
"Gak papa. Cuma mimpi." Ucap ku asal karena masih terfokus pada Morgan yang berada di hadapan ku saat ini. Ia menghampiri ku dan duduk di samping ku.
"Siap-siap mandi ya. Kita akan terbang siang ini." Suruhnya sembari membelai lembut rambut ku. Aku mengangguk kecil dan segera ke kamar mandi untuk membilas badan ku.
Apa yang terjadi? Mimpi itu terasa nyata bagi ku. Aku seperti sudah kehilangan sosok berharga dalam hidup ku. Tapi, entah bagaimana bisa menjelaskan kepada hati bahwa itu hanyalah mimpi belaka.
"Sadar dong hati.. Ini cuma mimpi. Morgan gak beneran pergi dari kehidupan Loe." Lirih ku yang berusaha menutupi suara ku agar terdengar samar. Aku hanya mau menenangkan hati ku.
Aku segera menyelesaikan mandi ku. Aku bersiap dan mengemasi barang-barang ku yang ku bawa. Aku jadi teringat tentang hadiah yang ingin ku berikan kepada Morgan. Kapan waktu yang tepat untuk memberikannya ya?
"Srrrrrtttt..." Morgan menutup kopernya. Ia menoleh ke arah ku.
"Sudah siap?” Tanyanya, Aku mengangguk kecil.
Aku berjalan selaras dengan Morgan dan menyamai langkahnya. Aku pun tiba di tempat mobil Morgan terparkir.
"Bip.. Bip.." Morgan membuka kunci mobil dan kami pun masuk ke dalamnya.
"Ckleeekkk.." Tak lupa, ia juga memasangkan sabuk pengaman ku.
"Semoga selamat sampai tujuan." Lirih Morgan. Aku tersenyum dan mengangguk kecil ke arahnya.
Morgan mengendarai mobilnya dengan keadaan santai. Sampai, Aku bisa melihat keadaan sekeliling ku.
Sesampainya di bandara, Aku menunggu jadwal pesawat yang akan mengantarkan ku terbang menuju tempat yang ingin kami tuju. Aku dan Morgan duduk bersampingan.
"Kamu haus?” Tanyanya, Aku mengangguk kecil. Ia melirik ke arah jam tangannya. Tentu saja, jam tangan yang aku belikan untuknya waktu itu.
"Sekarang pukul 10. Kita akan terbang 1 jam lagi. Saya mau pergi cari makanan ringan dan minum dulu untuk kita. Kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana. Ya?" Ucapnya yang sedang menunggu persetujuan ku. Lagi-lagi Aku mengangguk kecil ke arahnya. Ia pun pergi dari hadapan ku, meninggalkan Aku beserta barang-barang yang ia bawa.
Aku memperhatikan setiap pesawat yang lepas landas dan yang turun landas. Apakah ini akan menjadi perjalanan yang menyenangkan untuk kami?
Aku tak sengaja melihat ke arah pintu masuk menuju pesawat. Di sana, banyak sekali orang yang mengantri untuk bisa masuk ke dalam. Pandangan ku terpaku oleh seseorang yang Aku sendiri merasa tak asing dengan orang yang ku lihat itu. Aku berusaha menegaskan pandangan ku ke arahnya.
"Hatake?" Lirih ku yang tak sengaja melihatnya. Sedang bersama siapa dia? Sepertinya, orang yang juga pernah ku lihat waktu itu. Tapi, di mana aku pernah melihat wanita itu ya?
Aku membuka handphone ku dan mencoba untuk menghubungi Hatake.
'Tersambung!' Batin ku merasa sedikit tenang karena Hatake belum menonaktifkan handphonenya. Ia terlihat sedang merogoh kantungnya. Mungkin saja, ia menyadari kalau aku sedang menelfon dia.
"Hallo, How are you?" Tanyanya yang sedikit berbasa-basi dengan ku. Aku terdiam sejenak.
"Kamu mau ke mana?" Tanya ku langsung pada intinya. Ia terlihat begitu sedih ketika mendengar pertanyaan ku.
"Aku harus ke Jepang. Ada sesuatu yang harus aku urus." Ucapnya. Kini, tiba gilirannya untuk di cek segala sesuatunya. Telepon ku terputus, Aku tidak bisa lagi berkomunikasi dengannya. Ia pergi menjauh dari keramaian, menuju aula untuk masuk ke dalam pesawat.
