
Tanpa basa-basi lagi, aku pergi meninggalkan dirinya sendirian di sana. Aku bergegas menuju mobil yang ku parkir secara sembarang di halaman depan taman kota.
"Brukkkk!!" Aku membanting pintu mobil ku dan segera mengaktifkan GPS keberadaan Ara saat ini. dari titik keberadaannya, ia tidak jauh dari arah menuju rumahnya. Aku segera menancapkan gas untuk menuju ke tempat Ara berada.
Aku sangat tidak tenang dengan keadaan Ara saat ini. Aku menyetir tanpa mengenal rambu lalu lintas. Aku menerobos setiap lampu merah dan juga polisi tidur tanpa ampun. Mobil ku serasa melayang di udara, saking cepatnya.
Aku di kejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba berlari dan menunduk jongkok beberapa ratus meter dari posisi ku saat ini. Aku menghentikan mobil ku dan menyorotnya mengunakan lampu jauh.
"Ara!!" Lirih ku yang sangat bersyukur bisa bertemu dengan Ara kembali, dan keadaannya yang terlihat baik-baik saja. Aku langsung berhambur ke tempat ia berada.
-Flash Back Off-
"Gak sangka ya, kita ketemu lagi.."
"Marmut." Sambungnya. Aku menelan ludah ku sendiri. Kenapa dia selalu ada di dekat ku? Jelas-jelas aku sudah meninggalkannya sendirian dan mungkin saja sudah membuatnya ilfeel kepada ku malam itu.
"Maaf, anda siapa ya?" Tanya ku yang berpura-pura tidak mengenali dirinya. Aku tidak ingin urusan ku dengannya menjadi ribet.
"Wow, baru semalam kamu tidur satu ranjang bersama ku, dan menikmati bercinta bersama. Masa udah gak inget sih?" Ucapannya yang terdengar sengaja agar semua yang berada di sini mendengarnya. Aku tidak tahan dengan sikapnya yang selalu menghalalkan segala cara hanya demi meminta perhatian ku. Aku yang semula iba dengannya, menjadi sangat ilfeel melihat kelakuannya ini.
Beberapa orang yang sedang melintas atau berdiri di belakang kami memandangi dan memperhatikan kami seketika. Aku menjadi bulan-bulanan mereka saat ini. Sekarang aku sudah di cap sebagai buaya yang tidak bertanggung jawab dengan apa yang sudah aku lakukan pada wanita malang ini. Aku tidak bergeming sama sekali saat ia berkata demikian. Aku memandangnya dengan risih.
"Awalnya saya iba sama kamu. Tapi, lama kelamaan cara kamu cuma bisa bikin saya menjauh dari kamu!" Ketus ku membentaknya. Aku meninggalkan dirinya yang terlihat kesal dengan kelakuan ku. Biar saja, Aku tidak memperdulikannya lagi. Aku sudah mengenal sifat aselinya yang sangat posesif dan ambisius itu.
Aku sudah sampai di dalam mobil ku saat ini. Aku duduk sambil mengatur nafas ku. Aku tidak ingin perasaan kesal ku menjadi tidak terkendali saat bertemu dengan teman-teman Ara nanti.
"Gila, kenapa gue bisa ketemu sama orang saiko kayak dia?" Lirih ku kesal.
"Braaaakkk.." Aku menggebrak stir kemudi ku. Aku kesal ketika mengingat kejadian malam itu yang membuat ku mengabaikan keselamatan Ara. Aku muak jika dipaksa mengingat hal-hal yang meyangkut tentang dirinya.
"Tok.. Tok.." Seseorang mengetuk kaca mobil ku. Aku melihat siapa yang sedang berdiri dari ara kiri mobil.
"Ckreekk.."
"Brakk.."
Belum habis aku memperhatikan siapa yang berdiri di depan pintu, dia sudah masuk dan duduk di sebelah ku. Aku kaget bukan kepalang.
"Ngapain kamu di sini?" Tanya ku sinis. Ia baru selesai membereskan tasnya dan memandang ke arah ku.
