
Aku menulis sebuah kata-kata manis untuk Morgan. Aku berharap, kedepannya hubungan ini akan baik-baik saja. Semoga saja, ia meresapi setiap doa yang ku curahkan untuknya.
"Aku mencintai mu."
Aku memberikan kartu ucapan yang sudah aku tulis sebelumnya kepada pelayan baju itu. Kartu ucapannya dibungkus bersamaan dengan jaket yang ku pilihkan untuknya.
"Terimakasih." Aku mengambil bungkusan yang sudah terbungkus rapi. Sembari menunggu Hatake yang masih mencocokkan beberapa baju.
"Drrrrtttt..." Handphone ku bergetar panjang. Aku membuka pesan singkat yang baru saja masuk. Terlihat chat singkat dari Morgan. Aku sudah menanti Morgan menghubungi ku.
"Sampai jumpa jam 8." Isi pesan singkat dari Morgan. Aku tersenyum simpul sembari memasukkan kembali handphone ku ke dalam tas selempang yang ku bawa. Aku merasa sedikit rasa rindu ku bisa terobati.
"Done!" Ucap Hatake yang tiba-tiba saja muncul dari arah sana. Aku menatapnya dengan tatapan setuju.
"Sempurna." Lirih ku.
*
Aku tiba di rumah petang ini. Aku menghabiskan waktu bersama dengan Hatake. Ternyata, menyenangkan bisa berteman dengan Hatake. Aku berjalan gontai menuju kamar ku.
Sesampainya di kamar, aku melemparkan tas selempang dan juga bingkisan kado ke atas ranjang.
"Bruukkk.."
Aku bergegas untuk membersihkan tubuh ku. Aku merasa sangat bersemangat karena sebentar lagi, aku akan bertemu dengan Morgan.
*
Aku sudah selesai berdandan dan mengemasi barang-barang yang hendak aku bawa. Morgan memberikan sedikit bocoran akan kemana kita pergi nantinya.
"Kalau di sana kan dingin, apa aku perlu bawa mantel double ya?" Lirih ku sembari berpikir. Aku menjatuhkan pilihan untuk membawa kedua mantel tersebut. Aku melipat dengan rapi dan memasukkan keduanya ke dalam koper.
"Bawa make up secukupnya aja kali ya?" Aku kembali mengemas peralatan make up ku. Aku hanya membawa face wash, lipstick, dan juga serum. Tidak banyak yang ku bawa mengingat koper ku yang tidak terlalu besar.
"Siap! Tinggal nunggu Morgan dateng." Aku duduk di pinggir ranjang sembari menscroll handphone ku. Aku melihat situasi terkini cuaca pada malam ini. Hujan serta angin kencang akan melanda kota ini. Aku harus segera sampai di tempat tujuan sebelum sesuatu terjadi pada kami nantinya.
"Ra.. Morgan dateng." Pekik Kakak dari luar. Aku dengan senangnya segera pergi sembari membawa koper ku.
"Selamat malam, Arasha." Ucapnya lembut. Jarang sekali ia memanggil ku dengan nama selengkap itu. Aku terkesima dengan penampilannya yang selalu rapi. Aku sedikit malu dengan penampilan ku yang terkesan seadanya dan sederhana.
'Padahal, dia udah repot-repot pakai jas. Kenapa Gue malah pakai pakaian yang compang-camping?' Batin ku yang merasa tidak enak dengannya.
"Kamu udah siapin Passport kamu?" Tanyanya. Aku terkejut, kenapa harus memakai Passport?
"Kenapa? Kok harus pakai Passport? Kita emangnya mau kemana?" Tanya ku dengan nada yang sedikit tinggi. Dia bahkan hanya memberitahu sedikit, tempatnya yang agak dingin. Aku pikir aku akan di bawa ke puncak dan menginap di vila. Tapi kok, harus menggunakan Passport?
"Kita mau ke jepang." Lirih Morgan. Aku sangat terkejut dengan perkataannya yang tidak masuk akal. Apa katanya? Jepang?
"WHAAAATTTT??!! Seriously?" Tanya ku dengan nada yang kaget tingkat akut. Morgan hanya mengangguk kecil. Kakak tiba-tiba saja memeluk ku dengan erat.
