sendiri, tidak punya siapa-siapa untuk sekedar mengungkapkan
perasaan yang sedang ku pendam saat ini. Hari demi hari ku lewati dengan
perasaan kehilangan dan penyesalan. Aku tidak lagi bisa tersenyum seperti saat
sebelum aku mengenal Putri. Aku jadi terus menerus menyalahkan diri ku sendiri.
Seandainya aku tidak mengajak Putri untuk menonton film waktu itu, ia tidak
akan pergi dari sisi ku selamanya. Semua cara sudah aku lewati demi
menghilangkan sosok Putri di pikiran ku. Tapi, semua sama saja dan sia-sia
belaka. Aku menjalani kehidupan 4 tahun ku yang suram. Sampai akhirnya, aku
memutuskan untuk melanjutkan S2 ku di Jepang. Dengan penuh rasa bersalah, aku
menenangkan diri meninggalkan semua yang telah terlewati selama 4 tahun
belakangan ini yang masih saja ku ingat dengan jelas.
Sesampainya di Jepang, aku mulai berusaha untuk mencari
tambahan dengan bekerja sampingan di sana. Semua pekerjaan aku jalani demi
untuk bisa menyambung hidup ku. Karena saat itu, aku senang sekali minum
shochu. Butuh penghasilan ekstra agar aku bisa membeli shochu untuk melepas
kepenatan selesai aku belajar dan juga bekerja paruh waktu. Saat aku sedang
bekerja di suatu bar, aku melihat seorang wanita yang sedang di lecehkan oleh
beberapa laki-laki. Aku menghampirinya.
“excuse me, can I help
you?” Tanya ku yang masih kaku sekali berbahasa Jepang, sehingga aku
memutuskan untuk memakai bahasa Inggris saja.
“Kansho Shinai!!” (Jangan
ikut campur!!) Bentaknya secara tiba-tiba. Untungnya sebelum memutuskan untuk
pergi ke jepang, aku sedikit mempelajari bahasanya, walaupun masih kaku untuk
ku berbicara bahasanya. Tapi aku sedikit mengerti dengan apa yang ia katakan.
“I am an employee
here. don't disturb other visitors!”
“Shinu koto o
sagashiteimasu ka” (cari mati kah?)
Mereka satu per satu mulai mengepung ku. Aku tak terima
kedai ku di acak-acak olehnya. Terlebih lagi, kalau sampai mereka menyentuh perempuan
dengan kasar. Aku tidak akan segan untuk menghabisi mereka.
Terjadi perkelahian yang sengit antara aku dan mereka. Tidak
ada yang bisa menghentikan kami. Semua orang terdiam kaku melihat penampilan
seni bela diri ku yang bagus.
“Brukkkkkkkkk...” Mereka semua tergeletak di atas lantai.
Mereka mungkin saja merasakan sakit akibat terkena pukulan ku yang cukup keras
itu. Aku tidak memperdulikan keadaan mereka. Aku hanya ingin mereka pergi dari
sini dan jangan pernah kembali.
“Kiwotsukero!!!” (Awas
kau!!!) Mereka semua pun akhirnya pergi dari hadapan ku dan meninggalkan wanita
itu bersama ku. Aku menghampirinya untuk memastikan keadaannya.
“Kamu gak papa kan?” Tanya ku. Ia seperti memandang ku
lekat. Sekian detik ia hanya diam tak bergeming.
“Hello?” Tanya ku. Ia tersadar dari lamunannya.
“Wakarimasen!” (Aku
tidak mengerti) Ucapnya sembari
membungkuk. Aku agak lupa kalau aku sedang berhadapan dengan gadis jepang. Aku
tersenyum manis padanya untuk sekedar menenangkan hatinya yang mungkin saja
sedang kacau.
“Gomen’nasai!” (Maaf)
Jawab ku juga sembari membungkuk meniru gaya kebudayaan Jepang.