"Kamu bisa gak sih, sedikit aja perhatiin aku?" Tanyanya dengan nada sinis. Aku menghela nafas panjang mendengar ucapannya itu. Tidak terpikir sama sekali untuk ku memberikan satu perhatian kecil padanya. Aku sama sekali tidak menaruh hati padanya. Aku hanya mencintai Kakaknya, bukan dirinya. Meskipun, dia nampak lebih cantik dari pada Putri, Aku tidak perduli.
"Jangan banyak bermimpi." Jawab ku dengan nada seperti meremehkan dia. Ia terlihat seperti tidak bisa menerima dengan yang aku ucapkan tadi. Ia tiba-tiba mendekat ke arah ku. Spontan aku langsung bergerak mundur karena risih dengan kelakuannya itu.
"Mau ngapain kamu?!" Sinis ku.
"Cuppppsss.." Ia berhasil mendaratkan satu ciuman di bibir ku. Aku sama sekali tidak menyangka, ternyata seperti ini rasanya keterpaksaan. Aku dipaksa menerima suatu hal tabu yang tidak ingin aku rasakan.
Sedikit terlihat sesuatu seperti bayangan yang sedang berdiri menghadap ke arah ku dari arah depan ku. Aku berusaha melihat bayangan itu. Ternyata, seseorang telah melihat ke arah kami.
"Brukkk.." Spontan aku melepaskan diri darinya sampai aku terpental dan menabrak pintu mobil ku lumayan keras.
"Awssss.." Aku merintih kesakitan. Terlihat ia yang sedang tersenyum jahat ke arah ku. Aku merasa kesal dengan apa yang ia lakukan tadi. Jika dia laki-laki, mungkin sudah aku hajar habis-habisan kelakuan buruknya itu.
__ADS_1
*
-ARA MAIN-
Jam menunjukkan pukul 8 malam. Sudah ada Rafael di samping ku saat ini. Ia sedang asyik menyantap keripik kentang kesukaannya itu. Ada hal yang masih aku pikirkan dan hal itulah yang membuat ku agak canggung sekarang dengannya.
"Raf.." Pekik ku. Ia menoleh ke arah ku sambil tetap memakan keripik kentangnya.
"Kenapa, Ra?" Tanyanya. Aku bingung harus bertanya mulai dari mana. Aku menghela nafas pelan dan berusaha memilih kata untuk aku tanyakan kepadanya.
"Gue mau nanya."
"Nanya apa, Ra? Tanya ajah." Jawabnya dengan nada santai. Ia mengunyah kembali keripik kentangnya itu.
"Maaf kalau loe ngerasa gimana gitu sama pertanyaan gue. Gue cuma mau tanya.." Ucap ku menggantung karena mendadak aku lupa dengan pertanyaan yang akan aku tanyakan padanya.
"Ya elah, bikin gue penasaran aja."
"Hehe. Maaf." Aku tidak enak hati padanya.
"Nama panjang Putri mantan loe itu siapa ya?" Tanya ku dengan ragu. Mendadak ia menghentikan aktivitasnya itu dan memandang ke arah ku. Ia berusaha menelan sisa makanan yang masih berada di mulutnya.
"Kenapa loe nanya begitu, Ra?" Tanya balik Rafa, membuat diri ku sedih karena mungkin aku telah menyingung perasaannya. Walau bagaimana pun, itu adalah bagian dari masa lalunya.
"Maaf ya, gue gak maksud buat bikin loe kesinggung atau keinget masa lalu loe Raf. Gue cuma mau tau aja." Ucap ku berusaha membuat Rafa tidak tersinggung lagi dengan ucapan ku.
"Hmm.. Gak papa Ra. Nama panjang Putri itu, Adinda Putri." Ucapnya. Aku mengangguk dengan cepat, tanda paham dengan yang ia ucapkan. Sayangnya, aku mash harus menanyakan hal ini dengan Morgan.
"Ting.. Nong.." Suara bel berbunyi. Aku memandang ke arah Rafael yang juga sedang memandang ke arah ku.
Tak lama kemudian, Ray dan Fla pun datang dari arah pintu masuk rumah. Aku senang melihat kedatangan mereka yang sudah membawakan makanan yang aku pesan tadi. Aku menyambutnya dengan sangat antusias.
"Haaaah akhirnya sampai juga." Fla menghela nafas panjang. Ia menyodorkan plastik berisi makanan yang sudah aku pesan sebelumnya. Aku menerimanya dengan senang hati.