"Hati-hati ya di sana. Jangan bandel." Ucap Kakak yang tampaknya memberikan kemudahan izin bagi Morgan. Aku tidak tahu harus bahagia atau bagaimana. Ini kali pertama aku di ajak pergi sangat jauh oleh kekasih ku.
Kakak melepaskan pelukkannya itu. Ia menatap ku dengan tatapan sendu.
__ADS_1
"Ya ampun adik kakak udah gede." Ucapnya membuat aku sedikit risih.
"Plis deh, Kak." Ucap ku dengan nada malas. Morgan dan kaka sedikit tersenyum.
"Hati-hati di jalan." Lirih Kakak sekali lagi. Aku mengangguk kecil.
"Jagain Ara ya, Gan."
"Pasti." Ucap Morgan yang terdengar sangat mantap. Kami berdua pamit kepada Kakak dan segera menuju ke Bandara. Aku duduk di samping Morgan yang sedang fokus menyetir mobilnya dengan kecepatan standart.
Aku tidak menyangka akan diajak berlibur ke Jepang dengan Morgan. Sama sekali tidak terpikir. Aku duduk manis sembari memandang sekeliling terutama langit yang sudah nampak memerah karena mendung. Aku jadi teringat dengan ramalan cuaca yang aku baca tadi. Apakah ini pertanda buruk? Aku harus segera menghentikan Morgan, atau tetap pada tujuan kami melanjutkan perjalanan?
"Mmm.. Gan.." Lirih ku. Ia yang sedang fokus menyetir tiba-tiba menoleh ke arah ku. Ia menahan laju mobil dengan membuatnya berjalan sendiri, sehingga kami bisa leluasa untuk bercengkrama dengannya.
"Ada apa, Ra?" Tanyanya dengan lembut, aku hampir saja meleleh. Tapi, aku harus menahan diri ku untuk tidak hilang fokus dulu.
"Sebaiknya, kita tunda dulu ya keberangkatan kita ke Jepang." Ucap ku dengan nada yang kurang percaya diri. Ia menatap ku dengan tatapan penuh pertanyaan.
"Lho, kenapa Ra?" Tanyanya kembali. Harus dengan cara seperti apa aku memberi penjelasan padanya?
"Aku.. Lihat di ramalan cuaca barusan, katanya akan ada badai beserta angin kencang. Pasti lalu lintas penerbangan akan terganggu kalau kita maksain terbang malam ini. dan lagi kamu bisa lihat langit sudah berwarna merah." Jelas ku. Morgan menatap langit malam ini, dan ia tidak bergeming. Ia hanya memandang dengan seksama langit yang ku tunjuk.
'Apa Aku salah ngomong kali yah?' Batin ku merasa terganggu dengan keadaan. Sebetulnya, aku tidak ingin mengacaukan acara kami kali ini. Tapi, aku pun tidak ingin membuang-buang nyawa ku secara cuma-cuma hanya dengan agenda ini. Aku ingin meminimalisir segala tragedi yang mungkin saja nanti akan menimpa kami.
"Kita putar balik?" Tanya Morgan dengan polos. Aku tidak ingin terbang saat ini, tapi aku juga tidak ingin kami putar balik. Dasar Morgan bodoh.
"Menurut kamu?" Tanya ku dengan nada yang sedikit melengking, mengisyaratkan padanya supaya ia kembali berpikir apa yang aku inginkan.
"Kita bermalam di hotel?" Tanyanya lagi. Aku tersenyum tipis. Bermalam di hotel, dan menghabiskan rindu bersama setelah sekian lama merasakan sesak karena rindu, bukan ide yang buruk juga.
Kami memutar kembali kendaraan menuju hotel terdekat. Aku dan Morgan memesan kamar yang lumayan bagus.
"Ckreeekkk.." Aku membuka pintu dan menyalahkan lampu kamar. Nuansa kamar hotel ini terlihat sangat rapi dan nyaman. Cocok untuk bermalam di sini bersama sang kekasih. Lampu kelap-kelip berwarna gold itu, semakin menguatkan nuansa romantis di antara kami. Aku masuk dan menaruh barang-barang ku di dalam lemari yang tersedia. Aku sampai lupa dengan kado yang ingin ku berikan pada Morgan. Kapankah waktu yang tepat untuk memberikan kado ini?
