
"Lho.. Farha mana?" Tanya ku yang baru sadar karena Farha tidak ada di sini. Mereka seperti saling melempar pandangan.
*
Beberapa hari belakangan ini sudah ku habiskan dengan bertemu dan bercengkrama dengan para sahabat ku. Namun, aku tidak melihat Farha beberapa hari ini. Morgan pun sepertinya sedang banyak sekali kegiatan untuk mempersiapkan pekan ujian yang tinggal menghitung jam lagi akan segera dilaksanakan. Kakak dan Bibi juga sudah kembali lagi ke rumah. Selama teman-teman ku kembali ke rumah mereka masing-masing, aku selalu ditemani Morgan walaupun hanya sebentar. Tapi, sepertinya suasana semakin canggung saat setelah kejadian itu. Morgan sudah tidak seperti biasanya lagi ada ku. Tunggu, mungkin saja justru Morgan kembali bersikap seperti biasanya pada ku. Morgan bersikap seperti dulu, yang selalu cuek dan tidak memperlihatkan rasa sayangnya pada ku. Aku jadi merindukan sosok Morgan yang sangat menyayangi ku.
"Drtttt.." Handphone ku bergetar. Aku melihat siapa yang mengirim pesan pagi buta seperti ini.
"Maaf, Saya gak bisa jemput kamu." Isi pesan singkat dari Morgan, orang yang selama ini aku sayang. Entah kenapa, ia jadi berubah drastis seperti ini bahkan mungkin sudah kembali seperti sejak pertama kita bertemu.
"Haaaaahhh.. Mungkin perasaan Gue aja kali ya?" Aku menghembuskan nafas panjang dan berusaha berpikir positif dengan Morgan. Mungkin saja dia sibuk karena hari ini hari diselenggarakannya ujian akhir semester. dan mungkin saja dia sedang repot karena memikirkan dan meyiapkan persiapan untuk ujian.
"Gue harus semangat!" Lirih ku yang berusaha memberikan semangat untuk ku sendiri. Sekejap, aku menghela nafas panjang dan bergegas melangkahkan kaki ku ke ruang makan.
di sana, sudah ada Kakak yang sedang mempersiapkan makanan untuk sarapan, tentu saja dibantu dengan Bibi.
"Taro situ aja, Bi." Suruh Kakak. Aku melihatnya dengan tatapan aneh. Kakak mungkin saja melihat tatapan ku yang tak enak dilihat. Ia mengerenyitkan dahinya.
"Kenapa kamu ngeliatnya begitu?" Tanya Kakak dengan nada seperti bingung. Aku tersenyum hangat padanya.
"Sejak kapan Kakak nyiapin sarapan buat aku?" Tanya ku yang terdengar GR. Ia menahan tawanya.
"Pffffffftttt.."
"Lho, kenapa?" Tanya ku bingung. Ia masih berusaha menahan tawa.
"Heran amat sih, begini doang padahal. Lagian, siapa yang nyiapin makanan buat kamu?" Ledeknya membuat aku sedikit kesal
"Ihhhh Kakak!!" Rengek ku seperti anak kecil sembari memukul-mukul lengan Kakak. Tubuhnya yang kekar, membuat tangan ku yang malah jadi sakit.
"Udah, yuk kita makan. Nanti yang ada malah kamu telat ke kampus lagi. Hari ini kamu mulai ujian kan?" Tanyanya. Aku mengangguk kemudian mulai mengambil beberapa lembar roti yang sudah dipanggang sebelumnya. Aku mengolesi roti dengan selai, menutupnya dengan lembar roti lainnya, kemudian melahap dengan sangat santai.
"Jangan sampai ada nilai yang jelek." Lirih Kakak. Aku tahu, dia sebetulnya sangat menyayangi ku. Walaupun, terkadang sangat mengesalkan.
Aku sudah menyelesaikan makan ku. Aku bergegas menuju kampus yang tentu saja Kakak yang mengantarkan.
Tak berapa lama, aku sampai di depan gerbang kampus. Aku bergegas turun dari mobil kemudian masuk dan menuju kelas ku. Namun, langkah ku terhenti setelah melihat pemandangan yang aneh. Aku terkejut melihat Morgan yang berdandan rapi mengenakan jas hitam dan juga dasi. Tidak seperti biasanya! Padahal jika dipikir kembali, Morgan juga sudah terbiasa mengenakan Jas rapi seperti ini. Tapi, kenapa hari ini nampak berbeda? Apa yang membuatnya sangat memukau saat ini? Apa mungkin karena.. Aku merindukannya?