"Ada apa dengan Hatake. Bukannya, dia gak suka kalau harus kembali ke Jepang?" Lirih ku yang merasa ada yang mengganjal. Aku tidak bisa berhenti untuk memikirkan Hatake. Apa ada masalah yang sangat mendesak, sehingga dia menyetujui untuk kembali?
"Dringgg..." Dering video call. Teman-teman ku ternyata membuat video bersama. Aku mengangkatnya dengan penuh rasa semangat.
"Haaiiii... Epribadeh." Ucap ku asal. Mereka semua tertawa mendengar celetukan ku. Ray, Rafa, dan juga Fla terlihat sangat bahagia saat ini.
"Lho, kemana Farha?" Tanya ku. Sepertinya, Aku merasa akhir-akhir ini Farha semakin terasa asing. Tidak selalu mengikuti kegiatan kami.
"Farha, katanya sih mau jalan-jalan. Dia lagi persiapan." Ucap Fla. Aku mengangguk kecil.
"Gimana persiapan? Bukannya harusnya Loe jalan kemarin ya, Ra?" Tanya Rafa tiba-tiba, entah untuk mengalihkan topik atau hanya sekedar bertanya.
__ADS_1
"Iya, semalam gua punya feeling gak enak tentang cuaca. Ternyata gak terjadi apa-apa." Jelas ku. Mereka semua tersenyum tipis.
"Huuuh.. Padahal, Gue mau ikut ke Jepang. Kenapa Gue gak boleh ikut sih.." Kesal Fla. Aku tertawa kecil melihat responnya yang seperti kekanak-kanakan.
"Tenang, nanti kita shopping bareng." Ucap Ray asal. Fla terkejut mendengarnya.
"Bener Loe ya! Jangan kayak waktu itu, bilang shopping bareng, gataunya minta bayarin." Celetuk Fla. Aku sampai terpingkal-pingkal mendengarnya.
"Wah parah..." Rafa mulai memperkeruh keadaan.
"Yeeehhh enggak lah! Tenang aja sih. Kalaupun gak memungkinkan, kita bayar masing-masing, biar ga ada yang merasa dirugikan." Tepis Ray. Aku tertawa geli mendengarnya.
"Hihi.. Wah emang paling-paling dah loe." Aku tak tahu lagi harus berkata apa.
"Eh gimana, Pdkt Loe sama si Jepang itu?" Tanya Ray pada Fla, mengingatkan ku lagi pada Hatake. Apa boleh aku mengatakannya pada Fla kalau aku melihatnya hari ini di Bandara?
"Yaa seru sih. Dia lebih ke temen sih kalau Gue perhatiin. Asik orangnya." Jawab Fla. Ada pikiran yang sedang mengganggu ku saat ini. Apa Fla tidak tahu kalau Hatake hari ini berangkat ke Jepang?
"Nanti juga lama-lama jadian. Liat aja!" Tantang Rafa.
"Sok tahu Loe!" Tepis Fla.
"Ra.." Pekik seseorang yang Aku tahu adalah Morgan. Aku sedikit terkejut.
"Semuanya, Gue siap-siap dulu yaa.. Doain supaya selamat sampai tujuan." Ucap ku memecahkan konsentrasi semuanya.
"Hati-hati ya Ra."
"Iyah, save flight ya!!"
"Hati-hati Ka Morgan!" Ucap Fla pada Morgan yang sedari tadi berdiri di sebelah ku. Morgan mengangguk kecil. Aku pun mengakhiri video call kali ini bersama dengan semuanya.
"Makasih." Lirih ku. Ia hanya tersenyum kecil mendengar ucapan terimakasih ku.
"Sebentar lagi, kita akan terbang." Ucapnya. Aku mengangguk kecil.
Aku menunggu waktu sembari memakan makanan yang tadi di berikan Morgan.
*
Akhirnya, waktu yang di tunggu-tunggu pun tiba. Aku dan Morgan bergegas untuk menuju kabin pesawat yang akan membawa kita menuju tempat tujuan. Aku duduk di samping Morgan yang sudah mengunci tubuhnya dengan sit belt. Aku melihat pemandangan yang indah saat terbang menuju tempat tujuan kita. Aku merangkul tangan Morgan yang kekar, karena ini kali pertama Aku terbang bersama dengan kekasih ku.