Morgan melepas jas hitamnya dan menaruhnya di sudut ruangan. Ia menaruh kopernya di dekat tempat aku menaruh koper ku. Suasana nampak canggung sekali.
"Kamu mau mandi?" Tanyanya yang terlihat seperti malu-malu, membuat diri ku ikut malu. Ayolah, bukan pertama lagi kita melakukan ini. Harusnya dia sudah cukup ahli untuk mengendalikan suasana yang canggung.
"I.iya, Aku mau mandi dulu." Aku ikut canggung karena pembawaannya yang terkesan canggung. Aku juga tidak tahu mengapa rasa canggung ini bisa menular. Aku mempersiapkan kemeja tidur ku dan mengambil handuk yang sudah tersedia di pojok ruangan. Aku melangkahkan kaki ku menuju kamar mandi.
"Sraaakkk"
"Sshhhhhh" Aku membiarkan sekujur tubuh ku basah karena tersiram air dari shower. Aku meremas pelan rambut ku yang masih setengah basah. Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan setelah menahan rindu sekian lama. Aku juga mungkin sudah tidak akan bisa menahan emosi ku. Aku melanjutkan mandi ku dan melilitkan handuk di sekujur tubuh ku.
"Gawat, Gue lupa ngambil pakaian dalam!!" Lirih ku yang terkejut. Aku menghela nafas ku untuk menguatkan diri ku. Aku harus keluar menggunakan sehelai handuk saja.
"Apa Gue teriak aja kali ya?" Lirih ku lagi, tapi saat dipikir kembali..
"Ahhhh enggak ah! Malu!" Aku menutup wajah ku dengan kedua tangan ku. Bagaimana ini?
"Ra.. Boleh Saya masuk sekarang?" Tanyanya. Matilah! Bagaimana ini?!
"Mau ngapain?!" Tanya ku panik.
__ADS_1
"Pakaian dalam kamu.." Mata ku membulat, ternyata dia sudah melihat dan menyadari bahwa Aku lupa membawa pakaian dalam ku ke dalam kamar mandi.
"Gimana dong?!" Lirih ku setengah berteriak. Mana boleh aku mengizinkan dia masuk? Yang ada, aku mati karena malu.
"Buka sedikit aja. Saya gak akan lihat." Ucapnya membuat aku sedikit berpikir. Betul juga ucapannya. Aku mempersiapkan diri ku dan membuka sedikit pintu kamar mandi.
"Sini.." Ucap ku.
"Brakkkk.." Aku terkejut karena Morgan membuka paksa kamar mandi yang sedang aku pakai.
"Huaaahhhhhh!!!" Morgan mengangkat diri ku seperti sedang menggendong.
"Brukkkk..." Ia menjatuhkan diri ku di atas ranjang. Aku bingung, apa yang akan dia lakukan pada ku yang hanya memakai sehelai handuk saja.
"Gan.." Lirih ku.
"Cupppsss.." Ia tiba-tiba mengecup bibir ku dengan dipenuhi nafsu. Ia mulai menggerayangi dada ku dan membuka paksa handuk yang sedang Aku pakai.
Ia mengecup dada ku dengan sangat agresif, membuat diri ku hampir kehilangan kendali.
"Ahhh.. Pak Morgan.." Aku merasa diri ku tidak dapat menahan lagi.
Tiba-tiba saja, ia berhenti dari aktivitasnya dan berubah menjadi dingin. Ia merapihkan kemeja yang ia kenakan.
"Kamu siap-siap pakai baju. Saya mau mandi." Ucapnya yang mendadak dingin. Tidak sinkron dengan yang barusan ia lakukan. Aku kebingungan dengan yang ia lakukan. Ia menuju kamar mandi dan ia benar-benar meninggalkan ku dalam kondisi seperti ini. Aku merasa bingug, ada apa yang terjadi dengannya?