'Aishhh.. Mikir apa sih Gue?!' Batin ku yang mulai kehilangan kesadaran.
"Arasha! Kemana dasi kamu?" Tanya Morgan yang sedang menatap ku tajam. Apa katanya? Dasi?
Spontan aku meraba dada ku. Aku kaget, kenapa bisa aku seteledor ini karena tidak membawa dasi disaat ujian? Aku bingung dan merasa takut. Morgan seperti sedang mencatat sesuatu dikertas.
"Ke lapangan, ikut berbaris dengan yang lainnya." Ucapnya yang terdengar seperti sedang memvonis ku. Aku gelagapan dan bingung harus bagaimana? Hari pertama aku masuk kembali ke kampus, malah kena hukum seperti ini.
"Yahh.. Ta.tapi kan Gue.." Morgan memberikan ku kode bahwa di belakang ku ada orang lain. Aku harus menjaga sikap ku ketika sedang berada di kampus. Aku langsung mengerti dan paham apa yang ia maksud.
"Sa.saya lupa pak, tolong kasih dispensasi. Besok Saya gak akan ngulangin lagi kok." Mohon ku padanya. Seperti yang ku bilang tadi, Aku harus menjaga sikap ku selama di kampus. Aku tidak mau mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan kampus. Walau bagaimana pun, dia itu tetaplah Dosen di kampus ini. Aku tidak bisa bersikap seenaknya padanya saat di kampus.
"Tidak ada dispensasi. Silahkan, arahnya di sebelah sana." Ia menunjukkan arah dengan membuka sebelah lengannya, tentu saja dengan sikap dingin seperti biasanya. Ada perasaan sedikit kesal padanya, namun peraturan tetaplah peraturan. Aku tidak bisa memaksakan Morgan, walaupun dia mungkin saja tidak akan tega melakukan ini pada kekasihnya.
"I.iya Pak." Ucap ku dengan segala keterpaksaan yang ada. Aku bergegas menuju lapangan. Sama ku lihat dari kejauhan, Morgan yang sedang berbicara dengan seorang wanita asing yang tidak ku kenal. Wajahnya sangat imut, dan juga seperti wanita jepang. Cantik dan anggun. Morgan berbicara padanya tanpa ada ekspresi yang berlebihan. Mungkin, itu teman lamanya Morgan. Atau mungkin saja dosen di kampus ini yang baru saja aku lihat. Agak sedikit tenang hati ini karena melihat respon yang biasa saja dari Morgan.
Aku sudah sampai di lapangan dan segera memasuki barisan yang ada. Ternyata, bukan hanya aku yang dihukum seperti ini. Banyak sekali orang yang tidak memakai atribut lengkap. Aku berdiri sembari melihat dan memperhatikan ketua Hima yang sedang mendata satu persatu Mahasiswa yang tidak beratribut lengkap. Setelah itu, seperti ada yang berdiri di sebelah ku. Aku tersadar kemudian spontan menoleh ke arah kanan.
Terlihat orang misterius itu lagi. Aku bingung kenapa beberapa kali harus bertemu dengannya.
"Loe.." Pekik ku yang setengah tak percaya.
"Ohayou." (Selamat Pagi). Ucapnya dengan senyuman manis yang menurut ku sangat mematikan. Cowok Jepang yang sampai sekarang tidak aku ketahui namanya ini, terus menerus ada di mana pun aku berada. Tapi, aneh sekali kalau kita tidak saling mengenal.
__ADS_1
"Ehh.. Gue gak paham." Lirih ku yang kurang mengerti bahasa Jepang. Ia tertawa kecil.
"Selamat Bagi." Ucapnya membuat aku tak sadar tertawa.
"Hahah.."
"Why?" Tanyanya yang nampak bingung.
"Bukan Bagi, tapi Pagi." Ucap ku. Pipinya terlihat bersemu merah. Mungkin ia malu. Wajar saja sih, dari wajahnya saja mungkin benar ia buka warga aseli pribumi.