"Makasih loh.." Ledek ku. Ia memasang tampang jutek ke arah ku. Aku hanya menyeringainya saja.
"Kalau gak bareng Ray, gue gak akan mau rela ngantri cuma buat beliin loe seblak doang!" Kesalnya. Aku tertawa kecil melihat ekspresinya.
"Kok bisa sih loe berangkat sama Ray?" Tanya Rafael.
"Huh.. Pokoknya panjang cerita. Tadinya mau bareng sama Kak Morgan, tapi dia lagi ke toko buku katanya." Jelas Fla. Ternyata Morgan berkata jujur pada ku. Aku jadi tidak perlu risau lagi dengan posisi dan keberadaan Morgan saat ini.
"Terus sekarang Morgan masih di sana?" Tanya ku. Fla mengangkat kedua bahunya.
"Hmm.. Yaudah, yuk makan seblaknya!" Ajak ku pada mereka semua.
"Loe aja sama Rafa. Gue sama Ray udah makan di sana tadi. Sekalian tadi gue beliin buat Kakak sama Farha nanti kalau dia ke sini. Tadi sih dia bilang mau beresin kamar dulu." Jelas Fla. aku mengangguk kecil ke arahnya.
"Oh.. Okey deh. Loe mau makan sekarang gak Raf?" Tanya ku. Rafa nampak masih asyik dengan keripik kentangnya itu.
"Gue makan bareng Farha aja nanti. Masih kenyang makan ini." Rafa menunjuk ke arah keripik kentang yang ia pegang di tangannya. Aku mengeluarkan satu bungkus seblak dari dalam plastik yang Fla berikan pada ku.
"Maunya loe itumah makan bareng Farha." Ketus Ray. Rafa melemparkan beberapa keripik yang ia pegang barusan ke arah Ray yang sedang mengelak.
__ADS_1
"Berisik banget!" Balas Rafa. Aku hanya menggelengkan kecil kepala ku. Aku menuju ke arah dapur untuk menuangkan seblak ke dalam mangkuk besar dan mulai menyantapnya. Terasa bibir dan lidah ku yang melepuh akibat terlalu terburu-buru melahap kuah seblak yang masih panas itu.
"Gila.. Panas amat! Pedes lagi! Level berapa nih seblak?" Tanya ku kesal. Fla terlihat sedang cengengesan di sana.
"Level 30." Ia mengatakan dengan wajah yang tidak enak dan agak ragu. Aku memelototinya karena kaget mendengar jawabannya itu.
"What?!!" Aku terkejut mendengarnya. Ia hanya cengengesan melihat ku. Tidak ku sangka akan jadi sepedas ini. Aku hanya bercanda mengatakannya pada Fla. Ternyata, ia benar membelikannya untuk ku. Aku menggeleng kecil ke arahnya.
"Hai semua." Pekik seseorang yang ternyata adalah Farha. Aku langsung menoleh ke arahnya.
"Lah, bisa masuk? Emang gak di kunci?" Tanya Fla.
"Enggak kok, tadi gue liat pintunya kebuka. Terus gue masuk aja deh." Jawabnya. Aku langsung menoleh dan memandang sinis ke arah Rafael. Ia seperti orang yang sedang kebingungan.
"Apa?" Tanyanya dengan nada bingung dicampur takut. Aku tidak jadi marah pada Rafael karena sebelumnya ia sudah berbaik hati memberikan ku keripik kentang yang lumayan banyak untuk stok selama satu minggu ke depan. Aku berusaha menghela nafas ku dalam-dalam. Ia terlihat sedang mentertawakan ku diam-diam.
"Gue bawa buku komik bagus nih.." Ucap Farha sembari mengeluarkan seluruh buku komiknya itu. Fla terlihat sangat antusias mendengarnya.
"Wah! Gue suka banget baca komik! Far, gue minjem!" Fla langsung merebut komik yang ada di tangan Farha.
"Gue ada banyak kalau loe mau pinjem." Ucap Farha. Fla memancarkan aura bahagia yang hanya bisa aku lihat sendiri. Aku menggelengkan kepala melihat semangatnya Fla.