-MORGAN MAIN-
Aku melangkah menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh badan ku yang sudah mulai memanas akibat gesekan kecil dengan Ara tadi. Aku sangat tidak nyaman dengan dirinya. Aku membuka shower dan membiarkan sekujur tubuh ku terkena air yang mengalir dari shower.
"Orang lagi pengen.. Malah di panggil Bapak. Kan jadi campur aduk hati." Lirih ku yang sedikit kecewa dengan Ara. Apa ia kelepasan memanggil ku Bapak, karena kaget dengan keadaan yang tidak memungkinkan itu? Aku tidak sepenuhnya menyalahkan dia sih. Tapi, hati ku jadi tidak teratur saja saat ini. Aku memilih untuk meredakan suhu tubuh ku dengan berendam di bath tub. Aku memejamkan mata ku sejenak, untuk menghilangkan stres yang tengah melanda ku.
Saat aku sudah selesai dengan aktivitas mandi ku, Ara memakai kemeja yang sangat membangkitkan hawa nafsu ku. Ia sudah tertidur menghadap arah yang tidak bisa aku lihat. Tapi masih terlihat jelas belahan dada yang sedang berusaha ia tutupi itu. Aku ingin sekali menciumnya, tapi aku masih merasakan hati yang mengganjal karena tadi ia memanggil ku dengan sebutan Bapak. Aku sudah tidak mood lagi sekarang. Aku ingin secepatnya beristirahat dan memejamkan mata ku untuk esok yang lebih baik lagi.
Aku melangkah dan membaringkan tubuh ku berlawanan dengan tubuh Ara. Aku tidak mengizinkan Ara untuk melihat dan mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya ingin istirahat. Ku harap, ia juga seperti itu.
-ARA MAIN-
Morgan sudah terlelap di samping ku. Aku merasa kecewa dengan Morgan. Bisa-bisanya dia bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun diantara kami barusan. Apa ada perkataan ku yang salah? Morgan terlihat berubah mood nya. Apa mood swing juga bisa terjadi kepada laki-laki?
'Kesel banget ish!' Batin ku mendengus kesal. Morgan sama sekali tidak bisa membaca keadaan. Aku sampai lelah memikirkannya. Aku berbalik menghadap Morgan yang sepertinya sudah terlelap.
"Maaf." Lirih ku. Mungkin saja, dia masih bisa mendengar ucapan ku meski samar. Aku memeluk tubuhnya yang bertolak belakang dengan ku. Aku merasakan kenyamanan yang selama ini hilang. Aku memejamkan mata ku karena sudah semakin lelah dengan hari ini.
*
"Jangan... Jangan pergi, Gan!" Pekik ku keras sekali. Tapi Morgan sama sekali tak menghiraukan ucapan ku. Ia semakin pergi jauh entah kemana. Aku terus menerus memanggilnya, namun ia sama sekali tidak berhenti dari langkahnya. Dirinya terlihat semakin kecil dan perlahan menghilang seiring waktu.
"Hah.." Aku tiba-tiba saja bangkit dari tidur ku dan mulai mengatur nafas ku. Aku teringat dengan Morgan. Aku melepaskan seluruh pandangan ku pada seluruh sudut ruangan ini. Tak ada tanda-tanda keberadaan Morgan di sini.
"Srkkkkkk.." Terdengar suara air yang sedang mengucur dari kamar mandi. Aku menghela nafas panjang. Ternyata, Morgan sudah bangun pagi-pagi sekali. Aku meremas pelan rambut ku yang berantakan. Aku pikir, Morgan sudah meninggalkan ku. Ternyata, ia masih di sini. Masih bersama ku.
"Ra.. Kenapa?" Tanyanya yang hanya melilitkan selembar handuk pada bagian bawahnya, dan menggosokkan handuk lainnya pada kepalanya. Persis seperti yang aku lihat saat aku diundang makan malam dengan Fla waktu itu. Bedanya, sekarang kami sudah bersama. dan Aku tidak merasakan malu sedikit pun melihat dia yang seperti itu.
__ADS_1
"Gak papa. Cuma mimpi." Ucap ku asal karena masih terfokus pada Morgan yang berada di hadapan ku saat ini.
@sarjiputwinataaa