Aku terdiam sembari memandangnya yang masih malu. Aku jadi teringat malam itu. Kalau tidak salah, ia yang menolong ku dari preman sebelum Morgan datang. Memar di pipinya pun masih terlihat walaupun sudah sedikit memudar. Aku sepertinya berhutang budi padanya.
"Makasih ya, untuk malam waktu itu." Lirih ku. Aku membulatkan mata ku karena melihat pipinya semakin memerah karena perkataan ku. Apa ada yang salah dengan gaya bicara ku?
"Gak papa. Bagus kamu selamat." Lirihnya sembari memalingkan wajahnya. Aku bingung dengan responnya yang menurut ku, mungkin terlalu berlebihan untuk seukuran orang yang baru saja kenal. Suasana menjadi canggung seketika. Aku pun memalingkan wajah ku.
"Nama kamu siapa..."
"Nama kamu siapa.."
"Degg..."
Jantung ku terasa berdegup kencang karena kita mengatakan hal secara bersamaan. Ia kembali memalingkan wajahnya dari ku. Sepertinya, terlihat jelas kalau dia sedang menyembunyikan sesuatu.
"Nama Gue Ara." Ucap ku. Ia kembali melihat wajah ku.
"Ara-chan, senang bertemu dengan mu." Ucapnya membuat ku heran. Aku berpkir sejenak tentang pertemuan yang singkat ini. Aku tersenyum padanya.
"Kalau gak salah, loe juga pernah kan ngasih gue cemilan waktu di danau?" Tanya ku. Ia mengangguk kaku.
"Boleh tau nama Loe?" Tanya ku.
"Akira Hatake." Jawabnya. Benar saja namanya saja sudah seperti orang jepang. Tapi kalau dipikir lagi, Bukannya dia yang waktu itu mengejar mobil Morgan?
"Nama..." Ucap Kakak anggota Hima yang sedang membawa pulpen dan papan kertas. Aku langsung terkejut dan berpaling padanya.
"Arasha."
"Kelas?"
"01TPLP001."
Ia berpindah pada Hatake. Aku terdiam melihat raut wajah Hatake yang memang seperti cowok Jepang pada umumnya.
"Okey, kalian semua mengerjakan ujian di lapangan. Kumpulkan satu persatu tas kalian di depan tiang bendera dan kembali ke posisi semula." Ucap Kakak ketua dengan microfon.
"Huuuuuuhhh.." Semua orang menyuraki nya. Sepertinya, mereka tidak menerima dengan ketentuan dan peraturan yang sudah diberikan. Aku mengumpulkan tas ku dan kembali ke tempat semula.
*
Ujian pertama sudah selesai. Aku bergegas merapihkan semua peralatan tulis yang aku pakai barusan. Aku melihat ke arah depan ku karena sepertinya ada yang janggal. Terlihat Hatake sedang menyodorkan tas ku. Nampaknya, ia sedikit membantu ku. Aku menerimanya.
"Makasih." Ucap ku. Ia duduk di hadapan ku.
"Mau makan tidak?" Tanyanya. Aku bingung harus mengiyakan atau tidak. Tak sadar, aku melihat Morgan yang sedang diikuti oleh banyak penggemarnya dari belakang. Terlihat jelas sekali kalau mereka sedang menguntit dari belakang Morgan. Aku sedikit kesal melihatnya.
"Ayo!" Ucap ku dengan nada yang setengah kesal, dan setengahnya lagi mungkin adalah nada kecemburuan. Aku menarik tangan Hatake menuju kantin.
Sesampainya di kantin, Aku melihat teman-teman ku yang sudah lebih dulu sampai dan mungkin saja mereka sudah memesan makanan. Aku menghampiri mereka.
"Lho.. Ra.." Fla bingung dengan ku. Aku juga bingung dengan responnya yang seperti itu.
__ADS_1
"Kenapa si?" Tanya ku risih dengan tatapan mereka semua. Mereka menunjuk ke arah tangan ku. Aku yang tanpa sadar melihat ke arah tangan ku yang ternyata masih menggandeng tangan Hatake. Spontan langsung ku hempaskan tangannya dari tangan ku.
"Kenapa Gue malah megang-megang Loe sih?" Ucap ku dengan nada yang canggung. Hatake terlihat hanya menggelengkan kecil kepalanya.
"Ini.. Siapa, Ra?" Tanya Rafa.