Aku melanjutkan santapan ku. Aku agak berhati-hati kali ini. Aku tidak mau sampai melukai tenggorokan ku. Farha dan Fla sedang asyik membaca komiknya. Rafael sedang menyantap keripik kentang sembari menonton tv, sedangkan Ray sedang asyik memainkan game online. Aku berpikir, ada untugnya juga mereka menginap di sini. Aku jadi tidak kesepian sekarang. Paling tidak, ada yang bisa aku ajak mengobrol kalau aku kesepian.
"Drrtttt.." Handphone ku bergetar. Ada pesan masuk yang ternyata adalah dari Morgan. Aku membuka pesan tersebut.
"Hari ini, Aku gak menginap di sana dulu. Kalau ada apa-apa, kabarin aku secepatnya ya." Pesan singkat darinya. Aku juga khawatir mereka semua berpikir macam-macam dengan ku. Lebih baik, dia tidak menginap untuk hari ini.
"Terus kamu di mana sekarang?" Tanya ku yang sudah membalas pesan singkatnya tadi.
-MORGAN MAIN-
"Terus kamu di mana sekarang?" Tanyanya. Apa yang harus aku katakan padanya?
"Watashi o mitsumeru dake janai" Ia mengatakan demikian sembari menyodorkan segelas shochu pada ku. (Watashi o mitsumeru dake janai \= Jangan hanya menatap ku).
Aku terpaksa mengambil gelas yang ia berikan pada ku. Meygumi, ia nampak cantik malam ini. Mespkipun rasa cinta ini sudah lama terkubur, tapi ia seperti hadir kembali dengan sosok yang berbeda dari biasanya. Perangainya nampak lembut, berbeda sekali dari Meygumi yang ku kenal dulu.
"Cheers!"
"Glkk.. Glkk.." Aku menenggak habis satu tenggakan. Sudah lama tidak melepaskan lelah dengan meminum shochu. Akhir-akhir ini aku telah melewati permasalahan yang cukup sulit. Belum habis masalah Tata, sudah muncul masalah Farha, dan sekarang Meygumi pun kembali lagi ke Indonesia untuk menjalani bisnisnya yang sudah ia rintis.
Aku tidak sengaja bertemu dengan Meygumi. Aku melihat dirinya di caffee biasa aku dan dia kunjungi. Aku mengantarkan Farha sampai ke depan kompleks rumah Ara karena aku tidak ingin kejadian yang hampir menimpa Ara, akan terjadi dan menimpa Farha selanjutnya. Aku hanya menjaga Farha dengan porsinya, tidak lebih.
"Anata wa mada aikawarazu tsuyoidesu." Ucapnya dengan memandang lembut diri ku. (Anata wa mada aikawarazu tsuyoidesu \= Kamu masih sekuat dulu). Aku tidak memperdulikan ucapannya dan menuang kembali Shochu ke dalam gelas ku yang sudah kosong. Aku menenggak kembali hingga tetes terakhir.
"Watashi wa mondai ga arimasu." (Aku mempunyai masalah) Ucap ku padanya. Nampaknya, aku sudah mulai lepas kendali dari diri ku. Aku seperti ingin sekali meluapkan rasa kesal ku padanya. Aku ingin dia mendengarkan segala keluh kesah ku. Aku butuh teman untuk mengusir sepi ku.
-Author Main-
Sementara itu, Ara sedang bingung dengan kabar dari Morgan yang sampai sekarang tidak membalas chat lagi. Ia menunggu sembari memandangi terus layar handphonenya itu, berharap Morgan membalas pesan singkat darinya. Nyatanya saat ini Morgan sedang bersama-sama dengan Meygumi untuk menghilangkan stres yang melanda dirinya itu. Meygumi menyuruh pengawalnya untuk membawa Morgan yang sudah tak sadarkan diri ke hotel milik Meygumi. Ia memesankan kamar pribadi untuk Morgan dan juga dirinya. Apa yang terjadi selanjutnya?
Nantikan Season 2 nya ya semua. ❤️ Tulis pengalaman kalian di kolom komentar tentang membaca Novel Dosen Idiot ini. dan Sertakan juga jawaban apakah Author harus lanjut ke season 2 atau tidak di kolom komentar. Terima kasih sudah menjadi pembaca setia ku. Jangan lupa like dan vote novel ini ya.. See you. 🥰
__ADS_1
@sarjiputwinataaa