"Butuh waktu sekitar 7jam 25mnt untuk sampai ke Tokyo. Kalau kamu gak nyaman, kamu bisa berjalan-jalan ke toilet sebentar." Ucap Morgan. Tidak ku sangka, Perjalanan dari Ibu kota menuju Tokyo lumayan memakan waktu. Aku mungkin saja tidak bisa tahan kalau harus terbang selama itu.
"Lambat banget! Apa gak bisa di percepat?” Tanya ku. Morgan tersenyum mendengarnya.
"Peluk.." Ucap Morgan sembari mengelus pipi ku. Aku menjadi sedikit lega karena Morgan.
Aku menikmati setiap detik perjalanan ku bersama dengan Morgan. Aku hanya takut kalau saja cuaca hari ini tidak memungkinkan. Ternyata, setelah terbang kurang lebih hampir 8 jam, Aku dan Morgan selamat sampai ke tujuan.
Aku melirik ke arah Morgan. Ternyata, Morgan tertidur dengan pulas. Aku tak enak untuk mengganggunya. Padahal, semua orang yang berada di awak pesawat ini sudah turun sejak tadi.
Wajahnya terlihat sangat lelah, membuat diri ku semakin tak tega untuk membangunkannya.
"Permisi, sudah waktunya kalian untuk turun dari kabin pesawat." Ucap seseorang yang tanpa sadar ternyata sudah berada di hadapan kami. Kakak Pramugari itu terlihat sangat cantik dengan postur badan yang proposional. Aku yang wanita saja, hampir terpesona olehnya.
"Bisa bantu Aku untuk bangunin calon suami ku? Aku gak tega.." Ucap ku dengan nada lemas. Tak bisa ku pungkiri, terbang dengan waktu yang lumayan lama membuat aku kehabisan energi. Apalagi, Aku sama sekali tidak bisa istirahat selama perjalanan.
__ADS_1
Pramugari itu mengangguk dan tersenyum ramah. Ia berusaha mendekati wajah Morgan. Aku berusaha untuk bersiap-siap. Tapi, Aku terhenti karena terlihat tatapan yang agak aneh dari Kakak Pramugari itu. Ia memandangi Morgan dengan tidak biasa. Tatapan yang mematikan.
"Permisi, Tuan. Kita sudah sampai pada tujuan akhir kita." Ucapnya dengan wajah yang tidak biasa. Aku tidak yakin, apakah dia orang yang baik atau tidak. Morgan terbangun dan melihatnya dengan ekspresi yang sangat datar. Aku pikir, Morgan tidak mengenalnya sama sekali. Aku tidak perlu risau karenanya.
Pramugari itu pun pergi dan meninggalkan kami di sini. Aku sudah tidak menghiraukannya lagi karena Morgan bersikap dingin padanya. Itu tandanya, tidak ada yang perlu di pusingkan. Aku mempersiapkan mantel ku dan segera meninggalkan pesawat.
"Kita mau pergi kemana?" Tanya ku pada Morgan. Aku sama sekali tidak mengenal Tokyo. Aku hanya tahu sedikit mengenai Tokyo.
"Kita pergi ke penginapan dekat sini. Besok, kita baru mulai menjelajahi Kota Tokyo ini. Saya ingin sekali ditemani untuk mengunjungi teman lama Saya saat kuliah di sini." Ucapnya, Aku mendadak menjadi sangat tersanjung sekali karena mendengar ucapannya itu. Ia sampai ingin ditemani untuk bertemu kawan lamanya di sini. Sungguh Aku beruntung sekali.
"Oke lah. Terimakasih, Morgan." Ucap ku dengan senang hati. Terlihat senyuman Morgan yang sangat tulus setelah mendengar ucapan terimakasih ku. Sudah lama, Aku tidak melihat senyumannya itu. Kini, Aku bahkan bisa melihatnya lagi.
Setelah di antar dari Bandara menuju hotel tempat kami menginap, Kami pun tiba di salah satu Hotel bintang 5 yang pelayanannya super memuaskan. Pemandangannya sangat indah menurut ku. Aku sampai betah berlama-lama walau hanya di lobi.
"Ayo." Ajak Morgan pada Aku yang sedang memainkan ikan yang ada di lobi. Aku menyambar mesra tangan Morgan yang sudah menunggu ku sejak tadi.