Aku berkenalan dengannya dengan harapan bisa melupakan
sedikit mengenai Putri. Aku hanya ingin membuka hati ku untuk gadis lain
sehingga bayangan Putri akan hilang selamanya dari hidup ku. Aku bersamanya
setiap waktu. Aku merasa dia sangat baik pada ku. Sampai aku berhenti dari
pekerjaan paruh waktu ku dan fokus pada kuliah ku saja. Karena setiap aku
membutuhkan uang untuk melakukan apa pun yang aku inginkan, ia selalu
memberikan pada ku. Seluruh kebutuhan ku terpenuhi setelah aku mengenalnya.
Tapi, lama kelamaan aku menjadi kasihan padanya. Aku berusaha membuka hati ku
dan mencintainya sepenuh hati. Setiap hari, aku mengajarinya untuk berbicara
__ADS_1
bahasa Indonesia. Begitu pun sebaliknya, aku mempelajari bahasa Jepang. Aku
mulai nyaman dengannya saat itu. Aku hanya beberapa kali menciumnya tanpa
melakukan hal-hal di luar itu walaupun ia terus menerus membuat ku ingin
melakukannya, tapi aku tidak mau terjebak dengannya. Tapi saat itu, aku
mengetahui kalau preman yang waktu itu menggodanya adalah orang suruhannya agar
aku bisa menjadi miliknya. Aku sangat kesal saat mengetahui itu. Aku tidak suka
orang yang aku percaya, tiba-tiba membohongi ku seperti itu. Terlebih lagi, aku
memergokinya sedang bersama dengan pria lain di dalam kamar. Akhirnya aku
memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Aku mulai fokus kembali untuk
mencari pekerjaan. Aku mencoba pindah dari daerah itu dan melamar di salah satu
bar. Aku mengenal beberapa teman wanita yang tak lain adalah partner bekerja ku
di sana. Aku melepaskan rasa penat ku dan mulai menghambur-hamburkan uang lagi.
Setelah beberapa bulan aku di tempat ini, aku mulai berpikir bagaimana cara
supaya aku bisa lari dari kejaran Meygumi dan para pengawalnya itu. Karena,
setiap saat selalu mereka datang untuk mengejar dan menangkap ku. Aku tidak
mengerti permasalahannya. Aku seperti buronan di sini. Waktu demi waktu
berlalu, tibalah waktunya aku mendapatkan gelar S2 ku. Dengan selalu hidup
menjadi buronan sepanjang waktu, akhirnya aku memberanikan diri untuk menemui
Meygumi. Aku datang langsung ke rumahnya untuk sekedar meminta maaf dan berpamitan
padanya. Ia mungkin sangat terpukul karena kehadiran ku yang tiba-tiba setelah
lama menghilang. Apa lagi, aku menemuinya berniat untuk pamit. Ia menceritakan
pada ku kalau keluarganya membangun sebuah hotel di Indonesia yang rencananya
akan di kelola bersama dengan ku saat aku menyelesaikan studi ku. Tapi, aku
sudah keburu muak dengan semua hal yang menyangkut tentang dirinya. Akhirnya
dengan sangat sulit aku keluar dari rumahnya untuk langsung terbang menuju
Indonesia hari itu juga.
-FLASH BACK MORGAN OFF-
Aku merasa terenyuh mendengar semua cerita Morgan. Aku tidak
tahu harus bersikap seperti apa. Rasanya, agak sedikit sakit mendengar
keseluruhan cerita yang ia ceritakan tadi. Aku memandang sendu dirinya yang
juga sedang memandang ku. Itulah alasan ia selalu bersikap demikian karena
tekanan yang ia alami sangatlah besar menurut ku. Ya! Masa lalunya tak beda
jauh dengan masa lalu ku. Aku sangat mengerti dengan perasaannya sekarang.
“Jadi, karena itu aku selalu dingin sama kamu. Karena memang
perasaan ku terhadap wanita sudah hampir mati. Aku gak mau ngalamin hal yang
sama dengan masa lalu yang aku alami.” Ucapnya dengan nada penuh kesedihan. Aku
“Jadi Meygumi main cinta sama laki-laki lain? Karena loe gak
mau ngelayanin dia?” Tanya ku. Ia menggangguk kecil. Pikiran ku salah selama
ini tentangnya. Aku kira, laki-laki seperti dia bisa dengan mudahnya meniduri
wanita yang dia inginkan.