"Gebetan baru?" Sambar Ray tanpa filter. Aku memelotot ke arahnya.
"Ngawur!" Bentak Fla yang nampak tidak suka dengan ucapan asal dari Ray.
"Hehe. Maap" Ray hanya cengegesan setelahnya. Wajar, dia memang seperti itu tabiatnya.
"Lho.. Ini siapa, Ra?" Tanya Rafael. Aku melirik ke arah Hatake.
"Ini teman Gue. Namanya Hatake. Mulai sekarang, Hatake bakalan main terus sama kita." Jawab ku membuat Ray tersedak saat meminum minumannya.
"Maksudnya?" Tanya Fla yang mungkin saja belum mengerti.
"Nanti Gue ceritain detilnya."
"Silahkan duduk, Hatake." Ucap ku. Ia mengangguk dan duduk di samping ku.
"Ini Fla, Ray dan Rafa. Loe bisa kok hubungin mereka kalau Loe butuh bantuan." Ucap ku ramah pada Hatake. Ia tersenyum manis pada kami semua.
"Mohon bantuannya ya semua." Ucap Hatake. Mereka mungkin saja terkesan karena sikap ramah Hatake. Syukurlah, aku melakukan ini sebagai bentuk balas budi ku padanya yang sudah menyelamatkan aku waktu itu. Aku ingin menjadikannya Sahabat, sama seperti Fla, Rafael, Ray, dan juga Farha.
"Wait.. Ngomong-ngomong, Farha mana ya?" Tanya ku yang nampak tidak melihat Farha di sini.
"Ada di kelas, dia lagi belajar. Gak mau diajak juga." Jawab Fla. Aku mengangguk kecil.
"Loe kemana sih tadi, Ra? di hukum?" Tanya Rafa. Aku mengangguk kecil padanya.
"Pantesan, Gue kira loe keasyikan diskros sampe lupa masuk kampus." Jawab Rafa asal. Aku sedikit terhibur dengan ucapannya.
"Asyik ngobrol sendiri aja, kasian aa ganteng yang di sebelah gak di ajak ngobrol." Ucap Fla dengan nada yang sangat lembut, seperti sedang berusaha menggoda. Aku mengerti dengan maksud dan tujuan Fla. Ia nampaknya sedang suka pada Hatake. Aku saling melempar pandangan pada Ray dan Rafa.
"Ehmm.. Gue kayaknya harus balik deh ke kelas. Soalnya.. Farha minta ajarin pelajaran.. pelajaran.. Matematika! Bye." Ucap Ray kemudian segera pergi.
"Aduh.. perut gue kayaknya sakit deh, gue cabut duluan deh ya." Rafa ikut-ikutan pergi. Sekarang, giliran aku yang harus mencari alasan agar bisa pergi meninggalkan mereka berdua. Tapi harus dengan alasan apa? Aku memutuskan untuk diam sejenak.
"Kenapa semua orang pergi?" Tanya Hatake terdengar sedih sekali. Aku jadi tidak tega meninggalkan dia.
"Em.. Gue juga mau permisi dulu ya.."
"Mau kemana, Ra?" Tanya Hatake. Aku menyeringainya.
"Emm anu.. Gue, mau.."
"Mau.." Aku bingung, harus dengan alasan apa aku agar bisa pergi dari tempat ini.
"Mau.. Ambil tas di lapangan.. Ya! Ambil tas. Takut hilang nanti ada yang ngambil."
"My bag are there too!" Ucapnya, aku lupa kalau ia juga kena hukuman.
"Nanti aku ambilin. Bye." Kekeh ku yang tidak mau kalah dengan keadaan.
Aku berlari menghindari mereka berdua demi memberika mereka waktu bersama. Tak tahu harus melangkah kemana, aku hanya mengikuti arah kaki ku saja. Beberapa waktu kemudian, aku berhenti karena kelelahan dan kehabisan nafas. Tenggorokan ku terasa kering.
"Tuuuuttt.."
Terdengar suara microfon yang baru saja di hidupkan. Aku berusaha tenang untuk mendengarkan informasi apa yang akan disampaikan.
__ADS_1
"Perhatian untuk Mahasiswa bernama Arasha 01TPLP001, ditunggu kehadirannya secepatnya ke ruang dosen. Terimakasih."
@sarjiputwinataaa