Kini, Kami telah sampai di kamar hotel yang telah Morgan pesan. Nuansanya sangat nyaman. Tapi, waktu di Jepang sudah menunjukkan pukul 21.00. Aku lumayan capek sekali dengan perjalanan yang menguras tenaga dan waktu ini. Aku jadi tidak sempat berselfie ria atau sekedar memberikan kabar kepada Kakak dan teman-teman ku yang lainnya.
Morgan sedang membersihkan tubuhnya di kamar mandi. Aku menunggunya dengan membaringkan tubuh ku dan merasakan kenyamanan di kasur empuk ini.
*
"Engghh.." Aku terbangun dari tidur ku karena merasakan seseorang sedang menciumi leher ku. Aku mencoba membenarkan pandangan ku terhadapnya.
"Morgan.." Benar saja, Morgan sudah siap sedia menerkam ku dari atas tubuh ku. Aku sampai tidak bisa bergerak sama sekali karena tubuh ku yang hampir seluruhnya tertindih dengan Morgan.
"Temani Saya, sebentar saja.." Lirihnya membuat diri ku merasakan sensasi yang tidak biasanya. Deruh nafasnya membuat nafas ku pun ikut mengiringi nadanya. Apa aku tertidur sejenak saat ia membersihkan dirinya? Wajahnya terlihat memerah sekali, sembari sesekali ia menciumi leher ku.
"Ahhh.." Aku kelepasan menjerit dengan nikmat karena merasa sensasi geli saat ia mengecup leher ku terus menerus.
"Gadis kecil, kenapa kamu memancing ku?" Terlihat wajah Morgan yang sangat kacau. Aku tidak bermaksud demikian.
"Siapa? Aku gak mancing kamu kok.." Aku berusaha menjelaskan tentang hal yang sebenarnya terjadi.
"Cupppp.."
"Mhhhh..." Ia mulai mencium bibir ku tanpa henti. Membuat Ku kesulitan bernafas. Apakah ini akan menjadi malam yang sangat indah?
"Boleh kah..." Ucapnya menggantung sembari membuka beberapa kancing kemeja ku. Aku tidak bisa menahan diri lagi dengan yang sedang Aku rasakan saat ini. Aku rindu dirinya.
"Jangan bertanya.." Ucap ku dengan segera membuka sisa kancing kemeja ku secara suka rela. Ia terlihat sangat agresif malam ini.
"Mmmhhh..."
"Awsssss..." Ia mulai menciumi area dada ku sehingga membuat ku hampir kehilangan kesadaran. Aku merasakan sensasi yang tidak bisa jika dijelaskan dengan kata-kata. Ia membuat ku tidak bisa bernafas dengan baik.
"Saya sangat menantikan ini. Bolehkah?" Tanyanya kembali. Aku semakin tidak sabar untuk menerima yang lebih darinya. Apalah daya ku? Aku tidak bisa menahan lebih dari ini. Aku membiarkan Morgan menggerayangi setiap cm bagian tubuh ku. Aku melewati malam ini dengan kenikmatan yang sudah lama tidak aku rasakan. Morgan kali ini tidak seagresif sebelumnya. Ia lebih memperhatikan kondisi dan kenyamanan ku. Aku terharu dengannya kali ini.
*
Aku membuka mata ku dengan perlahan. Memperhatikan keadaan sekeliling ku. Morgan, kemana dia?
"Gan.." Pekik ku. Aku kaget kenapa aku memakai kemeja Morgan? Aku tidak menghiraukannya dan malah mencari Morgan. Aku tidak bisa menemukan keberadaan Morgan. Aku melihat jam yang ada di handphone ku.
"Sudah pukul 7 pagi." Lirih ku. Tapi, aku belum bisa menemukan Morgan. Handphone ku tidak bisa di pakai karena Aku belum mengganti Sim Card di wilayah ini.
"Gimana nih?" Lirih ku yang belum bisa mencerna. Akhirnya, Aku memutuskan untuk menunggu Morgan dan bersiap-siap. Aku membersihkan tubuh ku yang lengket akibat perjalanan jauh dan ditambah lagi dengan ulah Morgan semalam. Jujur saja, Aku sangat merindukan keagresifannya itu. Aku rindu dirinya yang dulu.
__ADS_1
@sarjiputwinataaa