“Jujur, saya baru pertama sama kamu.” Ucapnya dengan nada
yang terdengar agak ragu. Aku spontan menoleh ke arahnya dan melihat wajahnya
yang ia sembunyikan dengan cara membuang pandangan itu. Aku menoleh ke arah
sebaliknya. Wajah ku terasa panas seketika. Apa wajah ku sudah berubah menjadi
merah?
“Hotel yang kamu pakai untuk bermalam bersama Laki-laki itu,
adalah hotel milik Meygumi. Aku juga bertemu dengan Meygumi saat itu.” Ucap
Morgan yang membuat aku terkejut. Kenapa dunia sesempit ini? Lalu, apa yang
dilakukan Morgan saat bertemu dengan Meygumi kembali?
“Hah? Terus, loe ngapain aja sama dia pas loe ketemu sama
dia?” Tanya ku sinis. Ia memandang dingin diri ku. Aku terlalu gegabah dengan
bertanya seperti itu padanya. Aku tidak ingin sampai ia berpikir macam-macam
tentang diri ku.
“Apa kamu cemburu?” Tanyanya yang langsung membuat panas
wajah ku. Aku menatapnya sinis.
“S. Siapa yang cemburu coba?” Sinis ku dengan terbata-bata.
Ia tersenyum pada ku.
“Saya gak ngelakuin apapun sama dia. Cuma, saya berjaga-jaga
khawatir kamu kenapa-kenapa saat sedang bersama saya. Karena saat itu, Mey
masih ada di Indonesia. Jadi, saya memutuskan setelah kejadian itu kamu bersama
Bisma itu, saya membatasi diri untuk tidak bertemu kamu walaupun, saya gak bisa
ngelakuin itu dengan sepenuhnya. Makanya saya ngejauhin kamu waktu itu.”
Jelasnya. Aku hanya terdiam memikirkan sesuatu. Pantas saja waktu itu ia secara
sengaja menjauhi ku. Aku sudah mengerti sekarang permasalahan yang ia pendam
selama ini.
“Oh jadi, loe sengaja buat ngejauhin gue waktu itu hah?”
Sinis ku. Ia menatap ku dengan tatapan datar. Aku mendengus kesal ke arahnya.
“Terus, yang tadi ngejar-ngejar kita siapa? Kayaknya, gue
gak asing sama laki-laki yang gue liat sekilas tadi.” Tanya ku. Ia tidak menghiraukan
pertanyaan ku dan malah membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
“Deg...”
Aku merasa jantung ku terpompa lagi. Aku melihatnya
terbaring miring dengan tetap menghadap ke arah ku sembari membuka lengannya
seakan menyuruh ku untuk berbaring bersamanya. Wajah ku mulai panas kembali
karena mengerti tentang hal itu. Ia melambai ke arah ku seperti mengajak ku
untuk tidur bersamanya. Suasana nampak canggung saat ini.
“Besok lagi kita bicarainnya. Ayo, tidur sama saya.”
Ajaknya. Aku membuang pandangan ku karena malu padanya. Aku membelakanginya.
“Loe duluan aja tidur! Gue gak ngantuk!” Ucap ku ragu. Aku takut
hal-hal yang tidak aku inginkan akan terjadi lagi.
“Mau kamu sendiri yang ke sini, atau saya yang paksa kamu?”
Tanyanya dengan nada mengancam. Spontan aku menoleh ke arahnya.
“Ih! Apa-apaan sih loe? Gue gak mau ya di ancem-ancem
begini!!” Bentak ku. Ia tersenyum melihat respon ku yang kasar seperti
biasanya.
“Makanya, sini dong.” Ledeknya, jantung ku mulai berdegup
kencang lagi. Aku tidak mengerti, kenapa efeknya bisa sampai sedalam ini?
Padahal, aku bukan siapa-siapanya Morgan. Bisa-bisanya aku merasakan getaran
yang aneh ini. Dengan ragu, aku beranjak ke tempat ia berbaring dan berbaring
terlentang di sebelahnya. Masih terhitung cukup jauh. Aku sangat kaku kalau
harus tidur di dalam pelukannya.
“Kita mau tidur berpelukan atau bergandengan aja?” Tanyanya
membuat aku sangat malu. Kenapa bisa ia tidak malu mengatakan hal demikian? Wajah
ku mungkin saja terus menerus bersemu saat berhadapan dengannya. Aku spontan
menoleh ke arahnya.
“Tuk...” Aku menyentil dahi Morgan dengan pelan.
“Duh.. Kenapa?” Rintihnya manja sembari menggosok dahinya. Aku
jadi semakin malu untuk menampakkan wajah ku padanya.
“Sadar, loe itu bukan siapa-siapa gue!” Tegas ku, ia terdiam
datar.
“Terus, kalau kamu bukan siapa-siapa saya, kenapa kamu mau
tidur satu ranjang sama saya?” Godanya yang membuat aku semakin malu. Aku sudah
seperti wanita murahan saja yang secara gampang mengobral harga diri ku.
“Ih!!! Rese banget sih loe!!!” Bentak ku padanya. Tapi, ia
malah terdiam sembari menatap lekat ke arah bibir ku. Suasana menjadi sangat
canggung dari sebelumnya. Bodohnya aku, malah membalas tatapannya itu. Aku tersadar
dari lamunan. Saat ini, ia sudah sangat dekat dengan wajah ku. Desahan nafasnya
sangat mengganggu ku karena efek desahannya itu membuat aku jadi mabuk
kepayang. Aku hampir saja tidak bisa mengendalikan diri ku. Tapi, ia hanya
memandangi bibir ku saja. Tidak ada pergerakan sama sekali. Aku sudah
menanti-nanti saat-saat indah bersamanya. Meskipun logika ku menolak, tapi hati
ku merasakan rindu dengan hangat ciumannya itu.
‘Duh.. ini orang gak
mulai-mulai sih?’ Batin ku yang kesal karena harus menunggu lama. Aku tidak
mungkin memulai duluan. Aku tidak ingin dia menganggap ku sebagai wanita
murahan lagi. Aku harus menahan diri ku agar tidak kehilangan kendali. Ia menyentuh
bagian dagu ku dan menatap ku lekat. Ada getaran di hati ku yang tidak bisa ku
kendalikan lagi. Hati ku mulai tidak bisa terkontrol lagi. Ingin sekali aku
memulai dahulu permainan panas ini. Manik matanya yang indah berwarna cokelat
itu, membuat ku semakin tidak berdaya.
“Would you be my girl?”
“Deg...”
Hati ku menjadi ketar-ketir di buatnya. Seketika, nafas ku
berhenti berhembus, jantung ku berhenti berdetak, dan perlahan aku mulai
mengatur nafas ku yang tersendat akibat mendengar pernyataan cintanya pada ku.
Kenapa aku bisa sesenang ini mendengar kata itu terucap dari mulutnya? Aku bahagia
mendengar kalimat itu. Apa yang harus aku katakan padanya? Aku harus menjawab
apa setelah ini? Aku harus bagaimana? Bukankah dia pernah mengatakan untuk
jangan pernah menaruh rasa padanya? Kenapa saat ini dia malah menyatakan
perasaanya kepada ku?
“Cupss...” Ia mencium bibir ku dengan lembut. Aku sontak
kaget dengan perlakuannya itu. Aku sudah menanti-nanti hal ini sejak tadi. Dan kalau
tidak salah, ini adalah pernyataan cinta yang paling romantis bagi ku. Setelah
pernyataan cintanya, ia kemudian langsung mencium ku. Tanpa harus menunggu
jawaban dari ku. Apa dia takut kalau saja aku menolak cintanya? Tapi jika aku
menolak, aku pasti tidak akan menerima ciuman darinya, bukan? Apa tandanya aku
menerima cintanya? Apa tandanya, aku mencintai dirinya?
@sarjiputwinataaa
__ADS_1